Showing posts with label Ridha. Show all posts
Showing posts with label Ridha. Show all posts

Wasiat Rasulullah saw. kepada Mu'adz Bin Jabal

Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal, dia berkata, "Ketika anak laki-laki saya meninggal dunia, Rasulullah saw. mengirim surat kepada saya yang isinya, "Dari Muhammad Rasulullah untuk Mu'adz bin Jabal. Semoga Allah memberimu keselamatan. Saya memuji dan bersyukur pada Allah, Tuhan Yang tiada Tuhan selain Dia. Dan semoga Allah melipatgandakan pahalamu, memberimu kesabaran serta menjadikan saya dan kamu sebagai hamba-Nya yang bersyukur. Sesungguhnya jiwa, harta, keluarga dan anak-anak kita adalah pemberian dan titipan dari Allah yang dititipkan kepada kita. Kita diberi kesempatan untuk menikmati dan memanfaatkannya sampai batas waktu yang telah ditentukan. Allah telah menetapkan semua itu bagi kita hingga jangka waktu yang Dia ketahui. Kemudian Allah mewajibkan kepada kita untuk selalu bersyukur pada-Nya atas segala pemberian-Nya dan senantiasa bersabar terhadap segala ujian-Nya. Dan anakmu adalah salah satu dari pemberian Allah dan titipan dari-Nya kepadamu. Dengan keberadaan anakmu tersebut, Allah telah membuat hidupmu jadi bahagia. Kemudian Allah mengambilnya darimu dengan imbalan pahala yang besar jika kamu bersabar dan ikhlas. Maka wahai Mu'adz, jangan sampai setelah engkau kehilangan anakmu itu, pahala pun tidak kamu dapatkan, sehingga pada akhirnya kamu akan menyesal. Seandainya engkau mau melihat lebih teliti imbalan pahala atas musibah yang menimpamu, maka engkau akan mengetahui betapa musibah yang menimpamu itu jauh lebih remeh dibanding besarnya pahala yang engkau terima. Dan ketahuilah bahwasannya kegundahan itu tidak akan dapat mengembalikan orang yang sudah mati, tidak pula dapat menahan kesedihan. Maka kesedihannmu itu akan hilang dengan menyadari bahwa kematian juga akan terjadi padamu. Semoga Allah memberimu keselamatan".
As-Samarqandi berkata, "Maksud dari sabda Rasulullah saw. "Maka akan hilanglah kesedihanmu itu dengan menyadari bahwa kematian itu juga akan terjadi padamu", adalah bahwa dengan memikirkan kematian yang pasti akan engkau alami atau dengan membayangkan seakan-akan kematian itu telah datang padamu, akan menghapuskan perasaan sedihmu. Karena jika seseorang mau memikirkan hakikat keberadaan dirinya dan menyadari bahwa sebenarnya dia akan mati dalam waktu dekat, maka dia tidak akan gelisah dalam menghadapi kematian. Sebab kegelisahan tidak akan membuat orang mati hidup kembali. Malah hal itu akan menyebabkan hilangnya pahala yang semestinya bisa dia dapatkan seandainya bersabar. Hilangnya pahala tersebut dikarenakan orang yang gelisah dalam menghadapi musibah, pada hakikatnya dia tidak ridha dengan apa yang telah menjadi ketetapan Allah.

Ya Allah, Saya Memuji-Mu dengan Pujian yang Mencukupi Nikmat-Mu

Ibnu Rajab al-Hambali meyebutkan bahwa al-Auza’i rahimahullah berkata, “Seorang bijak berkata kepada saya, “Saya melihat seorang lelaki yang tidak mempunyai kedua tangan dan kaki sedang berkata, “Ya Allah, saya memuji-Mu dengan pujian yang sebanding dengan pujian seluruh makhluk-Mu atas anugerah-Mu kepada mereka, karena Engkau telah memberi saya keutamaan yang lebih besar dari banyak makhluk-Mu”.
Dengan heran saya bertanya kepadanya, “Atas nikmat apa engkau memuji Allah?”
Dia menjawab, “Apakah engkau tidak melihat apa yang telah Allah lakukan terhadap saya?”
“Ya, saya melihatnya”, jawabku.
Lalu dia berkata, “Demi Allah, seandainya Allah menurunkan api dari langit yang membakar saya, memerintahkan gunung-gunung untuk menghancurkan saya, memerintahkan lautan untuk menenggelamkan saya dan memerintahkan bumi untuk menelan saya, maka cintaku dan kesyukuranku kepada-Nya akan terus bertambah”.

Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Keridhaannya Terhadap Qadha dan Qadar Allah

Allah berfirman,

"Dan Ibrahim berkata, "Sesungguhnya saya pergi menghadap kepada Tuhan saya, dan Dia akan memberi petunjuk kepada saya. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepada saya (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh." Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku sesungguhnya saya melihat dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu." Dia menjawab, "Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapati saya termasuk orang-orang yang sabar". (ash-Shaffaat: 99-102)
Ketika Nabi Ibrahim pergi meninggalkan negerinya dan memohon kepada Allah agar diberi anak yang saleh, Allah mengaruniakan seorang anak yang diberi nama Isma'il dari rahim seorang wanita Mesir yang bernama Hajar. Waktu itu usia Nabi Ibrahim sudah mnecapai delapan puluh tahun.
Kemudian ketika Nabi Isma'il tumbuh besar dan mampu bekerja membantu ayahnya, Nabi Ibrahim melihat dalam sebuah mimpinya bahwa Allah menyuruhnya untuk menyembelihnya. Dan mimpi para nabi adalah wahyu yang benar yang datang dari Allah, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits yang shahih. Perintah menyembelih tersebut merupakan ujian dari Allah untuk Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim pun ridha dengan apa yang telah menjadi qadha dan qadar Allah itu. Lalu dia menemui anaknya, Nabi Isma'il, untuk dimintai keridhaannya, sebelum melaksanakan perintah Allah itu. Dia menceritakan kepada anaknya bahwa dia bermimpi diperintah oleh Allah untuk menyembelihnya. Hal itu dia lakukan agar hatinya lebih tenang, juga agar terasa lebih ringan dalam melaksakan perintah Allah tersebut, daripada jika membawa anaknya itu dengan paksa dan langsung  menyembelihnya tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Nabi Ibrahim menjelaskan mimpinya pada anaknya dengan berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya saya melihat dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu, bagaimana  pendapatmu tentang hal itu?" Nabi Isma'il pun langsung menyatakan keridhaannya dengan berkata, " Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati saya termasuk orang-orang yang sabar".
Demikianlah gambaran keridhaan seorang ayah dan seorang anak terhadap ketentuan dan perintah Allah. Keridhaan yang didasari atas ketenangan hati dan keimanan yang tinggi. Allah menceritakan itu semua dalam bentuk kisah yang indah yang termaktub dalam Al-Qur'an.
Allah membukakan jalan keluar bagi Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Isma'il, karena keridhaan mereka terhadap qadha-Nya. Allah mengganti Nabi Isma'il dengan seekor sembelihan yang besar dari surga. Kemudian hal itu, yaitu menyembelih kurban, menjadi salah satu sunnah yang dilaksanakan kaum muslimin hingga hari kiamat. Segala puji bagi Allah.

