Nabi Ayub A.s. dan Keridhaannya Kepada Qada

Nama lengkap Nabi Ayub adalah Ayub bin Mush bin Razih ibnul Ish bin Ishaq bin Ibrahim. Dia nabi Allah yang penyabar. Dia termasuk salah satu anak cucu Nabi Ibrahim, bapak para nabi. Yaitu melalui Garis keturunan al-Ish bin Ishaq bin Ibrarim. Al-Ish adalah saudara Nabi Ya’qub. Selain itu, Nabi Ayub juga punya saudara kembar bernama Isau. Jadi dari silsilah nasabnya tersebut dapat diketahui bahwa Nabi Ayub adalah satu-satunya nabi yang berasal dari garis keturunan al-Ish. Ibn Asakir menambahkan dalam penjelasannya, bahwa ibu Nabi Ayub adalah putri dari nabi Luth. Dan sebagaimana yang telah diketahui, Romawi juga merupakan keturunan dari al-Ish bin Ishaq.
    Adapun yang terpenting di sini adalah kisah perjalanan hidup Nabi Ayub a.s.. Pada mulanya Nabi Ayub adalah orang kaya. Allah menganugerahkan padanya limpahan nikmat berupa harta benda, anak-anak, status sebagai seorang nabi, kesalehan dan ketakwaan. Kemudian pada suatu ketika, dengan hikmah yang Allah ketahui, Dia menguji Nabi Ayub dengan mengambil semua nikmat tersebut. Semua anak-anaknya meninggal dunia. Harta bendanya musnah. Bahkan dirinya sendiri menderita sakit parah. Hingga tidak satu pun dari anggota badannya yang luput dari penyakit, kecuali hati dan lisannya, yang dengan keduanya dia selalu berzikir kepada Allah. Nabi Allah Ayub dengan penuh kesabaran dan mengharapkan balasan dari Allah semata, menghadapi semua ujian tersebut. Dia ridha terhadap qada dan qadar Allah dan senantiasa mengingat Allah dengan berzikir di waktu pagi dan sore hari.
    Sakit parah yang diderita Nabi Ayub berkepanjangan, hingga orang-orang menjauh darinya. Bahkan mereka mengusirnya keluar dari negeri dan kampung halamannya, karena khawatir penyakitnya akan menular. Dia dibuang ke tempat pembuangan sampah yang terletak di luar kampungnya. Hanya istrinya, Rahmah binti Afratsim, yang setia menemani dan membantunya. Dialah yang mencarikan makanan dan minuman untuk Nabi Ayub, hingga harus bekerja sebagai seorang pembantu yang membantu pekerjaan orang lain dengan upah. Ujian berat yang dihadapi Nabi Ayub tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, karena seberat-berat manusia yang ditimpa ujian adalah mereka para nabi. Hal tersebut senada dengan apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw.,

“Seberat-berat manusia yang ditimpa ujian adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian orang-orang yang setingkat di bawah mereka dalam hal kesalehan, kemudian orang-orang yang tingkat kesalehannya di bawahnya lagi”.
Dan beliau juga bersabda,

