Aisyah dan Keridhaannya terhadap Qadha Allah

Ketika pasukan muslim kembali dari peperangan di Bani Mushtaliq, Aisyah r.a. –yang ketika itu bersama para wanita yang sedang beristirahat sebelum memasuki ke Madinah— tertinggal karena mencari sebuah kalungnya yang terlepas ketika dia sedang membuang air. Tidak seorang pun dari pasukan muslimin yang tahu jika Aisyah belum kembali ke dalam tandu ontanya, sehingga mereka membawanya karena mengira Aisyah ada di dalamnya. Maka ketika Aisyah kembali ke tempat peristirahatan orang-orang muslimin tersebut, mereka sudah tidak ada di tempat.
Aisyah mengisahkan keadaannya, “Lalu saya melipatkan jilbab saya ke badan saya, lalu saya tiduran di tempatku. Saya tahu, jika mereka tidak menemukan saya, pasti mereka akan kembali mencari saya. Ketika saya rebahan, tiba-tiba Shafwan ibnul Mu’aththal as-Sulami, yang juga tertinggal karena ada keperluan sehingga tidak bermalam bersama orang-orang muslim, melewatiku. Ketika dia melihat bayanganku, dia pun mendekatiku. Dan sebelumnya dia pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab atas kami. Lalu dia pun bertanya, “Innalillaahi wainnaa lillaahi raaji’uun, isteri Rasulullah saw.”.
Ketika itu saya menutupkan jilbab saya ke tubuh saya.
Dia bertanya lagi, “Apa yang membuatmu tertinggal, semoga Allah mengasihimu?”
Saya tidak mengatakan apapun kepadanya. Kemudian dia mendekatkan ontanya, lalu berkata, “Naiklah dan saya akan berjalan di depan”.
Maka saya pun naik ke punggung ontanya, dan dia berjalan dengan memegang tali onta tersebut. Lalu dia berjalan cepat untuk menyusul pasukan muslimin, namun kami tidak juga dapat menyusul mereka. Sedangkan orang-orang muslim baru menyadari bahwa saya tidak ada di dalam tandu ketika pagi hari, ketika mereka singgah di suatu tempat. Kemudian ketika mereka sedang beristirahat, kami sampai ke tempat itu. Maka orang-orang penyebar cerita Ifki ( cerita dusta ) menyebarkan tuduhan keji tentangku. Maka terjadi keributan dalam pasukan muslimin, dan Allah lebih tahu tentang hal itu”.
    Kemudian setelah sampai ke Madinah, Aisyah r.a. sakit, lalu dia pulang ke rumah ayahnya untuk dirawat oleh ibunya. Aisyah tidak mengetahui apa yang disebarkan oleh orang-orang munafik dan orang-orang yang berjiwa lemah tentangnya dan tentang Shafwan ibnul Mu’aththal. Mereka menuduhnya melakukan kekejian, haasyaahallaahu ta’ala.
Setelah dua puluh hari berlalu, Aisyah r.a. mengetahui tentang apa yang dituduhkan kepadanya dari Ummu Masthah bintu Abi Rahm. Maka Aisyah pun berkata, “Demi Allah, ketika saya tidak mampu menyelesaikan keperluanku dan saya pun langsung kembali ke rumah. Demi Allah, saya terus menangis hingga seakan hatiku hampir pecah karenanya. Lalu saya katakan kepada ibuku, “Ibu, semoga Allah mengampunimu. Orang-orang ramai meributkan cerita itu, namun engkau sedikitpun tidak mengatakannya kepada saya”.
    Maka ibunya berkata, “Wahai anakku, janganlah kau terlalu memikirkan hal ini. Demi Allah, seringkali seorang wanita cantik yang dicintai oleh suaminya yang mempunyai banyak isteri tidak disenangi oleh isteri-isteri yang lain”.
Aisyah r.a. berkata, “Kemudian Rasulullah saw. mendatangi saya dan ketika itu ayahku, ibuku dan seorang wanita Anshar ada di dekatku. Sedangkan saya masih menangis dan wanita Anshar itu juga menangis bersamaku. Lalu beliau mengucapkan hamdalah dan memuji Allah, kemudian bersabda, “Wahai Aisyah, kau telah mendengar apa yang dikatakan orang-orang. Maka bertakwalah kepada Allah, jika engkau memang telah melakukan apa yang dikatakan orang-orang, maka bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya”.
Aisyah berkata, “Demi Allah, setelah beliau mengatakan hal itu, air mataku terasa habis, hingga saya tidak merasakan air mataku lagi. Dan saya menunggu kedua orang tuaku menjawab sabda Rasulullah saw. tersebut, namun keduanya tetap tidak menjawab. Demi Allah, sungguh saya teramat hina dan rendah untuk mengharapkan agar Allah menurunkan Al-Qur’an yang dibaca di masjid-masjid dan dibaca orang ketika shalat tentang tidakbersalahnya saya. Akan tetapi saya sangat mengharapkan Rasulullah saw. bermimpi yang di dalamnya Allah membantah tuduhan orang-orang terhadap saya, karena ketidaksalahan saya yang diketahui-Nya, atau Dia memberitahu beliau akan hal itu”.
Aisyah berkata lagi, “Ketika saya melihat ayah dan ibuku tidak berbicara, maka saya katakan kepada mereka, “Apakah kalian berdua tidak menjawab Rasulullah saw.?”
Keduanya menjawab, “Demi Allah, kami tidak tahu apa yang harus kami katakan untuk menjawabnya”.
Aisyah berkata juga, “Demi Allah, setahu saya tidak ada keluarga yang didatangi oleh beliau seperti rumah Abu Bakar di hari-hari itu. Ketika saya lihat kedua orang tuaku tidak membelaku, saya pun menangis dan saya katakan, “Demi Allah, selamanya saya tidak akan bertaubat atas apa yang engkau katakan. Demi Allah, jika saya mengakui apa yang dituduhkan orang-orang —dan Allah tahu bahwa saya tidak melakukannya— tentu saya mengatakan apa yang tidak saya lakukan. Sedangkan jika saya mengingkari tuduhan itu, kalian tetap tidak mempercayaiku. Maka saya katakan seperti yang dikatakan Ya’qub a.s., ayah Yusuf a.s.,

“Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." ( Yusuf: 18 ).
Maka demi Allah, ketika Rasulullah saw. masih berada di tempat duduk beliau, Allah pun menurunkan wahyu kepada beliau. Maka beliau menutupkan baju ke tubuh beliau, lalu diletakkan bantal yang terbuat dari kulit di bawah kepada beliau. Ketika melihat apa yang terjadi, saya tidak terkejut dan saya tidak peduli. Saya tahu bahwa saya terbebas dari tuduhan orang-orang, dan Allah tidaklah menzalimi saya.
    Kemudian Rasulullah saw. pun kembali tenang, lalu beliau duduk. Dan dari wajah beliau mengalir keringat seperti mutiara-mutiara di hari yang dingin. Lalu beliau mengusap keringat dari kening beliau seraya bersabda, “Selamat wahai Aisyah”. Dan beliau membacakan ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada beliau ketika itu,  yaitu sebagian dari surah an-Nur,

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar”. ( an-Nuur: 11 ).
Demikianlah, bukti ketidakbersalahan Aisyah r.a. turun dari Allah ‘Azza wajalla, setelah dia ikhlas dan ridha terhadap qadha Allah. Semoga Allah ridha dan membuatnya ridha.

Kelapangan Setelah Kesempitan Untuk Nabi Ibrahim as.

Diantara cobaan berat yang diderita oleh Nabi Ibrahim as. adalah di saat ia menyeru kaumnya untuk menyembah Allah Yang Maha Esa dan meninggalkan penyembahan terhadap patung, bintang-bintang dan segala sesuatu selain Allah. Akan tetapi mereka durhaka dan bahkan berkonspirasi untuk membunuhnya dengan cara membakarnya dalam kobaran api.

"Mereka berkata: "Dirikanlah suatu bangunan untuk (membakar) Ibrahim; lalu lemparkanlah dia dalam api yang menyala-nyala itu." Mereka hendak melakukan tipu muslihat kepadanya, maka Kami jadikan mereka orang-orang yang hina." ( ash-Shaffat: 97-98)

Mereka mulai mengumpulkan kayu bakar dari setiap penjuru daerah. Bahkan mereka mengumpulkan itu dalam waktu yang cukup lama untuk menyenangkan tuhan-tuhan mereka. Kemudian mereka gali sebuah lobang yang besar lalu mereka lemparkan kayu bakar yang mereka kumpulkan tersebut ke dalamnya. Setelah itu mereka nyalakan api. Api mulai membesar dan semakin membara. Jilatan-jilatannya menjulang ke langit.

