Yang Menghalangiku adalah Zat Mahakuat Lagi Perkasa

Ibnul Qayyim dalam kitabnya Raudhatul Muhibbin menceritakan bahwa ada seorang wanita bernama ‘Atbah yang mempunyai paras sangat cantik dan menarik. Ada seorang pemuda yang sangat mendambakan dan mencintainya. Pemuda itu minta untuk dapat melihat wajahnya meskipun sekali saja, tetapi ‘Atbah tidak bersedia membuka hijabnya. Hati pemuda itu semakin terpaut kepadanya sampai akhirnya dia jatuh sakit. Sakitnya semakin parah dan akhirnya dia wafat.
Ketika pemuda itu telah wafat ada yang bertanya kepada ‘Atbah, “Apa salahnya kamu senangkan hatinya dengan memperlihatkan wajahmu kepadanya?”
‘Atbah menjawab, “Yang menghalangiku melakukan hal itu adalah rasa takut kepada Zat Yang Mahakuat lagi Perkasa, juga takut mendapat aib dan kedengkian para tetangga. Sesungguhnya di hatiku ada perasaan yang lebih berat dari yang dia rasakan, tetapi aku meyakini bahwa tutupan dari Allah lebih mengekalkan rasa kasih, lebih terpuji kesudahannya, lebih menampakkan ketaatan kepada Tuhan, dan lebih meringankan azab.”

TOBAT SEORANG PEDAGANG DARI KETAMAKAN DUNIA

Ibnul Jauzi dalam kitab Shafwatush Shafwah menyebutkan dari Ibnu Jabir, “Sesungguhnya Abu Abdurrabbih adalah seorang warga Damaskus yang paling banyak hartanya. Suatu waktu dia pergi ke kota Adzarbaijan untuk urusan dagang. Saat datang waktu sore dia sampai di tepi padang rumput dan sungai. Dia pun singgah di situ. Dia mendapatkan seseorang di sebuah lubang tanah berbalut dengan tikar. Aku mengucapkan salam kepadanya dan bertanya siapa kamu wahai hamba Allah?”
    Dia menjawab, “Seseorang dari kaum Muslimin.”
    Aku bertanya, “Bagaimana keadaanmu ini?”
    Dia menjawab, “Keadaan nikmat yang wajib aku syukuri kepada Allah.”
    Aku bertanya, “Bagaimana, padahal kamu saja berbalut tikar?”
    Dia menjawab, “Apa alasanku untuk tidak mau mensyukuri Allah, padahal Allah telah menciptakan aku dalam bentuk ciptaan yang paling baik, kemudian Allah telah menjadikan kelahiran besarku di tengah agama Islam, Allah telah memberikan aku kesehatan pada semua anggota tubuhku, Allah telah menutupi apa yang aku benci menyebutnya atau menyebarkannya. Siapa lagi yang harus paling aku butuhkan dalam keadaanku seperti ini?”
    Aku berkata kepadanya, “Semoga Allah merahmatimu. Jika kamu mau bersamaku ke rumah itu, kita akan menginap di rumah samping sungai itu?”
    Dia berkata, “Untuk apa?”
    Aku berkata, “Agar kamu bisa merasakan makanan dan kami akan memberikanmu apa yang kamu butuhkan daripada kamu memakai tikar itu.”
    Dia berkata, “Aku tidak butuh apa-apa. Aku makan rerumputan pun sudah cukup.” Orang itu pun bersikeras untuk tetap tinggal di situ dan tidak mau ikut pergi bersama saudagar itu.
    Abu Abdurrabbih si saudagar itu berkata, “Aku pun pergi. Aku segera mencela dan mencaci maki diriku sendiri bahwa aku di Damaskus tidak pernah rela jika ada seseorang yang kekayaannya melebihi kekayaanku. Aku pasti mencari tambahan.”
    Saudagar itu berkata, “Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dari kejelekan yang selama ini aku lakukan.”
    Pada pagi harinya saudagar itu pulang dan kembali ke Damaskus dan tidak jadi pergi ke Adzarbaijan untuk berdagang seperti yang dia mau. Dia segera pulang ke rumahnya dan mengeluarkan emas dan perak yang dia miliki kemudian dia sedekahkan di jalan Allah. Dia juga membeli kain dan pakaian yang dia bagi-bagikan kepada para tentara miskin. Dia juga menjual rumahnya dengan harga yang mahal dan dia sedekahkan uangnya, juga semua yang dia miliki sampai ketika dia meninggal dunia dia tidak memiliki apa-apa kecuali seharga kain kafannya.
    Dia selalu berkata, “Demi Allah, jika sungai kalian ini mengalirkan emas dan perak, aku tidak akan mau pergi ke sana. Jika dikatakan bahwa barangsiapa yang menyentuh tiang ini dia mati, akan menjadi kebahagiaanku untuk melakukannya karena kerinduanku kepada Allah dan kepada Rasul-Nya saw..”57
    Begitulah, saudagar kaya yang selalu ingin menambah kekayaan dan hartanya berubah menjadi orang yang bertobat kepada Allah dan menjadi seorang yang zuhud di dunia. Hal tersebut terjadi karena dia telah mengetahui tentang hakikat kehidupan ini yang akan pergi dan binasa. Sesungguhnya apa yang ada pada Allah itu kekal dan jauh lebih banyak daripada apa yang ada di dunia yang fana ini.
    Kita senantiasa memohon kepada Allah tobat yang benar dan kezuhudan pada apa yang ada di tangan manusia.

