TOBAT SESEORANG DARI BANI ISRAIL YANG BERNAMA AL-KIFL

Dia adalah seseorang dari Bani Israil dan namanya adalah al-Kifl dan dia bukanlah Dzul Kifl yang disebutkan dalam Al-Qur’anul Karim. Karena seperti yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Qishashul Anbiya` bahwa ucapan katanya adalah al-Kifl tanpa ada tambahan – Dzul – maka berarti dia adalah orang lain.
    Adapun kisahnya ada dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., dia berkata, “Aku telah mendengar dari Rasulullah sebuah hadits yang kalau aku cuma mendengarnya sekali atau dua kali bahkan sampai tujuh kali, maka aku tidak akan menceritakannya, akan tetapi aku telah mendengarnya lebih dari itu, beliau bersabda, ‘Al-Kifl adalah seorang dari Bani Israil yang tidak mau meninggalkan dosa perbuatannya, maka dia pun didatangi oleh seorang perempuan. Wanita itu diberi enam puluh dinar dengan syarat dia akan menyetubuhinya. Ketika dia hendak menggauli wanita itu layaknya seseorang menggauli istrinya, wanita itu menggigil dan menangis.
    Dia berkata kepada wanita itu, ‘Apa yang membuatmu menangis? Apakah aku telah membenci kamu?’ Dia menjawab, ‘Tidak, melainkan perbuatan ini adalah perbuatan yang belum pernah aku lakukan sama sekali, akan tetapi aku terjerumus oleh karena kebutuhan.’ Dia berkata, ‘Kamu hendak melakukan ini dan kamu belum pernah melakukan sebelumnya sama sekali .’  Kemudian dia turun dan berkata kepada wanita itu, ‘Pergilah dan bawalah dinar-dinar itu untukmu.’ Kemudian dia berkata, ‘Demi Allah, al-Kifl tidak mau bermaksiat lagi kepada Allah selamanya.  Hingga dia pun meninggal dunia pada suatu malam dan pagi harinya tertulis di atas pintunya, ‘Allah telah mengampuni al-Kifl.’” 

Seorang Ahli Ibadah dari Qazwin dan Keridhaan kepada Allah

As-Sari bin Yahya –ketika di Ibadan— meriwayatkan dari Walan bin Isa bin Maryam, orang saleh dari Qazwin, dia berkata, “Pada suatu malam, sinar bulan sangat terang. Lalu saya pergi ke masjid dan melakukan shalat sebanyak-banyaknya. Saya juga bertasbih dan berdoa. Lalu rasa kantuk menyerangku sehingga saya pun tertidur. Kemudian saya bermimpi dan melihat serombongan yang setahu saya bukan dari golongan manusia. Mereka membawa piring-piring besar yang berisi roti berwarna putih bagaikan salju. Di atas setiap roti tersebut terdapat mutiara seperti buah delima. Lalu mereka berkata kepada saya, “Makanlah”.
Maka saya jawab, “Saya ingin berpuasa”.
Mereka berkata lagi, “Pemilik rumah ini ingin engkau memakannya”.
Maka saya memakannya. Dan saya juga berusaha mengambil mutiara tersebut untuk saya bawa.
Maka mereka berkata kepada saya, “Biarkan mutiara itu. Dan kami akan menanamkan sebuah pohon untukmu, yang menumbuhkan sesuatu yang lebih baik dari mutiara ini”.
Saya pun bertanya, “Dimana kalian akan menanamnya?”
Mereka menjawab, “Di suatu tempat yang tidak akan pernah hancur, buahnya tidak akan busuk, kerajaannya tidak akan berakhir dan pakaiannya tidak akan menjadi usang. Di dalamnya terdapat keridhaan dan kecukupan, juga terdapat penyedap mata, yang berupa isteri-isteri yang cantik yang diridhai dan meridhai. Mereka tidak cemburu dan tidak dicemburui. Maka engkau harus cepat-cepat pergi dari tempatmu, karena itu hanyalah tidur sejenak lalu engkau pergi dan singgah di tempat tersebut”.
Lalu setelah dua Jum’at, dia pun meninggal dunia. As-Sari bin Yahya berkata, “Pada malam hari dia meninggal dunia, saya bermimpi melihatnya dan dia berkata kepada saya, “Jangan heran dengan sesuatu yang ditanam untukku yang saya ceritakan kepadamu, karena sesungguhnya ia telah hamil”.
Saya jawab, “Hamil seperti apa?”
Dia menjawab, “Jangan engkau tanya tentang sesuatu yang tidak seorang pun mampu menggambarkannya. Ia seperti anggur yang mulai akan berbuah”.
Saya ( Penulis ) katakan, “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang taat kepada-Mu, orang-orang yang mendapatkan ampunan-Mu dan keridhaan-Mu”.

