Abu Bakar ash-Shiddiq dan Keridhaannya kepada Allah

Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. masuk Islam setelah Khadijah bintu Khuwailid, istri Nabi saw., Zaid bin Haritsah, anak-anak Nabi saw. dan Ali bin Abi Thalib k.w.. Abu Bakar, sebagaimana sahabat-sahabat lainnya, menanggung penderitaan karena kejahatan orang-orang Quraisy. Meskipun keluarga dan kerabatnya mencoba membelanya, akan tetapi kejahatan orang-orang Quraisy kepada Abu Bakar semakin menjadi-jadi, hingga dia memutuskan untuk hijrah dari Mekkah. Lalu dia minta izin kepada Nabi saw. untuk berhijrah ke Ethiopia dan beliau pun mengizinkannya.
    Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. pergi meninggalkan Mekkah dengan membawa bekalnya dengan niat berhijrah menuju Habasyah ( Ethiopia ). Ketika dalam perjalanan, dia bertemu dengan Ibnu Daghinah yang masih musyrik; memeluk agama orang-orang Quraisy. Ibnu Daghinah juga termasuk pembesar orang-orang Quraisy.
Ibnu Daghinah bertanya kepada Abu Bakar, “Abu Bakar, mau kemanakah engkau?”
Abu Bakar menjawab, “Kaumku mengusirku dan menyakitiku. Mereka mempersulit kehidupanku. Maka saya ingin pergi dan menyembah Tuhanku”.
Ibnu Daghinah pun berkata, “Mengapa begitu? Sesungguhnya orang sepertimu tidak sepantasnya keluar dan diusir dari negerimu. Demi Allah, sesungguhnya engkau membuat baik nama keluargamu, membantu orang-orang yang terkena musibah, membantu orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa, menyambung silaturahmi dengan kerabat, menanggung penderitaan orang lain, membela orang yang lemah dan melakukan kebaikan. Kembalilah, engkau dalam jaminanku. Lalu sembahlah Tuhanmu di negerimu”.
Maka Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. pun kembali ke Mekkah bersama Ibnu Daghinah. Ketika sampai di Mekkah, Ibnu Daghinah berkeliling menemui para pembesar Quraisy dan berkata kepada mereka, “Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya saya menjamin Ibnu Abi Qahafah. Maka hendaknya setiap orang bersikap baik kepadanya”.
Maka orang-orang Quraisy pun menerima jaminan Ibnu Daghinan bagi Abu Bakar dan mereka pun tidak menyakitinya lagi. Namun mereka memberi syarat dan berkata, “Suruhlah dia menyembah Tuhannya di dalam rumahnya. Dia harus sembahyang dan membaca apa yang dia kehendaki di dalamnya, jangan sampai dia mengganggu kami dengan semua itu. Juga jangan sampai hal itu terlihat oleh orang-orang”.
Ibnu Daghinah pun menyampaikan apa yang dikatakan para pembesar Quraisy tersebut kepada Abu Bakar r.a.. Kemudian Abu Bakar membangun masjid di halaman rumahnya. Dia melakukan shalat dan membaca Al-Qur’an di dalamnya. Namun di luar rumahnya, para wanita dan anak-anak orang Quraisy berdesakan mendengarkan Al-Qur`an yang dia baca. Mereka terkagum-kagum. Dan Abu Bakar sendiri ketika membaca Al-Qur’an sangat lembut, membuat orang-orang yang di dekatnya ikut menangis.
    Maka orang-orang musyrik pun merasa khawatir terhadap istri-istri dan anak-anak mereka karena bacaan Abu Bakar, juga tangisan dan kekhusyu’annya. Lalu mereka mengutus seseorang menemui Ibnu Daghinah untuk melaporkan kepadanya apa yang dilakukan Abu Bakar, tentang masjid yang dibangunnya dan tergodanya para istri serta anak-anak mereka ketika mendengar bacaannya. Dan mereka meminta kepada Ibnu Daghinah untuk menyuruh Abu Bakar melakukan shalat hanya di dalam rumahnya, sehingga bacaannya tidak didengar oleh orang lain. Jika Abu Bakar tidak mau melakukannya, maka Ibnu Daghinah diminta mencabut jaminannya terhadap Abu Bakar.
    Lalu Ibnu Daghinah mendatangi Abu Bakar dan berkata kepadanya, “Engkau sudah tahu apa yang telah saya sepakati dengan orang-orang Quraisy perihal dirimu. Maka terserah dirimu, apakah engkau akan melakukan kesepakatan itu atau engkau kembalikan jaminanku itu. Karena saya tidak ingin orang-orang Arab mendengar bahwa saya mengkhianati orang yang saya jamin”.
Maka Abu Bakar berkata, “Saya kembalikan jaminanmu dan saya ridha dengan jaminan Allah ‘azza wajalla”.
Abu Bakar ash-Shiddiq ridha dengan qadha dan jaminan Allah. Dia terus beribadah kepada Allah dan pada saat yang sama orang-orang Quraisy terus menyakitinya. Abu Bakar tetap menanggung semua itu demi memperoleh keridhaan Allah ‘azza wajalla.