Ikrimah bin Abi Jahl, Anaknya dan Pamannya Pada Peperangan Yarmuk

Dari Abu Utsman al-Ghatsani dari ayahnya r.a., dia berkata, “Pada peperangan Yarmuk, Ikrimah bin Abi Jahl berkata kepada para musuh, “Saya beberapa kali telah berperang melawan Rasulullah saw., maka apakah kini saya akan melarikan diri dari kalian?”
Kemudian dia berseru, “Siapakah yang mau berbaiat untuk mati?”
Maka anak dan pamannya, al-Harits bin Hisyam r.a. serta Dhirar ibnul Azwar r.a. dengan empat ratus tentara dan ksatria muslim. Lalu mereka berperang di depan tenda Khalid bin Walid hingga mereka terluka dan beberapa orang dari mereka terbunuh yang diantaranya Dhirar bin Azwar”.
    Kemudian Khalid bin Walid datang setelah Ikrimah terluka. Lalu Khalid memangku kepala Ikrimah dan meletakkan Amr bin Ikrimah di salah satu betisnya. Lalu dia mengusap wajah keduanya dan meminumkan air kepada mereka, serta berkata, “Ibnul Hantamah mengira kita tidaklah syahid. Tidak, tidak benar anggapan itu”.
Pada hari itu, Ikrimah, anaknya dan pamannya meninggal dunia, semoga Allah meridhai mereka semua.
Demikianlah. Mereka ikhlas dan ridha kepada Allah, sehingga Allah ridha terhadap mereka. Dan Allah pun memilih mereka sebagai para syahid di surga-Nya.

MENGAPA KITA MEMBENCI KEMATIAN?

Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik bertanya kepada Abu Hazim Salmah bin Dinar, “Wahai Abu Hazim, kenapa kita selalu benci pada kematian?”
    Abu Hazim menjawab, “Karena kalian telah menghancurkan akhirat dan meramaikan kehidupan dunia kalian. Jelas kalian akan terus benci pindah dari yang ramai ke yang hancur.”
    Khalifah berkata, “Anda benar. Lalu, bagaimana keadaan pada saat datang menghadap Allah swt.?”
    Dia menjawab, “Adapun orang yang baik, dia bagaikan orang yang pergi lama datang menghadap keluarganya, sementara orang yang banyak salah dan dosa, dia bagaikan budak yang lari dari tuannya menghadap tuannya itu.”
    Khalifah Sulaiman pun menangis seraya berkata, “Bagaimana kita nanti di hadapan Allah, wahai Abu Hazim?”
    Dia menjawab, “Serahkan dirimu kepada Kitabullah dan sesungguhnya kamu akan tahu bagaimana kamu nanti dihadapan Allah.”
Sulaiman berkata, “Wahai Abu Hazim, di mana aku mendapatkan itu?”
    Dia menjawab dengan membaca firman Allah, “Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka.” (al-Infithaar: 13-14)
    Sulaiman bertanya, “Di mana ada rahmat Allah?”
    Dia menjawab,  “Dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Abu Musa al-Asy