Kisah Keridhaan Mu

Ibnul Jauzi menyebutkan dalam Shifatush Shafwah dari Tsabit al-Bunnani, dia berkata, “Pada suatu ketika Shilah bin Usyaim berada di Sebuah Peperangan bersama dengan anaknya.
Lalu dia berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, majulah dan berperanglah hingga saya mengikhlaskanmu”.
Maka anaknya pun segera maju ke medan perang hingga terbunuh.
Kemudian sang ayah pun maju dan berperang, kemudian terbunuh juga.
Esok harinya para wanita berdatangan di rumah ibunya, Mu’adzah binti Adawiyyah. Lalu dia berkata kepada para wanita tersebut, “Selamat datang. Jika kalian datang untuk mengucapkan selamat kepada saya, maka saya menyambut kalian dengan hati gembira. Akan tetapi jika kalian datang untuk berbela sungkawa, maka kembalilah ke rumah kalian”.
Saya ( penulis ) katakan, “Mu’adzah bintu Adawiyah, seorang wanita ahli ibadah tersebut ridha dengan qadha dan qadar Allah ketika anak dan suaminya meninggal dunia. Dia ingin mendapatkan pahala yang besar dari Allah dengan bersabar terhadap cobaan yang menimpanya dan ridha dengan qadha Allah.
Segala puji dan kenikmatan adalah milik Allah semata”.

Seorang Wanita yang Ridha kepada Qada Allah dan Allah Mengabulkan Do'anya

Penulis kitab al-Farj Ba'dasy Syiddah menyebutkan sebuah riwayat dari Ahmad bin Ja'far al-Barqi. Dia berkata, "Saya pernah menyaksikan seorang wanita yang tabah di sebuah pedalaman. Waktu itu, udara di sana sangat dingin, dan itu menyebabkan rusaknya tanaman yang terdapat di ladang wanita tersebut. Karena musibah itu, banyak orang yang datang untuk menghiburnya. Adapun wanita itu sendiri, dia mengangkat tangannya ke langit bedo'a kepada Allah, "Ya Allah, Engkaulah satu-satunya pengharapan untuk datangnya sebuah ganti yang lebih baik. Karena hanya Engkaulah yang mampu mengganti sesuatu yang telah musnah. Maka karuniakanlah kepada kami kebaikan yang merupakan milik-Mu. Sesungguhnya Engkaulah yang berkuasa atas rizki kami, dan kepada-Mu lah kami menggantungkan harapan".
Demikianlah, wanita itu tiada hentinya berdo'a, sampai akhirnya datang kepadanya seorang hartawan daerah tersebut. Kemudian diceritakan kepada sang hartawan tentang apa yang telah menimpa wanita itu. Setelah mengetahui ceritanya, sang hartawan tersebut memberikan kepada wanita itu lima ratus dinar.

Keridhaan Ibrahim bin Adham terhadap Qadha Allah

Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Pada suatu hari saya merasakan sebuah ketenangan, sehingga hatiku merasa bahagia terhadap anugerah Allah terhadap saya. Maka saya pun berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memberikan sesuatu kepada salah seorang pencinta-Mu yang membuat hatinya tenang sebelum berjumpa dengan-Mu. Maka berikanlah hal itu juga kepada saya, karena perasaan gelisah telah menggangguku”.
    Ibrahim bin Adham berkata, “Lalu saya bermimpi melihat Allah ta’ala. Lalu Dia memberdirikan saya di hadapan-Nya dan bertanya kepada saya, “Wahai Ibrahim, apakah engkau tidak malu kepada-Ku? Kau meminta-Ku sesuatu yang membuat hatimu tenang sebelum bertemu dengan-Ku. Apakah hati orang yang rindu bisa terobati dengan selain yang dirindukannya? Apakah orang yang mencintai menjadi tenang dengan selain yang dirindukannya?”
Maka saya katakan kepada-Nya, “Wahai Tuhanku, saya tersesat dalam cinta-Mu, maka saya tidak tahu apa yang saya katakan”.

