Umar bin Abdul Aziz dan Kematian Anaknya

Ahmad bin Hambal dalam bukunya az-Zuhd meriwayatkan dari Ziyad bin Abi Hassan, bahwa dia melihat Umar bin Abdul Aziz berdiri tatkala jasad anaknya Abdul Malik dimakamkan dan orang-orang berada di sekelilingnya. Kemudian Umar berkata, “Demi Allah wahai anak saya, sungguh engkau telah berbakti kepada ayahmu. Demi Allah semenjak Allah mengaruniakan engkau kepada saya, saya selalu  merasa bahagia dengan kehadiranmu. Sungguh demi Allah saya merasa sangat bahagia, dan sangat beruntung, semenjak kehadiranmu di rumah tempat tinggalmu ini. Semoga Allah merahmatimu dan mengampuni dosamu. Semoga Dia membalas amal baikmu dan merahmati semua yang mendoakanmu dengan kebaikan. Saya ridha dengan qadha Allah dan tunduk pada keputusan-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”.

INI ADALAH HARI PENGAMPUNAN DOSA

Ibnul Jauzi rahimahullah menyebutkan dari Abul Adyan yang berkata,  “Aku belum pernah melihat seseorang yang sangat takut kecuali ada satu orang pada saat aku sedang wukuf—pada hari Arafah di saat haji—dan aku melihat seorang anak muda terdiam diri sejak orang-orang wukuf sampai matahari hendak tenggelam di ufuk barat. Aku pun berkata kepadanya, ‘Hai kamu, angkat tanganmu dan berdoalah.’
    Dia berkata kepadaku, ‘Di sana ada kesunyian.’
    Aku katakan kepadanya, ‘Ini adalah hari pengampunan semua dosa.’
    Dia pun segera mengangkat kedua tangannya, dan pada saat dia sedang mengangkat kedua tangannya, dia pun meninggal dunia.85
    Orang ini sangat meresapi kemuliaan hari Arafah ini. Pada hari Arafah ini Allah Rabbul ‘Izzah sangat dekat di langit dunia kepada orang-orang yang sedang melaksanakan haji. Dia memaafkan dan mengampuni semua dosa sampai orang yang melaksanakan haji itu benar-benar bersih dari dosa-dosa mereka sehingga mereka akan kembali sama seperti saat mereka dilahirkan ibu mereka tanpa dosa sama sekali. Haji adalah wukuf di Arafah. Haji yang mabrur dan maqbul tidak ada balasannya, kecuali surga seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw..

TOBAT SEORANG AHLI IBADAH DARI BANI ISRAIL


    Ibnu Qudamah dalam kitab at-Tawwabin menyebutkan dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Dahulu di Bani Israil ada seorang yang tekun beribadah di sinagog dan orang itu tinggal di situ dalam kurun waktu yang cukup panjang.
    Pada suatu hari, dia melihat dari atas sinagognya itu ada seorang wanita, hingga dia tergoda dengan wanita itu dan jatuh cinta kepadanya. Dia ingin turun dan keluar untuk mendatanginya, kemudian dia keluarkan kakinya untuk segera turun menemui wanita itu. Namun, Allah dengan rahmat-Nya membuatnya sadar dan dia menyesal.”
    Dia berkata pada dirinya sendiri,  “Apa yang ingin aku kerjakan ini?” Dan ketika dia ingin mengembalikan kakinya masuk ke sinagognya dia berkata,  “Tidak, sekali-kali tidak, kaki yang sudah keluar dan hendak melakukan maksiat kepada Allah mau ingin kembali bersamaku masuk ke sinagogku? Demi Allah itu tidak boleh selama. Maka dia meninggalkan kakinya tergantung di sinagog itu terkena angin, hujan dan matahari sampai akhirnya terpotong-potong dan jatuh.”73
    Penulis berpendapat  bahwa tobat yang dilakukan di bani Israil itu adalah sesuatu yang diperbolehkan adapun dalam syariat kita hal itu telah dihapus semua seperti yang pernah kita sebutkan sebelumnya, dan tobat itu amatlah sangat mudah selama memenuhi syaratnya. Barangsiapa yang bertobat, Allah akan mengampuninya, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertobat.

Apakah Engkau Ridha kepada Allah?

`Ibnul Qayyim al-Juziyyah menyebutkan bahwa seseorang berkata kepada Abdul Wahid bin Zaid, “Sesungguhnya di sini terdapat seorang lelaki yang menyembah Allah selama lima puluh tahun”. Lalu Abdul Wahid mendatanginya dan berkata kepadanya, “Beritahulah saya tentang dirimu, apakah engkau merasa puas dengan anugerah Allah?”
Maksudnya apakah engkau merasa qana’ah kepada Allah setelah seluruh ibadahmu itu.
Dia menjawab, “Tidak”.
Abdul Wahid bertanya lagi, “Apakah engkau ridha kepada Allah?”
Dia menjawab, “Tidak”.
Abdul Wahid bertanya lagi, “Jadi oleh karena itu engkau puasa dan shalat?”
Dia menjawab, “Ya”.
Abdul Wahid berkata, “Seandainya saya tidak malu kepadamu, pasti saya memberitahumu bahwa ibadahmu selama lima puluh tahun itu tidaklah ikhlas untuk Allah”.