Tetap Teguh Saat Ajal Menjemput

Ibnul Jauzi dan Ibnu Rajab al-Hambali, “Ada seorang pemuda syahid di peperangan, lalu orang-orang datang bertakziyah kepada ayahnya.
Kemudian ayahnya, seorang lelaki yang takwa dan saleh, menangis seraya berkata, “Saya tidaklah menangis karena kematiannya. Akan tetapi saya menangis karena memikirkan bagaimana keridhaannya kepada Allah ketika pedang-pedang musuh membunuhnya?”.
Saya ( penulis ) katakan, “Sang ayah, seorang ahli ibadah dan seorang fakih, tidak merasa congkak karena anaknya terbunuh di medan perang di tangan para musuh dan orang-orang berkata bahwa dia adalah syahid. Akan tetapi dia ingin tahu bagaimana kondisi anaknya ketika terbunuh; apakah dia ridha kepada qadha dan qadar Allah? Dan itulah keridhaan Allah kepada hamba-Nya dan keridhaan seorang hamba kepada Allah.
Semoga Allah meridhai mereka semua”.

TOBAT DAN ISLAMNYA AMRU IBNUL ASH

Amru ibnul Ash terus menjadi seorang yang memusuhi dan memerangi Islam bersama dengan kaumnya dari orang-orang musyrik Quraisy. Dia pun ikut dan turut serta dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, sampai pada saat terjadi apa yang telah terjadi dalam perdamaian Hudaibiyah, yakni ketika Quraisy mengadakan perjanjian damai dengan Muhammad saw. dan perang antara kedua belah pihak dihentikan.
    Amru ibnul Ash berkata, “Muhammad dengan para sahabatnya telah datang menghadap Quraisy, maka Mekah tidak lagi nyaman menjadi tempat tinggal, begitu juga Thaif. Tidak ada jalan lain kecuali harus pergi dan keluar dari Mekah ini dan setelah jauh dari Islam. Aku melihat bahwa seandainya semua orang Quraisy masuk Islam, aku tidak akan masuk Islam.
    Amru ibnul Ash pun bertekad untuk pergi ke Najasyi, Raja Habasyah, dan dia membawa banyak hadiah berupa kulit binatang untuknya. Di sana dia mendapatkan Amru bin Umayyah adh-Dhamiri yang telah diutus oleh Rasulullah saw, untuk berangkat menemui Najasyi agar dia menikah dengan Ummu Hubaibah binti Abu Shofyan r.a..
    Amru ibnul Ash berkata kepada teman yang ikut dengannya dalam perjalanan itu, “Amru bin Umayyah, jika aku telah sampai ke Najasyi nanti, dan aku meminta kepadanya untuk menyerahkannya, akan aku penggal lehernya. Jika aku bisa melakukan itu, orang-orang Quraisy akan senang dan aku pun akan mendapat hadiah karena aku bisa membunuh utusan Muhammad.”