Keridhaan Utsman bin Affan Ketika Menghadapi Ujian

Utsman bin Affan, Khalifah ketiga Khulafa`ur Rasyidin, dalam akhir masa kekhilafahannya dihadapkan dengan fitnah dan ujian yang besar, yang pada akhirnya menyebabkannya terbunuh.
Utsman sebenarnya telah mengetahui tentang ujian yang akan dihadapinya itu. Dia mengetahuinya dari Rasulullah saw. ketika beliau masih hidup. Rasulullah saw. telah mengabarkan kepadanya bahwa dia akan masuk surga karena kesabarannya mengahadapi ujian tersebut dan keridhaannya terhadap qadha dan qadar Allah. Rasulullah saw. bersabda padanya, "Wahai Utsman, sesungguhnya kelak Allah akan memakaikan sebuah baju untukmu. Lalu apabila orang-orang menginginkan engkau melepaskannya, maka jangan kamu turuti mereka".  Baju yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah kekhilafahan. Orang-orang yang menentangnya, menginginkan agar dia melepaskan baju kekhilafahannya tersebut. Akan tetapi dia menolaknya  karena mentaati perintah Rasulullah saw. tersebut. Di sisi lain, dia juga tidak mau memerangi orang-orang yang menentangnya itu, meskipun sebenarnya dia mampu untuk memerangi mereka, sebagaimana layaknya para penguasa, jika ada salah seorang rakyatnya yang membelot, maka akan diperanginya seberat apapun hal itu.
Utsman melarang membunuh siapapun dari kaum muslimin hanya karena menentangnya. Dan para sahabat yang lain, sebenarnya juga mampu untuk mengusir para penyebar fitnah tersebut, jika hal itu memang diperintahkan kepada mereka. Akan tetapi Utsman lebih memilih bersabar dalam mengahadapi semuaitu. Dan dia senantiasa ridha dengan qadha dan qadar Allah.
Abu Musa al-Asy'ari berkata, "Pada saat saya bersama Rasulullah saw. di sebuah kebun di Madinah, datang seseorang minta dibukakan pintu pagar kebun untuk masuk. Lalu Rasulullah saw. berkata, "Bukakanlah pintunya, dan beritahu dia bahwa kelak dia akan masuk surga". Maka saya buka pintu kebun tersebut, dan ternyata Abu Bakar yang berada di balik pintu. Lalu saya sampaikan kabar gembira dari Rasulullah saw. tersebut kepadanya. Maka dia langsung bersukur dan memuji Allah. Kemudian setelah itu, datang lagi seseorang yang mengetuk pintu kebun. Maka Rasulullah saw. memerintahkan untuk membukakannya dengan bersabda, "Bukakanlah pintu untuknya, dan sampaikan padanya bahwa kelak dia akan masuk surga”. Lalu saya buka pintu kebun tersebut, dan ternyata Umarlah yang datang. Lalu saya sampaikan padanya kabar gembira dari Rasulullah saw. tersebut, maka dia langsung mengucapkan tahmid. Kemudian datang lagi seseorang mengetuk pintu kebun minta dibukakan. Maka Rasulullah saw. sekali lagi bersabda, "Bukakanlah pintu untuknya. Dan beritahu padanya, dia kelak akan masuk surga, meskipun harus dengan melewati ujian berat”. Dan ketika pintu saya buka, ternyata Utsman yang datang, dan saya sampaikan padanya apa yang dikatakan Rasulullah saw. tersebut. Maka seketika itu pula dia langsung bertahmid, lalu berkata, "Dialah Allah, tempat meminta pertolongan dan kepada-Nyalah segala urusan diserahkan".
Dalam riwayat lain dikatakan, “Maka Utsman memasuki kebun seraya bertahmid dan berkata, "Ya Allah berilah saya kesabaran".
Demikianlah keridhaan Utsman terhadap ketetapan Allah. Dan ketika musibah serta cobaan datang menghampirinya, dia senantiasa bersabar. Ketika para sahabat menginginkan agar dia memerangi para pembangkang yang menzaliminya itu, dia menolaknya dan berkata pada mereka, "Jangan diperangi, sesungguhnya Rasulullah saw. telah berpesan pada saya agar saya bersabar menghadapi mereka. Oleh karena itu saya akan bersabar terhadap apa yang mereka lakukan terhadap saya”.

Abu Utsman Sa

Muhammad bin Nu’aim berkata, “Saya mendengar ibuku berkata, “Saya mendengar Maryam, isteri Utsman berkata, “Pada suatu hari, secara kebetulan saya mendapati kesempatan bicara kepada Abu Utsman. Maka saya gunakan untuk bertanya kepadanya, “Wahai Abu Utsman, amal apakah yang telah engkau lakukan yang paling engkau harapkan pahalanya?”
Dia menjawab, “Wahai Maryam, ketika saya tumbuh dewasa dan di saat kepemudaanku tumbuh sempurna, keluargaku memintaku untuk menikah, namun saya menolak. Lalu seorang wanita mendatangiku dan berkata, “Wahai Abu Utsman, saya sangat mencintaimu. Cintaku kepadamu membuatku tidak bisa tidur dan selalu gelisah. Aku memohon kepadamu dengan sepenuh hati, agar engkau sudi menikahiku”.
Maka saya katakan kepadanya, “Apakah ayahmu masih hidup?”
Dia menjawab, “Ya. Dia adalah tukang jahit yang tinggal di tempat ini”.
Lalu saya mengutus seseorang untuk menemui ayahnya dan menikahkan anaknya dengan saya. Maka ayahnya merasa sangat bahagia. Kemudian saya menghadirkan beberapa saksi, dan saya pun menikahinya.
Ketika saya memasuki kamar pengantin, saya melihat matanya buta sebelah, kakinya pincang dan rupanya buruk. Maka saya berucap, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas apa yang Engkau tetapkan untukku”.
Melihat hal itu, keluargaku pun mencibirku. Namun saya semakin melayani isteriku dengan baik dan memuliakannya, sehingga dia tidak membiarkan saya keluar dari rumah. Maka saya tidak dapat menghadiri berbagai pertemuan yang diadakan, karena lebih mendahulukan keridhaan isteri saya dan untuk menjaga perasaan hatinya.
Saya hidup bersamanya selama lima belas tahun. Terkadang, saya merasa bagaikan berada di atas bara api, akan tetapi saya tidak menampakkan hal itu hingga dia meninggal dunia.
Maka tidak ada amal saya yang lebih saya harapkan pahalanya dari apa yang saya lakukan untuk menjaga perasaan hatinya terhadap saya”.

Kesabaran dan Keridhaan Nabi Isma'il Terhadap Ketetapan Allah

Diriwayatkan oleh Ibn Abid Dunya dalam kitab ar-Ridha, bahwasannya ketika Nabi Ibrahim merebahkan Nabi Isma'il untuk menyembalihnya, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dalam mimipinya, Isma'il, anaknya yang taat kepada perintah Allah dan ridha terhadap qadha-Nya itu berkata, "Wahai ayah, kencangkanlah ikatanku. Saya khawatir tatkala engkau akan menyembelih saya, engkau melihat saya dan engkau tidak tega melakukannya. Sehingga engkau melanggar perintah Allah itu. Saya juga khawatir, tatkala engkau akan menyembelih saya, saya melihat wajahmu, karenanya saya menghalangimu untuk menjalankan perintah Allah tersebut".
Kemudian Nabi Ibrahim membalik tubuh anaknya agar tidak melihat wajahnya. Hal itu sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah dalam Al-Qur'an melalui firman-Nya yang berbunyi,

"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis( nya ), ( nyatalah kesabaran keduanya )”. ( ash-Shaffaat: 103 )
Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, "Maksudnya adalah dia merebahkan anaknya dengan menutup mukanya. Kemudian setelah Ibrahim membaca basmalah, lalu bertakbir, dan anaknya telah bersyahadat untuk menghadapi kematiannya, Ibrahim mulai menggoreskan pisau ke lehernya. Akan tetapi pisau tersebut tidak mampu menggores lehernya. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan karena Allah telah meletakkan sebuah lempengan tembaga antara pisau dan leher anaknya itu. Wallahu a'lam.            

