Showing posts with label Tobat. Show all posts
Showing posts with label Tobat. Show all posts

TOBAT PENUNGGANG KUDA MUSYRIK DI TANGAN IBNU MUBARAK

Ibnu Mubarak rahimahullah dalam kitabnya al-Jihad dari Hasan bin Rabi’ berkata, “Ada seorang penunggang kuda bertopeng dari kaum Muslimin yang keluar. Dia membunuh seorang penunggang kuda dari kelompok musuh yang telah membunuh orang Islam. Maka, kaum Muslimin meneriakkan takbir karena keberaniaannya.Dia langsung menyusup ke kerumuman orang banyak dan tidak ada satu pun orang yang mengenalinya.”
    Hasan bin Rabi’ berkata, “Akan tetapi aku mengikutinya sampai akhirnya aku memintanya dengan bersumpah pada Allah agar dia membuka topengnya. Aku pun mengenalinya dan ternyata dia adalah Abdullah Ibnu Mubarak.”
    Aku bertanya kepadanya, “Apakah kamu telah menutup-nutupi dirimu, padahal Allah swt. telah memberikan kemenangan besar lewat “tangan dan keberanianmu?”
    Dia menjawab,  “Apa yang telah aku lakukan untuk-Nya. Dia Mahatahu atas segala apa pun.”
    Kemudian ada seorang penunggang kuda dari barisan musuh yang keluar. Ibnu Mubarak segera memanggilnya. Lantas datang waktu shalat, Ibnu Mubarak meminta si penunggang kuda yang musyrik untuk menjauh sedikit karena dia akan melaksanakan shalat dua rakaat. Ketika dia telah menyelesaikan shalatnya, orang musyrik itu berkata kepadanya, “Dan aku pun harus shalat!!”
    Si penunggang kuda yang musyrik itupun shalat dengan menghadap ke matahari. Ketika dia sujud, Ibnu Mubarak berkata, “Terbetik dalam benakku untuk mengkhianatinya, namun tiba-tiba aku mendengar suara yang aku sendiri tidak dari mana asalnya, ‘…dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.’ (al-Israa`:  34)
    Aku pun menjauhi pengkhianatan itu. Ketika si penunggang kuda musyrik itu bertanya kepadaku, “Kenapa kamu bergerak?”
    Aku menjawab, “Aku ingin mengkhianatimu, akan tetapi aku diperintahkan untuk menjauhinya.”
    Dia berkata, “Yang memerintahkanmu untuk menjauhi khianat telah memerintahkanku untuk beriman.”
    Setelah itu si penunggang kuda itu masuk ke dalam barisan orang-orang Islam, si penunggang kuda yang tadinya musyrik kini pindah dari barisan musyrik ke barisan iman dan pasukan pembela kebenaran. Dan begitulah keimanan memperlakukan para pemiliknya dan kita telah menyaksikan bahwa memenuhi janji harus tetap dilakukan baik kepada orang Islam atau kepada non-Islam, dan kita tidak seperti orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Tidak ada jalan atas kami bagi orang-orang selain Yahudi.”
    Ummi adalah orang-orang selain Yahudi yang boleh untuk dikhianati dan boleh memperlakukan apa saja terhadap mereka walaupun hal tersebut dilarang dalam agama Yahudi, mereka bisa melakukan itu. Allah swt. telah mencela perbuatan mereka seperti itu dalam kitab-Nya Al-Qur’anul Karim dan telah memerintahkan kita untuk selalu menepati janji.

KEMBALI KE JALAN ALLAH DAN ALLAH MEMASUKKANNYA KE SURGA

Buku-buku sirah dan sejarah selalu menceritakan bahwa ada seorang penggembala mempunyai wajah hitam. Dia menggembala kambing-kambing milik seorang Yahudi di Benteng Khaibar. Penggembala ini datang kepada Rasulullah saw. dan beliau sedang di desa Benteng Khaibar Yahudi. Dia berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, sampaikan kepadaku tentang Islam.”
    Beliau menyampaikan Islam kepadanya hingga kemudian orang itu masuk Islam. Kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sekarang ini sedang bekerja kepada pemilik kambing-kambing ini. Ini menjadi amanah bagiku. Apa yang bisa aku perbuat dengan kambing-kambing ini?
    Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Pukullah muka kambing-kambing itu, dia akan kembali ke pemiliknya.”
    Kemudian orang itu pun mengambil segenggam kerikil dan melemparnya ke muka kambing-kambing itu sambil berkata, “Kembalilah ke pemilikmu.”
    Kambing-kambing itu pun keluar semua seakan ada yang menggiringnya sampai akhirnya masuk ke Benteng.
    Si penggembala tadi datang dan maju untuk berperang bersama tentara umat Islam dan dia terkena lemparan sebuah batu hingga meninggal. Padahal, dia belum pernah melaksanakan shalat satu rakaat pun.
    Jenazahnya dibawa kepada Rasulullah saw. dan diletakkan di samping beliau. Beliau saw. menutupinya dengan baju jubah yang beliau kenakan. Beliau memperhatikannya dan bersama beliau beberapa orang dari para sahabat, kemudian beliau berpaling darinya.
    Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berpaling darinya?”
    Beliau menjawab, “Sesungguhnya sekarang ini dia sedang bersama istrinya dari para bidadari yang membersihkan debu-debu dari wajahnya.”
    Sesungguhnya ini adalah kejujuran bersama Allah yang telah menjadikan penggembala yang bermuka hitam ini menerima derajat dan kedudukan seperti ini.

HIDUP DALAM KEMAKSIATAN DAN MATI DALAM TOBAT

Sulaiman bin Ayyub berkata, “Aku mendengar Ibad bin Ibad al-Mahlabi berkata bahwa ada seorang raja dari raja Bashrah tekun beribadah kemudian dia condong kepada kehidupan dunia dan kekuasaan. Dia pun membangun sebuah rumah yang tinggi dan megah, kemudian dia memerintahkan untuk menggelar hidangan dengan menyediakan makanan lantas dia mengundang orang-orang.”
    Mereka yang diundang memasukinya makan dan minum di situ. Mereka memperhatikan bangunan tersebut karena merasa terkagum-kagum dan berdoa untuk hal itu lantas mereka pun pergi.
    Sulaiman berkata, “Sang raja pun tinggal beberapa hari dan dia tinggalkan urusan rakyatnya, kemudian dia duduk bersama beberapa orang pembantu khususnya seraya berkata, ‘Kalian telah melihat bagaimana kegembiraanku dengan rumahku ini, sampai aku pun berkata kepada diriku sendiri bahwa aku akan membangun untuk setiap anakku rumah seperti ini. Hendaklah kalian tinggal di sini beberapa hari karena aku ingin mendengar pendapat kalian dan aku akan bermusyawarah dengan kalian tentang apa yang aku inginkan membangun rumah untuk anakku.’”
    Mereka tinggal bersama sang raja selama beberapa hari. Mereka di situ bermain dan berhura-hura. Sang raja pun bermusyawarah dengan mereka bagaimana membangun rumah untuk anaknya. Hingga, pada suatu malam ketika mereka sedang asyik bermain, tiba-tiba mereka mendengar suara orang yang memanggil dari pojok rumah seraya melantunkan bait syair,
    Wahai orang yang sedang membangun rumah
dan itu memang harapan bagi setiap manusia.
    Janganlah kalian terlalu berangan-angan karena sesungguhnya
kematian itu adalah sesuatu yang pasti datangnya.
    Kepada setiap makhluk apakah mereka
dalam keadaan gembira dan senang.
    Kematian pasti datang dan akan memusnahkan k
einginan dan angan-angan.
    Janganlah kalian membangun rumah yang tidak kalian tempati.
    Kembalilah melakukan ibadah dan Allah pasti mengampuni segala dosa.
   
