Wafat di Ka

Ibnu Jauzi rahimahullah menceritakan dari Abdul Aziz bin Abi Ruwad,  dia berkata, “Ada sekelompok manusia yang datang ke Mekah untuk melaksanakan ibadah haji. Di antara mereka ada seorang wanita yang selalu berkata, ‘Mana rumah Tuhanku?’
Orang-orang terus berkata padanya, ‘Sebentar lagi akan kau lihat.’
Ketika mereka sudah sampai ke Baitullah, mereka berkata kepada wanita itu, ‘Itu rumah Tuhanmu, sudahkah kamu lihat?’
Wanita itu masuk ke Baitul Haram sambil menunduk dan berkata, ‘Ini rumah Tuhanku. Ini rumah Tuhanku.’
Ketika  dia menyentuh Ka’bah al-Musyarrafah, dia meletakkan keningnya di dinding Ka’bah, dia tempelkan wajah dan mulutnya di sana dan dia bergantung di kiswahnya. Ketika tubuhnya diangkat dari tempat itu, ternyata dia sudah wafat.” 

TOBAT NUH A.S.

Nabi Nuh a.s. adalah nabi utusan Allah dan rasul-Nya. Disebutkan bahwa kelahirannya adalah setelah wafatnya Nabi Adam a.s. dengan jarak seratus dua puluh tahun.  Allah telah mengutusnya kepada kaumnya setelah mereka menyembah berhala-berhala selain Allah. Mereka merupakan anak keturunan Adam pertama yang keluar dari tauhid.
    Ibnu Abbas r.a. berkata,

