71. Bermimpi Bertemu Sari as-Saqthi

Abu Ubaid bin Jarbuyah menceritakan, “Aku turut menghadiri jenazah Sari as-Saqthi. Aku merasa gembira dapat menghadiri jenazahnya. Setelah itu ada seseorang berkata bahwa dia juga ikut menghadiri jenazah Sari as-Saqthi. Pada malam harinya dia bermimpi bertemu dengan Sari as-Saqthi. Dia bertanya pada Sari, ‘Apa yang dilakukan Allah padamu?’
‘Dia mengampuniku dan juga semua orang yang ikut menghadiri jenazahku dan menyalatkanku.’
Aku (laki-laki itu) berkata, ‘Aku termasuk orang yang menghadiri jenazahmu dan menshalatkanmu.’
Kemudian  dia (Sari) mengeluarkan sebuah catatan dan dia lihat di dalamnya, tetapi dia tidak melihat namaku di sana. Aku berkata meyakinkan, ‘Benar, aku ikut hadir.’
Dia melihat lagi. Ternyata namaku ada di catatan pinggir.
Semoga Allah merahmati dan meridhainya.”

Keridhaan Abu Bashir Terhadap Ketentuan Allah

Ketika Rasulullah saw. kembali ke Madinah setelah membuat kesepakatan damai dengan Quraisy di Hudaibiyah, datang padanya Abu Bashir Utbah bin Asid setelah keislamannya. Dia adalah salah seorang dari orang-orang muslim yang tertindas. Dia dipenjarakan di Mekah supaya tidak dapat hijrah ke Madinah.
    Kemudian ketika dia berhasil melarikan diri dari orang-orang Quraisy Mekah dan datang kepada Rasulullah saw. di Madinah, keluarganya menulis surat kepada Rasulullah saw.  minta agar beliau mengembalikan Abu Bashir kepada mereka. Mereka berdalih bahwa permintaan tersebut sesuai dengan isi kesepakatan yang telah ditetapkan bersama antara kaum Quraisy dan Nabi saw.. Kemudian setelah itu, datanglah ke Madinah seorang laki-laki utusan dari Bani Amir bin Lu'ai. Dia datang bersama budaknya untuk menjemput Abu Bashir pulang kembali ke Mekah. Untuk itu Rasulullah berkata pada Abu Bashir, "Wahai Abu Bashir kami mempunyai perjanjian dengan mereka sebagaimana kamu ketahui. Dan tidak dibenarkan dalam agama kami melanggar perjanjian yang telah disepakati. Sesungguhnya Allah akan membukakan jalan keluar bagimu dan bagi mereka yang bersamamu dari kaum muslim yang tertindas. Maka kembalilah pada kaummu".
Lalu Abu Bashir berkata, "Wahai Rasulullah apakah engkau akan menyerahkan saya pada orang-orang  musyrik itu. Sedangkan mereka akan berusaha merusak agama saya". Maka untuk menabahkan hati Abu Bashir, sekali lagi Rasulullah saw. bersabda, "Wahai Abu Bashir  pergilah kembali bersama mereka. Sesungguhnya Allah akan membukakan pintu kemudahan bagimu dan bagi orang-orang muslim yang tertindas yang ada bersamamu".
    Berangkatlah Abu Bashir untuk kembali ke Mekah bersama dua orang utusan yang menjemputnya. Dia ridha dengan apa yang telah menjadi ketetapan Allah itu. ketika sampai di Dzul Hulaifah, mereka berhenti untuk beristirahat. Abu Bashir mengambil posisi duduk di dekat sebuah tembok, demikian juga kedua teman perjalanannya, mereka ikut duduk bersamanya. Kemudian Abu Bashir bertanya pada salah seorang dari mereka, "Apa benar pedangmu ini tajam wahai saudara dari Bani Amir?" Temannya yang ditanya itu menjawab, "Tentu saja". Lalu Abu Bashir berkata, "Bolehkah saya melihatnya". Temannya itu menjawab, "Lihat saja sesuka kamu". Kemudian Abu Bashir menghunus pedang tersebut, lalu menebaskannya ke arah pemilik pedang itu dan membunuhnya. Ketika melihat kejadian itu, orang musyrik yang satunya menjadi ketakutan dan lari menuju ke tempat Rasulullah saw. lalu melaporkan hal itu pada beliau dengan berkata, "Sahabatmu telah membunuh teman saya”. Kemudian Abu Bashir mengejar orang musyrik itu dengan membawa pedang di tangannya, hingga sampai di hadapan Rasulullah saw.. Lalu dia berkata pada beliau, "Wahai Rasulullah,  janjimu telah terpenuhi. Allahlah yang telah memenuhinya untukmu. Engkau menyerahkan saya pada mereka, dan saya telah berusaha menjaga agama saya agar tidak dirusak dan dipermainkan oleh mereka". Kemudian Rasulullah saw. berkata padanya, "Bagus, kamu telah berani mengobarkan api perang, coba seandainya ada banyak orang yang membantumu".
    Kemudian Abu Bashir  pergi meninggalkan Rasulullah saw. dan akhirnya sampai di al-Ish dari arah Dzul Marwah, sebuah tempat di tepian laut. Tidak berselang lama, banyak orang-orang muslim yang bergabung dengannya. Mereka datang dari Mekah setelah berhasil melarikan diri dari penjara orang-orang Quraisy. Mereka yang bergabung dengan Abu Bashir itu berjumlah tujuh puluh orang. Mereka, Abu Bashir dan kelompoknya, tidak membiarkan begitu saja jika ada kafilah Quraisy yang melewati daerah persembunyian mereka. Tidak satu pun onta milik orang-orang Quraisy yang melewati tempat tersebut kecuali dirampas oleh mereka beserta barang-barang bawaannya. Hal itu terus berkelanjutan hingga akhirnya orang-orang Quraisy mengirim surat kepada Rasulullah saw. yang isinya agar beliau mau melindungi sanak saudara mereka dari gangguan orang-orang kelompok Abu Bashir. Rasulullah saw. pun memenuhi permintaan mereka. Maka orang-orang kelompok Abu Bashir tidak lagi mengganggu mereka. Kemudian setelah kesepakatan damai Hudaibiyah dihapuskan, dan Abu Bashir beserta kelompoknya pun pergi berhijrah ke Madinah untuk berkumpul bersama Rasulullah saw..