Kemudian mereka letakkan Ibrahim dalam sebuah ketapel raksasa setelah terlebih dahulu mereka ikat dengan kuat. Sementara itu Ibrahim selalu mengulang-ulang:

"Tiada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau Tuhan semesta alam, bagi-Mu segala puji, bagi-Mu segenap kekuasaan, tak ada sekutu bagi-Mu."

Ketika mereka hendak melemparkannya ke dalam kobaran api, ia berkata:

"Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."

Sebagian ulama salaf berkata: "Di saat Ibrahim dilemparkan ke dalam api –setelah orang-orang kafir itu melepaskan ketapel besar tersebut- datanglah Jibril as. kepadanya dan bertanya: "Wahai Ibrahim, apakah engkau mempunyai kebutuhan?"
"Kalau kepadamu tidak," jawab Ibrahim.
Yang dimaksud Nabi Ibrahim adalah bahwa yang akan menyelamatkannya dari semua kesulitan itu hanyalah Allah SWT.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Sa'id bin Jubair bahwa saat itu malaikat hujan bertanya-tanya: "Kapan aku diperintahkan untuk menurunkan hujan?" Ternyata perintah Allah lebih cepat. 

Kelapangan yang Allah turunkan kepada Nabi Ibrahim as. adalah ketika Allah memerintahkan api menjadi dingin dan menyelamatkan Ibrahim.

"Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." ( al-Anbiyaa`: 69)    

Seketika itu juga api menjadi dingin dan Nabi Ibrahim pun selamat. Para ulama menyebutkan bahwa tak seorangpun penduduk bumi saat itu yang bisa menggunakan api. Jadi, perintah itu adalah untuk seluruh api yang ada di atas bumi. Api tersebut hanya membakar rantai yang membelenggunya saja.

Adh-Dhahhak berkata: "Diriwayatkan bahwa Jibril as. ada di dekat Ibrahim sambil menyeka keringat dari wajahnya tapi ia tidak terkena apa-apa."

As-Sudiy berkata: "Malaikat naungan juga ada bersamanya. Saat itu Nabi Ibrahim sudah hampir binasa. Di sekelilingnya api tapi sesungguhnya ia berada di taman yang hijau. Orang-orang tidak bisa mendekat padanya dan ia juga tidak bisa keluar."

Al-Minhal bin 'Amru berkata: "Diceritakan padaku bahwa Nabi Ibrahim berada di dalam api itu selama empat puluh atau lima puluh hari. Ia berkata: "Tak ada hari-hari dan malam-malam yang lebih indah aku rasakan daripada di saat aku berada di sana. Aku sangat berharap seandainya hidupku seluruhnya adalah seperti di saat aku berada di dalamnya."

Keridhaan Ummu Salamah kepada Allah

Ummu Salamah, yang nama aslinya Hindun Bintu Umayyah bin Suhail r.a., masuk Islam ketika masih di Mekkah bersama suami pertamanya, Abu Salamah Abdullah bin Asad. Abu Salamah Abdullah bin Asad sendiri adalah salah seorang saudara sesusuan Rasulullah saw. dan anak bibi beliau.
Ummu Salamah ikut hijrah pertama ke Habasyah ( Ethiopia ) bersama suaminya. Kemudian hijrah ke Madinah sendirian setelah keluarganya melarangnya hijrah bersama suaminya. Dan dia adalah wanita pertama yang hijrah ke Madinah.
Suaminya terkena panah pada perang Uhud namun masih sempat tertolong. Akan tetapi lukanya kembali kambuh, akhrinya dia pun meninggal dunia. Semoga Allah ridha terhadapnya.
Sebelum suaminya meninggal, Ummu Salamah pernah berkata kepadanya, “Saya mendengar bahwa setiap wanita yang ditinggal mati suaminya yang menjadi penghuni surga, kemudian isterinya itu tidak menikah lagi, maka Allah mempertemukan mereka di surga”.
Lalu Ummu Salamah berkata lagi kepada suaminya, “Saya mengajakmu berjanji, bahwa engkau tidak akan menikah lagi sepeninggalanku, dan saya tidak akan menikah lagi sepeninggalanmu”.
Maka suaminya berkata, “Apakah engkau akan taat kepadaku”.
Ummu Salamah menjawab, “Ya”.
Suaminya berkata, “Jika saya mati, maka menikahlah”.
Kemudian suaminya berdoa untuk Ummu Salamah, “Ya Allah, setelah saya meninggal berilah Ummu Salamah suami yang lebih baik dariku, yang tidak membuatnya sedih dan tidak menyakitinya”.
Ketika suaminya meninggal, Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah saw., “Apa yang harus saya ucapkan?”
Rasulullah saw. menjawab,