    Kemudian Amru bin Ash pun mendatangi Najasyi dan sang raja itu menyambut kedatangannya. Amru menyerahkan hadiahnya untuk sang raja, dan ketika dia melihat sang raja yang dalam keadaan penuh ceria dia berkata kepadanya, “Wahai raja, sesungguhnya aku telah melihat ada seseorang yang telah keluar dari ruangmu ini, orang itu adalah utusan musuh kami, dia telah memanahi kami dan membunah para pemimpin dan elite kami, serahkanlah orang itu kepadaku untuk aku bunuh!”
    Dan Najasyi pun murka sejadi-jadinya. Dia mengangkat tangannya kemudian memukul hidung Amru sampai keluar darah, dan Amru pun mengelap dan membersikannya dengan bajunya. Dia takut akan dirinya dari kemarahan sang raja, kemudian dia berkata kepadanya, “Wahai Raja, jika aku tahu kalau engga benci dengan apa yang aku katakan itu, aku tidak akan meminta kamu.”
    Najasyi berkata kepadanya, “Wahai Amru, kamu meminta kepadaku untuk menyerahkan seorang utusan dari seorang Nabi yang telah diturunkan kepadanya Jibril a.s. sebagaimana dahulu datang kepada Musa dan juga datang kepada Isa, dan kamu ingin membunuh utusan itu?”
    Amru berkata, “Allah mengubah apa yang ada dalam hatiku dan aku berkata kepada diriku sendiri. Dia telah mengenal kebenaran itu, begitu juga bangsa Arab dan bangsa asing telah mengetahuinya, sementara kamu malah mengingkarinya!”
    Kemudian aku bertanya, “Apakah kamu telah mengucap syahadat akan hal ini, wahai raja?”
    Dia menjawab, “Ya, aku telah mengucap syahadah di hadapan Allah wahai Amru, ikutilah aku untuk mengikutinya. Demi Allah, sesungguhnya dia memang benar, dan pasti akan terlihat atas orang-orang yang mengingkarinya sebagaimana terlihat kebenaran Musa atas Fir’aun dan balatentaranya.”
    Aku berkata, “Apakah kamu mau membaiat aku atas Islam?”
    Raja menjawab, “Ya.”
    Amru bercerita, “Raja itu mengulurkan tangannya dan segera membaiatku atas Islam, kemudian dia meminta dibawakan bejana air dan mencuci darah itu dan memberiku baju karena memang bajuku telah penuh dengan darah.”
    Setelah itu Amru ibnul Ash pergi meninggalkan tanah Habasyah menuju ke Madinah al-Munawwarah untuk membaiat Rasulullah saw.. Di tengah perjalanan hijrahnya itu dia bertemu dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah yang keduanya juga sama-sama menuju ke Madinah untuk membaiat Rasulullah saw.. Mereka pun bertemu dalam perjalanan iman dan Islam.
Rasulullah saw. sangat gembira dengan masuknya mereka ke dalam agama Islam. Begitu juga kaum Muslimin yang berada di sekitar beliau turut gembira dengan keislaman mereka. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Nabi Ibrahim dan Keridhaannya Ketika Dilemparkan Ke dalam Api