“Seseorang akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Apabila dia seorang yang agamanya kuat, maka ujiannya akan semakin bertambah”. 
    Ujian bukanlah sebuah hukuman sebagaimana yang difahami oleh orang-orang awam, orang-orang yang tidak berpengetahuan dan mereka yang dangkal imannya. Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan berapa lama Nabi Ayub ditimpa ujian. Ada yang mengatakan tiga tahun, ada yang mengatakan tujuh tahun, juga ada yang berpendapat bahwa dia diuji selama delapan belas tahun.
    Dalam kisahnya tentang apa yang diderita Nabi Ayub, as-Sadi berkata, “Daging yang membalut tubuhnya habis terkikis. Hanya tulang dan ototnya saja yang masih setia menghiasi tubuhnya. Suatu ketika istrinya datang membawakan abu untuk dijadikan alas tempat pembaringannya. Dan saat dirasa bahwa penderitaan yang dialami suaminya semakin berkepanjangan, dia berkata padanya, “Wahai Ayub jika engkau berdoa memohon pada Tuhanmu, niscaya Dia akan mengeluarkanmu dari penderitaan ini”. Nabi Ayub menjawabnya dengan penuh keridhaan, “Saya telah menikmati hidup sehat selama tujuh puluh tahun, apakah tidak sepantasnya selama itu juga saya bersabar menerima cobaan dari Allah, yang jika dibandingkan dengan nikmat-Nya tidaklah seberapa”.
    Istri Nabi Ayub adalah sosok istri yang penyabar. Dia senantiasa ridha terhadap qada dan qadar Allah. Dia setia menemani suaminya yang sedang sakit parah dan menerima ujian berat dari Allah. Disaat yang sama, orang-orang menjauhi suaminya karena yang dialaminya itu. Mereka takut jika bergaul dengan suaminya akan tertular penyakitnya. Oleh karena itu tidak seorang pun mau membantunya untuk merawat suaminya. Dengan kondisi seperti itu apakah yang bisa dia perbuat?
    Istrti Nabi Ayub yang penyabar itu, dengan suka rela menjual salah satu dari dua rambutnya yang dikepang pada seorang anak perempuan dari orang terpandang. Dengan cara itu dia bisa mendapatkan makanan yang baik dan banyak buat suaminya. Ketika dia datang membawakan makanan tersebut, dengan bijak suaminya bertanya padanya, “Dari mana engkau mendapatkan makanan ini?” Istrinya menjawab, “Saya mendapatkannya dengan cara bekerja membantu orang lain”.
    Kemudian pada keesokan harinya, dia menjual lagi rambutnya yang dikepang. Dengan itu dia kembali dapat membawakan makanan buat suaminya. Akan tetapi Nabi Ayub menolak untuk memakannya sampai sang istri mau bersumpah untuk memberitahukan yang sebenarnya padanya, dari mana dia memperoleh makanan tersebut. Akhirnya istrinya memperlihatkan kepalanya padanya hingga dia menyaksikan bahwa tidak ada lagi rambut yang menghiasi kepala istrinya. Kemudian disaat itu juga disamping istrinya dia berdoa kepada Tuhannya sebagaimana yang difirmankan Allah,
“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, “Ya Tuhan saya, sesungguhnya saya telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara semua penyayang”. (al-Anbiyaa`: 83 ).
Kemudian mereka berdua saling mendoakan. Istrinya berkata, “Allah akan menolongmu wahai Ayub”. Lalu Nabi Ayub berkata pada istrinya, “Allah juga akan menolongmu wahai Rahmah”.
    Ibn Abi Hatim meriwayatkan dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, dia berkata, “Nabi Ayub mempunyai dua saudara. Suatu hari, keduanya datang menjeguknya. Sesampainya di tempat tujuan, mereka tidak sanggup mendekatinya karena terganggu oleh bau badannya yang tidak sedap akibat sakit parah yang dideritanya. Mereka hanya mampu berdiri memandang dari jauh. Dan ketika menyaksikan keadaan Nabi Ayub tersebut, salah seorang dari mereka berkata, “Seandainya saja Ayub mempunyai kebaikan dan Allah mengetahuinya, niscaya Allah tidak akan mencobanya seperti ini”. Nabi Ayub menjadi sedih dan gelisah ketika mendengar perkataan mereka. Padahal sebelumnya, perasaan tersebut tidak pernah terlintas dalam dirinya walau apa pun yang dihadapinya. Nabi Ayub pun berkata dalam pengaduannya kepada Allah, “Ya Allah Engkau tahu bahwa saya tidak pernah melewatkan satu malam pun dalam keadaan kenyang. Dan dengan keadaan seperti itu, saya menjadi tahu bagaimana rasanya orang lapar. Maka tunjukkanlah pada mereka bahwa apa yang saya ucapkan ini adalah benar. Kemudian datanglah pembenaran tersebut langsung dari langit dan didengar oleh kedua saudaranya tersebut. Dan Nabi Ayub juga berkata dalam pengaduannya itu, “Ya Allah Engkau juga tahu bahwa saya sama sekali tidak pernah memiliki dua helai pakaian. Dan dengan itu saya tahu bagaimana rasanya orang tanpa pakaian. Maka tunjukkanlah juga pada mereka kebenaran ucapan saya ini. Kemudian tidak berselang lama, datanglah pembenaran tersebut dari langit dan juga didengar oleh mereka berdua.
    Nabi Ayub juga berkata dalam munajatnya, “Ya Allah dengan keagungan Zat-Mu, hamba-Mu ini memohon”. Lalu dia sujud bersimpuh sembari berkata, “Ya Allah, demi Zat-Mu Yang Maha Agung, saya tidak akan mengangkat kepala saya selamanya sampai Engkau berkenan melepaskan saya dari cobaan ini”. Nabi Ayub pun tetap dalam posisi sujud tidak mengangkat kepalanya, hingga dia terlepas dari cobaan yang selama ini dialaminya.
    Maka Allah mewahyukan kepadanya dan dia masih berada ditempat munajatnya, “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum”.
    Maha Suci Allah, Zat Yang Maha Kuasa lagi Maha memberi kesembuhan dan kesehatan. Dialah yang meletakkan obat bagi Nabi Ayub tepat di bawah telapak kakinya, dengan tanpa disadarinya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah bentuk kekuasaan dan kebijaksanaan Allah Yang Maha Tinggi, yang hanya bisa difahami oleh orang berakal dan beriman, yang senantiasa rida dengan qada dan Qadar Allah.
Ketika istri Nabi Ayub kembali, dia sudah tidak menjumpai suaminya berada ditempatnya semula. Allah telah menyembuhkan penyakit Nabi Ayub a.s.. Kemudian dalam kondisi yang sudah sehat tersebut, Nabi Ayub menghampiri istrinya. Ketika sang istri melihatnya, seakan dia tidak mengenalinya lagi, hingga bertanya padanya, “Semoga Allah memberkati anda, apakah anda berjumpa dengan seorang nabi Allah yang sedang ditimpa cobaan? Sungguh demi Allah Yang Maha Kuasa, saya tidak pernah menjumpai orang semirip dia ketika sehat kecuali anda”. Lalu Nabi Ayub menjawabnya, “Inilah saya yang sedang kamu cari”.
Wahb bin Munabbih berkata, “Allah telah mewahyukan kepada Nabi Ayub, “Aku telah mengembalikan padamu keluarga dan hartamu. Dan Aku melipatgandakannya untukmu. Maka mandilah dengan air ini, karena di dalamnya terdapat obat bagimu. Kemudian berkurbanlah untuk sahabat-sahabatmu dan mintakanlah ampunan untuk mereka, karena sesungguhnya mereka telah mendurhakai-Ku”.
Allah Swt berfirman,