“Katakanlah, “Ya Allah, ampunilah dia, dan berilah saya pengganti yang baik”.
Dalam riwayat lain, Rasulullah saw. bersabda,

“Jika seseorang dari kalian tertimpa musibah, maka katakanlah, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami kembali kepada-Nya. Ya Allah, pada-Mu saya mengikhlaskan musibah yang menimpaku, maka berilah saya pahala karenanya dan berilah saya pengganti yang lebih baik darinya”.
Setelah mengulang-ulang doa yang diberkati tersebut, Ummu Salamah berkata, “Namun siapakah yang lebih baik dari Abu Salamah?”.
Ummu Salamah ridha terhadap qadha Allah, dan dia pun sabar serta ikhlas kepada Allah ‘azza wajalla. Ketika masa ‘iddahnya selesai, Abu Bakar melamarnya, namun dia menolaknya. Umar pun melamarnya, maka dia tetap menolaknya.  Lalu Nabi saw. mengirimkan pesan kepadanya, maka Ummu Salamah pun menjawab, “Selamat datang kepada Rasulullah saw.”.
Kemudian berkata, “Saya adalah seorang wanita yang sangat pencemburu. Dan saya seorang janda yang mempunyai beberapa anak. Di samping itu, saat ini tidak seorang pun dari waliku yang ada”.
    Maka Rasulullah saw. bersabda kepadanya, “Adapun perkataanmu bahwa engkau janda yang mempunyai anak, maka Allah akan memberi kecukupan bagi anak-anakmu. Adapun ucapanmu, bahwa engkau adalah wanita yang sangat pencemburu, maka saya akan berdoa agar Allah menghilangkan kecemburuanmu. Adapun para wali, maka tidak seorang pun dari mereka kecuali akan ridha terhadap saya”.
Kemudian Ummu Salamah pun menikah dengan Rasulullah saw. dan menjadi salah satu Ummahatul Mukminin, radhiyallahu anhaa wa ardhaahaa.

Orang yang Pahalanya Paling Besar

Dari Artha`ah Ibnul Mundzir, bahwa suatu hari Umar ibnul Khathab bertanya kepada orang-orang yang ada di dekatnya, “Siapakah orang yang paling besar pahalanya?”
Maka orang-orang menyebutkan puasa dan shalat yang dilakukan Umar, seraya berkata, “Setelah Amirul Mukminin, orang yang pahalanya paling besar adalah si fulan dan si fulan”.
Namun Umar berkata, “Apakah kalian mau saya beritahu tentang orang yang pahalanya lebih besar dari orang-orang yang kalian sebutkan dan dari Amirul Mukminin?”
“Ya”, jawab mereka singkat.
Umar berkata, “Dia adalah seorang pemuda di Syam. Dia memegang kendali kudanya, menjaga pasukan muslim dari belakang. Dia tidak tahu apakah binatang buas akan menerkamnya, binatang melata akan menyengatnya atau musuh akan menyerangnya. Dialah orang yang pahalanya lebih besar dari orang yang kalian sebutkan dan dari Amirul Mukminin”.

