Pertanyaan Nabi Musa A.s. kepada Allah tentang Keridhaan-Nya

Diriwayatkan bahwa Musa a.s. berkata kepada Allah, “Ya Allah, tunjukkan kepada saya sesuatu yang Engkau ridhai untuk saya laksanakan”.
Lalu Allah ta’ala mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya keridhaan-Ku ada dalam sesuatu yang tidak engkau sukai, dan engkau tidak akan bersabar melakukan apa yang tidak engkau sukai”.
Nabi Musa pun memohon, “Ya Allah, tunjukkan hal itu kepada saya”.
Allah menjawab, “Sesungguhnya keridhaan-Ku ada dalam keridhaanmu terhadap qadha-Ku”.
Saya ( penulis ) katakan, “Itulah keridhaan kepada qadha dan qadar Allah ‘azza wajalla. Yaitu ridha kepada apa yang Allah tetapkan bagi hamba-hamba-Nya, tanpa adanya perasaan tidak suka. Dan sedikit sekali dari mereka yang ridha kepada Allah.
Sedangkan kebanyakan orang, jika diuji oleh Allah dengan perkara dunia, maka mereka akan berkata, “Mengapa saya yang diuji, padahal orang lain lebih buruk dari saya namun dia tidak mengalami apa yang saya alami”. Dan sayang sekali, inilah yang terjadi pada kebanyakan orang.

KESALAHANKU BESAR NAMUN AMPUNAN-MU BERLIMPAH

Sa’id bin Tsa’libah al-Warraq berkata, “Ketika pada suatu malam kami bersama seorang dari ahli ibadah di pantai Basiraf. Dia terus menangis dan menangis tidak berhenti sampai kami hampir masuk waktu akan terbit fajar dan dia tidak berbicara apa-apa.”
    Kemudian orang itu berkata, “Kesalahanku besar, namun ampunan-Mu berlimpah. Gabunglah antara kesalahanku dengan ampunan-Mu wahai Yang Maha Pemurah.”
    Sa’id berkata, “Maka, orang-orang dari segala arah saling berteriak histeris.”
    Menangis bagi para ahli ibadah merupakan tanda tobat dan kelenturan hati yang khusyu kepada Allah. Begitulah keadaan para ahli ibadah yang bertobat kepada Allah dan itu yang selalu menjadi ciri khas mereka. Na’udzubillah dari mata yang tidak pernah menangis, karena mata yang tidak pernah menangis karena takut kepada Allah menjadi mata yang keras yang jauh untuk menyambung kepada Tuhannya dan nantinya akan menjadi lebih dekat kepada azab Allah jika tidak segera menemukan kasih sayang dan rahmat Allah swt. dengan banyak menangis dan khusyu kepada-Nya.

RASULULLAH BERTANYA KEPADAKU DI MANA KHALID

Khalid bin Walid berkata, “Ketika Rasulullah saw. keluar dan berangkat menuju Hudaibiyah, aku pun keluar dengan sebuah kuda bersama orang-orang musyrik Mekah dan aku pun bertemu Rasulullah saw. bersama para sahabat beliau. Aku sering mengejek dan mengganggu beliau. Ketika beliau shalat zuhur bersama para sahabat di hadapan kami, kami berencana untuk memprotes mereka, namun hal itu urung kami lakukan. Beliau mengetahui rencana apa yang akan kami lakukan. Kemudian beliau melaksanakn shalat qasar dan shalat khauf bersama para sahabat beliau. Hal itulah yang mengharukan kami.”
    Aku berkata, “Orang itu tidak boleh, maka kami pun menjauh dan beliau menyimpangi perjalanan kuda kami. Aku memilih ke sebelah kanan ketika beliau mengadakan kesepakatan damai dengan Quraisy di Hudaibiyah.”70
    Lantas, orang-orang Quraisy mengantarkan beliau untuk pergi. Aku berkata pada diriku sendiri, apa yang tersisa? Ke mana aku akan pergi?
    Pergi ke Najasyi, padahal dia telah mengikuti Muhammad dan para sahabat beliau aman di tengah perlindungannya. Pergi ke Harqal, aku pun harus keluar dari agamaku dan masuk ke agama Kristen atau Yahudi dan aku akan tinggal dalam keterasingan, apakah aku tinggal di rumahku? Aku menjadi bingung dalam urusanku ini.
    Rasulullah saw. datang dan masuk Mekah untuk melaksanakan umrah qadha. Saat itu sedang tidak ada di Mekah maka aku tidak menyaksikan beliau masuk Mekah. Sementara saudara kandungku Walid bin Walid telah masuk Islam dan mengikuti Rasulullah saw. pada saat umrah qadha. Dia pun mencariku tapi dia tidak menjumpaiku, kemudian dia menulis surat untukku yang isinya, 
Sesungguhnya Rasululah saw. telah bertanya kepadaku tentang dirimu seraya beliau berkata,  “Di mana Khalid?”
    Akupun menjawab,  “Dia akan datang Insya Allah.”
    Beliau berkata,  “Orang seperti dia hanya karena tidak mengenal Islam. Gapailah wahai saudaraku apa yang telah lewat dari tempat-tempat perjanjian damai itu.”
    Ketika surat itu sampai ke tanganku, aku bertambah semangat untuk pergi dan menambah keinginanku untuk masuk ke dalam agama Islam. Pertanyaan Rasulullah saw. tentang diriku sangat menggembirakanku. Dalam tidur aku bermimpi seakan aku berada di sebuah negeri yang sempit dan kering tandus. Aku lalu pergi keluar ke suatu negeri. Aku segera pergi berhijrah ke Madinah masuk Islam dan membaiat Rasulullah saw..