Sang raja pun kaget dengan hal itu. Begitu pula para pembantu dekatnya. Dia segera menceritakan kepada mereka apa yang mereka dengar seraya bertanya kepada pembantu dekatnya, “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?”
    Mereka menjawab, “Ya, kami mendengar.”
    Sang raja memerintahkan untuk membuang semua minuman dan memerintahkan untuk mengeluarkan dan membuang alat-alat mainan seraya berkata, “Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku bersaksi kepada-Mu dan juga kepada mereka yang hadir dari para hamba-Mu bahwa aku bertobat kepada-Mu dari semua dosa-dosaku. Aku merasa menyesal apa yang telah aku lakukan yang telah melampaui selama ini. Hanya kepada-Mu aku memohon agar Engkau membiasakan aku untuk menjadikan nikmat-Mu kepadaku dalam taat kepada-Mu. Jika Engkau mencabut nyawaku agar Engkau mengampuni segala dosa-dosaku sebagai kemuliaan dari-Mu terhadap aku.”
    Dia terus mengulang-ulangnya seraya berkata, “Mati dan demi Allah, sampai akhirnya ruhnya keluar dari rasa cinta, perasaan dosa, dan harapan mendapat ampunan dari Tuhannya.”

ANTARA SEORANG ARAB BADUI DAN AL-ASHMA`I

Al-Ashma’i berkata, “Dahulu aku pernah tinggal di kampung untuk mengajrkan Al-Qur’an. Hingga suatu ketika pernah ada seorang Arab badui yang di tangannya ada sebilah pedang untuk menyamun. Ketika mendekat kepadaku untuk mengambil bajuku dia berkata kepadaku,  ‘Wahai tamuku, apa yang membuat engkau datang ke kampung ini?’
    Aku menjawab, ‘Mengajarkan Al-Qur’an.’
    Dia bertanya, ‘Apa itu Al-Qur’an?’
    Aku menjawab, ‘Kalam (firman) Allah.’
    Dia berkata, ‘Apakah Allah punya firman?’
    Aku menjawab, ‘Ya.’
    Dia berkata, ‘Coba bacakan satu bait firman-Nya itu.’
    Aku membaca, ‘Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (adz-Dzaariyat:  22)
    Orang Arab badui itu langsung saja membuang pedangnya lantas berkata, ‘Astaghfirullah, ternyata rezekiku ada di langit, kenapa aku mencarinya di bumi?’
    Kemudian setelah satu tahun, aku berjumpa lagi dengan orang itu pada saat melaksanakan thawaf di Ka’bah, dia berkata, ‘Bukankah aku ini temanmu yang dahulu?’
    Aku menjawab, ‘Benar.’
    Dia berkata, ‘Tolong bacakan lagi firman Allah yang lainnya.’
    Aku membaca, ‘Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan.’ (adz-Dzaariyaat:  23)
    Dia pun berhenti dan menangis yang membuatnya berkata, ‘Siapa yang melindunginya dari sumpah itu?’
    Dia terus saja mengulang-ulang kata-katanya itu sampai akhirnya dia jatuh dan meninggal dunia.”83
    Orang Arab badui ini telah memahami ayat tersebut dengan hatinya sebelum dia memahaminya dengan akalnya, sehingga dia sangat meresapinya dan mengamalkannya sampai dia bertemu dengan rahmat Tuhannya. Mahabenar Allah yang telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, “Dan bertakwalah kalian kepada Allah, Allah akan mengajarkan kalian ilmu.” Dan takwa kepada Allah akan mewariskan ilmu Ladunni.

TOBAT ANAK SEORANG PEMIMPIN NAJRAN

Ibnu Hisyam berkata, “Aku mendengar bahwa para pemimpin Najran—mereka beragama Nasrani—selalu saling mewariskan kitab-kitab kepada orang setelah mereka. Setiap kali ada seorang pemimpin mereka yang mati, kepemimpinan pun beralih kepada yang lainnya. Buku-buku itu distempel dengan satu stempel bersama dengan stempel sebelumnya dan tidak dihancurkannya. Hingga, suatu hari keluarlah pemimpin yang sezaman dengan Rasulullah saw. yang berjalan. Namun, tiba-tiba dia tersungkur jatuh. Anaknya berkata kepadanya, ‘Celaka yang jauh—yang dia maksudkan adalah Rasulullah saw..’”
    Ayahnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau lakukan itu, karena sesungguhnya dia adalah benar-benar seorang nabi, dan namanya ada di dalam kitab-kitab itu.”
    Ketika pemimpin itu meninggal dunia, anaknya tidak mempunyai keinginan sama sekali untuk mengambil alih kepemimpinan itu justru dia segera menghancurkan stempel-stempel tadi. Dia mendapatkan di dalamnya disebut Rasulullah saw., hingga dia pun segera masuk Islam dan menjalankan agamanya dengan baik kemudian melaksanakan ibadah haji.
    Dia adalah orang yang mengatakan,
 
    Dia berlari kepadamu karena jengkel gesper pengikatnya
    Menolak janin yang berada di dalam perutnya
    Agama Nasrani bertentangan dengan agamanya

    Ibnu Hisyam berkata, “Al-Wadhin artinya ‘gesper pengikat unta.’” Dan Hisyam bin Urwah menambahkan ke dalam syair itu, “Menolak janin yang berada di dalam perutnya.” 28

BERTOBAT SETELAH 40 TAHUN BERBUAT MAKSIAT KEPADA ALLAH DAN ALLAH MENGAMPUNINYA

Diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa pada zaman Nabi Musa a.s., Bani Israil mengalami masa paceklik (kemarau panjang) maka keluarlah Nabi Musa beserta beberapa orang dari Bani Israil agar dia meminta hujan untuk mereka, dan berdoalah Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah, “Ya Allah, ya Tuhanku, curahkanlah hujan kepada kami, dan limpahkanlah rahmat-Mu pada kami, sayangilah kami bersama bayi-bayi yang masih menyusu serta binatang-binatang yang masih digembala dan orang-orang tua yang renta.”
    Allah swt. mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya di antara kalian ada seorang hamba yang secara terang-terangan berbuat maksiat terhadap-Ku selama 40 tahun.”
    Nabi Musa berkata di hadapan kaumnya, “Wahai hamba yang berbuat maksiat terhadap Allah secara terang-terangan selama 40 tahun, keluarlah kamu, karena oleh sebab kamu Allah mencegah turunnya hujan atas kami.”
    Maka, hamba yang berbuat maksiat itu menoleh ke kiri dan ke kanan, dia pun tidak melihat seseorang yang keluar. Dia tahu bahwa dirinyalah yang dimaksud. Dia bergumam dalam dirinya, “Apabila aku keluar di antara khalayak ini, aku akan dipermalukan di tengah-tengah Bani Israil, tapi apabila aku tetap duduk bersama mereka tidak akan mendapatkan hujan karena aku, lalu dia memasukkan kepalanya ke dalam bajunya sambil menyesali perbuatannya dan bertekad akan berbuat taat.” Dia berkata, “Tuhanku, aku telah berbuat maksiat terhadap-Mu selama 40 tahun, namun Engkau tetap memberikanku kesempatan. Kini aku telah datang dengan tekad untuk berbuat taat, maka terimalah aku.”
    Belum lagi selesai dia berbicara, tiba-tiba awan putih meninggi lalu turunlah hujan bagaikan mata air yang mengalir. Kemudian Musa berkata,  “Tuhanku dengan apa Engkau menyirami kami, sedangkan tidak ada seorang pun yang keluar di antara kami.”
    Allah menjawab, “Wahai Musa, sesungguhnya aku telah menyirami kalian dengan orang yang mencegah turunnya hujan.”
    Musa berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah hamba-Mu yang berbuat taat ini.”
    Allah berkata, “Wahai Musa, Aku tidak mau mempermalukannya ketika dia berbuat maksiat kepada-Ku, maka akankah aku mempermalukannya saat dia berbuat taat kepada-Ku!!”
    Kisah ini begitu masyhur di antara para ulama dan para da’i karena kisah ini sangat menarik orang-orang yang berbuat dosa untuk kembali ke jalan Allah meski bertahun-tahun dia telah berbuat maksiat. Sesungguhnya pintu tobat itu selalu terbuka siang dan malam. Dari situ kita dapat pelajaran bahwa seseorang itu diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dia lakukan, meski Allah memberi rezeki kepada siapa pun tanpa menghitungnya.
    Allah telah menutupi orang ini saat dia bertobat sebagaimana Allah menutupinya selama dia berbuat maksiat. Itulah rahmat Allah swt. yang mencakup seluruhnya sampai pada hamba-Nya yang berbuat maksiat.