“Jarak waktu antara Adam dan Nuh adalah dua belas abad, semua mereka dalam keadaan Islam.”
    Allah swt. berfirman, “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), ‘Sungguh, aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kamu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Aku benar-benar khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat pedih.’” (Huud: 25-26)
    Akan tetapi, kaumnya malah mendustakannya, namun Nuh a.s. terus mengajak mereka untuk menyembah kepada Allah selama seribu tahun kurang lima puluh, sembilan ratus lima puluh tahun. Dia terus mengajak mereka di siang atau di malam hari, baik secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, namun mereka tetap saja keras kepala dan sombong seraya mereka berkata kepada Nuh, “Kami mendapatkan kamu dalam kesesatan yang jelas.” Tidak ada yang beriman kepada Nuh a.s. dari kaumnya kecuali sedikit sekali.
    Allah swt. berfirman, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kamu kepada Allah dan taatlah kepadaku.     Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku  hanyalah dari Tuhan seluruh alam, maka bertakwalah kamu kepada Allah dan taatlah kepadaku.’ Mereka berkata, ‘Apakah kami harus beriman kepadamu, padahal pengikut-pengikutmu orang-orang yang hina?”Kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ketika saudara mereka (Nuh) berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.’ Mereka berkata, ‘Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?’” (asy-Syu’araa`: 105-111)
    Allah swt. juga berfirman, “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim. Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang berada di kapal itu, dan Kami jadikan (peristiwa) itu sebagai pelajaran bagi semua manusia.” (al-‘Ankabuut: 14-15)
    Ketika Nuh tahu setelah perjalanan tahun-tahun yang panjang dalam berdakwah kepada Allah bahwa tidak akan ada lagi dari kaumnya yang beriman kepadanya kecuali orang-orang yang sudah beriman kepadanya, dia pun mendoakan malapetaka atas mereka,    “Dan Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka hanya akan melahirkan anak-anak yang jahat dan tidak tahu bersyukur.” (Nuh: 26-27)
    Allah swt. mewahyukan kepada Nuh a.s. agar membuat kapal untuk mengangkut mereka yang beriman dari kaum dan keluarganya ikut bersamanya, karena Allah swt. akan menenggelamkan bumi dan orang-orang yang di atasnya dengan badai taufan.
    Allah swt. berfirman, “Sebelum mereka, kaum Nuh juga telah mendustakan (rasul), maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, ‘Dia orang gila!’ Lalu diusirnya dengan ancaman. Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, ‘Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).’ Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah, dan Kami jadikan bumi menyemburkan mata-mata air, maka bertemulah (air-air) itu sehingga (meluap menimbulkan) keadaan (bencana) yang telah ditetapkan. Dan Kami angkut dia (Nuh) ke atas (kapal) yang terbuat dari papan dan pasak, yang berlayar dengan pemeliharaan (pengawasan) Kami sebagai balasan bagi orang yang telah diingkari (kaumnya). Dan sungguh, kapal itu telah Kami jadikan sebagai tanda (pelajaran). Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? Maka betapa dahsyatnya azab-Ku dan peringatan-Ku! Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (al-Qamar: 9-17)
    Allah juga berfirman, “Dia (Nuh) berdoa, ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.’ Lalu Kami wahyukan kepadanya, ‘Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami datang dan tanur (dapur) telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam (kapal) itu sepasang-sepasang dari setiap jenis, juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa siksaan) di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.’” (al-Mu’minuun: 26-27)
    Setelah Nuh rampung membuat perahu kapal tersebut, dia menaikkan di atasnya orang-orang yang beriman bersamanya dan juga dari masing-masing pasangan dari hewan, unggas, dan binatang buas yang ada di bumi. Dia memperhatikan apa yang ada di sekitarnya dan yang dia temukan hanya tiga orang dari anaknya yaitu Haam, Yaafits, dan Saam. Sementara, dia tidak melihat anak yang keempat yaitu Kan’aan. Anaknya yang kafir ini menolak taat kepada ayahnya dan naik bersamanya ke atas perahu kapal itu, karena dia mengikuti agama kaumnya.
    Akan tetapi, ayahnya yang penyayang, seorang nabi utusan Allah, itu tetap memanggilnya untuk taat kepadanya dan mau naik perahu kapal itu bersamanya, namun anak yang durhaka itu tetap menolak perintah ayahnya dan dia mengira bahwa dia bisa selamat dari tenggelam dengan menaiki sebuah gunung yang tinggi.
    Allah swt. berfirman, “Dan kapal itu berlayar membawa mereka ke dalam gelombang laksana gunung-gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, ketika dia (anak itu) berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Wahai anakku! Naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.’ Dia (anaknya) menjawab, ‘Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menghindarkan aku dari air bah!’ (Nuh) berkata, ‘Tidak ada yang melindungi dari siksaan Allah pada hari ini selain Allah yang Maha Penyayang.’ Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka dia (anak itu) termasuk orang yang ditenggelamkan.’” (Huud: 42-43)
    Tak lama setelah itu, badai topan itu pun menenggelamkan semua mereka yang kafir yang ada di atas bumi. Pada saat Nuh melihat sang anak berkeras kepala untuk tidak mau ikut naik ke perahu kapal itu dan dia akan binasa, Nuh berdoa kepada Tuhannya, “Dan Nuh memohon kepada Tuhannya sambil berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah termasuk keluargaku, dan janji-Mu itu pasti benar. Engkau adalah hakim yang paling adil.’” (Huud: 45)
    Nuh telah memahami bahwa Allah telah menjanjikannya akan menyelamatkan dia dan keluarganya. Allah swt. berfirman, “…maka masukkanlah ke dalam (kapal) itu sepasang-sepasang dari setiap jenis, juga keluargamu, kecuali orang yang lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa siksaan) di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (al-Mu’minuun: 27)
    Untuk itu Nuh berkata dalam doanya kepada Tuhannya agar Dia menyelamatkan anaknya yang durhaka, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya anakku adalah dari keluargaku.”
    Allah pun menjawabnya dengan jelas, “Dia (Allah) berfirman, ‘Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.’” (Huud: 46)
    Allah memang telah menjanjikan Nuh akan menyelamatkan dia dan orang-orang yang beriman bersamanya serta keluarganya, kecuali orang-orang yang telah dinyatakan binasa bersama mereka dan mereka adalah orang-orang yang kafir. Dan kedurhakaan anak ini sebagai bukti bahwa itu adalah perbuatan jelek. Karena itu, dia bukanlah dari keluarganya, karena sesungguhnya keluarganya itu adalah orang-orang yang bertakwa.
    Nuh a.s. menyadari akan kesalahannya yang tidak dia sengaja, maka dia pun bergegas dan langsung bertobat dan memohon ampun kepada Tuhannya.
    “Dia (Nuh) berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi.’” (Huud: 47)
    Allah pun menerima permohonan maaf, tobat, dan mohon ampunnya. Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba-Nya yang beriman.
    Difirmankan, “Difirmankan, ‘Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.’” (Huud: 48)
    Allah menyucikannya seraya berfirman, “’Kesejahteraan (Kami limpahkan) atas Nuh di seluruh alam.’ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh, dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman.” (as-Shaaffaat: 79-81)