Kaum Nabi Ibrahim memutuskan untuk menyelamatkan tuhan-tuhan mereka. Oleh dari itu, mereka akan membakar Nabi Ibrahim hidup-hidup, karena telah berani menghancurkan patung-patung yang menjadi tuhan-tuhan mereka itu. Hal tersebut sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur'an.
Mereka mulai mengumpulkan kayu bakar untuk membakar Nabi Ibrahim. Mengumpulkan kayu bakar tersebut berlangsung hingga beberapa lama. Semua orang ikut andil melakukannya, hingga ada seorang wanita yang jika sedang sakit, dia bernazar seandainya sembuh waktu itu juga, dia akan langsung ikut mengangkut kayu bakar yang dipersiapkan untuk membakar Nabi Ibrahim tersebut.   
Kemudian mereka membuat sebuah galian yang berukuran besar dan meletakkan kayu-kayu tersebut di dalamnya. Setelah itu, mereka membakarnya, hingga nampak nyala api yang berkobar-kobar dengan percikan-percikannya yang dahsyat. Sebuah pemandangan yang tidak pernah dijumpai sebelumnya.
Kemudian Nabi Ibrahim diletakkan di atas manjaniq ( sebuah alat pelempar batu dalam peperangan ) dalam keadaan terikat. Dalam kondisi yang demikian itu, Nabi Ibrahim bermunajat kepada Allah dengan berkata, "Ya Allah, tiada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Bagi-Mu segala puji dan Kepunyaan-Mu lah seluruh kerajaan. Tiada sekutu bagi-Mu". Lalu pada saat Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api dengan menggunakan manjaniq, dia berkata, "Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung".
Ibn Abbas berkata, "Perkatan, cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung, diucapkan oleh Nabi Ibrahim tatkala dia dilemparkan ke dalam api. Dan perkataan yang sama, juga diucapkan oleh Nabi Muhammad saw. tatkala dikatakan kepada beliau –sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur'an—,

“Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka." Maka perkataan itu malah menambah keimanan mereka (yaitu orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya) dan mereka menjawab, "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung." Maka mereka kembali dengan ni'mat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa". (Ali Imran: 173-174).
Maka karena munajatnya memohon pertolongan dari Allah, Allah segera menurunkan pertolongan kepada hamba-Nya, Rasul-Nya dan juga kekasih-Nya, Ibrahim, yang selalu ridha dengan qadha dan qadar-Nya.  Hal itu sebagaimana yang dikisahkan dalam Al-Qur'an,

"Kami berfirman, "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim." (al-Anbiyaa`: 69).
Kemudian Nabi Ibrahim pun keluar dari kobaran api dalam keadaan selamat, tidak tersentuh sedikit pun oleh bara api. Segala puji hanya bagi Allah.

Barang Siapa Menjaga Kehormatan Dirinya, Maka Allah akan Menjaga Kehormatannya

Buku-buku biografi dan sejarah para tokoh menyebutkan bahwa pada suatu hari Hilal bin Hasan al-Bashri datang ke Madinah, lalu singgah di rumah Abu Sa’id al-Khudri r.a.. Kemudian Hilal mendengar Abu Sa’id bercerita bahwa di suatu pagi pada masa Nabi saw., dia tidak memiliki makanan sama sekali sehingga dia mengikatkan batu di perutnya untuk menahan lapar.
Lalu istrinya berkata kepadanya, “Datanglah kepada Nabi saw. dan mintalah kepada beliau”.
Abu Sa’id lalu mendatangi majelis Nabi saw. di masjid, dan ketika itu Nabi saw. sedang berceramah dan bersabda,

“Barang siapa menjaga kehormatan dirinya ( tidak meminta-minta ) maka Allah menjaga kehormatannya. Dan barang siapa merasa cukup, maka Allah memberi kecukupan kepada dirinya. Dan barang siapa meminta sesuatu kepada saya, lalu kami mempunyai apa yang dimintanya, maka kami akan memberinya dan kami akan menghiburnya. Dan barang siapa tidak meminta kepada kami dan dia merasa cukup, maka dia lebih kami senangi dari pada orang yang meminta kepada kami”.
    Abu Sa’id berkata, “Lalu saya kembali ke rumah dan saya tidak meminta sesuatu pun kepada beliau. Kemudian Allah ta’ala memberi kami rizki hingga saya tidak tahu ada sebuah rumah milik orang Anshar yang mempunyai harta lebih banyak dari kami”.
Saya katakan, “Demikianlah keutamaan bagi orang ridha kepada qadha Allah, serta keutamaan mendengar nasehat Rasulullah saw.. Dan demikianlah kondisi para sahabat ridhwaanullahi ‘alaihim.

