Nasihat Ubadah bin Shamit Kepada Putranya

Al-Walid bin Ubadah datang menjenguk ayahnya Ubadah bin Shamit yang sedang sakit menjelang wafatnya. Al-Walid berkata padanya, "Wahai Ayah, duduklah dan berilah saya nasihat". Kemudian Ubadah pun duduk dan berkata pada anaknya, "Wahai anakku, kamu tidak akan bisa merasakan lezatnya iman, dan tidak akan dapat sampai pada hakikat iman, hingga kamu beriman kepada takdir Allah yang baik maupun takdir yang buruk". Lalu al-Walid berkata, "Bagaimana saya dapat mengetahui mana takdir yang baik dan mana yang buruk?" Ayahnya menjawab, "Kamu dapat mengetahuinya dengan meyakini bahwa apa yang ditetapkan untuk tidak menimpamu pasti tidak akan menimpamu, dan apa yang telah ditetapkan untuk menimpamu pasti akan menimpamu, tidak akan meleset sedikit pun. Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Sesuatu yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena. Lalu Dia memeritahkan padanya, "Menulislah!" Maka seketika itu juga ia menulis segala sesuatu yang ada, dan tidak akan berhenti sampai hari kiamat". Kemudian Ubadah melanjutkan nasihatnya, "Jadi, jika kamu mati dalam keadaan yang tidak seperti itu ( dalam keadaan ingkar terhadap takdir Allah ), maka kamu akan masuk neraka".

JIKA KAMU INGIN BERMAKSIAT KEPADA ALLAH, JANGANLAH KAMU MAKAN REZEKI-NYA

Ada seseorang yang datang kepada Ibrahim bin Adham dan berkata padanya,  “Wahai Abu Ishaq! Sesungguhnya diriku telah melampaui batas. Berikanlah aku sesuatu yang bisa menahan diriku dan bisa menyelamatkan hatiku.
    Ibrahim bin Adham berkata, “Jika kamu menerima lima perkara dan mampu melaksanakannya, tidak ada satu maksiat pun yang bisa membahayakanmu dan tidak ada satu kenikmatan yang bisa mencelakakanmu.”
    Orang itu berkata,  “Coba apa itu wahai Abu Ishaq.”
    Ibrahim bin Adham berkata, “Pertama, jika kamu mau bermaksiat kepada Allah, janganlah kamu memakan rezeki-Nya.”
    Orang itu berkata, “Dari mana aku harus makan padahal semua yang ada di dunia ini adalah dari rezeki-Nya?”
    Dia berkata, “Ya itulah, kenapa kamu selalu memakan rezeki-Nya dan kamu tetap bermaksiat kepada-Nya?”
    Orang itu berkata,  “Berikan aku yang kedua.”
    Dia berkata,  “Jika kamu mau bermaksiat kepada-Nya, jangan sekali-kali kamu tinggal di negeri dan bumi-Nya.”
    Orang itu bertanya,  “Lantas di mana aku harus tinggal?”
    Dia menjawab, “Ya itulah, apakah pantas kamu memakan rezeki-Nya kemudian kamu tinggal di negeri dan bumi-Nya tapi kamu tetap bermaksiat kepada-Nya?”
    Orang itu menjawab,  “Tidak, berikan aku yang ketiga.”
    Ibnu Adham berkata,  “Jika kamu mau bermaksiat kepada-Nya, baiklah kamu memakan rezeki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, tapi lakukan maksiat itu di tempat yang tidak terlihat oleh-Nya dan kamu bisa bersembunyi dari-Nya.”
    Orang itu berkata,  “Wahai Ibrahim, bagaimana hal itu bisa karena Dia Maha Mengetahui semua apa yang dirahasiakan.”
    Ibnu Adham berkata,  “Ya itulah, apakah pantas kamu selalu memakan rezeki-Nya dan kamu tinggal di bumi-Nya kemudian kamu brmaksiat kepada-Nya padahal dia melihat kamu dan melihat semua apa yang kamu sembunyikan?!”
    Orang itu berkata,  “Tidak, berikan aku yang keempat.”
    Ibrahim berkata,  “Apabila datang kepadamu malaikat penjabut nyawa untuk mencabut ruhmu, katakan kepadanya,  ‘Tangguhkan aku sampai aku bisa bertobat dengan taubatannasuha dan aku akan melaksanakan amal shaleh kepada Allah.’”
    Orang itu berkata,  “Malaikat itu tidak akan memenuhi permintaanku.”
    Dia berkata, “Ya itulah, apabila kamu tidak bisa untuk menolak kematian agar kamu bisa bertobat, dan kamu tahu bahwa kematian apabila datang tidak bisa diundur, jalan keluar apa yang kamu harapkan?”
    Orang itu berkata,  “Berikan aku yang kelima.”
    Ibrahim berkata, “Jika nanti pada hari Kiamat datang kepadamu malaikat Zabaniyah untuk membawa kamu ke neraka, janganlah mau pergi bersamanya.”
    Orang itu berkata, “Dia tidak akan membiarkanku dan tidak akan menerima permintaanku.”
    Ibrahim berkata kepadanya, “Jadi, bagaimana kamu mengharapkan pertolongan?”
    Orang itu berkata kepadanya, “Wahai Ibrahim, cukup sudah itu semua dan aku sekarang memohon ampun dan tobat kepada Allah.”
    Kemudian orang itu benar-benar tekun beribadah kepada Allah sampai kematian memisahkan keduanya.61