Setiap Orang Tergantung Niatnya

Diceritakan bahwa ada dua orang bersaudara, yang seorang ahli ibadah dan sangat taat sementara yang seorang lagi suka bermaksiat.
Kemudian timbul bisikan dalam hati sang ahli ibadah untuk sedikit mengikuti syahwatnya guna menghibur dirinya yang selama ini telah digunakannya untuk beribadah, kemudian nanti dia akan bertobat kepada Allah karena dia tahu bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Ahli ibadah ini berkata dalam hati, andaikan aku pergi ke dekat saudaraku untuk menemaninya dalam hawa nafsu dan kelezatan dunia, kemudian setelah itu aku akan bertobat dan beribadah kepada Allah dalam umurku yang masih tersisa. Akhirnya, dia pergi dengan niat ini.
Sebaliknya, saudaranya yang ahli maksiat berkata, “Aku telah habiskan umurku dalam maksiat, sementara saudaraku yang ahli ibadah akan masuk surga dan aku akan masuk neraka. Demi Allah, aku akan bertobat dan akan pergi menemui saudaraku, lalu aku akan menemaninya beribadah dalam usiaku yang masih tersisa, semoga Allah mengampuniku.”
Setelah itu, dia pergi menemui saudaranya dengan niat untuk bertobat, sementara saudaranya yang ahli ibadah juga pergi menemuinya dengan niat bermaksiat. Tiba-tiba kakinya tergelincir dan dia jatuh bergulingan dan menimpa saudaranya, sehingga keduanya meninggal dalam waktu bersamaan. Akhirnya, sang ahli ibadah dikumpulkan berdasarkan niat maksiat dan saudaranya yang ahli maksiat dikumpulkan berdasarkan niat tobat.
Maka, yang menjadi ukuran adalah akhir dari setiap amalan. Oleh karena itu, setiap orang tidak boleh tertipu dengan amal apa pun yang sekarang dilakukannya.