DAHULU AKU DIJAUHI ALLAH DAN SEKARANG AKU TELAH DISELAMATKAN

Basyar ibnul Harits al-Hafi berkata, “Aku pernah mencegat ‘Ukbar al-Kurdi—salah seorang ahli ibadah—dan aku tanyakan kepadanya, ‘Bagaimana awal dahulu kamu kembali ke jalan Allah swt.?’”
    Dia menjawabnya, “Dahulu aku sering menyamun di beberapa jalan, di jalan itu ada tiga pohon kurma, satu di antaranya tidak berbuah. Ternyata ada seekor burung yang sering mengambil buah dari pohon yang berbuah dan membawanya ke pohon yang tidak berbuah. Aku pun terus memperhatikannya puluhan kali sampai akhirnya terbetik dalam hatiku, pergi dan perhatikan sana.” Aku melihatnya lebih dekat dan ternyata di ujung pohon kurma yang tidak berbuah itu ada seekor ular yang buta dan burung itu meletakkan kurma-kurma tadi ke dalam mulut sang ular.
    Aku langsung menangis seraya berkata, “Wahai Tuhanku, seekor ular ini telah Engkau perintahkan Nabi-Mu untuk membunuhnya dan telah Engkau jadikan dia buta tapi Engkau jadikan burung itu untuk mengurusnya. Sementara aku ini adalah hamba-Mu, aku telah menyatakan bahwa Engkau adalah Tuhan Yang Esa, Engkau jadikan aku sebagai seorang penyamun dan sering menimbulkan keresahan di jalan.”
    Tiba-tiba masuk dalam hatiku kata-kata, ”Wahai ‘Ukbar, pintu-Ku selalu terbuka.”
    Langsung saja aku mematahkan pedangku kemudian aku letakkan tanah di atas kepalaku. Aku berteriak, “Ampunan, ampunan.” Tiba-tiba ada suara yang menjawab dengan mengatakan, “Kami telah mengampuni kamu, kami telah mengampuni kamu.”
    Para sahabatku tercengang seraya mereka bertanya, “Ada apa denganmu? Kamu telah mengganggu kami.”
    Aku menjawab, “Dahulu aku dijauhi dan sekarang aku telah diselamatkan.”
    Mereka berkata, “Kami juga dahulu dijauhi dan sekarang kami telah diselamatkan.”
    Lantas kami membuang pakaian kami dan langsung kami semua berihram. Kami terus dalam keadaan seperti itu selama tiga hari. Kami berteriak dan menangis sampai kami linglung. Pada hari ketiga kami sampai ke sebuah kampung dan di sana ada seorang wanita yang kedua matanya buta sedang duduk di gerbang masuk kampung itu seraya dia berkata, “Adakah dari kalian yang bernama ‘Ukbar al-Kurdi?”
    Salah seorang dari kami menjawab, “Ya, apakah kamu ada perlu dengannya?”
    Wanita itu berkata, “Ya, selama tiga malam aku bermimpi bertemu Nabi saw. dalam tidurku dan beliau berkata, ‘Berikah ‘Ukbar al-Kurdi apa yang ditinggalkan oleh anakmu.’”
    Wanita itu memberi kami enam puluh bahan kain panjang yang sebagiannya kami jadikan kain dan kami teruskan perjalanan kami memasuki perkampungan sehingga akhirnya kami sampai ke Baitul Haram di Makkah al-Mukarramah.
Penulis berpendapat bahwa inilah dia tobat yang telah dilakukan oleh mereka yang bertobat kepada Allah, yang membuat hubungan antara mereka dengan Tuhan mereka semakin kuat. Pintu hubungan ini tidak pernah tertutup dan Allah ad-Dayyan tidak akan mati. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepada yang telah diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.

TOBAT SEORANG PENGGALI KUBUR

    Abu Ishaq al-Ghazari berkata, “Ada seseorang yang sering duduk bersama kami yang sebagian mukanya tertutup. Aku bertanya kepadanya, ‘Kamu sering duduk bersama kami dan sebelah muka kamu tertutup, bisakah kamu memperlihatkan ini kepadaku?’”
    Orang itu berkata,  “Apakah kamu bisa memberi aku rasa aman?”
    Aku berkata,  “Ya.”
    Dia bercerita,  “Dahulu aku adalah seorang penggali kubur, dan aku pernah memakamkan seorang wanita, maka aku pun mendatangi kuburnya, dan aku menggali hingga mencapai tanah kemudian aku angkat tanah itu. Lantas tanganku memegang kain kafan dan kutarik lipatan kafan itu. Aku bentangkan tangan mayit wanita itu seraya berkata,  ‘Apakah kamu mau melawanku?’
    Kemudian aku membungkukkan lutut dan mengulurkan tanganku. Aku angkat tangannya namun tiba-tiba dia mencakarku. Orang itu segera membuka penutup mukanya dan terlihat bekas cakaran lima jari di mukanya.
Aku bertanya kepadanya,  “Kemudian apa lagi?”
    Dia bercerita, “Kemudian aku tutup lagi dengan kain kafannya rapat-ratap, lantas aku timbun lagi dia dengan tanah. Aku bertekad pada diriku bahwa aku tidak ingin lagi menggali kubur selama aku hidup.”

TOBAT SEORANG KAKEK TUA DI TANGAN RASULULLAH SAW.

Tobat itu tidak mengenal umur dan tidak pula waktu tertentu. Allah swt. selalu menerima tobat para hamba-Nya dan memaafkan segala kesalahan mereka, kapan pun Anda mengatakan, “Wahai Tuhanku.” Allah pasti menjawab, “Aku datang memenuhi panggilanmu, wahai hamba-Ku.”
    Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Makhul berkata, “Datang seorang kakek tua yang sudah uzur. Kedua alis matanya telah turun ke kedua matanya. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, seorang pengkhianat dan jahat, tidak pernah membiarkan hajat dan tidak pula keinginan kecuali dia menyambarnya dengan kanannya. Jika kesalahannya dibagi-bagikan kepada penduduk bumi ini, maka itu bisa menghancurkan mereka. Masih adakah jalan baginya untuk bertobat?’
    Rasulullah saw. berkata, ‘Apakah kamu telah masuk Islam?’
    Dia menjawab, ‘Adapun aku, sesungguhnya aku telah bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.’
    Beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah Maha Pengampun pengkhianatanmu, kejahatanmu, dan akan mengganti kejelekanmu dengan kebaikan jika mau melakukan itu.’
    Orang itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, semua pengkhianatan dan kejahatanku?’
    Beliau kemudian berkata, ‘Semua pengkhianatan dan kejahatanmu.’
    Orang itu pun berpaling sambil dia bertakbir dan bertahlil dengan mengatakan Allahu Akbar dan Lailaha Illallah.”30