Istri yang Setia kepada Suaminya

Al-Jabarati, seorang ahli sejarah terkenal menceritakan satu kisah yang sangat menakjubkan tentang kehidupan seorang istri, “Ayahku, Syekh Hasan al-Jabarati menikah dengan putri Ramadhan al-Halabi. Istrinya sangat baik dan patuh kepadanya. Di antara bentuk ketaatan dan kebaikannya itu, suatu kali dia membelikan seorang budak wanita untuk suaminya dengan uangnya sendiri. Budak itu dihiasinya dengan pakaian dan perhiasan yang indah-indah, lalu diserahkannya kepada suaminya. Dia sangat yakin bahwa dia akan memperoleh pahala dan ganjaran dari Allah. Suaminya banyak memiliki istri dan budak wanita, tetapi hal itu tidak menimbulkan rasa cemburu dalam dirinya.
Salah satu peristiwa yang mengagumkan adalah sewaktu ayahku melaksanakan haji pada tahun 1156 H, dia bertemu dengan Syekh Umar al-Halabi. Syekh Umar menyarankannya untuk membeli seorang budak wanita yang cantik dan masih gadis. Setelah pulang haji, dia meminta kepada pembantunya untuk membelikan seorang budak wanita sesuai dengan kriteria yang disarankan oleh Syekh Umar. Setelah lama mencari, akhirnya ditemukanlah budak wanita dengan sifat-sifat tersebut, lalu dikirimnya budak tersebut kepada istrinya tadi.
Ketika datang saatnya untuk melakukan sebuah perjalanan, dia memberitakan hal tentang budak itu kepada istrinya. Sang istri berkata, ‘Aku sangat mencintai gadis ini dan aku tak sanggup berpisah dengannya. Aku tidak mempunyai anak, maka aku sudah menganggap dia sebagai putriku sendiri.’
Mendengar hal itu budak wanita tersebut menangis dan berkata, ‘Aku juga tidak akan meninggalkan tuanku dan aku tidak akan pergi dari sisinya selamanya.’
Sang suami sedikit kebingungan, ‘Lalu bagaimana semestinya?’
Istrinya berkata, ‘Aku akan bayar harganya dengan uangku sendiri dan kamu membeli yang lain.’ Sang suami setuju. Kemudian sang istri memerdekakan budak tersebut dan dia dinikahkan dengan suaminya, lalu disiapkan untuknya tempat khusus secara terpisah. Ayahku mulai berhubungan dengan istri barunya itu pada tahun 1165 H. Sang istri tadi tetap tidak bisa berpisah dengan istri baru suaminya ini meskipun sekarang dia sudah menjadi istri suaminya. Istri baru ini dapat mempersembahkan anak untuk suaminya.
Pada tahun 1182 H, istri muda ini sakit. Istri tua pun ikut sakit karenanya dan sakitnya semakin parah. Pada suatu siang, istri muda menjenguk tuannya (istri tua) yang sedang berada dalam kondisi tak sadarkan diri. Melihat kondisi tuannya  dia menangis dan berdoa, ‘Wahai Tuhanku, seandainya Engkau takdirkan tuanku meninggal, maka wafatkanlah aku terlebih dahulu sebelumnya.’
Pada malam harinya, istri muda ini wafat. Orang-orang membaringkan tubuhnya di samping tuannya (istri tua). Di penghujung malam istri tua ini terbangun dan  dia merasakan ada tubuh yang berada di sampingnya. Dia segera memanggil-manggil, ‘Zulaikha...Zulaikha....’ Orang-orang berkata untuk menghiburnya, ‘Ia sedang tidur.’
Akan tetapi, istri tua ini sudah menyadari. Dia berkata, ‘Sesungguhnya firasatku mengatakan bahwa dia sudah wafat. Aku sudah tahu hal itu dari mimpiku.’
Orang-orang berkata, ‘Yang penting kau akan tetap hidup.’
Lalu dia bangkit dan berkata, ‘Tak ada lagi kehidupan bagiku setelah dia wafat.’
Dia terus menangis sampai siang hari. Akhirnya, mayat istri muda tersebut dimandikan di depan tuannya (istri tua).
Selesai pemakaman, istri tua ini kembali ke pembaringannya dan akhirnya dia pun wafat di sore hari itu. Namun, pemakaman jenazahnya baru diselenggarakan pada hari berikutnya. Kisah ini adalah di antara kisah yang paling menakjubkan yang pernah aku lihat dan saksikan sendiri. Saat itu usiaku masih empat belas tahun.”