Jangan Beberkan Apa yang Telah Allah Tutupi

Seorang lelaki datang menemui seorang khalifah Bani Umayyah, Sulaiman bin Abdul Malik. Laki-laki itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, aku mempunyai sebuah nasihat.”
“Apa nasihatmu itu?” tanya Amirul Mukminin.
“Ada seorang laki-laki yang pernah menjadi pejabat di masa kekhilafahan Yazid, al-Walid, dan Abdul Malik, tetapi dia mengkhianati mereka semua dan merampas harta yang cukup banyak, maka suruhlah dia untuk mengembalikan harta itu.”
Khalifah berkata kepadanya, “Engkau lebih buruk dan lebih pengkhianat darinya karena kau telah memata-matainya dan membongkarnya. Kalau bukan karena teringat nasihat para ulama tentu kau sudah aku hukum.”
Kemudian Khalifah berkata, “Tetapi pilihlah satu dari tiga hal yang aku tawarkan kepadamu.”
“Apa tiga hal itu, wahai Amirul Mukminin?”
“Kalau kamu mau, aku akan meneliti apa yang telah kamu sampaikan. Seandainya kamu benar, maka kami adili kamu, jika kamu dusta kami akan menghukummu atau jika kamu mau kami akan biarkan (iqalah) dan lepaskan kamu.”
Lelaki itu berkata, “Aku pilih lepaskanlah aku, wahai Amirul Mukminin.”
Khalifah berkata, “Engkau aku lepaskan, tetapi jangan ulangi lagi membongkar apa yang telah Allah sembunyikan dan tutupi dari orang yang mempunyai harga diri.”
Yang dimaksud dengan al-iqalah (melepaskan) adalah membiarkannya seakan-akan dia tidak pernah mendengar apa-apa dan hal itu tidak akan ditindaklanjuti.  

TOBAT SEORANG PEMUDA DARI SENDA GURAU

Tsabit al-Bunani berkata, “Shilah bin Asyim—salah seorang tabi’in—sedang keluar dan pergi ke pemakaman untuk beribadah di sana.” Dia melintasi para anak muda yang sedang bermain-main dan bersenda gurau, dia berkata kepada mereka, “Katakan kepadaku tentang suatu kaum yang hendak melakukan perjalanan, namun mereka di siang hari tidak menempuh jalan itu dan di malam hari mereka tidur, kapan mereka akan menempuh perjalanan mereka?”
    Dan begitulah setiap kali dia melintasi mereka, dia selalu menasihati mereka. Suatu hari dia melintasi mereka seraya menasihati mereka dengan kata-kata ini.
    Ada seorang anak muda dari mereka yang berdiri dan berkata, “Wahai teman-teman, demi Allah, tidak ada yang dimaksudkan dari hal ini kecuali diri kita karena kita pada siang hari selalu bermain dan bersenda gurau serta di malam hari kita tidur.
    Anak muda itu pun meninggalkan mereka dan segera mengikuti Shilah bin Asyim. Dia terus beribadah bersamanya dan melakukan amalan seperti yang dilakukannya sampai dia meninggal dunia dalam keadaan seperti itu.
    Itu adalah faedah dari mau’izhah hasanah dan ketekunan dalam melakukannya dengan terus mengulang-ulangnya. Dengan Allah menurunkan hidayah-Nya kepada seseorang melalui dirimu, itu lebih baik bagimu daripada merahnya nikmat seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw..