TOBAT ABDURRAHMAN BIN YAZID BIN MU`AWIYAH


    Abdurrahman bin Yazid bin Jabir berkata, “Abdurrahman bin Yazid bin Mu’awiyah adalah seorang teman dekat dan pendamping Abdul Malik bin Marwan—Khalifah Umawiyah—dan ketika Abdul Malik meninggal dunia dan orang-orang bubar dari prosesi pemakamannya, Abdurrahman berdiri di atas makamnya seraya berkata, ‘Kamu Abdul Malik yang dahulu setiap kali kamu janjikan aku sesuatu maka aku pun mengharap darimu. Setiap kali kamu mengancamku, aku pun takut padamu. Saat ini engkau menjadi orang yang tidak memiliki apa-apa kecuali dua helai kain kafanmu. Kamu tidak memiliki tempat kecuali empat hasta tanah dengan lebar dua hasta!!’”
    Kemudian dia pulang dan kembali ke keluarganya. Selanjutnya dia sangat tekun beribadah sampai dia seakan telah menjadi sesuatu yang basah. Lantas, ada sebagian keluarganya yang mendatanginya dan mencela dirinya dan ketekunannya dengan berkata kepadanya, “Aku bertanya padamu tentang sesuatu, apakah kamu jujur tentang hal itu?”
    Orang itu menjawab, “Benar.”
    Dia bertanya, “Katakan padaku tentang keadaan kamu saat ini, apakah dengan seperti ini kami ridha untuk mati?”
    Orang itu menjawab, “Demi Allah tidak.”
    Dia bertanya, “Apakah kamu tetap teguh hati untuk pindah darinya ke yang lainnya?”
    Orang itu menjawab, “Aku belum melihat bagaimana pandangan pendapatku dalam hal itu.”
    Dia bertanya, “Apakah kamu merasa aman ketika datang ajal kematianmu dan kamu dalam keadaan seperti sekarang ini?”
    Orang itu menjawab, “Demi Allah tidak.”
    Abdurrahman berkata, “Orang itu pun menyadari dan menghayati dalam-dalam apa yang telah dikatakan kepadanya. Kemudian dia segera masuk ke tempat shalatnya.”76
    Dahulu para sahabat khalifah dan raja menyadari benar bahwa mereka adalah manusia biasa yang nantinya akan kembali dan menghadap Tuhan mereka. Mereka sangat menyadari kematian ini, sehingga mereka pun mengambil nasihat dari peristiwa kematian itu dan membuat mereka segera kembali ke jalan Allah swt. dan mendekatkan diri kepada-Nya.
    Cukup kematian itu sebagai nasihat. Barangsiapa yang tidak bisa dinasihati dengan kematian, orang itu lebih pantas untuk dimasukkan ke neraka. Hendaklah masing-masing kita melihat kondisi dirinya atau berintrospeksi diri karena dia lebih tahu akan hal itu dari orang lain. Kemudian tanyakan pada diri sendiri, apakah kamu mau didatangi kematian sementara kamu dalam keadaan seperti itu?

TOBAT TUKANG POTONG HEWAN DAN KEKASIHNYA


    Bakar bin Abdullah al-Muzni berkata, “Ada seorang pemotong hewan jatuh cinta pada seorang budak wanita salah seorang tetangganya. Keluarga budak itu menyuruhnya pergi ke kampung sebelah untuk keperluan mereka. Lalu, si tukang potong hewan itu mengikutinya hingga dia menggoda wanita itu. Wanita itu berkata, ‘Jangan kamu lakukan itu, sesungguhnya aku sangat cinta kepadamu ketimbang kamu kepadaku dan sesungguhnya aku takut kepada Allah.’”
    Orang itu berkata, “Kamu takut kepada-Nya dan aku tidak takut kepada-Nya.”
    Kemudian si tukang potong hewan itu menyesali perbuatannya dan segera bertobat kepada Allah.
    Hingga pada suatu hari, si tukang potong hewan ini keluar bersama salah seorang nabi Bani Israil dan mereka mengalami kehausan. Nabi itu berkata kepadanya, “Kemarilah, kita akan berdoa kepada Allah supaya Allah melindungi kita dengan awan sehingga kita bisa sampai ke kampung itu.”
    Si tukang potong hewan itu berkata, “Aku tidak mempunyai amal saleh, berdoalah kamu dan aku akan mengamininya.” Kemudian nabi itu pun berdoa dan dia mengamininya. Mereka diteduhi oleh awan sampai akhirnya mereka tiba di kampung yang dituju. Si tukang potong hewan itu pergi ke tempatnya dan awan tadi pun mengikuti di belakangnya. Nabi Bani Israil itu berkata,  “Kamu mengklaim bahwa kamu tidak mempunyai amal saleh sama sekali, dan aku yang berdoa sementara kamu yang mengamininya. Ceritakan kepadaku apa sebetulnya yang terjadi pada dirimu.”
    Dia segera menceritakan kisahnya bersama seorang budak wanita. Nabi itu berkata, “Orang yang bertobat kepada Allah berada di sebuah tempat yang tidak bisa digapai oleh orang lain.”
    Penulis berkata, sesungguhnya orang yang bertobat menjadi kekasih Allah, dan orang yang bertobat dari dosa sama seperti orang yang tidak mempunyai dosa sama sekali, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw..

TOBAT MUSA A.S.

Musa bin Imran a.s. adalah seorang nabi utusan Allah dan rasul-Nya yang diutus kepada Fir’aun Mesir dan kaumnya dan kepada Bani Israil.
    “Dan ceritakanlah (Muhammad), kisah Musa di dalam Kitab (Al-Qur’an). Dia benar-benar orang yang terpilih, seorang rasul dan nabi.” (Maryam: 51)
    Dengan takdir Allah, Musa tumbuh besar dan diasuh di tengah istana Fir’aun, walaupun saat itu Fir’aun selalu membunuh setiap bayi yang terlahir dari Bani Israil, oleh karena takut keluar dari mereka orang yang akan menghancurkan kerajaannya. Akan tetapi, kehendak Allah menentukan kelahiran Musa justru di tahun ketika Fir’aun sedang membunuh bayi-bayi Bani Israil. Kemudian bocah kecil itu dididik dan diasuh di depan mata, telinga, dan asuhan Fir’aun sendiri.
    Ketika Musa mulai beranjak dewasa dan telah menjadi seorang pemuda yang balig, Allah memberinya ilmu dan hikmah. Hingga, suatu ketika Musa yang sedang berjalan-jalan di tengah kota melihat seseorang dari warga Fir’aun dan seseorang lagi dari warga keturunannya Bani Israil sedang bertengkar. Orang Israil itu meminta tolong atas orang Mesir tersebut. Musa pun datang dan menolong orang yang dari golongannya itu melawan orang yang dari musuhnya itu. Dia memukulnya dengan tangan sehingga orang Mesir itu jatuh terkapar.
    Allah swt. berfirman, “Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akal-nya, Kami anugerahkan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir‘aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Dia (Musa) berkata, ‘lni adalah perbuatan setan. Sungguh, dia (setan itu) adalah musuh yang jelas menyesatkan.” Dia (Musa) berdoa, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.’ Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun,
Maha Penyayang. Dia (Musa) berkata, ‘Ya Tuhanku! Demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, maka aku tidak akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa.’” (al-Qashash: 14-17)
    Musa a.s. menyadari bahwa dengan membunuh orang ini, berarti dia telah melakukan dosa dan bahwa perbuatan ini adalah termasuk perbuatan setan. Dia pun segera memohon ampun dan bertobat kepada Allah swt. dari apa yang telah dia perbuat. Tuhannya pun langsung menerima permohonan ampunnya. “Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
    Kisahnya itu tidak hanya habis sampai di situ saja. Berikutnya ketika Musa sedang berjalan di tengah kota dengan rasa takut sambil dia mencari berita tentang terbunuh orang yang dari golongan Fir’aun, saat itu dia melihat orang yang dari keturunan Bani Israil sedang bertengkar dengan orang lain dari kelompok Fir’aun. Orang Israil itu meminta tolong kepada Musa seperti kemarin dia meminta tolong kepadanya. Musa pun berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat.”
    Pada saat itu orang Israil tersebut menyebarluaskan rahasia pembunuhan orang Mesir kelompok Fir’aun yang terjadi kemarin ketika dia melihat Musa mendatangi dirinya dan orang yang sedang bertengkar dengannya, dia mengira bahwa dia datang mau membunuhnya seraya dia berkata, “Wahai Musa, apakah kamu mau membunuh aku sebagaimana kemarin kamu telah membunuh orang, sesungguhnya kamu hanya mau menjadi orang keras dan sombong di dunia ini dan kamu tidak mau menjadi orang yang berlaku saleh.”
    Musa pun pergi meninggalkan keduanya dan meneruskan perjalanannya. Namun, berita tentang Musa telah membunuh seseorang dari kelompok Fir’aun telah menyebar di kota itu. Fir’aun pun mengeluarkan perintahnya untuk menangkap Musa. Ada seseorang dari warga Mesir mendatanginya dan menasihatinya untuk keluar dan pergi dari Mesir karena Fir’aun dan kaumnya sedang mencarinya untuk membunuhnya. Musa pun mendengar nasihatnya dan dia keluar dari Mesir dengan penuh rasa takut, sehingga dia pun sampai ke negeri Madyan seperti yang telah diketahui dalam kisah Musa a.s..  
    “Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada (kalau ada yang menyusul atau menangkapnya), dia berdoa, ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.’” (al-Qashash: 21)