Berjumpa dengan Ahmad bin Hanbal dalam Mimpi

Abu Bakar al-Marwazi berkata, “Aku bermimpi jumpa dengan Ahmad bin Hanbal. Seolah-olah dia berada di taman indah mengenakan jubah hijau. Di kepalanya ada mahkota dari cahaya. Tiba-tiba dia berjalan dengan cara yang tidak aku kenal darinya sebelumnya. Aku bertanya kepadanya, “Wahai Ahmad, jalan cara apa ini yang belum pernah aku lihat sebelumnya darimu?”
Dia menjawab, “Ini jalan para pelayan di Darus Salam (surga).”
Aku bertanya lagi, “Apa mahkota yang Anda pakai di kepala itu?”
“Sesungguhnya Tuhanku menghisabku dengan hisab yang ringan, lalu mendekatkanku kepada-Nya dan membolehkanku untuk menatap-Nya. Kemudian memakaikanku mahkota ini dan berkata, ‘Wahai Ahmad, mahkota kemegahan ini Kupakaikan kepadamu sebagaimana kau telah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Ku dan bukan makhluk.’”
Abu Yusuf bin Lihyan berkata, “Ketika Ahmad bin Hanbal wafat, dia bermimpi bertemu dengannya dan seolah-olah di setiap kuburan ada pelita. Dia bertanya, “Apa ini?” Dijawab, “Tidakkah kau tahu bahwa Allah telah menyinari setiap kubur berkat masuknya laki-laki ini (maksudnya Ahmad bin Hanbal, pent.) di antara mereka, bahkan ada di antara mereka yang sedang disiksa kemudian mendapat rahmat?”
Abu Ali bin Bana` berkata, “Ketika Ummul Qathi’i wafat, dia dikuburkan di samping Ahmad bin Hanbal. Pada malam harinya, dia bermimpi bertemu dengannya.  Dia bertanya, ‘Apa yang Allah lakukan kepadamu?’
Dia menjawab, ‘Wahai anakku, semoga Allah meridhaimu, kau telah menguburkanku di samping laki-laki yang turun ke kuburnya setiap malam (atau setiap malam Jumat) rahmat yang merata pada seluruh ahli kubur di sekitarnya dan aku termasuk di antara mereka.’”
Semoga Allah merahmati Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah Imam Ahmad bin Hanbal dan memasukkannya bersama kita ke dalam luas surga-Nya.

Apa yang Allah Lakukan kepadamu?

Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan Sufyan ats-Tsauri. Aku bertanya kepadanya, ‘Apa yang Allah lakukan kepadamu?’
Dia berkata, ‘Tidak lama setelah aku diletakkan di liang lahat, aku segera dihadapkan ke hadapan Allah swt.. Dia menghisabku dengan ringan, kemudian aku dipersilakan ke surga. Ketika aku tengah berkeliling di sekitar pohon-pohon dan sungai-sungainya, dan aku tidak mendengar gerakan apa pun, tiba-tiba ada sebuah suara memanggil, ‘Sufyan bin Sa’id. Kami tahu bahwa kau pernah mengutamakan Allah daripada hawa nafsumu suatu hari.’
Aku menjawab, ‘Benar, demi Allah.’ Lalu aku ditarik oleh para bidadari surga dari segala arah.”

TOBAT SEORANG WANITA DI TANGAN AR-RABI

Suatu kaum menyuruh seorang wanita yang berparas cantik dan pintar untuk menggoda Rabi’ bin Khaitsam—salah seorang ahli ibadah dan zuhud di Kufah—dan mereka menawarkan jika wanita berhasil akan mendapatkan seribu dirham.
    Wanita itu pun memakai pakaian yang terbaik yang dia miliki, dan memakai parfum yang paling wangi yang dia miliki. Setelah itu dia memamerkan dirinya di depan Rabi’ ketika dia keluar dari masjid. Dia pun melihat wanita itu dan terkejut dengan perkara wanita itu. Sambil berjalan wanita itu menemuinya dan Rabi’ berkata kepada wanita itu, “Bagaimana kira-kira jika kamu terkena penyakit panas dan dapat mengubah kulit tubuh dan kecantikanmu? Atau bagaimana jika saat ini malaikat maut datang mencabut ajalmu? Atau bagaimana nanti jika Malaikat Munkar a.s. dan Nakir a.s. datang bertanya kepadamu?
    Langsung saja wanita itu berteriak dengan teriakan yang membuatnya pingsan. Ketika dia sadar, dia langsung bertobat dan tekun beribadah. Dan ketika mati, wanita itu terlihat seperti batang pohon yang terbakar.