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayub ketika dia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya saya diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan.” (Allah berfirman), “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.” Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. Dan ambilah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at (kepada Tuhannya)”. (Shaad: 41-44)
Allah telah memuji Nabi Ayub sebagai orang yang sabar, sebagaimana bunyi firmannya,

“Dan ambilah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar.” ( Shaad: 44 ).
Dikisahkan bahwa Nabi Ayub, ketika sedang menderita sakit parah karena diuji oleh Allah, istrinya berusaha keras  supaya bisa mendapatkan makanan untuknya, sampai dia harus menjual rambutnya yang dikepang. Nampaknya Nabi Ayub kurang berkenan dengan pengorbanan istrinya tersebut, oleh karenanya dia bersumpah jika kelak Allah menyembuhkan penyakitnya dia akan mencambuk istrinya sebanyak seratus kali. Akan tetapi Allah memberikan keringanan padanya berkenaan dengan sumpahnya itu. Allah hanya memerintahkannya supaya mengumpulkan seratus helai rumput atau tangkai-tangkai kecil pada tanaman, dan mengikatnya menjadi satu, kemudian memukulkannya ke istrinya sekali pukulan, dan itu dihitung sama seperti seratus kali pukulan. Jadi dengan adanya keringanan Allah tersebut, Nabi Ayub bisa tetap memegang sumpahnya. Demikianlah, Allah memberikan kemudahan bagi dua orang hamba-Nya yang penyabar, Nabi Ayub dan istriya.
Diceritakan juga, bahwa setelah terbebas dari ujian berat tersebut, Nabi Ayub hidup selama tujuh puluh tahun di negeri Romawi dengan menjalankan ajaran agama Hanifiah. Dikatakan bahwa kelak di hari kiamat, Allah akan membungkam hujjah orang-orang kaya dengan Nabi Sulaiman, para budak dengan Nabi Yusuf, dan orang-orang yang ditimpa cobaan dengan Nabi Ayub.
Ya Allah, berilah keselamatan pada kami semua dan janganlah Engkau timpakan cobaan yang berat. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua penyayang.