TOBAT SESEORANG YANG BERMIMPI MELIHAT NABI SAW.

Ada seseorang salah satu tetangga Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah terjerumus dalam kemaksiatan. Suatu hari dia datang ke tempat pengajian Imam Ahmad bin Hanbal dengan mengucapkan salam. Imam Ahmad pun menjawab salamnya dengan dingin dan tidak ada sambutan hangat, orang itu berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdullah, kenapa kamu bersikap dingin kepadaku? Sesungguhnya aku telah beralih dari apa yang dahulu kamu telah janjikan dengan sebuah mimpi yang telah aku mimpikan.”
    Imam Ahmad berkata,  “Apa yang telah kamu mimpikan?”
    Orang itu berkata, “Aku bermimpi melihat Nabi saw. di tempat yang tinggi dan orang-orang banyak sekali duduk di bawah beliau.”
    Orang itu bercerita, “Satu demi satu dari mereka bangun dan mendatangi beliau seraya berkata, ‘Doakan aku.’ Beliau pun mendoakannya sampai akhirnya tidak ada yang tersisa dari mereka kecuali aku sendiri. Aku ingin bangun tapi aku malu oleh kerena jeleknya perbuatanku selama ini. Beliau berkata kepadaku,  ‘Wahai fulan, kenapa kamu tidak datang kepadaku dan memohon agar aku mendoakanmu?’”
    Aku menjawab,  “Wahai Rasulullah, rasa malu yang menahanku karena jeleknya amal perbuatanku selama ini?”
    Beliau berkata, “Jika rasa malu yang menahanmu, bangunlah dan mintalah agar aku mendoakan kamu, dan sesungguhnya kamu tidak akan mencaci maki seseorang dari para sahabatku.”
    Orang itu bercerita, “Aku pun berdiri dan beliau mendoakanku lantas aku terbangun dan langsung saja Allah telah menjadikan diriku benci kepada apa yang selama ini aku lakukan.”

TOBAT SEORANG PEMUDA DAN PEMUDI KARENA TAKUT KEPADA ALLAH SWT

Raja bin Umar an-Nakha’i berkata, “Ada seorang pemuda di Kufah yang mempunyai paras muka yang tampan, sangat tekun beribadah kepada Allah, dan bersikap zuhud terhadap dunia. Dia singgah di tempat sebuah kabilah hingga melihat seorang pemudi kabilah itu yang sangat cantik. Pemuda itu pun tertarik dengan wanita itu dan pikirannya melayang-layang. Wanita itu pun merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh pemuda itu. Kemudian pemuda tampan tersebut pergi mendatangi ayah pemudi itu untuk melamarnya. Namun, sang ayah memberitahukan kepadanya bahwa anaknya sudah dicalonkan untuk anak pamannya.
    Asmara kedua pemuda itu kian membara, dan keduanya saling mengalami mabuk cinta, kemudian pemudi itu pun segera menulis surat kepadanya,
    Aku mendengar betapa membaranya api cintamu kepadaku, dan aku pun merasa merana dengan hal itu dan bersama cinta padamu. Jika kamu mau, aku akan mengunjungimu atau jika kamu mau, aku akan memfasilitasimu untuk datang ke rumahku.
    Pemuda itu pun berkata kepada utusan yang datang dari wanita itu,  “Tidak satu pun dari dua bagian ini.”  “Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku takut akan azab pada hari yang besar jika aku durhaka kepada Tuhanku.’” (az-Zumar: 13)  Aku takut api neraka yang tidak pernah padam apinya dan tidak pernah dingin baranya.
    Ketika utusan itu pergi darinya dan menyampaikan kepada sang pemudi apa yang telah dikatakan oleh pemuda itu, pemudi itu berkata dengan memperlihatkan dalam hal ini zuhud dan rasa takutnya kepada Allah swt., “Demi Allah, tidak ada satu orang pun yang lebih berhak dalam hal ini. Sesungguhnya hamba-hamba Allah itu semua mempunyai kesempatan yang sama.”
    Kemudian pemudi itu menjauhkan diri dari dunia. Dia menaruh semua perhiasan yang menggantung di belakang punggungnya. Dia mengenakan pakaian kasar dan berkonsentrasi beribadah. Dia larut dalam dahaga cinta kepada pemuda tadi dan merasa sedih sampai akhirnya dia meninggal dunia karena rindu kepadanya.
    Pemuda tadi pun datang ke makam kuburnya. Dia melihat pemudi itu dalam mimpinya terlihat cantik dan anggun. Dia berkata, “Bagaimana keadaanmu dan apa yang telah engkau dapatkan?”
    Wanita itu menjawab, “Cinta yang terbaik wahai kekasih, cintamu adalah cinta yang mengajak kepada kebaikan dan ihsan. Kepada kenikmatan hidup yang tidak ada habisnya, di dalam surga yang kekal, kerajaan yang tak pernah sirna.”
    Pemuda itu berkata kepadanya, “Sebut dan ingatlah aku di sana, sesungguhnya aku tidak pernah lupa padamu.”
    Pemudi itu berkata, “Juga aku, demi Allah, aku tidak pernah lupa padamu. Aku telah memohon kepada Tuhanku dan Tuhanmu, Dia menolongku untuk itu dengan berijtihad.”
    Kemudian pemudi itu berpaling dan pemuda itu berkata kepadanya, “Kapan aku bisa melihatmu?”
    Pemudi itu menjawab, “Kau akan mendatangi kami dalam waktu dekat ini.”
    Tak lama kemudian pemuda itu meninggal dunia seminggu setelah peristiwa mimpi itu.