Urwah bin Zubair dan Keridhaannya kepada Qadha Allah

Dia adalah Urwah bin Zubair, putera salah seorang sahabat setia Rasulullah saw.. Ibunya adalah Asma` bintu Abu Bakar, Dzaatun Nithaaqain ( pemilik dua ikat pinggang ), radhiyallahu ‘anhum. Dia dilahirkan pada tahun 23 H. Dia adalah seorang imam dan ulama Madinah, serta salah seorang fuqahaa` Sab’ah ( tujuh ahli fikih ).  Dan di siang hari dia membaca seperempat Al-Qur’an langsung dari mushhaf, lalu pada malam harinya dia menunaikan shalat dengan bacaannya tadi.
    Anaknya, Hisyam, meriwayatkan bahwa pada suatu hari ayahnya pergi mendatangi al-Walid bin Abdil Malik. Ketika sampai di Wadil Qura, dia merasakan rasa nyeri di kakinya. Ketika dia perhatikan, dia melihat ada luka bernanah di sana. Kemudian rasa sakit terus menjalar ke atas, sehingga dia melanjtukan perjalanan ke tempat Walid dengan ditandu. Setelah sampai, Walid pun menyambutnya. Ketika melihat sakit di kakinya terus menjalar, Walid pun berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdillah, apakah boleh kakimu dipotong?”
Dia menjawab, “Lakukanlah”.
Lalu Walid memanggil seorang dokter. Ketika akan memotong kakinya, sang dokter berkata kepada Urwah, “Minumlah obat penidur ini”. Namun Urwah tidak mau meminumnya.
Lalu sang dokter memotong kakinya dari pertengahan betis, dan Urwah hanya mendesis, “Hissi, hissi”.
Al-Walid bin Abdil Malik berkata, “Saya tidak pernah melihat orang tua sekuat dia dalam menahan rasa sakit”.
Dalam perjalanan tersebut, anaknya, Muhammad, jatuh sakit, lalu meninggal dunia. Dan Urwah hanya membaca firman Allah,

“Sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini”. ( al-Kahf: 62 ).
Dan dia berkata, “Ya Allah, dulu saya mempunyai tujuh orang anak lalu Engkau mengambil satu orang dan menyisakan enam orang anak. Dan dulu saya mempunyai empat anggota tubuh ( 2 kaki dan 2 tangan ), lalu Engkau mengambil salah satunya dan menyisakan tiga. Jika Engkau telah mengujiku, maka Engkau telah memberi kesehatan kepada saya. Dan jika Engkau telah mengambil dari saya, Engkau pun tetap menyisakannya untuk saya”.
Lalu orang-orang memperlihatkan kepadanya kakinya yang telah dipotong di dalam baskom. Lalu dia berkata kepada kakinya tersebut, “Sesungguhnya Allah tahu, bahwa saya tidak pernah menggunakanmu untuk berjalan menuju kemaksiatan. Dan saya pun tahu akan hal itu”.
Dan Urwah meninggal pada tahun 93 H, ketika sedang berpuasa.