Abu Bakar ash-Shiddiq dan Keridhaannya kepada Allah

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. masuk Islam setelah Khadijah bintu Khuwailid, istri Nabi saw., Zaid bin Haritsah, anak-anak Nabi saw. dan Ali bin Abi Thalib k.w.. Abu Bakar, sebagaimana sahabat-sahabat lainnya, menanggung penderitaan karena kejahatan orang-orang Quraisy. Meskipun keluarga dan kerabatnya mencoba membelanya, akan tetapi kejahatan orang-orang Quraisy kepada Abu Bakar semakin menjadi-jadi, hingga dia memutuskan untuk hijrah dari Mekkah. Lalu dia minta izin kepada Nabi saw. untuk berhijrah ke Ethiopia dan beliau pun mengizinkannya.
    Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. pergi meninggalkan Mekkah dengan membawa bekalnya dengan niat berhijrah menuju Habasyah ( Ethiopia ). Ketika dalam perjalanan, dia bertemu dengan Ibnu Daghinah yang masih musyrik; memeluk agama orang-orang Quraisy. Ibnu Daghinah juga termasuk pembesar orang-orang Quraisy.
Ibnu Daghinah bertanya kepada Abu Bakar, “Abu Bakar, mau kemanakah engkau?”
Abu Bakar menjawab, “Kaumku mengusirku dan menyakitiku. Mereka mempersulit kehidupanku. Maka saya ingin pergi dan menyembah Tuhanku”.
Ibnu Daghinah pun berkata, “Mengapa begitu? Sesungguhnya orang sepertimu tidak sepantasnya keluar dan diusir dari negerimu. Demi Allah, sesungguhnya engkau membuat baik nama keluargamu, membantu orang-orang yang terkena musibah, membantu orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa, menyambung silaturahmi dengan kerabat, menanggung penderitaan orang lain, membela orang yang lemah dan melakukan kebaikan. Kembalilah, engkau dalam jaminanku. Lalu sembahlah Tuhanmu di negerimu”.
Maka Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. pun kembali ke Mekkah bersama Ibnu Daghinah. Ketika sampai di Mekkah, Ibnu Daghinah berkeliling menemui para pembesar Quraisy dan berkata kepada mereka, “Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya saya menjamin Ibnu Abi Qahafah. Maka hendaknya setiap orang bersikap baik kepadanya”.
Maka orang-orang Quraisy pun menerima jaminan Ibnu Daghinan bagi Abu Bakar dan mereka pun tidak menyakitinya lagi. Namun mereka memberi syarat dan berkata, “Suruhlah dia menyembah Tuhannya di dalam rumahnya. Dia harus sembahyang dan membaca apa yang dia kehendaki di dalamnya, jangan sampai dia mengganggu kami dengan semua itu. Juga jangan sampai hal itu terlihat oleh orang-orang”.
Ibnu Daghinah pun menyampaikan apa yang dikatakan para pembesar Quraisy tersebut kepada Abu Bakar r.a.. Kemudian Abu Bakar membangun masjid di halaman rumahnya. Dia melakukan shalat dan membaca Al-Qur’an di dalamnya. Namun di luar rumahnya, para wanita dan anak-anak orang Quraisy berdesakan mendengarkan Al-Qur`an yang dia baca. Mereka terkagum-kagum. Dan Abu Bakar sendiri ketika membaca Al-Qur’an sangat lembut, membuat orang-orang yang di dekatnya ikut menangis.
    Maka orang-orang musyrik pun merasa khawatir terhadap istri-istri dan anak-anak mereka karena bacaan Abu Bakar, juga tangisan dan kekhusyu’annya. Lalu mereka mengutus seseorang menemui Ibnu Daghinah untuk melaporkan kepadanya apa yang dilakukan Abu Bakar, tentang masjid yang dibangunnya dan tergodanya para istri serta anak-anak mereka ketika mendengar bacaannya. Dan mereka meminta kepada Ibnu Daghinah untuk menyuruh Abu Bakar melakukan shalat hanya di dalam rumahnya, sehingga bacaannya tidak didengar oleh orang lain. Jika Abu Bakar tidak mau melakukannya, maka Ibnu Daghinah diminta mencabut jaminannya terhadap Abu Bakar.
    Lalu Ibnu Daghinah mendatangi Abu Bakar dan berkata kepadanya, “Engkau sudah tahu apa yang telah saya sepakati dengan orang-orang Quraisy perihal dirimu. Maka terserah dirimu, apakah engkau akan melakukan kesepakatan itu atau engkau kembalikan jaminanku itu. Karena saya tidak ingin orang-orang Arab mendengar bahwa saya mengkhianati orang yang saya jamin”.
Maka Abu Bakar berkata, “Saya kembalikan jaminanmu dan saya ridha dengan jaminan Allah ‘azza wajalla”.
Abu Bakar ash-Shiddiq ridha dengan qadha dan jaminan Allah. Dia terus beribadah kepada Allah dan pada saat yang sama orang-orang Quraisy terus menyakitinya. Abu Bakar tetap menanggung semua itu demi memperoleh keridhaan Allah ‘azza wajalla.