Pencuri yang Tidak Ridha Dengan Qadha Allah

As-Samarqandi berkata, "Berkenaan dengan firman Allah Swt,

"Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (al-Maa'idah: 38).
Sebagian ulama menjelaskan, "Barang siapa yang mencuri sepuluh dirham, maka dia dikenakan hukuman potong tangan. Hukuman potong tangan tersebut ditimpakan padanya, bukan karena nilai sepuluh dirham yang sangat berharga, melainkan karena dua hal. Yang pertama, karena dia telah melanggar hak-hak orang muslim. Dan yang kedua, karena dia tidak ridha dengan bagian yang telah diberikan Allah kepadanya, malah berusaha untuk merampas bagian orang lain. Maka dari itu, Allah memerintahkan untuk memotong tangannya, sebagai balasan dari perbuatannya. Juga supaya dijadikan pelajaran bagi yang lain agar senantiasa ridha dengan segala pemberian Allah.
Seyogyanya orang yang beriman selalu ridha kepada apa yang telah diberikan Allah kepadanya. Sesungguhnya ridha terhadap pemberian Allah adalah salah satu bentuk akhlak mulia yang dimiliki oleh para nabi dan orang-rang saleh.

TOBAT SEORANG WANITA DI TANGAN UBAID BIN UMAIR

Al-Ajali berkata, “Diceritakan bahwa ada seorang wanita di Mekah yang memiliki kecantikan yang sangat luar biasa dan dia telah memiliki seorang suami. Pada suatu hari, wanita itu melihat wajah cantiknya di cermin seraya berkata kepada suaminya, ‘Kira-kira ada tidak laki-laki yang tidak tergoda dengan wajahku ini?’
    Sang suami menjawab, ‘Ya, ada.’
    Dia bertanya, ‘Siapa orangnya?’
    Dia menjawab, ‘Ubaid bin Umair bin Qatadah.’
    Wanita itu berkata, ‘Izinkan aku untuk menggoda dan menaklukkannya.’
    Suaminya berkata, ‘Aku telah mengizinkanmu.’
    Wanita itu pun mendatanginya seperti orang yang hendak meminta fatwa darinya. Ubaid pun bersamanya berduaan di salah satu pojok Masjidil Haram, dan wanita itu segera membuka wajahnya. Wajahnya memang terlihat bagaikan bulan purnama. Maka, Ubaid berkata kepadanya, ‘Wahai hamba Allah.’
    Wanita itu berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya aku sangat tergoda denganmu, lihatlah permasalahanku.’
    Ubaid berkata, ‘Sesungguhnya aku akan menanyakan sesuatu kepadamu. Jika kamu menjawab dengan benar, aku akan memperhatikan urusanmu.’
    Wanita itu berkata, ‘Janganlah kamu menanyakan aku tentang sesuatu, aku pasti akan membenarkanmu.’
    Ubaid berkata, ‘Katakan kepadaku jika saja malaikat maut datang mencabut nyawamu. Apakah akan menggembirakanmu seandainya aku memenuhi hajat ini untukmu?’
    Wanita itu menjawab, ‘Demi Allah, tidak.’
    Ubaid berkata, ‘Engkau benar, dan jika kamu telah dimasukkan ke dalam kuburmu, lantas kamu dihadapkan pada pertanyaan alam kubur. Apakah akan menggembirakanmu seandainya aku memenuhi hajat ini untukmu?’
    Wanita itu menjawab, ‘Demi Allah, tidak.’
    Dia berkata, ‘Engkau benar. Jika semua manusia telah diberikan kitab mereka, dan kamu tidak tahu apakah kamu akan menerima kitabmu dengan tangan kananmu atau dengan tangan kirimu, apakah akan menggembirakanmu seandainya aku memenuhi hajat ini untukmu?’
    Wanita itu menjawab, ‘Demi Allah, tidak.’
    Dia berkata, ‘Engkau benar. Jika semua manusia dibawa ke tempat penimbangan amal perbuatan dan kamu juga di bawa kesana, dan kamu tidak tahu apakah timbanganmu berat atau ringan, apakah akan menggembirakanmu seandainya aku memenuhi hajat ini untukmu?’
    Wanita itu menjawab, ‘Demi Allah, tidak.’
    Dia berkata, ‘Engkau benar. Jika kamu dihadapkan kepada Allah untuk ditanya segala amal perbuatanmu, apakah akan menggembirakanmu seandainya aku memenuhi hajat ini untukmu?’
    Wanita itu menjawab, ‘Demi Allah, tidak.’
    Dia berkata, ‘Engkau benar, bertakwalah kamu wahai hamba Allah. Allah telah banyak memberimu nikmat dan banyak berlaku baik padamu.’
    Wanita itu pun kembali ke suaminya, dan sang suami berkata kepadanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan?’
    Wanita itu menjawab, ‘Kamu menganggur dan kita menganggur.’
    Lantas, wanita itu pun berkonsentrasi beribadah dan berzuhud, dan suaminya selalu mengatakan, ‘Sial, Ubaid bin Umair telah merusak penampilan istriku di depanku. Dahulu dia selalu bagaikan pengantin dan sekarang berubah menjadi biarawati.’”47