TOBAT SEORANG

    Hasan al-Bashri48 menyebutkan bahwa ada seorang wanita yang memiliki tiga kecantikan. Tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh kecantikannya kecuali jika mau membayar sebesar seratus dinar. Pintu rumah wanita itu senantiasa terbuka.
    Maka, ketika ada seorang ‘abid yang melintas, dia melihat wanita itu dan membuatnya terkagum dan tergila-gila. Dia pun segera bekerja keras dan mengumpulkan uang sebanyak seratus dinar. Dia lantas mendatangi wanita itu dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya kamu sangat membuatku terkagum, untuk itu aku segera bekerja untuk mengumpulkan apa yang engkau mau.”    Wanita itu berkata kepadanya, “Masuklah.”
    Dia segera masuk ke rumah wanita itu. Dari atas tempat tidur yang terbuat dari emas, wanita itu duduk di atasnya seraya berkata kepadanya, “Ke sinilah.”
    Pada saat dia meniduri wanita itu, dia ingat maqamnya di hadapan Allah. Dia pun langsung kaget bagaikan di sambar petir, lalu berkata kepada wanita itu, “Biarkan aku keluar dan pergi dan ini seratus dinar untukmu.”
    Wanita itu berkata, “Apa yang telah terjadi pada dirimu? Kau telah mengaku bahwa sesungguhnya kau telah melihatku dan membuatmu terkagum, kemudian kau pergi dan bekerja sampai akhirnya kau dapat mengumpulkan saratus dinar. Pada saat kau telah mampu menggapaiku, kau melakukan apa yang telah kaulakukan.”
    Dia berkata kepadanya, “Hanya karena takut kepada Allah swt. dan dari maqamku di hadapan-Nya, dan sekarang aku telah membencimu, dan kau menjadi orang yang paling aku benci.”
    Wanita itu berkata, “Jika kau benar, aku tidak mau mempunyai suami selain kamu.”
    Dia berkata, “Biarkan aku keluar dan pergi!”
    Wanita itu berkata, “Tidak, kecuali jika kau mau kawin denganku.”
    Dia berkata, “Tidak! Sampai aku keluar.”
    Wanita itu berkata, “Aku berjanji padamu, jika aku nanti mendatangimu, kau harus mau mengawiniku.”
    Dia menjawab, “Mudah-mudahan.”
    Kemudian dia segera mengenakan pakaiannya dan pergi dari wanita itu untuk kembali ke negerinya. Adapun wanita itu, dia telah bertobat dan kembali ke jalan Allah. Dia tinggalkan negerinya dan pergi ke negeri ‘abid yang tadi dan mencarinya. Wanita itu ditunjuki ke ‘abid tersebut. Ketika dia melihat wanita itu telah mendatanginya, dia langsung berteriak kencang, dia pun mati dan jatuh ke tangan wanita itu.
    Wanita itu berkata, “Adapun orang ini, dia telah berlalu, apakah dia mempunyai kerabat dekat?”
    Orang-orang mengatakan, “Ada adiknya, seorang yang sangat faqir.”
    Wanita itu berkata, “Aku akan mengawininya karena cintaku pada kakaknya.”
    Kemudian wanita itu kawin dengannya dan hidup bersamanya sampai keduanya meninggal dunia.

TOBAT TIGA SAUDARA DAN SEORANG KEPONAKAN

Ibnu Qudamah al-Maqdisi menyebutkan dalam kitabnya at-Tawwabin,  bahwa ada tiga orang saudara, seorang dari mereka menjadi amir yang penguasa, dia mengendalikan negeri dan kota serta tentara, seorang lagi menjadi seorang pedagang yang mujur dan lupa daratan dengan harta dagangannya itu, dan seorang ahli zuhud yang telah menyendiri untuk menekuni ibadah.
    Menjelang kematian saudara yang ahli ibadah ini, keduanya berkumpul bersamanya, dan saudara yang menjadi amir berkuasa di negeri itu dengan kezaliman dan tangan besi, kedua saudara itu berkata kepada saudaranya yang ahli ibadah, “Berwasiatlah.”
    Dia menjawab, “Demi Allah, aku tidak memiliki harta yang bisa aku wasiatkan, dan aku tidak pernah berutang kepada seseorang yang bisa aku wasiatkan pada kalian. Aku tidak meninggalkan apa pun dari dunia yang aku sedihkan.”
    Maka, saudaranya yang menjadi amir dan penguasa berkata kepadanya,  “Wahai saudaraku, katakan kepadaku apa yang kamu ingin, dan ini hartaku di depanmu, berwasiatlah dari hartaku itu dengan apa yang kamu mau, dan aku akan melaksanakan apa yang kamu mau dan aku berjanji pada diriku jika kamu mau.”
    Dan saudaranya yang pedagang pun berkata seperti kata-katanya itu. Saudara yang ahli ibadah itu menjawab, “Aku tidak menginginkan apa-apa dari harta kalian berdua, akan tetapi aku berwasiat kepada kalian dan jangan kalian berdua mengingkari wasiatku.”
    Keduanya berkata, “Kami berjanji.”
    Dia berkata, “Jika aku mati, mandikanlah aku dan kafankan aku kemudian kuburkan aku di tanah yang agak tinggi dan tulislah di atas kuburku kata-kata ini,
  
    Bagaimana hidup akan terasa nikmat kalau dia tahu  bahwa Tuhan Yang
menciptakannya pasti akan bertanya padanya dan meminta
pertanggungjawabannya.
    Dia akan memberi balasan dari kezaliman hamba-Nya
    Dan akan memberi ganjaran dari kebaikan yang telah dilakukannya
    Apabila kalian berdua telah melakukan itu semua, datangilah aku setiap
hari, mudah-mudahan kalian bisa ternasihati.

    Ketika dia mati, kedua saudaranya itu memenuhi apa yang telah diminta oleh saudaranya yang ahli ibadah itu. Dan saudaranya yang menjadi penguasa mendatangi makamnya dengan dikawal oleh pasukan tentara dan dia menangis. Dia mendengar suara keras dari dalam makam itu, sehingga hampir saja memecahkan hatinya, dan dia pun pulang kembali ke rumahnya dengan perasaan bingung.
    Ketika datang waktu malam, dia bermimpi dalam tidurnya bertemu dengan saudaranya yang sudah meninggal itu dan bertanya kepadanya, “Wahai saudaraku, apa yang aku tadi dengar dari makammu?”
    Dia menjawab, “Itu adalah sebuah guncangan bumi yang tertutup yang berkata kepadaku, ‘Kamu melihat seorang zalim dan tidak mau menolongnya.’
Ketika pagi hari saudara yang punya kekuasaan itu dalam keadaan gelisah dan diapun memanggil saudaranya yang pedagang dan beberapa orang dekatnya seraya berkata kepada mereka, ‘Apa yang diperlihatkan yaitu saudaraku menginginkan apa yang diwasiatkan pada kami agar kami menulis di atas makamnya selain aku. Sesungguhnya aku bersaksi pada kalian bahwa aku tidak akan lagi tinggal bersama kalian selamanya.’”
    Kemudian dia meninggalkan kekuasaannya dan menekuni ibadah. Dia pergi menelusuri gunung dan gurun pasir sampai akhirnya dia mendekati ajalnya di gunung itu, saat itu dia sedang berada oleh sabagian rakyatnya. Berita akan dekatnya ajalnya itu sampai pada saudara yang menjadi seorang saudagar, dia pun mendatanginya seraya berkata, “Wahai saudaraku, tidakkah kamu berwasiat?”
    Dia menjawab, “Dengan apa aku berwasiat, aku tidak punya harta yang bisa aku wasiatkan, tapi aku punya pesan wasiat kepadamu. Jika aku telah mati, dan kamu menyiapkan makam untukku, kuburkanlah aku di samping saudaraku, dan tulislah di atas kuburku, 
    Bagaimana hidup terasa nikmat bagi orang yang yakin.
    Bahwa kematian akan datang dengan tiba-tiba.
    Dan akan merenggut kerajaan dan kesombongan besar.
    Dan akan menempatkannya di dalam kubur
 yang menjadi tempat tinggalnya.