Fudhail bin Iyadh dan Kematian Anaknya

Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa` meriwayatkan dari Abu Ali ar-Razi, dia berkata, “Saya menyertai Fudhail bin Iyadh selama tiga puluh tahun, dan saya tidak pernah melihatnya tertawa ataupun tersenyum kecuali di hari kematian anaknya, Ali. Kemudian saya bertanya padanya tentang hal itu. Dia pun menjawab, “Sesungguhnya Allah menyukai suatu perkara, dan saya menyukai apa yang disukai Allah itu”.
Saya ( penulis ) katakan, “Sesungguhnya kondisi orang-orang zuhud dan para ahli ibadah itu berlawanan dengan kondisi orang kebanyakan. Mereka, orang kebanyakan itu tertawa ketika mendapatkan kebahagiaan dan menangis ketika ditimpa kesusahan. Sedang orang-orang zuhud serta para ahli ma’rifah, mereka tertawa tatkala diuji dengan musibah. Kondisi seperti itu menandakan keridhaan mereka terhadap qadha Allah. Akan tetapi, bukan berarti dengan kisah ini seseorang dilarang menangisi sebuah kematian tanpa disertai ratapan. Karena Rasulullah sendiri, ketika kematian anaknya Ibrahim, menangis sebagai tanda kasih sayang beliau. Kemudian beliau bersabda, “Kita hanya mengatakan apa yang diridhai Tuhan”, atau sebagaimana yang beliau sabdakan. Demikian juga Nabi Ya’qub, tatkala berpisah dengan dua orang anaknya Nabi Yusuf dan Bunyamin, dia menagis karena sedih.

Yang Dipercaya Menjaga Nama Allah yang Paling Agung

Yusuf bin Husain berkata, “Aku mendengar bahwa Dzun Nun al-Mishri mengetahui nama Allah yang paling agung, maka aku datang ke Mesir dan menjadi pembantunya selama setahun. Setelah genap setahun aku berkata kepadanya, ‘Wahai tuanku, aku telah menjadi pembantumu selama setahun, maka sekarang sudah selayaknya aku mendapat upah darimu. Aku dengar kamu mengetahui nama Allah yang paling agung dan kamu sudah tahu siapa diriku maka aku ingin kamu beritahukan hal itu kepadaku.’ Dzun Nun diam dan tidak menjawab apa-apa, tetapi seolah-olah dia mengisyaratkan akan memberitahukan hal itu kepadaku suatu saat nanti.
Enam bulan sudah berlalu. Suatu ketika dia mengeluarkan sebuah bungkusan yang diikat dengan sehelai sapu tangan. Saat itu Dzun Nun tinggal di Giza. Dia berkata kepadaku, ‘Engkau tahu si fulan sahabat kita yang tinggal di Fusthat (sekarang bernama Cairo)?’
‘Ya,’ jawabku.
Dia berkata, ‘Aku ingin kamu memberikan ini kepadanya.’
Kemudian aku ambil bungkusan yang diikat itu dan aku segera berangkat. Sepanjang perjalanan aku selalu berpikir, orang seperti Dzun Nun memberikan hadiah kepada seseorang, kira-kira apa isinya?
Aku tak sabar untuk membukanya sebelum sampai ke perbatasan daerah tujuan. Akhirnya, aku buka juga bungkusan itu. Ternyata seekor tikus keluar dan meloncat dari dalam bungkusan tersebut.
Aku merasa sangat kesal sekali. Aku berkata dalam hati, Dzun Nun ingin mempermainkanku? Dia mengirim seekor tikus melalui orang sepertiku?
Kemudian aku kembali kepada Dzun Nun dalam keadaan marah. Ketika melihatku, dia langsung tahu apa yang aku rasakan. Dia berkata, ‘Wahai bodoh, sesungguhnya kami hanya ingin mengujimu. Apakah setelah aku memercayakan kepadamu seekor tikus dan kau tak bisa menjaga amanah itu, aku akan mengamanahkan kepadamu nama Allah yang paling agung? Pergilah dan jangan kembali lagi.’”
Nama Allah yang paling agung maksudnya adalah nama yang kalau digunakan untuk berdoa kepada Allah, pasti akan Allah kabulkan dan kalau bermohon menggunakan nama itu pasti akan Allah berikan.