Berharap Mati di Sampah

Shalt bin Hakim berkata, “Abdullah bin Marzuq kelihatan seperti seseorang yang kehilangan akal. Seolah-olah dia kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Dia mempunyai beberapa helai rambut di kedua pelipisnya. Apabila dia berzikir air matanya akan berlinangan.”
Salamah menceritakan bahwa ketika sakit, Abdullah bin Marzuq memberi wasiat kepadaku, “Wahai Salamah, aku mempunyai satu permintaan kepadamu.”
“Apa itu?” tanyaku.
“Engkau angkat badanku dan lemparkan ke sampah, biar aku mati di sana. Semoga Dia melihatku di tempat itu dan mau mengasihiku.” Semoga Allah merahmatinya.
Abu Abdirrahman as-Silmi mengatakan bahwa dulunya Abdullah bin Marzuq adalah seorang Gubernur Harun ar-Rasyid, tetapi dia tinggalkan semua itu dan  dia lebih memilih hidup zuhud.

TOBAT HISYAM IBNUL

Hisyam ibnul ‘Ashi telah lama masuk Islam di Mekah. Ketika Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat beliau untuk berhijrah ke Madinah al-Munawwarah, Hisyam ibnul ‘Ashi pun ingin berangkat hijrah. Dia bersepakat dengan Umar ibnul hthab dan ‘Ayyasy bin Rabi’ah untuk berhijrah bersama-sama. Mereka saling sepakat bahwa besok paginya mereka harus sudah tiba di sebuah tempat yang telah mereka sepakati. Jika ada yang tertahan satu dari antara mereka, kedua yang lainnya tetap meneruskan hijrahnya.
    Umar ibnul hthab dan ‘Ayyasy pun datang ke sebuah tempat yang telah mereka sepakati, sementara Hisyam tidak datang. Itu karena keluarganya tahu rencana hijrahnya ke Madinah dan mereka pun menahannya. Hisyam mendapat cobaan berat karena agamanya, sehingga dia pun menyatakan keluar dari Islam dan mengikuti agama kaumnya, dan dia tetap tinggal di Mekah.
    Umar ibnul hthab r.a. berkata, “Allah tidak mau menerima orang-orang disiksa untuk berpaling dan tidak pula berlaku adil serta tidak pula untuk tobat. Sebuah kaum yang telah mengenal Allah kemudian mereka kembali kepada kekufuran karena siksa yang mereka alami.”
    Ketika Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, Allah swt. menurunkan kepada beliau firman-Nya, “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya.’” (az-Zumar: 53-55)
    Umar ibnul hthab berkata, “Aku pun segera menulisnya dengan tanganku sendiri di atas sebuah lembaran dan aku kirimkan ke Hisyam ibnul ‘Ashi.”
    Hisyam berkata ketika surat yang dikirim Umar sampai kepadanya dan berisikan ayat tersebut, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” Ketika surat itu sampai kepadaku, aku membacanya di Dzi Thuwa—sebuah tempat di daerah bawah Mekah—aku menaiki tempat itu kemudian aku turun darinya tapi aku tidak juga bisa memahaminya sampai akhirnya aku berkata, ‘Ya Allah, pahamkanlah aku ayat ini.’”
    Dia berkata, “Allah swt. menurunkan ke dalam hatiku pemahaman bahwa ayat ini diturunkan kepada kami dan kepada apa yang sering kami katakan dalam diri kami serta apa yang ditujukan kepada kami. Aku kemudian segera kembali ke untaku dan aku menaikinya. Aku pun langsung berangkat menemui Rasulullah saw. yang sudah berada di Madinah.”
    Sesungguhnya rahmat Allah sangatlah luas sekali, melebihi luas segala sesuatu. Untuk itu, Allah swt. memerintahkan kita untuk bersegera mungkin bertobat dan memohon ampun. Allah swt. berfirman, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)
    Kemudian Allah tidak membuat para hamba-Nya yang bergelimangan dosa untuk tidak berputus asa, maka Allah memanggil mereka, “Wahai  hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah….” (az-Zumar: 53)
    Beritahukan kepada mereka bahwa Dia akan mengampuni semua dosa selama nyawa belum sampai ke kerongkongan. Untuk itu, Allah memerintahkan mereka untuk segera kembali ke jalan-Nya dan bertobat kepada-Nya sebelum datang kematian. Sebab, kalau mereka sudah meninggal dunia, mereka akan mendapat azab dan siksa akhirat. Di sana (akhirat) sudah tidak ada lagi yang akan menolong diri mereka.