Umar Ibnul Khatab dan Pertanyaanya Tentang Fitnah

Khalifah kedua, Umar ibnul Khatab r.a. senantiasa merasa takut kepada Allah Swt dalam setiap perbuatan dan ucapannya. Dia  sangat menginginkan dapat menghadap Allah dalam keadaan seperti ketika Rasulullah saw. meninggalkannya. Dia selalu bertanya pada sekretaris Rasulullah saw., Hudzaifah ibnul Yaman tentang fitnah.
Pada suatu hari, Umar bertanya kepada sekelompok sahabat yang ketika itu Hudzaifah bersama mereka, “Siapa diantara kalian yang hafal sabda Rasulullah saw. tentang fitnah?”
Khudzaifah  menjawab, “Saya”.
Umar berkata, “Kamu sungguh berani”.
Lalu Hudzaifah menjawab pertanyaan Umar, “Fitnah bagi seseorang pada istri, anak dan tetangganya dapat dicegah dengan selalu menjalankan shalat, bersedekah dan menyeru kepada kebaikan serta melarang perbuatan mungkar”.
 Umar memperjelas maksud pertanyaannya, “Bukan itu yang saya inginkan, akan tetapi fitnah yang datang menerjang seperti gelombang air laut”.
Setelah menangkap maksud pertanyaan Umar, Hudzaifah berkata, “Janganlah engkau merisaukan hal itu wahai Amirul Mu’minin. Sesungguhnya terdapat pintu penghalang antara engkau dan fitnah itu”.
Lalu Umar bertanya lagi, “Akankah pintu tersebut hancur atau terbuka”.
Hudzaifah  menjawab, “Ia akan hancur”.
Umar berkata, “Jadi ia tidak selamanya tertutup”.
Masruq –salah seorang tabi’in yang meriwayatkan kisah ini– berkata, “Kami bertanya pada Hudzaifah, “Apakah Umar tahu tentang pintu itu?”
Hudzaifah  menjawab, “Ya, sebagaimana dia tahu bahwa akan datang malam setelah siang”.
Dan Masruq bertanya lagi, “Siapakah yang dimaksud dengan pintu itu?” Khudzaifah  menjawab, “Umar.”
Sesungguhnya Umar ibnul Khatab telah mengetahui bahwa pintu penghalang terjadinya fitnah yang dimaksud tidak lain adalah dirinya. Apabila pintu tersebut telah hancur, yaitu dengan terbunuhnya Umar, maka ia tidak bisa ditutup kembali. Dan hal itu benar-benar terjadi setelah terbunuhnya Umar ibnul Khatab. Fitnah mulai datang menerpa sejak zaman Usman bin Affan r.a. dan belum berakhir hingga sekarang.
Pada suatu ketika Umar berdo’a kepada Allah, “Ya Allah saya telah menjadi lemah lagi tua, sedangkan rakyatku telah luas menyebar. Ya Allah panggillah saya untuk menghadapmu dalam keadaan yang tidak sia–sia dan tidak lalai”.  Doa itu terucap di penghujung hidupnya. Sekitar sebulan setelah itu dia terbunuh sebagaimana yang tertulis dalam tinta sejarah. Hafshah bintu Umar, istri Rasulullah saw., mengatakan bahwa dia mendengar ayahnya, Umar ibnul Khatab, berdo’a, “Ya Allah karuniakanlah padaku syahadah di jalan-Mu dan meninggal dunia di negeri Nabi-Mu”. Kemudian Hafsah bertanya pada ayahnya, “Bagaimanakah itu akan terjadi”. Umar menjawab, “Sesungguhnya ketentuan Allah akan terjadi sebagaimana yang Dia kehendaki”.
Pertanyaan Hafshah tersebut menandakan bahwa dia merasa heran dengan apa yang diucapkan ayahnya dalam doanya itu. Karena pada saat itu, tidak seorang pun dari orang-orang musyrik yang timggal di Madinah. Dan ayahnya tidak pernah lagi keluar dari Madinah. Bagaimana dia menginginkan mati syahid di jalan Allah dan dimakamkan di Madinah, sedangkan hal itu tidak mungkin didapatkan oleh seorang muslim kecuali terbunuh di tangan orang kafir? Dan terbunuh dengan cara seperti itu adalah derajat yang paling tinggi dalam kesyahidan.
Akan tetapi ketentuan Allah-lah yang berbicara. Dia mengabulkan doa Umar, karena apa yang diinginkan umar dalam doanya sejalan dengan qadha dan qadar-Nya. Bermula dari kedatangan Mughirah bin Syu’bah, ketika memberitahu Umar bahwa seorang budak kepunyaannya bernama Abu Lu`lu`ah, seorang Majusi, memiliki ketrampilan yang bisa dimanfaatkan oleh kaum muslim. Maka Umar ibnul Khatab pun tertarik dan menginginkan agar kaum muslim dapat mengambil manfaat dari ketrampilannya. Untuk itu, dia mengizinkan budak Majusi itu tinggal di Madinah. Tidak selang lama, niat jahat majusi ini pun muncul. Dia mengatur siasat untuk membunuh Khalifah Umar ibnul Khatab r.a.. Pada suatu pagi, datang kesempatan padanya, yaitu ketika Khalifah sedang khusyu’ menjalankan shalat subuh di masjid. Maka dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan menikam Umar di saat dia sedang dalam posisi sujud. Doa khalifah Umar ibnul Khatab pun terkabulkan. Dia menuai syahadah di jalan-Nya dan dimakamkan di sisi Rasulullah saw. dan sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq.

Imran bin Khushshain dan Keridhaannya di Saat Sakit

Diriwayatkan oleh Ibn Abid Dunya dari Hasan al-Bashri, dia berkata, "Suatu ketika Imran bin Khushshain jatuh sakit. Lalu saya datang menjenguknya. Akan tetapi kedatangan saya itu dianggapnya agak terlambat. Maka saya berkata kepadanya, "Wahai Abu Nujaid, sebenarnya yang menghalangi saya segera menjengukmu adalah karena saya merasa tidak tega melihatmu menahan rasa sakit". Kemudian Imran berkata pada saya, "Janganlah engkau merasa tidak tega. Demi Allah sesungguhnya apa yang saya sukai adalah apa yang disukai oleh Allah, maka janganlah engkau bersedih karena melihat saya sedang menahan rasa sakit. Sesungguhnya engkau tidak akan merasa sedih jika kamu tahu bahwa apa yang engkau lihat pada diri saya saat ini adalah penebus bagi dosa-dosa saya. Oleh karena itu saya ikhlas dengan sakit saya ini, dan saya mengharap pengampunan dari Allah atas dosa-dosa saya yang masih tersisa. Sesungguhnya Allah telah berfirman,

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (asy-Syuura: 30).

Keridhaan Yusuf bin Ya'qub A.s. Terhadap Qadha Allah

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya az-Zuhd dari Abu Abdullah, muazzin kota Tha'if, dia berkata, "Malaikat Jibril datang kepada Nabi Yusuf dan berkata padanya, "Wahai Yusuf, apakah penjara membuatmu susah?" "Ya", jawab Nabi Yusuf singkat. Lalu malaikat Jibril berkata, "Kalau begitu, katakanlah, "Ya Allah, karuniailah saya kemudahan dan kelonggaran pada setiap urusan yang memberatkan saya, baik itu urusan dunia, maupun urusan akhirat. Berilah saya rizki dengan jalan yang tidak saya duga, ampunilah dosa saya, kuatkanlah harapan saya, dan jadikanlah harapan saya tersebut hanya kepada-Mu".
Lalu Nabi Yusuf pun mengucapkan do'a tersebut, dan dia telah ridha dengan qadha dan qadar Allah. Maka Allah pun membukakan jalan kemudahan baginya. Dia dikeluarkan dari penjara, lalu diangkat menjadi menteri Mesir, yang dengan itu dia menjadi seorang yang mempunyai kedudukan penting di Mesir.