TOBAT SESEORANG DARI BANI ISRAIL

Ada seseorang dari Bani Israil yang sering melakukan kemungkaran. Karenanya, ada satu keluarga dari Bani Israil yang mengirim kepadanya seorang budak perempuan untuk meminta agar dia mau memberikan mereka sesuatu karena mereka telah tertimpa paceklik. Orang itu berkata kepada budak itu,  “Tidak, kecuali jika engkau puaskan aku dengan dirimu.”
    Budak itu keluar dan pergi meninggalkannya setelah apa yang dimintanya ditolak. Akan tetapi, mereka tetap memaksanya dengan keras, budak itu pun kembali meminta lagi kepadanya.
    Dia berkata, “Berikanlah kami.”
    Orang itu berkata kepadanya, “Tidak, kecuali jika engkau puaskan aku dengan dirimu.”
    Budak wanita itu pun pulang dan mereka tetap saja memaksanya dengan keras. Dia pun mendatanginya untuk ketiga kalinya. Orang itu berkata kepadanya yang telah dikatakan sebelumnya. Budak itu pun menjawab, “Terserah kamu.”
    Pada saat orang itu berduaan dengan budak wanita ini, budak wanita ini menjauh dan gemetar. Orang itu berkata kepadanya, “Apa yang terjadi pada dirimu?”
    Dia menjawab, “Ini perbuatan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya sama sekali.”
    Orang itu berkata, “Kamu takut kepada Allah dan tidak berani melakukannya dan aku akan melakukannya?”
    Aku bersumpah kepada Allah bahwa aku tidak akan lagi kembali melakukan apa yang selama ini aku kerjakan. Kemudian Allah mewahyukan kepada seorang nabi dan nabi-nabi mereka bahwa si fulan itu telah ditetapkan termasuk ahli surga.

Berjumpa dengan Allah dalam Keadaan Berpuasa

Abu Bakar an-Nisaburi menceritakan, “Aku datang menjenguk Ibrahim bin Hani` di saat-saat terakhir kehidupannya. Dia berkata kepada putranya, Ishaq, ‘Apakah matahari sudah terbenam?’
Ishaq menjawab, ‘Belum.’
Saat itu Ibrahim tengah berpuasa. Putranya berkata kepadanya, ‘Wahai ayah, ada keringanan bagimu untuk berbuka dalam kondisi seperti ini dalam puasa wajib apalagi sekarang engkau puasa sunnah.’
Dia berkata, ‘Sabar.’ Kemudian  dia membaca,

KHAT

‘Untuk (kemenangan) serupa ini, hendaklah beramal orang-orang yang mampu beramal.’ (ash-Shaaffaat: 61)

Tak lama setelah itu dia wafat.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa dia berkata kepada putranya, “Aku haus.”
Kemudian putranya datang membawa air minum. Sebelum minum, Ibrahim bertanya kepada putranya, “Apakah matahari sudah tenggelam?”
“Belum,” jawab putranya.
Ibrahim menolak air itu dan membaca, “Untuk saat seperti inilah manusia harus beramal.” Kemudian dia wafat. Semoga Allah merahmatinya.
Ibrahim bin Hani` an-Nisaburi wafat pada hari Rabu, 4 Rabiul Akhir tahun 265 H. Dia adalah seorang ahli fiqih dan ahli ibadah. Dia hidup di Baghdad dan termasuk salah seorang perawi hadits.
Begitulah keadaan para ahli ibadah dan ahli fiqih, selalu berpuasa dan melaksanakan qiyam, bahkan pada detik-detik terakhir kehidupannya. Mereka sangat menyadari bahwa husnul khatimah adalah tujuan setiap mukmin dan dalam keadaan itu dia ingin berjumpa dengan Allah swt. di hari Kiamat nanti. Setiap orang akan dibangkitkan berdasarkan amalan terakhir yang dikerjakannya di dunia. Kita bermohon kepada Allah akhir kehidupan yang baik dan mengaruniakan kepada kita amal yang saleh dan diterima sebelum kematian menjemput. Semoga syahadat bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah menjadi perkataaan terakhir kita di dunia dan dalam kondisi itu kita berjumpa dengan Allah.