Tetap Teguh Saat Ajal Menjemput

Ibnul Jauzi dan Ibnu Rajab al-Hambali, “Ada seorang pemuda syahid di peperangan, lalu orang-orang datang bertakziyah kepada ayahnya.
Kemudian ayahnya, seorang lelaki yang takwa dan saleh, menangis seraya berkata, “Saya tidaklah menangis karena kematiannya. Akan tetapi saya menangis karena memikirkan bagaimana keridhaannya kepada Allah ketika pedang-pedang musuh membunuhnya?”.
Saya ( penulis ) katakan, “Sang ayah, seorang ahli ibadah dan seorang fakih, tidak merasa congkak karena anaknya terbunuh di medan perang di tangan para musuh dan orang-orang berkata bahwa dia adalah syahid. Akan tetapi dia ingin tahu bagaimana kondisi anaknya ketika terbunuh; apakah dia ridha kepada qadha dan qadar Allah? Dan itulah keridhaan Allah kepada hamba-Nya dan keridhaan seorang hamba kepada Allah.
Semoga Allah meridhai mereka semua”.

TOBAT DAN ISLAMNYA AMRU IBNUL ASH

Amru ibnul Ash terus menjadi seorang yang memusuhi dan memerangi Islam bersama dengan kaumnya dari orang-orang musyrik Quraisy. Dia pun ikut dan turut serta dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, sampai pada saat terjadi apa yang telah terjadi dalam perdamaian Hudaibiyah, yakni ketika Quraisy mengadakan perjanjian damai dengan Muhammad saw. dan perang antara kedua belah pihak dihentikan.
    Amru ibnul Ash berkata, “Muhammad dengan para sahabatnya telah datang menghadap Quraisy, maka Mekah tidak lagi nyaman menjadi tempat tinggal, begitu juga Thaif. Tidak ada jalan lain kecuali harus pergi dan keluar dari Mekah ini dan setelah jauh dari Islam. Aku melihat bahwa seandainya semua orang Quraisy masuk Islam, aku tidak akan masuk Islam.
    Amru ibnul Ash pun bertekad untuk pergi ke Najasyi, Raja Habasyah, dan dia membawa banyak hadiah berupa kulit binatang untuknya. Di sana dia mendapatkan Amru bin Umayyah adh-Dhamiri yang telah diutus oleh Rasulullah saw, untuk berangkat menemui Najasyi agar dia menikah dengan Ummu Hubaibah binti Abu Shofyan r.a..
    Amru ibnul Ash berkata kepada teman yang ikut dengannya dalam perjalanan itu, “Amru bin Umayyah, jika aku telah sampai ke Najasyi nanti, dan aku meminta kepadanya untuk menyerahkannya, akan aku penggal lehernya. Jika aku bisa melakukan itu, orang-orang Quraisy akan senang dan aku pun akan mendapat hadiah karena aku bisa membunuh utusan Muhammad.”
    Kemudian Amru bin Ash pun mendatangi Najasyi dan sang raja itu menyambut kedatangannya. Amru menyerahkan hadiahnya untuk sang raja, dan ketika dia melihat sang raja yang dalam keadaan penuh ceria dia berkata kepadanya, “Wahai raja, sesungguhnya aku telah melihat ada seseorang yang telah keluar dari ruangmu ini, orang itu adalah utusan musuh kami, dia telah memanahi kami dan membunah para pemimpin dan elite kami, serahkanlah orang itu kepadaku untuk aku bunuh!”
    Dan Najasyi pun murka sejadi-jadinya. Dia mengangkat tangannya kemudian memukul hidung Amru sampai keluar darah, dan Amru pun mengelap dan membersikannya dengan bajunya. Dia takut akan dirinya dari kemarahan sang raja, kemudian dia berkata kepadanya, “Wahai Raja, jika aku tahu kalau engga benci dengan apa yang aku katakan itu, aku tidak akan meminta kamu.”
    Najasyi berkata kepadanya, “Wahai Amru, kamu meminta kepadaku untuk menyerahkan seorang utusan dari seorang Nabi yang telah diturunkan kepadanya Jibril a.s. sebagaimana dahulu datang kepada Musa dan juga datang kepada Isa, dan kamu ingin membunuh utusan itu?”
    Amru berkata, “Allah mengubah apa yang ada dalam hatiku dan aku berkata kepada diriku sendiri. Dia telah mengenal kebenaran itu, begitu juga bangsa Arab dan bangsa asing telah mengetahuinya, sementara kamu malah mengingkarinya!”
    Kemudian aku bertanya, “Apakah kamu telah mengucap syahadat akan hal ini, wahai raja?”
    Dia menjawab, “Ya, aku telah mengucap syahadah di hadapan Allah wahai Amru, ikutilah aku untuk mengikutinya. Demi Allah, sesungguhnya dia memang benar, dan pasti akan terlihat atas orang-orang yang mengingkarinya sebagaimana terlihat kebenaran Musa atas Fir’aun dan balatentaranya.”
    Aku berkata, “Apakah kamu mau membaiat aku atas Islam?”
    Raja menjawab, “Ya.”
    Amru bercerita, “Raja itu mengulurkan tangannya dan segera membaiatku atas Islam, kemudian dia meminta dibawakan bejana air dan mencuci darah itu dan memberiku baju karena memang bajuku telah penuh dengan darah.”
    Setelah itu Amru ibnul Ash pergi meninggalkan tanah Habasyah menuju ke Madinah al-Munawwarah untuk membaiat Rasulullah saw.. Di tengah perjalanan hijrahnya itu dia bertemu dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah yang keduanya juga sama-sama menuju ke Madinah untuk membaiat Rasulullah saw.. Mereka pun bertemu dalam perjalanan iman dan Islam.
Rasulullah saw. sangat gembira dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam. Begitu juga kaum Muslimin yang berada di sekitar beliau turut gembira dengan keislaman mereka. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Nabi Ibrahim dan Keridhaannya Ketika Dilemparkan Ke dalam Api