Abu Burdah meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, dia berkata, “Pada suatu kami pergi berperang dengan naik perahu. Ketika itu angin bertiup kencang dan layar pun berkembang. Lalu kami mendengar seseorang menyeru, “Wahai para penumpang perahu. Berdirilah, saya akan memberitahukan sesuatu kepada kalian”.
Orang itu mengulangi panggilannya sebanyak tujuh kali. Kemudian saya pun berdiri di bagian depan perahu. Lalu saya bertanya kepadanya, “Siapakah engkau dan dari mana asalmu? Apakah engkau tidak melihat kondisi kami ini? Apakah engkau fikir kami bisa berdiri?”
Lalu dia menjawab, “Maukah kalian saya beritahu tentang ketetapan Allah terhadap diri-Nya?”
“Katakanlah”, jawabku.
Dia berkata lagi, “Sesungguhnya Allah menetapkan atas diri-Nya, bahwa barang siapa menahan haus di hari yang panas karena Allah, maka pada hari kiamat Allah akan memberinya minum”.
Abu Burdah berkata, “Kemudian Abu Musa menanti-nanti hari yang sangat panas, yang membuat kulit hampir terkelupas, lalu dia berpuasa di hari itu”.

Putra-Putra

Seorang sahabat wanita bernama ‘Afra` binti Ubaid r.a memliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh orang lain, yaitu  dia mempunyai tujuh orang putra yang seluruhnya terjun dalam Perang Badar Kubra bersama Rasulullah saw.. Dua orang di antara mereka berhasil membunuh musuh Allah, Abu Jahal, lalu keduanya syahid dalam perang itu juga.
Putra-putranya adalah Mu’adz, ‘Auf, dan Mu’awwidz dari suaminya Harits bin Rifa’ah dan Iyas, ‘Aqil, Khalid serta Amir dari suaminya Bakir bin Abd Yalail.
Dua putranya, Mu’awwidz dan Mu’adz, berjasa besar dalam membunuh Abu Jahal. Sebelum terjun ke medan perang, keduanya telah berniat untuk membunuh Abu Jahal karena mereka mendengar bahwa Abu Jahal banyak menyakiti Rasulullah saw. di Mekah.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Abdurrahman bin Auf r.a., Dia berkata, “Aku berada di barisan depan pada saat Perang Badar. Ketika aku menoleh, ternyata di sebelah kanan dan kiriku ada dua orang remaja yang masih sangat muda. Aku merasa khawatir melihat posisi keduanya. Tiba-tiba salah seorang dari keduanya berbisik kepadaku, ‘Wahai paman, tunjukkan kepadaku yang mana Abu Jahal!’
‘Wahai anakku, apa yang akan kamu lakukan kepadanya?’ tanyaku.
‘Aku sudah berjanji kepada Allah, kalau aku melihatnya aku akan membunuhnya atau aku yang terbunuh.’
Yang seorang lagi juga bertanya hal yang sama kepadaku. Aku tak akan begitu gembira seandainya yang berada di depanku adalah laki-laki dewasa. Kemudian aku tunjukkan kepada mereka posisi Abu Jahal. Keduanya segera melesat bagaikan dua ekor elang lalu memukul Abu Jahal. Kedua remaja itu ternyata adalah putra ‘Afra`.”
Abu Jahal adalah seorang yang sangat kuat meskipun usianya telah tua pada saat Perang Badar. Kedua putra ‘Afra` tersebut belum mampu untuk langsung membunuh Abu Jahal karena mereka masih terlalu muda. Maka, turunlah malaikat membantu mereka dalam membunuh musuh Allah, Abu Jahal. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Semoga Allah merahmati kedua putra ‘Afra`. Mereka ikut membantu membunuh Fir’aun umat ini dan gembong kekafiran.”
Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, siapa yang membunuhnya di samping kedua remaja itu?”
“Para malaikat, dan Ibnu Mas’ud juga turut membunuhnya.”