Ahli Ibadah dan Jihad fi Sabilillah 

Al-Junaid berkata bahwa Muhammad as-Samin  berkata kepadaku, “Dalam masa yang cukup lama aku selalu bekerja dengan penuh gigih dan aku mendapatkan kebahagiaan dalam pekerjaan itu. Kemudian aku pergi berperang dan semangat ini masih bersamaku. Musuh menyerang kaum Muslimin habis-habisan. Mereka merapatkan barisan dan bersatu padu. Hal itu menimbulkan perasaan takut pada sebagian kaum Muslimin melihat banyaknya jumlah musuh.
Aku perhatikan diriku dalam kondisi seperti itu juga dihinggapi sedikit perasaan gentar. Perasaan itu semakin berat. Kemudian aku cela diriku sendiri dan aku berkata, ‘Bukankah kamu biasanya melakukan pekerjaan dengan gigih dan penuh suka? Kenapa ketika datang saat-saat yang memang untuk itu kamu keluar, kamu malah goyah dan berubah?’
Aku terus mencela diriku. Kemudian terbetik dalam hatiku untuk turun ke sungai dan mandi. Lalu aku buka pakaianku. Setelah memakai sarung, aku segera mandi. Setelah mandi, aku merasakan semangat yang aku sendiri tak mengerti dari mana datangnya?
Kemudian aku keluar dari sungai dengan semangat itu dan aku kenakan kembali pakaianku. Lalu aku mengambil senjataku dan aku masuk ke dalam barisan. Aku berperang habis-habisan dengan semangat itu. Aku masih tak mengerti bagaimana ini bisa terjadi. Tiba-tiba aku sudah sampai di barisan belakang musuh. Akhirnya, mereka lari terbirit-birit dan kaum Muslimin menyerang mereka habis-habisan. Aku bertakbir. Dengan pekikan takbirku sebanyak empat ribu pasukan Romawi berhasil dibunuh dan Allah menjadikan hal itu sebagai faktor kemenangan kaum Muslimin.
Ahli ibadah ini awalnya telah melakukan ibadah secara teori. Kerinduannya untuk berjumpa dengan Allah dan mati di jalan-Nya semakin memuncak. Maka, ketika datang kesempatan untuk membuktikan niatnya yang baik dan ibadahnya, dia pergi berperang dan berjihad di jalan Allah, sehingga dia dapat melihat kematian itu secara langsung. Dia juga merasakan takut dan gentar seperti yang dirasakan orang lain. Akan tetapi, dia tetap bertahan disebabkan ibadahnya kepada Allah. Kemudian dia masuk ke sungai lalu mandi. Air sungai itu memadamkan api ketakutan dan waswas setan dalam dirinya. Lalu, dia keluar dengan penuh iman, kekuatan, dan semangat. Jiwanya penuh dengan keberanian dan semangat untuk maju di jalan Allah. Akhirnya, bantuan itu datang dari sisi Allah. Mahabenar Allah yang telah berfirman,

KHAT

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad: 7)

(Selesai jilid dua dari buku ini dan Insya Allah akan segera menyusul jilid tiga).    
  

Referensi utama:
1.    Al-Qur’an Al-Karim.
2.    Shahih Bukhari.
3.    Shahih Muslim.
4.    Musnad Ahmad bin Hanbal.
5.    Shaidul Khathir karya Ibnu Jauzi.
6.    Shifatush Shafwah karya Ibnu Jauzi.
7.    Tuhfatudz Dzakirin karya Syaukani.
8.    Ar-Riqqah wal Buka` karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi.
9.    At-Tawwabin karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi.
10.    Al-Mustaghitsun billah karya Ibnu Bisykawal.
11.    Hilyatul Awliya` karya Abu Nu’aim al-Ashfahani.
12.    Al-Hawatif karya Ibnu Abid Dunya.
13.    Dala`ilun Nubuwwah karya al-Baihaqi.
14.    Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir.
15.    Al-Muntazhim karya Ibnu Jauzi.
16.    Thabaqat Ibnu Sa’ad.
17.    Siyar A’lamin Nubala` karya adz-Dzahabi.
18.    Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir.
19.    Al-Ishabah karya Ibnu Hajar.
20.    Tarikh Thabari.