Kaum Nabi Ibrahim memutuskan untuk menyelamatkan tuhan-tuhan mereka. Oleh dari itu, mereka akan membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup, karena telah berani menghancurkan patung-patung yang menjadi tuhan-tuhan mereka itu. Hal tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur'an.
Mereka mulai mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Nabi Ibrahim. Mengumpulkan kayu bakar tersebut berlangsung hingga beberapa lama. Semua orang ikut andil melakukannya, hingga ada seorang wanita yang jika sedang sakit, dia bernazar seandainya sembuh waktu itu juga, dia akan langsung ikut mengangkut kayu bakar yang dipersiapkan untuk membakar Nabi Ibrahim tersebut.   
Kemudian mereka membuat sebuah galian yang berukuran besar dan meletakkan kayu-kayu tersebut di dalamnya. Setelah itu, mereka membakarnya, hingga nampak nyala api yang berkobar-kobar dengan percikan-percikannya yang dahsyat. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dijumpai sebelumnya.
Kemudian Nabi Ibrahim diletakkan di atas manjaniq ( sebuah alat pelempar batu dalam peperangan ) dalam keadaan terikat. Dalam kondisi yang demikian itu, Nabi Ibrahim bermunajat kepada Allah dengan berkata, "Ya Allah, tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Bagi-Mu segala puji dan Kepunyaan-Mu lah seluruh kerajaan. Tiada sekutu bagi-Mu". Lalu pada saat Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api dengan menggunakan manjaniq, dia berkata, "Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung".
Ibn Abbas berkata, "Perkatan, cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung, diucapkan oleh Nabi Ibrahim tatkala dia dilemparkan ke dalam api. Dan perkataan yang sama, juga diucapkan oleh Nabi Muhammad saw. tatkala dikatakan kepada beliau –sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an—,

“Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka." Maka perkataan itu malah menambah keimanan mereka (yaitu orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya) dan mereka menjawab, "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung." Maka mereka kembali dengan ni'mat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa". (Ali Imran: 173-174).
Maka karena munajatnya memohon pertolongan dari Allah, Allah segera menurunkan pertolongan kepada hamba-Nya, Rasul-Nya dan juga kekasih-Nya, Ibrahim, yang selalu ridha dengan qadha dan qadar-Nya.  Hal itu sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur'an,

"Kami berfirman, "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." (al-Anbiyaa`: 69).
Kemudian Nabi Ibrahim pun keluar dari kobaran api dalam keadaan selamat, tidak tersentuh sedikit pun oleh bara api. Segala puji hanya bagi Allah.