    Ketika dia mati, saudaranya itu mengerjakan apa yang diwasiatkannya. Lantas dia menziarahi makamnya pada hari ketiga. Dia berdoa dan menangis. Ketika dia hendak pulang, dia mendengar suara yang hampir saja menghilangkan ingatannya, dia pun pulang ke rumahnya dengan rasa sedih.
    Ketika datang waktu malam, dia bermimpi dalam tidurnya bertemu dengan saudaranya yang baru saja mati seraya berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, engkau telah datang menziarahi kami?”
    Dia bertanya, “Wahai saudaraku, bagaimana kamu?”
    Dia menjawab, “Jauh sekali, saudaraku setelah tempat persinggahan ini dan kami sekarang sudah berada di tempat yang menetap.”
    Dia menanyakan tentang saudaranya yang ‘abid, dia menjawab, “Dia bersama para ulama saleh al-abrar.”
    Si saudagar itu bertanya pada saudaranya, “Bagaimana tentang perkara dunia kami di akhirat sana?”
    Dia menjawab, “Barangsiapa melakukan sesuatu dari urusan dunia dan akhirat, maka dia akan mendapatkannya. Karena itu, gunakanlah kekayaanmu sebelum jatuh miskin.”
    Ketika si saudagar itu bangun di pagi hari, dia meninggalkan hartanya dan menjauhkan keduniaannya. Dia hanya berkonsentrasi untuk beribadah kepada Allah swt..
    Ketika dia akan wafat, dia berkata kepada anaknya yang masih remaja namun sudah bekerja seperti dia sebagai seorang saudagar, “Wahai anakku, ayahmu sudah tak lagi punya harta yang bisa diwasiatkan, namun aku punya satu wasiat permintaan yaitu jika aku mati, kuburkanlah aku bersama kedua pamanmu dan tuliskan di atas kuburku,
 
    Bagaimana hidup ini akan nikmat jika dia nantinya pasti akan masuk
ke liang kubur
walau dia sekarang masih belia yang akan meluluhkan paras wajah
yang dulunya menawan
dia akan luluh dan juga seluruh tubuhnya menjadi tulang belulang Setelah kamu lakukan itu, berjanjilah padaku bahwa kamu akan mengunjungi makamku di hari ketiga dan berdoalah untukku.

    Ketika sang ayah meninggal dunia, si anak melaksanakan apa yang diwasiatkan kepadanya. Dan pada hari ketiga dia ziarah ke kubur ayahnya dan mendengar suara dari kubur itu yang membuat kulit tubuhnya merinding dan mukanya pucat. Dia pun pulang ke rumahnya dalam keadaan demam dan panas, dan pada malam harinya dia bermimpi dalam tidurnya bertemu dengan ayahnya yang berkata kepadanya, “Wahai anakku, kamu tidak lama lagi akan mengalami seperti yang kami alami dan sesuatu itu tergantung akhirnya. Dan kematian itu lebih dari itu. Maka, bersiap-siaplah untuk perjalananmu. Berbekallah untuk perjalan jauhmu. Palingkan persiapanmu dari rumah yang kamu sekarang singgahi ke rumah yang nanti akan kamu tinggali selamanya. Janganlah kamu teperdaya dengan apa yang telah memerdayai orang-orang yang banyak berbuat dosa sebelum kamu. Mereka telah melalaikan urusan akhirat mereka, sehingga mereka pun amat sangat menyesal setelah mereka mati. Mereka juga menyesali atas membuang-buang umur dan amat sangat menyesali kelalaian ini. Selamatkanlah mereka dari jahatnya apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang tertipu dengan buah hasil pekerjaan mereka di hari Kiamat nanti.”
    Wahai anakku, bersegeralah, bersegeralah dan bersegeralah. Sang anak pun terbangun dari tidurnya dan berkata, “Apa yang aku mimpikan ini persis seperti yang pernah dikatakan oleh ayahku, dan aku melihat bahwa kematian sudah membayangiku.”
    Maka, dia pun segera membagi-bagikan hartanya dan segera membayar utang-utangnya. Dia pun menghalalkan apa yang menjadi tanggungan para klien dan pegawainya serta membebaskannya. Dia melepas kepergian mereka dan mereka pun melepas kepergiannya, bagaikan seseorang yang telah diperingati akan terjadi sesuatu padanya.
    Dia berkata kepada orang-orang yang ada di sekelilingnya, “Ayahku berkata, ‘Bersegeralah, bersegeralah, dan bersegeralah. Ini ada tiga kali perintah, mungkin ini adalah tanda dari tiga jam, tapi tiga jam itu telah berlalu, atau mungkin tiga namun bagaimana diriku jika itu terjadi atau mungkin tiga bulan dan aku pun tidak mengetahuinya atau mungkin saja tiga tahun.”
    Ketika dia masih memberi dan membagi-bagikan harta dan uangnya selama tiga hari sampai akhirnya di penghujung hari ketiga terhitung dari dia bermimpi. Dia lalu memanggil semua anggota keluarga dan anaknya, dia mengucapkan selamat tinggal dan salam kepada mereka. Lantas, dia menghadap ke kiblat dan menarik napas panjang-panjang. Tak lama kemudian dia memejamkan matanya dan mengucapkan syahadat yang benar dan hak kemudian dia meninggal dunia.

ALLAH TIDAK AKAN MENUTUP PAHALA PERBUATANMU

Wahab bin Munabbih berkata, “Ada di Bani Israil seorang laki-laki yang sangat tekun beribadah dan berijtihad. Pada suatu hari dia melihat seorang wanita dan jiwanya pun tergoda. Kemudian dia menyegerakan diri untuk menemui wanita itu seraya berkata kepadanya, ‘Sebentar, wahai wanita.’ Wanita itu berhenti dan mengenalinya seraya kepadanya, ‘Apa keinginanmu?’
    Laki-laki itu bertanya, ‘Apakah kamu mempunyai suami?’
    Wanita itu menjawab, ‘Benar, apa yang kamu inginkan?’
    Laki-laki itu berkata, ‘Jika tidak demikian, saya mempunyai pembicaraan lain.’
    Wanita itu berkata, ‘Apa itu?’
    Laki-laki itu berkata, ‘Terlintas dalam hatiku tentang dirimu.’
    Wanita itu menjawab, ‘Adakah sesuatu yang menghalangimu untuk menyelamatkannya?’
    Laki-laki itu berkata, ‘Apakah kamu mau untuk mengikutiku atas hal itu?’
    Wanita itu menjawab, ‘Ya.’
    Tak lama kemudian wanita itu berada berduaan dengan laki-laki itu di satu tempat. Dan ketika dia melihat laki-laki itu serius dalam hal yang dia minta, dia berkata kepadanya, ‘Sebentar wahai miskin, janganlah kamu jatuhkan harga dirimu di hadapan Allah.’
    Kemudian laki-laki yang ‘abid itupun sadarkan dirinya dari wanita itu dan dia segera mengurungkan apa yang selama ini dia pikirkan seraya berkata, ‘Allah tidak menghalangi pahala perbuatan kamu.’
    Kemudian laki-laki itu pergi ke satu tempat sepi dan berkata kepada dirinya sendiri, ‘Pilihlah, entah kedua mata buta, penjara dalam tanah, atau berpetualang bersama binatang buas.’
    Jiwanya kemudian memilih untuk bertualangan bersama binatang buas sampai akhirnya dia mati dan dia telah menyesali perbuatannya itu dan bertobat darinya.
    Begitulah, wanita tersebut dengan keimanan dan kepandaiannya mampu mengembalikan seorang ahli ibadah itu ke jalan yang benar setelah setan menggodanya dan membujuknya untuk melakukan perbuatan yang keji. Akan tetapi, dia sadarkan dirinya lantas langsung tobat dari perbuatannya itu. Hal itu sesuai dengan firman Allah swt., “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah. Ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raaf: 201)