TOBAT KUZ BIN

Ketika ada delegasi Najran datang ke Rasulullah saw. di Madinah dan mereka adalah orang-orang ?Arab Nasrani, adalah Abu Haritsah bin ‘Alqamah yang merupakan salah seorang pemimpin dan pembesar mereka. Pada saat Haritsah duduk di atas baghal-nya dan berjalan menuju Rasulullah saw., di sampingnya ada adiknya yang bernama Kuz bin Alqamah atau Kuraz. Saat itu baghal yang ditunggangi Abu Haritsah terpelanting jatuh. Kuz bin ‘Alqamah berkata, “Celaka yang jauh.” Yang dia maksudkan adalah Rasulullah saw., maka kakaknya Abu Haritsah berkata kepadanya, “Kamu yang celaka.”
    Kuz berkata, “Kenapa memang, wahai kakakku?”
    Dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya dia adalah benar-benar Nabi yang kita tunggu-tunggu.” Kemudian Kuz pun berkata kepadanya, “Apa yang menghalangi kamu untuk menjadi pengikutnya, sementara kamu tahu ini?”
    Dia menjawab, “Apa yang telah dilakukan oleh mereka dari kaum kita. Mereka telah menjadikan kita sebagai orang terhormat, berwibawa, dan telah meninggikan kita. Mereka tidak menginginkan kecuali harus menentangnya (Muhammad), dan jika aku mengikutinya, mereka akan melepas semua apa yang selama ini kamu lihat.”
    Abu Haritsah memaksudkan Romawi sebagai negara Kristen dan para raja mereka yang selalu memberikan penghargaan dan penghormatan jika mereka masuk ke dalam agama mereka.
    Namun, Kuz bin ‘Alqamah menyembunyikan hakikat kebenaran yang telah dikatakan oleh kakaknya tadi. Kemudian dia segera bertobat kepada Allah dan kembali ke jalan yang benar. Dia masuk Islam dan mengikuti Rasulullah saw..

Umar Ibnul Khathab dan Seorang Lelaki yang Ingin Berjihad

Hannad meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., dia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Umar Ibnul Khathab r.a., lalu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, bawalah saya, sungguh saya ingin berjihad”.
Maka Umar berkata kepada seorang lelaki lain, “Bawalah dia ke Baitul Maal dan biarkan dia mengambil apa yang dikehendakinya”.
Ketika lelaki itu masuk ke Baitul Maal, dia melihat emas dan perak di dalamnya. Maka dia pun berkata, “Apa ini? Saya tidak membutuhkan semua ini. Yang saya inginkan adalah bekal dan tunggangan untuk berjihad”.
Lalu orang-orang membawanya menghadap Umar dan memberitahunya tentang apa yang dia katakan.
Maka Umar memerintahkan agar disiapkan perbekalan dan tunggangan untuknya dan Umar sendiri ikut mempersiapkannya.
Ketika menunggangi tunggangannya, dia pun mengangkat tangannya dan memuji Allah atas apa yang didapatkannya, sedangkan Umar berjalan di belakangnya dan berharap agar lelaki itu berdoa untuknya. Ketika selesai memuji Allah, lelaki tersebut berkata, “Ya Allah, dan berilah pahala yang baik kepada Umar”.