Keridhaan Rasulullah Saw. dan Para Sahabat kepada Qadha Allah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata, “Pada suatu siang, Abu Bakar keluar rumah menuju masjid. Lalu Umar melihat Abu Bakar, maka Umar bertanya kepadanya, “Wahai Abu Bakar, apa yang membuatmu keluar ketika matahari terik begini?”
Abu Bakar menjawab, “Tak ada yang membuatku keluar rumah di saat terik begini kecuali rasa lapar yang sangat menyayat”.
Umar pun berkata, “Demi Allah, saya juga begitu”.
Ketika mereka sedang berbincang-bincang, tiba-tiba Rasulullah saw. datang keluar dari rumah beliau dan menemui mereka, kemudian bertanya, “Apa yang membuat kalian keluar rumah di waktu begini?”
Mereka menjawab, “Demi Allah tidak ada yang membuat kami keluar rumah, kecuali rasa lapar yang menyayat perut kami”.
Maka Rasulullah saw. bersabda, “Demia Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, saya juga keluar rumah karena hal itu. Marilah kita pergi”.
Lalu mereka mendatangi rumah Abu Ayub al-Anshari r.a.. Dan biasanya Abu Ayub memang menyimpan makanan atau susu untuk Rasulullah saw.. Namun hari itu Rasulullah saw. datang agak terlambat, sehingga Abu Ayub telah memberikannya kepada keluarganya, lalu pergi ke kebun kurmanya.
Ketika Rasulullah saw. kedua sahabat beliau sampai di depan rumah Abu Ayub, isterinya pun keluar dan menyambut beliau, “Selamat datang Nabi Allah dan kedua sahabat”.
Nabi Muhammad saw. bertanya kepadanya, “Mana Abu Ayub?”
Abu Ayub yang sedang bekerja di kebun kurmanya mendengar kedatangan Rasulullah saw.. Lalu dia buru-buru menemui beliau dan berkata, “Selamat datang Nabi Allah dan kedua sahabat. Wahai Nabi Allah, engkau tidak datang seperti waktu biasanya”.
Rasulullah saw. menjawab, “Engkau benar”.
Lalu Abu Ayub segera pergi ke kebun, lalu memotong setandan kurma, yang di dalamnya terdapat kurma matang, kurma basah dan kurma yang masih sangat muda.
Rasulullah saw. pun bertanya, “Saya tidak menginginkan semuanya. Mengapa engkau tidak menghidangkan kurma matang saja?”
Abu Ayub berkata, “Wahai Rasulullah, saya ingin engkau memakan kurma matang, kurma yang basah dan yang muda dari pohon itu. Dan saya akan menyembelih kambing dulu”.
Maka Rasulullah saw. bersabda, “Kalau begitu jangan sembelih yang susunya dapat diperah”.
Lalu Abu Ayub mengambil seekor kambing betina muda dan menyembelihnya.
Lalu berkata kepada isterinya, “Buatlah roti untuk kami dan engkau lebih tahu cara membuat roti”. Lalu Abu Ayub memasak setengah dari daging kambing tersebut dan memanggang setengahnya. Ketika makanan sudah siap dan Abu Ayub menghidangkannya, Rasulullah mengambil daging kambing itu dan memasukkannya ke dalam roti, lalu bersabda, “Wahai Abu Ayub, berikanlah ini kepada Fathimah. Dia belum makan seperti ini sejak beberapa hari”.
Lalu Abu Ayub pergi menemui Fathimah. Setelah mereka makan dan kenyang, Rasulullah saw. bersabda, “Roti, daging, kurma masak, kurma mentah dan kurma muda”. Lalu air mata beliau mengalir. Dan beliau bersabda lagi, “Demi Allah, sesungguhnya ini adalah nikmat yang kelak di hari kiamat kalian akan ditanya tentangnya”.