Mana Orang yang Bersedekah Tadi Malam

Ibnu Ishaq berkata, “Saya mendengar bahwa Ibnu Yamin an-Nadhari r.a. bertemu dengan Abu Laila r.a. dan Abdullah bin Mughaffal r.a. ketika mereka berdua sedang menangis.
Lalu Ibnu Yamin bertanya kepada mereka, “Apa yang membuat kalian menangis?”
Mereka menjawab, “Kami datangi Rasulullah saw. agar membawa kami bersama tentara muslim ke medan perang. Akan tetapi di sana kami tidak mendapatkan kendaraan dan bekal untuk kami. Sedangkan kami sendiri tidak mempunyai apa-apa untuk bekal kami”.
Maka Ibnu Yamin memberikan binatang tunggangannya yang biasanya dia gunakan untuk menyiram tanaman, juga membekali mereka berdua dengan beberapa biji kurma.
Kemudian keduanya berangkat bersama Nabi saw. ke medan perang.
Yunus bin Bukair dari Ibnu Ishaq menambahkan, “Adapun Ulbah bin Zaid r.a., maka di malam harinya dia keluar rumah, lalu melakukan shalat malam dan menangis. Dan dia berdoa, “Ya Allah, Engkau memerintahkan kami untuk berjihad dan Engkau berikan banyak keutamaan di dalamnya. Akan tetapi mengapa Engkau tidak memenuhi keperluan saya untuk berjihad dan Engkau tidak memberikan kepada Rasul-Mu kendaraan untuk membawa kami? Sesungguhnya malam ini saya menyedekahkan kepada setiap muslim semua harta, tubuh atau kehormatan saya yang pernah dizalimi oleh orang lain”.
Ketika pagi tiba, Rasulullah saw. bersabda, “Mana orang yang bersedekah semalam?”
Tidak ada orang yang berdiri.
Kemudian Rasulullah saw. kembali bersabda, “Mana orang yang bersedekah semalam? Berdirilah”.
Lalu Ulbah bin Zaid r.a. berdiri dan memberitahu beliau tentang apa yang dia lakukan semalam. Maka Rasulullah saw. bersabda, “Berbahagialah, demi jiwaku yang ada di Tangan-Nya, sedekahmu telah tertulis sebagai zakat yang diterima”.

Keridhaan Ahmad bin Hambal kepada Qadha Allah

    Shaleh bin Ahmad bin Hambal berkata, “Terkadang saya melihat ayah saya mengambil pecahan-pecahan roti kering. Lalu membersihkan debu yang menempel padanya, kemudian meletakkan di piring dan menyiramnya dengan air hingga menjadi basah dan lembut. Kemudian dia memakannya setelah dicampur dengan garam. Saya tidak pernah melihatnya membeli delima, safarjal  ataupun buah-buahan yang lain, kecuali membeli sebuah semangka, lalu memakannya dengan roti, anggur atau kurma. Adapun buah yang lain, saya sama sekali tidak pernah melihatnya membelinya.
    Terkadang dia dibuatkan roti dengan ditambah ‘adas, gajih dan sejumlah kurma, lalu diletakkan di dalam kendi untuk persiapan selama dua bulan. Lalu dia mengkhususkan satu piring untuk anak-anak, lalu memanggil mereka dan memberikannya kepada mereka. Maka mereka pun tertawa senang namun tidak memakannya.
    Imam Ahmad sering makan dengan dicampur cuka. Dia juga sering dibelikan gajih seharga satu dirham, lalu dia gunakan untuk makan selama satu bulan.
    Ketika al-Mutawakkil –salah seorang khalifah Bani Abbas--  datang, Imam Ahmad terus menerus berpuasa dan tidak makan makanan yang berlemak. Maka saya –Ibnul Jauzi—mengira beliau melakukannya sebagai nazar jika selamat dari fitnah Khalqul Qur’an. Al-Marwazi berkata, “Saya mendengar Abu Abdullah berkata, “Rasa takut membuatku tidak bisa makan dan minum, sehingga tidak ada keinginan untuk memakannya”.
    Imam Ahmad –rahimahullah— juga pernah berkata, “Itu hanyalah salah satu makanan dari jenis-jenis makanan yang lain, juga salah satu pakaian dari jenis-jenis pakaian yang lain. Dan kehidupan ini hanyalah bilangan hari yang sebentar. Saya melewati hari-hariku hingga berakhir di hari ketika saya tidak memiliki apa-apa”.

Tanda Seorang Pecinta yang Benar

Ibnu Jauzi menceritakan dari Muhammad bin Sa’ad at-Taymi, dia berkata, “Aku pernah melihat seorang budak wanita berkulit hitam di salah satu kota Syam. Di tangannya ada sepotong roti yang sedang dia makan. Sambil memakannya dia berkata,

Engkau Mahatahu apa yang terpendam dalam hatiku
Kasihilah kehinaan dan kesendirianku

Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai budak kulit hitam, apa tanda seorang pecinta?’
Tiba-tiba ada seorang lelaki yang kesurupan di dekatnya.  Wanita itu memandangku lalu mengalihkan pandangannya kepada lelaki yang kesurupan itu. Lalu dia berkata, ‘Wahai sahabat, tanda seorang pecinta Allah yang benar itu adalah kalau dia berkata kepada laki-laki yang sedang kesurupan ini, ‘Berdirilah,’ maka  dia akan berdiri.’
Tiba-tiba laki-laki itu berdiri (maksudnya sembuh dari kesurupan) dan jin wanita  yang masuk ke tubuhnya berkata (dengan menggunakan mulut lelaki itu), “Demi cintamu kepada Tuhanmu, sungguh aku tidak akan kembali lagi kepadanya.”