Sekilas tentang penulis:

-    Mansur Abdul Hakim Muhammad Abdul Jalil
-    Kelahiran Kairo
-    Meraih gelar Licence dalam bidang hukum Universitas ‘Ain Syam tahun 1978
-    Bekerja sebagai pengacara dan penulis

Karya-karya penulis:
-    150 Kisah Laki-Laki dan Wanita yang Dijamin Masuk Surga
-    150 Kisah Laki-Laki dan Wanita yang Dijamin Masuk Neraka
-    150 Kisah Laki-Laki dan Wanita yang Menangis karena Takut kepada Allah
-    150 Kisah Laki-Laki dan Wanita yang Allah Kabulkan Doa Mereka
-    150 Kisah Laki-Laki dan Wanita yang Ridha dengan Ketentuan Allah
-    150 Kisah Kelapangan Setelah Kesulitan
-    150 Kisah Orang-Orang yang Bertobat dan Kembali kepada Allah
-    120 Kisah Para Khulafa`
-    350 Kisah dari Sirah Nabawiyah
-    220 Kisah Tentang Para Nabi
-    110 Kisah dari Al-Qur’an
-    Ensiklopedi Wawasan
-    150 Kisah Laki-Laki dan Wanita yang Dimaafkan Oleh Rasulullah saw.
-    Para Wanita Ahlul Bait
-    Putri-Putri Para Shahabat
-    100 Kisah Tentang Kecerdasan Para Shahabiyat
-    Istri-Istri Para Nabi dan Rasul
-    Keajaiban Pengobatan dengan Berbekam
-    Uji Pengetahuan Keislaman Anda
-    Sejarah Mekah dan Masjidil Haram
-    150 Kisah Orang-Orang Saleh dan Zuhud Bagian Pertama, Kedua, dan Ketiga

Ridha terhadap Pilihan Allah

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyebutkan di dalam kitab Madaarijus Saalikiin, bahwa pada suatu hari seseorang berkata kepada Husein bin Ali  rahimahullah., “Abu Dzar r.a. berkata, “Kefakiran lebih saya sukai dari pada kekayaan. Sakit lebih saya sukai dari pada kondisi sehat”.
Maka Husein bin Ali berkata, “Semoga Allah mengasihi Abu Dzar. Kalau saya, maka saya katakan, “Barang siapa yang bertawakkal terhadap pilihan Allah, maka dia tidak menginginkan selain yang ditetapkan oleh Allah kepadanya”.
Saya ( penulis ) katakan, “Itulah ridha kepada qadha Allah dalam senang dan susah, karena semua itu adalah ujian dari Allah. Dan Allah lebih tahu tentang kondisi hamba-hamba-Nya dari pada diri mereka sendiri.
Karena di antara hamba-hamba-Nya ada yang lebih cocok dengan kondisi kaya, ada juga yang lebih cocok dengan kefakiran.
Yang penting adalah ridha dengan pilihan Allah Swt..

Sibukkan Dirimu dengan Sesuatu yang Bermanfaat

Ibnu Abid Dunya menceritakan dari Wuhaib ibnul Wird, dia berkata, “Ada seseorang menceritakan, ‘Ketika aku sedang melintasi sebuah daerah di Romawi, tiba-tiba aku mendengar sebuah suara, ‘Wahai Tuhan, aku heran kepada manusia yang mengenal-Mu kenapa dia masih mengharap selain dari-Mu?’
Kemudian suara itu terdengar kembali, ‘Wahai Tuhan, aku heran kepada orang yang mengenal-Mu kenapa dia masih meminta bantuan selain kepada-Mu?’
Ketiga kalinya suara itu terdengar lagi, ‘Wahai Tuhan, aku heran kepada orang yang mengenal-Mu, kenapa dia bersedia memperoleh murka-Mu demi ridha orang lain?’
Laki-laki itu melanjutkan, ‘Kemudian aku berteriak, ‘Jin atau manusia?’ Suara itu menjawab, ‘Manusia. Sibukkan dirimu dengan sesuatu yang bermanfaat bagimu dan berpalinglah dari hal yang tidak bermanfaat.’’
Itu merupakan nasihat berharga dari seorang hamba yang meninggalkan dunia pada pemburunya dan lebih mengejar apa yang di sisi Allah.”