Aku Mengenal Suamiku Seorang Manusia Biasa Bukan Pemberi Rezeki

Seorang lelaki pergi berjihad di jalan Allah dengan meninggalkan istri dan anak-anaknya. Suatu hari datanglah beberapa orang wanita mengunjungi istri tersebut dan mereka berkata, “Wahai istri yang malang, siapa yang akan menafkahi keluargamu dan mengayomi anak-anakmu sementara suamimu pergi berjihad, dan boleh jadi dia mati di medan perang?”
Wanita salehah dan mukminah itu melihat kelemahan iman yang tampak dari ucapan mereka. Dia berkata, “Sesungguhnya aku mengenal suamiku seorang manusia biasa dan aku tidak pernah mengenalnya sebagai Maha Pemberi. Jika manusia (yang hanya bisa makan) mati, maka Sang Maha Pemberi rezeki akan tetap kekal.”
Hal ini merupakan pelajaran berharga yang diberikan oleh seorang istri yang beriman kepada Tuhannya bagi para wanita yang lemah iman dan terasuki bisikan setan. Dia sangat menyadari bahwa Allah-lah Pemberi rezeki dan Yang Mahakuat. Sementara, suami atau yang lainnya hanyalah salah satu faktor rezeki yang Allah turunkan kepada hamba-hamba-Nya.

Nasehat Seorang Ayah Kepada Putrinya

At-Tanukhi rahimahullah menceritakan dari al-Hasan bin Abil Hasan, ia berkata: "Sesungguhnya Abdullah bin Ja'far ash-Shadiq rahimahullah –salah seorang Imam ahli bait- ketika ingin menyerahkan putrinya pada suaminya berpesan padanya: "Apabila engkau menghadapi permasalahan yang sangat berat atau suatu kematian sekalipun maka sambutlah semuanya dengan mengucapkan:

"Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Penyantun dan Maha Mulia. Tiada Tuhan selain Allah Tuhan 'arsy yang agung dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."

Al-Hasan bin Abil Hasan berkata: "Suatu ketika al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi memanggilku. Ia telah merencanakan sesuatu yang tidak baik untukku. Ketika dihadapkan padanya aku baca doa tersebut di atas. Hajjaj berkata: "Aku memanggilmu dengan niat untuk membunuhmu, akan tetapi sekarang aku tak melihat seorang yang lebih mulia darimu. Oleh karena itu mintalah apa saja yang engkau butuhkan." 

Begitulah seharusnya nasehat ayah kepada putrinya yang baru menikah. Sang ayah telah mengajarkan sendi tauhid yang paling penting yaitu berserah kepada Allah dalam waktu susah dan dalam menjalani berbagai permasalahan dunia. Tentu hal ini bukan sesuatu yang aneh dari ahli bait nabawi semoga Allah meridhai mereka. Ini sekaligus juga merupakan pelajaran berharga bagi kita. Semoga Allah memberi kita manfaat dari ilmu dan ketakwaan mereka.

Seorang Lelaki dari Tha`if dan Keridhaannya kepada Qadha Allah

Ibnu Abid Dunya menyebutkan dari Yunus bin Muhammad al-Makki rahimahullah, dia berkata, “Ada seorang lelaki dari Tha`if yang bercocok tanam. Ketika tanamannya tersebut tumbuh besar, hama menyerangnya dan kemudian terbakar. Maka kami mendatanginya untuk menghiburnya. Kemudian dia menangis dan berkata, “Demi Allah, saya tidak menangis karena rusaknya tanaman saya itu. Akan tetapi saya teringat firman Allah ta’ala,

“Seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya”. ( Ali Imran: 117 ). .
Lelaki itu ridha kepada qadha Allah. Dia takut jika yang terjadi padanya karena dia termasuk orang-orang yang zalim. Sehingga dia pun menangis karena takut kepada Allah, bukan karena sedih kehilangan tanamannya sebagaimana anggapan sebagian orang.

Arab Badui Dan Doa Imam Ali Agar Ia Dilapangkan

Qadhi at-Tanukhi menceritakan dari Ali bin Hammam: "Ada seorang Arab badui mengeluhkan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a tentang kondisinya yang sangat sulit dan keluarganya yang banyak.