Setelah perang usai, Rasulullah saw. berkata kepada para sahabatnya, “Siapa yang mau menginformasikan tentang Abu Jahal?”
Ibnu Mas’ud berkata, “Biarkan aku, ya Rasulullah.”
Ibnu Mas’ud segera berangkat dan dia lihat Abu Jahal telah dipukul oleh dua orang putra ‘Afra` sampai roboh. Ibnu Mas’ud memegang jenggot Abu Jahal dan berkata, “Abu Jahal?”
Kemudian dia berkata, “Tiada laki-laki yang lebih agung dari diriku yang telah kalian bunuh.”
Abu Jahal masih hidup, maka Ibnu Mas’ud segera membunuhnya dan memenggal kepalanya, lalu membawanya kepada Nabi saw.. Nabi berkata, “Tidak ada tuhan selain Allah (sebanyak tiga kali). Segala puji bagi Allah yang telah menghinakanmu wahai musuh Allah. Inilah Fir’aun umat ini.”

YUNUS A.S. DAN KAUMNYA

Allah swt. mengutus Yunus bin Matius a.s. ke penduduk Nainawa di tanah Mosul. Dia mengajak mereka untuk menyembah Allah swt. dan meninggalkan apa yang sedang mereka sembah berupa berhala dan patung. Lama dia melakukan itu dan dia tetap melihat penolakan dan kesombongan mereka yang melampaui batas. Dia pun marah dan pergi meninggalkan mereka dan mengancam akan diturunkan kepada mereka azab Allah setelah tiga tahun. Yunus tidak mau menunggu perintah Tuhannya dan tidak mau bersabar dalam berdakwah mengajak mereka.
    “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih.” (al-Qalam: 48)
    Yunus adalah pemilik cerita ikan besar. Dia pergi membawa kemarahan dan meninggalkan kaumnya dengan menaiki kapal mengarungi laut, perahu kapal itu diguncang oleh ombak dan hampir menenggelamkan semua orang yang ada di atasnya.
    Manusia pada zaman itu, apabila mereka berada di atas kapal yang hampir tenggelam, mereka akan mengadakan undian. Barangsiapa yang terkena undian itu, dia harus menyeburkan dirinya ke laut agar bisa meringankan beban kapal setelah terlebih dahulu mereka membuang ke laut barang-barang bawaan mereka.
    Undian itu jatuh pada diri Yunus a.s., namun orang-orang yang ada di atas kapal itu menolak kalau orang yang saleh itu harus menyeburkan dirinya ke laut. Mereka lalu mengulang kembali undian tadi untuk kedua dan ketiga, namun tetap saja undian itu jatuh kepadanya. Akhirnya Yunus pun menyadari bahwa itu adalah kehendak Allah swt., hingga dia pun langsung menyeburkan diri ke laut. Allah lalu memerintahkan ikan yang besar untuk menelannya tanpa harus menyakitinya.
    “Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul, (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian). Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.” (as-Shaaffaat: 139-142)
    Dengan kudrat dan kekuatan Allah, Yunus berada di dalam perut ikan besar itu dalam keadaan selamat. Pada awalnya dia menganggap bahwa dirinya telah mati, dia pun menggerakkan anggota tubuhnya. Ternyata, anggota tubuhnya itu bergerak. Dia pun sadar bahwa dia masih hidup. Dia lalu langsung sujud bersyukur kepada Allah dengan berkata, “Wahai Tuhanku, aku telah menjadikannya tempat sujud kepada-Mu yang tidak ada satu orang pun menyembah Engkau seperti tempat ini.”
    Selama Yunus berada dalam perut ikan besar seperti yang dikehendaki Allah, dia terus berdoa kepada-Nya dan berzikir kepada-Nya dengan doa ini,