Keridhaan Abul Hasan al-Lu`lu`i dan Keridhaannya kepada Allah

Abul Hasan al-Lu`lu`i berkata, “Pada suatu ketika saya naik perahu. Lalu perahu yang naiki itu pecah sehingga semua penumpangnya masuk ke dalam air. Padahal di tempat dudukku terdapat permata yang harganya empat ribu dinar, sedangkan musim haji sudah dekat sehingga saya pun takut kehilangannya. Lalu Allah menyelamatkan saya dengan mendamparkan di daratan. Kemudian saya berjalan mencari-cari bawaan saya. Kemudian orang-orang yang juga selamat berkata kepadaku, “Cobalah berhenti dulu, semoga ada yang datang dan mengeluarkan sesuatu dan membawa sebagian dari bawaanmu”.
Maka saya katakan, “Allah Maha Tahu tentang apa yang saya alami. Ketika di kapal, di tempat dudukku saya membawa sesuatu yang harganya empat ribu dinar. Dan saya tidak menginginkannya kecuali untuk menunaikan haji”.
Lalu orang-orang berkata, “Apa yang membuatmu sampai mempunyai pikiran seperti itu?”
Saya katakan, “Saya adalah orang yang ingin sekali menunaikan haji. Saya mencari keuntungan dan pahala. Dan pada suatu ketika saya pernah menunaikan haji kemudian saya sangat kehausan. Kemudian saya menyuruh orang yang naik onta bersamaku untuk duduk di tengah tunggangan”. Lalu saya turun untuk mencari air. Ketika itu semua orang dalam rombongan saya juga sangat kehausan”.
Kemudian saya bertanya dan terus bertanya kepada orang-orang, baik yang sendiri maupun yang berkelompok yang saya temui, “Apakah kalian mempunyai air?”.
Namun kondisi mereka tidak berbeda; mereka tidak mempunyai air. Kemudian saya melintasi sebuah tempat yang biasanya untuk mengumpulkan air, seperti kolam. Di sana saya melihat seorang lelaki yang fakir sedang menancapkan tongkatnya di tempat itu dan air menyembur dari tempat tongkatnya, lalu dia minum darinya. Maka saya pun segera turun mendekatinya dan ikut minum hingga merasa puas. Kemudian saya kembali lagi ke rombongan saya untuk mengambil kantung air. Ketika itu orang-orang sudah turun dari atas onta-onta mereka. Kemudian saya kembali ke tempat air tadi, lalu saya memenuhi kantung air saya tersebut lalu saya kembali ke tempat saya semula. Melihat saya memanggul kantung air yang penuh, orang-orang segera mengambil kantung-kantung air mereka lalu pergi ke tempat air tersebut. Maka semuanya pun mendapatkan air dan tidak kehausan lagi.
Kemudian saya mendatangi lagi kolam air tadi, dan saya lihat ia penuh dengan air dan ombaknya berdeburan karena orang-orang memasukkan ember-ember mereka untuk mengambil air darinya.
Maka apakah saya lebih mengutamakan uang empat ribu dinar dari sebuah musim yang dihadiri oleh orang-orang seperti itu yang berdoa, “Ya Allah ampunilah orang yang hadir di Arafah dan ampunilah orang-orang muslim?”.
Demi Allah, saya tidak akan melakukannya. Saya tidak mengutamakan dunia dan seisinya darinya”.
Lalu Abul Hasan al-Lu`lu`i pergi meninggalkan permatanya dan semua bawaannya. Padahal semua bawaannya yang tenggelam nilainya adalah lima puluh ribu dinar”.

Salman al-Farisi dan Keridhaannya Kepada Qadha Allah Ketika Meninggal Dunia

Abu Sufyan meriwayatkan dari para gurunya, dia berkata, “Pada suatu hari, Sa’ad bin Abi Waqqash menjenguk Salman. Lalu Salman menangis, maka Sa’ad bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis wahai Abu Abdillah. Ketika Rasulullah saw. meninggal, beliau ridha terhadapmu dan engkau akan mendatangi kolam beliau”.
Maka Salman berkata, “Saya tidaklah menangis karena takut mati juga bukan karena menginginkan dunia. Akan tetapi Rasulullah saw. pernah berpesan kepada kami dan berkata, “Hendaklah apa yang kalian miliki seperti bekal musafir dengan menunggang binatang”, sedangkan di sekelilingku terdapat banyak bantal ini”.
Lalu perawi berkata, “Padahal di sekitarnya hanya terdapat bak air untuk mencuci pakaian, mangkuk besar atau tempat air untuk berwudhu”.
Maka Sa’ad berkata, “Wahai Abu Abdillah, berpesanlah kepada kami, lalu kami akan melakukannya”.
Salman berkata, “Wahai Sa’ad, ingatlah kepada Allah ketika engkau menginginkan sesuatu, ketika engkau memutuskan suatu perkara, juga ketika engkau memberi orang lain”.
Dalam riwayat lain disebutkan, “Ketika meninggal dunia, orang-orang hanya menemukan kain untuk duduk di atas pelana, tikar dan barang-barang lain yang jika semuanya dihitung, nilainya hanya sekitar dua puluh dirham”.
    Ketika mendekati ajal, dia berkata kepada istrinya, “Apa yang engkau lakukan terhadap minyak misk yang kita bawa dari Blinjar?”
Istrinya menjawab, “Ini minyak wanginya”.
Salman lalu berkata, “Buanglah minyak wangi itu ke dalam air, lalu aduklah, kemudian tumpahkanlah di sekitar kudaku. Karena sekarang ini datang suatu kaum yang bukan manusia juga bukan jin”. ( Yang dia maksud adalah para malaikat ).
Lalu istrinya pun melakukan hal itu, kemudian Salman meninggal dunia. Semoga Allah meridhainya dan dia ridha kepada Allah.
Demikianlah keridhaannya kepada qadha dan qadar Allah ‘azza wajalla.