YA ALLAH, AMPUNILAH DIA DAN BERI KERIDHAAN-MU KEPADANYA

Abu Na’im dalam kitab al-Hilyah menyebutkan dari Amru bin Malik bahwa dia bersama dengan kaum dan Bani Kilab pernah menyerang satu kaum dari Bani Asad. Mereka berhasil membunuh banyak orang dari mereka dan juga mempermainkan para wanita. Hal itu terdengar sampai kepada Rasulullah saw, dan beliau berdoa kejahatan atas mereka dan melaknat mereka.
    Ketika hal itu sampai kepada Amru bin Malik, dia pun segera memborgol tangannya, kemudian dia mendatangi Rasulullah saw. dan berkata, “Wahai Rasulullah, ridhai aku maka Allah akan ridha karena engkau.”
    Namun, Rasulullah saw. menolaknya. Dia pun kembali meminta kepada beliau seraya berkata, “Ridhai aku, Allah akan ridha karena engkau.” Beliau tetap saja menolaknya, dan dia mendatangi beliau untuk yang ketiga kalinya seraya berkata,  “Ridhai aku, Allah akan ridha karena engkau, dan demi Allah sesungguhnya Tuhan itu pasti kalau diminta keridhaan akan meridhai.”
    Kemudian Rasulullah saw. menemuinya dan bertanya, “Kamu telah bertobat dengan apa yang telah kamu lakukan dan kamu telah meminta ampun kepada Allah?”
    Dia menjawab,  “Ya.”
    Beliau berkata, “Ya Allah, ampunilah dia dan berilah keridhaan padanya.

TOBAT ABU SUFYAN IBNUL HARITS DAN ABDULAH BIN ABI UMAYYAH R.A.

Dia adalah anak paman Rasulullah saw. dan saudara sesusuan beliau, dia adalah Abu Sufyan ibnul Harits bin Abdul Muththalib r.a.. Dia selalu menampakkan kebenciannya terhadap Islam dan Rasulullah saw. sejak dini dan ia selalu menyakiti Rasulullah dengan berbagai siksaan yang pedih ketika beliau masih di Mekah.
    Setelah dua puluh tahun penentangannya terhadap Allah swt. dan terhadap Rasul-Nya, maka Allah menginginkan kebaikan atas dirinya. Sampai suatu ketika, tebersitlah keimanan dalam hatinya dan Allah lapangkan dadanya untuk menerima Islam di tahun ke-8 Hijriah. Pada tahun itu keluarlah Abu Sufyan, anak-anaknya, serta sahabatnya yang bernama Abdullah bin Abi Umayyah ibnul Mughirah yang dulunya sama seperti dia memusuhi Islam dan Rasul-Nya selama bertahun-tahun. Kedua sahabat itu pun pergi dan Allah telah menerima tobat mereka, kemudian keduanya kembali dan mereka berhijrah menuju Madinah al- Munawwarah.
    Dalam perjalanannya ke Madinah, Abu Sufyan ibnul Harits bertemu dengan Rasulullah saw.. Turut bersama beliau tentara kaum Muslimin untuk membuka kota Mekah di sebuah daerah yang dinamakan Baiqul ‘Iqab yang terletak antara kota Mekah dan Madinah. Sedangkan, Abbas, paman Rasul telah lebih dahulu dari mereka pergi menemui Rasulullah dan bergabung bersama beliau.
    Abu Sufyan ibnul Harits dan Abdulah bin Umayyah mencari jalan untuk menemui Rasulullah. Ummul Mukminin berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, ini adalah anak pamanmu dan anak bibimu serta besanmu.”
    Lalu beliau berkata kepadanya, “Aku tidak butuh mereka. Adapun anak pamanku yang dimaksud adalah Abu Sufyan, ia telah menghancurkan harga diriku. Sedangkan anak bibiku dan besanku adalah orang yang telah mengatakan yang ingin ia katakan di Mekah.” Rasulullah pun menolak kedatangan mereka.
    Abdullah ibnul Harits pun mendengar kabar itu. Kemudian ia berkata, “Demi Allah, niscaya aku akan diizinkan dan aku akan menerima uluran tangan anakku ini yaitu Ja’far. Kemudian kita akan pergi ke seluruh pelosok dunia ini hingga kami mati kelaparan atau kehausan.”
    Nabi pun mendengar kata-katanya ini, lalu luluhlah hati beliau hingga akhrinya diizinkanlah keduanya untuk menemui beliau. Lalu keduanya meminta maaf atas apa yang telah mereka lakukan di Mekah ketika masa jahiliah, lalu keduanya masuk Islam dan langsung dibaiat.
    Mereka pun bergabung dengan iring-iringan kaum Muslimin untuk masuk ke kota Mekah al-Mukarramah. Itulah jihad mereka fi sabilillah untuk yang pertama kalinya.

TOBAT ABU LUBABAH BIN ABDUL MUNDZIR

Abu Lubabah bin Abdil Mundzir al-Anshari adalah seorang dari kabilah al-Aus di Madinah al-Munawwarah. Orang-orang Yahudi Bani Quraidzah adalah sekutu mereka. Ketika mereka mengingkari janji kepada Rasulullah saw. dalam perang Khandaq dan mereka secara terang-terangan memerangi Rasulullah, Allah swt. memerintahkan Rasul-Nya untuk memerangi mereka setelah Allah mengalahkan tentara-tentara perang Ahzab.
    Bergegaslah Nabi saw. dan kaum Muslimin menuju mereka dan mengepung mereka. Setelah pengepungan atas mereka, mereka pun meminta Rasulullah saw. untuk mengirim sekutunya yang bernama Abu Lubabah bin Abdul Mundzir untuk dapat ikut bermusyawarah dengan mereka. Kemudian Rasulullah pun mengirim dia pada mereka.
    Ketika Abu Lubabah masuk ke dalam benteng mereka, para lelaki berdiri, kaum wanita dan anak-anak menangis meraung-raung di hadapannya. Mendengarnya terenyuhlah hatinya, mereka pun berkata, “Wahai Abu Lubabah, apakah engkau berpendapat bahwa kita akan dijatuhi hukuman oleh Muhammad?”
    Ia pun mengisyaratkan tangannya di lehernya, yakni bahwa hukuman Rasulullah saw. untuk mereka adalah sembelih dan bunuh. Abu Lubabah pun merasa bersalah, dan dia merasa telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Dia pun sangat menyesal sampai-sampai ia berkata, “Demi Allah, semasih kedua kakiku pada tempatnya hingga aku tahu bahwa aku telah khianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”
    Abu Lubabah pun segera pergi. Dia tidak pergi menemui Rasulullah saw, melainkan langsung pergi ke Masjid Nabawi lalu dia mengikat dirinya di salah satu tiang masjid, seraya berkata, “Aku tidak akan meninggalkan tempatku ini hingga Allah mengampuniku atas apa yang telah aku lakukan.”
    Abu Lubabah terus terikat di masjid selama enam hari. Istrinya datang di setiap waktu shalat. Ia membuka ikatannya hingga dia dapat berwudhu dan shalat kemudian diikat lagi. Setelah enam malam, turunlah firman Allah swt., “Dan (ada pula) orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (at-Taubah: 102)
    Ayat tersebut turun dengan kabar ampunan Allah untuk Abu Lubabah di penghujung malam. Ketika itu Rasulullah saw. sedang berada di rumah Ummul Mukminin Ummu Salamah r.a.. Ia pun meminta izin pada Nabi untuk memberi kabar gembira pada Abu Lubabah dengan tobat dan ampunan dari Allah swt. untuknya. Nabi pun mengizinkannya dan keluarlah ia memberi kabar gembira. Setelah itu datanglah kaum Muslimin dengan gembira atas ampunan Allah untuknya. Mereka ingin membukakan ikatannya akan tetapi dia tidak mau. Ia pun berkata, “Tidak ada seorang pun yang akan membuka ikatanku ini kecuali Rasulullah saw..”
    Ketika Rasulullah keluar untuk shalat subuh, beliau pun membukakan ikatannya.