TOBAT SEORANG LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN KEMUDIAN KEDUANYA MENIKAH

Disebutkan bahwa ada seorang pria dan wanita, keduanya saling jatuh cinta. Pada saat keduanya bertemu, sang wanita mencumbui si pria. Kemudian pria itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya ajalku bukanlah ada di tanganku, dan ajalmu bukan di tanganmu, bisa saja ajal kita datang menghampiri kita dan kita mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah.”
    Wanita itu menjawab, “Engkau benar.”
    Kedua orang itu pun bertobat dan kelakuan keduanya menjadi baik hingga akhirnya wanita itu menikahi pria tersebut.50
    Tidak dimungkiri lagi bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya dengan kebaikan. Pria ini takut kepada Allah dan tidak mau melakukan perbuatan keji bersama wanita itu. Allah pun menggantinya dengan dia bertobat dan kelakuannya menjadi baik. Tobat wanita itu mendapat ganjaran. Kemudian dia menikah dan mendapatkan yang halal. Tentunya lagi dia telah mendapat pahala dari Tuhannya swt. sebagai ganti dari melakukan perbuatan maksiat yang bisa menjerumuskan dia ke dalam kehancuran di dunia dan akhirat.

Sikap Mengutamakan Orang Lain atas Diri sendiri

"Dan mereka (orang-orang Anshar) itu mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu) ." (al-Hasyr: 9).
Ada yang mengatakan bahwa turunnya ayat ini berkaitan dengan seorang laki-laki dari kaum Anshar, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Hasan al-Bashri. Dia menceritakan bahwa ada seorang laki-laki pada zaman Rasulullah saw. yang berpuasa ketika datang waktu pagi. Lalu pada sore harinya, tatkala waktu buka telah tiba, dia tidak mendapatkan sepotong makanan pun kecuali air. Sehingga dia hanya berbuka dengan air tersebut. Hal itu dijalaninya sampai tiga hari. Pada hari yang ketiga, ada seorang laki-laki dari kaum Anshar yang mengetahui kondisinya itu. Maka laki-laki Anshar tersebut mengajaknya kerumahnya. Ketika sampai di rumahnya dia berkata pada istrinya, "Malam ini kita telah kedatangan tamu, apakah masih ada persediaan makanan?" Lalu istrinya menjawab, "Kita hanya punya satu porsi makanan". Padahal di rumah itu selain tamunya, ada mereka berdua yang juga baru mengerjakan puasa serta anak mereka yang masih kecil. Kemudian dengan bijak laki-laki Anshar tersebut berkata pada istrinya, "Kita akan memberikan makanan itu kepada tamu kita. Oleh karenanya, kita harus bersabar untuk tidak makan malam ini. Adapun anak kita, usahakan agar dia tidur sebelum waktu makan malam tiba. Lalu jika makanan telah siap untuk dihidangkan, matikanlah lampu supaya tamu kita itu melihat seakan-akan kita juga ikut makan bersamanya, hingga dia leluasa makan sampai kenyang".
Setelah itu, istrinya pun langsung melaksanakan apa yang dikatakan suaminya. Dia datang dengan membawa tsaridah—nama makanan sejenis bubur daging— untuk disajikan kepada sang tamu. Kemudian dia mendekati tempat lampu seakan-akan ingin memperbaikinya, lalu mematikan lampu tersebut. Adapun suaminya, meskipun tidak makan, dia pura-pura meletakkan tangannya di atas nampan makanan, agar dikira ikut makan bersama tamunya. Sedangkan tamunya, dia dipersilahkan makan sampai kenyang.
Kemudian ketika waktu subuh tiba, laki-laki Anshar tersebut mejalankan shalat subuh berjamaah bersama Rasulullah saw.. Setelah selesai shalat, Rasulullah saw. menemuinya dan berkata kepadanya, "Allah telah berfirman,

"Dan mereka (orang-orang Anshar) itu mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)". (al-Hasyr: 9). Maksud dari firman Allah ini adalah bahwa orang-orang Anshar itu, rela memberikan apa yang mereka miliki, semisal makanan, kepada orang lain. Meskipun sebenarnya mereka juga dalam keadaan lapar. Allah juga berfirman,

"Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung". (al-Hasyr: 9).