Imam Ali berkata padanya: "Engkau mesti banyak beristighfar karena Allah SWT berfirman: "Mohon ampunlah pada tuhanmu sesungguhnya Dia Maha Pengampun."
Laki-laki itu kembali mengeluh dan berkata: "Wahai Amirul Mukminin, aku sudah banyak beristighfar tapi saya tetap tidak merasakan kelapangan dari kondisiku sekarang."   
Imam Ali berkata: "Boleh jadi istighfarmu belum sempurna."
Arab badui itu berkata: "Kalau begitu ajarkanlah aku."
Imam Ali berkata: "Ikhlaskan niatmu, taati Tuhanmu dan ucapkan: "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon ampun pada-Mu dari setiap dosa yang menguasai badanku yang telah Engkau beri kesehatan, atau yang disentuh oleh tanganku yang telah Engkau beri nikmat berlimpah, atau yang dikerjakan oleh kedua tanganku dengan keluasan rezeki-Mu, atau yang aku menyerah saja padahal aku takut dari hal itu, atau ketika aku terlalu yakin dengan santun-Mu, atau aku merasa tenang karena mulianya kemaafan-Mu. Ya Allah, aku mohon ampun dari segala dosa yang membuatku mengkhianati amanah yang diembankan padaku, atau aku rendahkan diriku, atau aku dahulukan kehinaanku, atau aku utamakan syahwatku, atau yang aku usahakan untuk orang lain, atau aku tipu orang untuk mengikutiku, atau aku congkak karena hebatnya siasatku, atau yang aku limpahkan pada-Mu wahai Tuhanku. Oleh karena itu jangan siksa aku atas perbuatanku karena benci pada maksiatku, karena Engkau Maha Tahu bahwa hal itu dengan pilihanku sendiri, aku yang menggunakan kehendak dan pilihanku, lalu Engkau santun kepadaku sehingga Engkau tidak memaksaku masuk ke dalamnya dan tidak pula Engkau bebankan padaku secara paksa, dan Engkau juga tidak menzalimiku sama sekali wahai Yang Maha Pengasih. Wahai temanku dalam kesempitan, wahai penghiburku dalam kesepian, wahai penjagaku dalam kesendirian, wahai kekasihku dalam segala nikmat yang dikaruniakan, wahai yang menghilangkan kesusahanku, wahai yang mendengar doaku, wahai yang mengasihi kesedihanku, wahai yang memaafkan kekhilafanku, wahai tuhanku yang sesungguhnya, wahai sandaranku yang paling kokoh, wahai harapanku dalam kesulitan, wahai tuhanku yang maha kasih, wahai Tuhan al-baitul 'atiq (baitullah), keluarkan aku dari lingkaran kesempitan menuju kelapangan jalan, lapangkanlah hamba yang bertaqarrub pada-Mu ini, leraikanlah dariku setiap kesulitan dan kesempitan, tanggungkan untukku semua yang aku sanggupi dan apa yang tidak aku sanggupi, keluarkanlah aku dari segala keresahan dan kesedihan, wahai Yang meleraikan keresahan, wahai yang menghilangkan kegundahan, wahai yang menurunkan kesejukan, wahai yang memperkenankan doa hamba yang kesulitan, wahai Yang maha pengasih dan penyayang di dunia dan akhirat, limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba-Mu terbaik Muhammad saw. beserta keluarganya yang mulia dan suci. Lapangkanlah kesempitan yang aku rasakan di dadaku, limpahkanlah kesabaran padaku. Aku tak punya daya dan kekuatanku sangat lemah, wahai yang menghilangkan segala bahaya dan bencana, wahai yang Maha Tahu segala rahasia, wahai yang Maha Penyayang, aku serahkan segala urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah maha melihat hamba-hamba-Nya, dan tidaklah aku memperoleh taufiq kecuali dengan kehendak Allah, kepada-Nya aku bertawakkal dan Dialah tuhan 'arsy yang agung."

Arab badui itu berkata: "Aku lalu beristighfar dengan doa itu berkali-kali, maka Allah SWT menghilangkan keresahan dan kesempitan dari diriku, melapangkan rezekiku dan menghapuskan cobaan yang menimpaku." 

Imam Ali karramallahu wajhah telah menunjuki jalan yang benar pada laki-laki tersebut untuk melapangkan kesempitan dan kegundahannya serta meraih kelapangan rezeki dengan menghadapkan diri secara total dalam berdoa kepada Allah dan mengikhlaskan niat sebelum berdoa dan banyak beristighfar.