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
    Kalau tidak ada doa dan istigfar ini, Yunus akan terus berada di dalam perut ikan besar sampai hari Allah akan bangkitkan seluruh makhluk ciptaan-Nya.
    Allah swt. berfirman, “Dan sungguh, Yunus benar-benar termasuk salah seorang rasul, (ingatlah) ketika dia lari, ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut diundi ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah (dalam undian). Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela. Maka sekiranya dia tidak termasuk orang yang banyak berzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di perut (ikan itu) sampai Hari Berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit. Kemudian untuk dia Kami tumbuhkan sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus ribu (orang) atau lebih, sehingga mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.” (as-Shaffaat: 139-148)
    Dan tentang doa dan istigfar Yunus, Allah swt. berfirman, “Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya, maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (al-Anbiyaa`: 87-88)
    Rasulullah saw. bersabda,

“Nama Allah yang apabila Dia dipanggil dengan nama itu, Dia akan menjawab. Apabila diminta dengannya, Dia akan memberi, yaitu doa Yunus bin Matius.”
    Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu khusus untuk Yunus saja ataukah umum untuk umat Islam?” Beliau berkata, “Doa itu khusus untuk Yunus dan juga orang-orang yang beriman secara umum apabila mereka berdoa dengannya, tidakkah kamu mendengar firman Allah swt., ‘…maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, ‘Tidak ada tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (al-Anbiyaa`: 87-88)
    “Itu merupakan sebuah janji dari Allah bagi orang-orang yang berdoa dengannya.” 
    Dan doa Yunus a.s. ini terdiri dari awalannya tauhid bagi Allah dan tengahnya adalah zikir kepada Allah dan akhirnya adalah istigfar kepada Allah. Allah swt. menyelamatkan Yunus dari perut ikat besar dan mengutusnya kembali kepada kaumnya sementara semua telah beriman setelah kepergian Yunus a.s. meninggalkan mereka dan mengancam akan azab Allah. Allah swt. mengetuk ke dalam hati mereka dengan rasa takut kepada-Nya, tobat, serta mohon ampun dan keimanan sehingga mereka semua merasa menyesal atas apa yang telah mereka lakukan terhadap nabi mereka Yunus a.s..
    Mereka pun lantas memakai pakaian compang-camping, mereka memisahkan semua binatang dari anaknya kemudian mereka berteriak kepada Allah dengan teriakan lantang, dengan tangis dan kekhusyukan doa, baik laki-laki, perempuan dan anak-anak dan orang-orang tua, semuanya menangis. Kemudian semua binatang hewan peliharaan dan binatang lainnya pun datang dengan suaranya, saat itu suasana sangat mencekam. Kemudian Allah swt. dengan rahmat dan kasih sayang-Nya menghapus azab-Nya yang hampir saja diturunkan kepada mereka.
    Yunus pun kembali ke kaumnya setelah mereka beriman dan dia menyadari kesalahannya dengan bersabar atas mereka. Lantas dia pergi meninggalkan mereka tanpa ada izin dari Allah. Sesungguhnya hidayah itu adalah milik Allah dan bagi rasul adalah hanya menyampaikan dengan jelas.
    “Dan Kami utus dia kepada seratus ribu (orang) atau lebih, sehingga mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu tertentu.” (as-Shaffaat: 147-148)
    Juga Allah berfirman tentang mereka, tentang tobat dan kembalinya mereka kepada Allah, “Mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman. Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu.” (Yunus: 98)
    Betapa manisnya kembali kepada Allah swt. dan bertobat kepada-Nya sehingga mendapatkan magfirah dan keridhaan-Nya. Sesungguhnya ini kemenangan yang sangat besar di dunia dan akhirat dan Allah akan senantiasa menyelamatkan orang yang bertobat dan kempali kepada-Nya dari kenistaan dunia dan akan memberinya nanti surga-Nya di akhirat.