Menunaikan Amanah dan Ridha kepada Qadha Allah

Abul Qasim Abdullah bin Abul Fawaris al-Baghdadi berkata, “Saya mendengar Qadhi Abu Bakar Muhammad bin bin Muhammad al-Bazzar al-Anshari berkata, “Saya pernah tinggal di dekat Ka’bah.  Pada suatu hari saya sangat kelaparan dan saya tidak menemukan apapun untuk mengobati rasa lapar saya. Lalu saya menemukan sebuah buntalan kain Ibrisim yang di dalamnya terdapat sebuah kalung mutiara yang sangat indah yang tidak pernah saya lihat sebelumnya. Kemudian saya keluar dari rumah saya. Lalu saya lihat seorang kakek-kakek yang mengumumkan bahwa dia kehilangan kalung mutiara tersebut. Dia membawa sebuah bungkusan yang berisi lima ratus dinar seraya berkata, “Uang dinar ini untuk orang yang menemukan dan mengembalikan bungkusan yang terdapat mutiara di dalamnya”.
Maka saya berkata kepada diri saya sendiri, “Saya saat ini sangat membutuhkan uang dan saya kelaparan. Saya akan ambil imbalan tersebut dan menggunakannya untuk keperluan saya dan saya kembalikan mutiaranya”.
Maka saya katakan kepadanya, “Mari ikut saya”. Lalu saya membawanya ke rumah saya. Lalu dia memberitahu saya tentang ciri-ciri bungkusannya, ciri-ciri kalung mutiara yang ada di dalamnya, jumlah mutiara di kalung tersebut dan tali yang digunakan untuk mengikat bungkusan tersebut. Lalu saya mengambil bungkusan tersebut dan menyerahkannya kepadanya”.
    Ketika  orang itu menyerahkan imbalannya, Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi menolaknya, dan berkata kepada pemilik bungkusan, “Merupakan kewajiban saya untuk mengembalikannya kepadamu. Maka saya tidak mau mengambil uang dinar tersebut sebagai imbalan”.
Pemilik bungkusan itu berkata, “Kamu harus menerimanya”.
Akan tetapi Muhammad bin Abdul Baqi tetap menolak untuk mengambil imbalan tersebut dan tetap bersikeras dengan pendapatnya.
Kemudian Muhammad bin Abdul Baqi berkata, “Setelah peristiwa itu, saya pergi dari Mekkah kemudian saya naik sebuah perahu. Ketika di tengah perjalanan, perahu tersebut pecah sehingga orang-orang pun tenggelam dan semua harta yang dibawa orang-orang pun rusak dan hilang. Sedangkan saya selamat karena berpegangan dengan pecahan perahu tersebut. Maka saya pun berada di tengah lautan untuk beberapa saat, tanpa tahu kemana ombak membawaku. Kemudian saya sampai di sebuah pulau yang dihuni oleh orang-orang. Lalu saya menetap di salah satu masjidnya. Kemudian orang-orang mendengar saya membaca Al-Qur’an, maka tidak seorang pun dari penghuni pulau itu kecuali mendatangi saya dan minta diajari Al-Qur’an. Maka saya pun mendapatkan harta yang banyak dari mereka.
Kemudian saya melihat lembaran-lembaran mushhaf di dalam masjid tersebut. Lalu saya mengambilnya dan membacanya. Kemudian orang-orang berkata, “Apakah engkau bisa menulis?”
Saya menjawab, “Ya, saya bisa”.
Maka mereka pun berkata, “Ajarkanlah kami tulis menulis”.
Kemudian mereka datang membawa anak-anak dan para pemuda mereka. Lalu saya mengajari mereka. Sehingga saya pun mendapatkan uang banyak dari hal itu.
Kemudian orang-orang berkata, “Di antara kami ada seorang gadis yatim yang mempunyai banyak harta. Kami ingin engkau menikah dengannya”. Saya pun menolaknya. Namun mereka tetap bersikeras dan berkata, “Engkau harus menerimanya”.
Maka saya pun melakukan keinginan mereka.
Setelah akad pernikahan dan mereka menyerahkan gadis kepada saya, saya pun memandangnya. Ketika itulah saya melihat kalung mutiara yang saya temukan tersebut ada di lehernya, sehingga saya pun terus memperhatikannya.
Maka orang-orang pun berkata kepada saya, “Wahai tuan, engkau telah menyakiti hati gadis yatim ini karena terus memandang kalungnya dan tidak mempedulikan pemakainya”.
Kemudian saya menceritakan tentang kisah saya dengan kalung tersebut ketika saya masih di Mekah. Maka mereka pun meneriakkan tahlil dan takbir hingga terdengar oleh seluruh penghuni pulau tersebut.
Dengan heran saya pun bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian ini?”
Mereka menjawab, “Orang tua dalam ceritamu yang memiliki kalung itu adalah ayah gadis ini. Dia pernah berkata, “Saya tidak pernah melihat seorang muslim kecuali orang yang mengembalikan kalung ini padaku”. Lalu dia berdoa, “Ya Allah, pertemukanlah saya dengannya hingga saya dapat menikahkannya dengan puteri saya”. Dan sekarang doanya itu telah terkabulkan”.
Qadhi Abu Bakar Muhammad bin Abdul Baqi berkata, “Kemudian saya pun hidup dengan anak perempuannya tersebut, dan dianugerahi dua orang anak. Kemudian isteri saya meninggal dunia, lalu saya dan kedua anak saya pun mewarisi kalung tersebut. Kemudian kedua anak saya meninggal dunia terlebih dahulu dan saya pun mewarisi kalung tersebut. Kemudian saya menjualnya seharga seratus ribu dinar. Dan harta yang kalian lihat ini adalah sisa dari harta tersebut”.

Wahb bin Qabus dan Keponakannya, al-Harits, dan Keridhaan kepada Allah

Muhammad bin Sa’ad berkata, “Wahab bin Qabus al-Muzani dan anak lelaki saudara perempuannya, al-Harits bin Uqbah, datang dengan kambing-kambing ke Madinah dari gunung Muzayyanah. Lalu keduanya mendapati Madinah dalam keadaan sepi. Lalu Wahab bin Qabus bertanya kepada orang yang ada di situ, “Mana orang-orang?”
Dia menjawab, “Di Uhud”.
Kemudian keduanya masuk Islam, lalu pergi menemui Rasulullah saw. yang sedang berperang di Uhud, dan ketika itu orang-orang muslim dalam posisi terdesak.
    Maka keduanya pun ikut berperang bersama orang-orang muslim dengan penuh semangat. Ketika itu sekelompok orang-orang musyrik telah memisahkan diri. Lalu Rasulullah saw. bertanya, “Siapakah yang akan menghadapi sekelompok orang-orang musyrik itu?”
Wahab bin Qabus al-Muzani menjawab, “Saya”.
Lalu Qabus al-Muzani berdiri dan mengusir mereka dengan pedangnya, hingga mereka pun menjauh. Lalu Qabus al-Muzani mendatangi Nabi saw..
Kemudian muncul sejumlah orang-orang musyrik yang lain kembali muncul. Maka Rasulullah saw. bertanya, “Siapa yang akan menghadapi mereka?”
Qabus al-Muzani menjawab, “Saya”.
Maka Rasulullah saw. pun bersabda, “Berdirilah dan engkau akan mendapatkan surga”.
Maka dengan bahagia Qabus al-Muzani pun berdiri dan berkata, “Demi Allah, saya tidak akan mundur dan tidak akan minta untuk mundur”.
Lalu dia pun menyerang orang-orang musyrik tersebut dengan pedangnya, hingga dia turun dari bagian atas gunung. Kemudian dia pun terbunuh dan orang-orang musyrik pun merusak tubuhnya.
Kemudian keponakannya pun bangkit lalu berperang melawan musuh sebagaimana yang dia lakukan. Kemudian keponakan juga ikut terbunuh.
Lalu Rasulullah saw. berdiri di dekat jasad keduanya, lalu bersabda, “Semoga Allah meridhaimu dan saya ridha terhadapmu”.
Rasulullah saw. mengatakannya untuk Wahab. Kemudian Rasulullah saw. berdiri di sisi kedua kakinya, dan di tubuh Rasulullah saw. sendiri banyak luka yang membuat beliau sulit untuk berdiri. Akan tetapi beliau tetap berdiri, hingga meletakkan Qabus al-Muzani di liang lahatnya. Umar dan Sa’ad bin Malik pun berkata, “Kondisi kematian seperti apa yang lebih kami senangi dari pada kondisi seperti Qabus al-Muzani ketika bertemu Allah?”

Mu

Ibnu Abid Dunya meriwayatkan, bahwa pada suatu hari Abdul Malik bin Marwan duduk di tempat Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Kemudian makanannya pun dihidangkan. Lalu Mu’awiyah mengambil satu suapan dan mendekatkannya ke mulutnya, kemudian merenung dan berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian mendekatkannya lagu ke mulutnya, lalu berbicara kepada dirinya sendiri. Kemudian mendekatkannya lagi ke mulutnya, lalu berbicara pada dirinya sendiri lagi. Lalu  dia meletakkan makanannya itu, tiba-tiba seseorang yang hadir di situ mengambil makanan tersebut dan memakannya. Ketika Mu’awiyah mencari makanan yang baru saja diletakkannya tersebut, dia tidak menemukannya. Maka dia berkata kepada orang-orang  tentang makanan tersebut,
“Wahai orang-orang, bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya tidak ada yang terjadi pada kalian kecuali sesuai dengan yang ditetapkan oleh Allah. Demi Allah, seseorang telah memakan makanannya satu-dua kali, namun kemudian makanan itu ditetapkan untuk orang lain”.
    Ini adalah pelajaran amali bagi qadha dan qadar Allah. Terkadang makanan sudah ada di depan mulut anda, namun Allah memberikannya kepada orang lain. Dan ini sering terjadi dalam kehidupan ini, maka apakah ada yang mengambil pelajaran darinya?

Abu Bakrah ats-Tsaqafi dan Keridhaannya Terhadap Ketetapan Allah

Abu Bakrah ats-Tsaqafi ath-Tha'ifi adalah Maula Rasulullah saw.. Nama aslinya adalah Nafi' ibnul Harits. Ketika peristiwa pengepungan Tha'if, dia keluar dari benteng pertahanan orang-orang Tha'if yang berada di Bakrah, lalu melarikan diri menuju ke tempat   Rasulullah saw.. Abu Bakrah masuk Islam di bawah bimbingan Rasulullah saw. sendiri. Karena dia adalah seorang budak, maka Rasulullah saw. membebaskannya terlebih dahulu, hingga dia menjadi orang merdeka.
Abu Ka'b berkata, "Abdul Aziz bin Abu Bakrah menceritakan pada kami bahwa ayahnya, Abu Bakrah, menikah dengan seorang wanita, kemudian wanita tersebut meninggal. Ketika dia hendak menshalati istrinya itu, saudara-saudara istrinya menghalang-halanginya. Melihat itu, dengan kesal Abu Bakrah berkata pada mereka, "Saya adalah orang yang paling berhak untuk menshalatinya". Lalu orang-orang berkata, "Dia benar". Setelah itu Abu Bakrah memaksa masuk ke tempat makam  istrinya, maka saudara-saudara istrinya langsung mendorongnya dengan kuat, hingga dia terjatuh dan pingsan. Kemudian dalam keadaan pingsan dia dibawa ke tempat keluarganya. Ketika sampai, langsung disambut dengan jeritan tangis dua puluh putra putrinya, dan saya ( Abdul Aziz bin Abi Bakrah ) adalah anaknya yang paling kecil. Abu Bakrah pun tersadar dari pingsannya dan mendengar tangisan anak-anaknya, lalu dia berkata pada mereka, "Jangan kalian menangis seperti itu. Sungguh demi Allah, tidak ada yang lebih membahagiakan saya dari setiap nyawa yang dicabut melainkan jika itu nyawa saya sendiri". Anak-anak Abu Bakrah pun terkejut mendengar perkataan ayahnya itu, kemudian mereka berkata, "Wahai ayah mengapa engkau berkata begitu?" Abu Bakrah menjawab, "Sungguh saya takut akan mengalami hidup pada sebuah zaman dimana saya tidak bisa lagi menyeru kepada kebaikan dan melarang perbuatan munkar. Dan pada zaman itu tidak ada kebaikan yang dapat dijumpai".
Demikianlah keridhaan Abu Bakrah terhadap qada dan qadar Allah. Semoga Allah meridhainya.

Abu Hurairah dan Keridhaannya kepada Qadha Allah Ketika Meninggal Dunia

Para penulis buku sejarah tokoh-tokoh Islam mencatat bahwa Abu Hurairah r.a. menangis ketika sakit menjelang kematiannya. Lalu seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
Dia menjawab, “Saya tidak menangis karena meninggalkan dunia ini. Akan tetapi saya menangis karena jauhnya perjalanan yang akan saya tempuh dan sedikitnya bekal yang saya bawa. Dan saya berada di tempat tinggi namun saya tidak tahu apakah saya turun ke surga atau ke neraka”.
Lalu Marwan Ibnul Hakam datang menjenguknya, lalu berkata, “Semoga Allah menyembuhkan dan mengampunimu wahai Abu Hurairah”.
Maka Abu Hurairah berkata, “Ya Allah saya ingin berjumpa dengan-Mu, maka kuharap Engkau senang untuk berjumpa denganku”.
Setelah Marwan pergi dan sampai ke pasar, dia mendengar bahwa Abu Hurairah r.a. meninggal dunia”.