Abu Dzar al-Ghifari dan Keridhaannya kepada Allah

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Abu Dzar al-Ghifari berdiri di sisi Ka’bah, lalu berkata, “Wahai orang-orang, saya Jundub al-Ghifari. Kemarilah kepada seorang saudara yang ikhlas memberi nasihat dan penyayang”.
Lalu orang-orang pun datang mengerumuninya. Lalu dia berkata, “Jawablah kalian, bukankah jika seseorang diantara kalian ingin melakukan perjalanan dia perlu membawa bekal yang baik dan cukup untuk sampai ke tujuan?”.
Mereka balik berkata, “Apa yang baik untuk kami?”
Dia menjawab, “Lakukanlah haji karena kelak akan terjadi hal-hal yang berat. Dan puasalah pada hari yang sangat panas karena mengingat lamanya hari kiamat. Dan lakukanlah shalat dua rakaat ketika malam gelap, karena mengingat sepinya alam kubur. Ucapkanlah kata-kata yang baik dan jangan katakan kata-kata yang buruk, karena kalian akan diadili pada hari yang dahsyat. Bersedakahlah dengan harta kalian, semoga kalian selamat dari kesulitan di akhirat kelak. Jadikanlah dunia untuk dua hal: pertama untuk mencari harta yang halal, dan kedua untuk mencari akhirat. Sedangkan hal ketiga hanyalah merugikan kalian, tidak memberi manfaat, maka jangan kalian lakukan.
Jadikanlah harta itu dua dirham, dirham pertama kalian nafkahkan untuk keluarga kalian yang kalian peroleh dari cara yang halal. Dan dirham kedua adalah yang kalian keluarkan untuk akhirat kalian. Sedangkan yang ketiga hanyalah merugikan dan tidak memberi kalian manfaat, maka jangan dilakukan”.
Kemudian dia berseru dengan keras, “Wahai orang-orang, Kalian telah dibunuh oleh keinginan ( ambisi ) yang tidak akan kalian capai untuk selamanya”.
Dan dia pun menangis dan tangisannya semakin menjadi-jadi, lalu dia berkata, “Saya telah dibunuh oleh kecintaan terhadap hari yang tidak akan saya temui”.
Lalu dia ditanya, “Hari apa yang tidak engkau temui”.
Dia menjawab, “Yaitu angan-angan yang panjang”.

Sa

Abu Nu’aim meriwayatkan di dalam kitab Hilyatul Auliya` dari Sa’ad bin Abi Waqqash r.a., dia berkata, “Kerika di Mekkah, kami bersama Rasulullah saw. mengalami kesulitan yang sangat sulit. Ketika kami tertimpa bala`, kami pun ridha dan tunduk kepada ketentuan Allah. Oleh karena itu kami pun sudah terlatih dan kami dapat bersabar.
Pada suatu malam, saya keluar rumah berbarengan dengan Rasulullah saw. untuk kencing. Ketika saya kencing, saya mendengar suara gemeretak karena air kencing saya menimpa sesuatu. Ketika saya perhatikan, ternyata itu adalah kulit onta. Maka saya mengambilnya dan saya cuci kemudian saya membakarnya, lalu saya letakkan di antara dua batu. Kemudian saya memakannya dan saya minum setelahnya. Dan saya memakannya untuk  tiga hari”.
Sa’ad juga pernah berkata, “Kami pernah berperang bersama Rasulullah saw., sedangkan kami tidak mempunyai apa-apa kecuali daun Hublah –nama sebuah pohon— dan buah ini”.

Ibadah Ahmad bin Hanbal

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, “Ayahku adalah orang yang paling sabar dalam kesendirian. Tak seorang pun yang melihatnya, kecuali dia sedang di masjid atau menghadiri jenazah atau mengunjungi orang sakit. Dia tidak suka berjalan di pasar.”
Abdullah juga berkata, “Ayahku sering shalat setiap hari sebanyak tiga ratus rakaat. Ketika dia sakit akibat dicambuk (dalam fitnah khuluqul Qur`an, pent.) fisiknya menjadi lemah, sehingga dia hanya shalat setiap harinya seratus lima puluh rakaat, padahal usianya sudah mendekati delapan puluh tahun. Dia selalu membaca Al-Qur’an setiap hari dan menamatkannya setiap tujuh hari. Dia juga menamatkan Al-Qur’an dalam shalat malam setiap tujuh malam, selain shalat siang. Terkadang dia shalat isya kemudian tertidur sebentar lalu bangun kemudian  dia shalat dan berdoa sampai subuh.

Ayahku melaksanakan haji lima kali, tiga kali berjalan kaki, dan dua kali berkendaraan. Dalam beberapa hajinya, dia hanya membelanjakan sejumlah dua puluh dirham. Aku sering mendengar ayah membaca doa ini setiap selesai shalat, ‘Ya Allah, sebagaimana aku jaga wajahku dari sujud kepada selain-Mu, maka jagalah dia dari meminta-minta kepada selain-Mu.’ Di antara doanya juga, ‘Ya Allah, siapa yang dibelenggu oleh hawa nafsu atau logikanya sendiri dan dia mengira bahwa dia dalam kebenaran padahal sesungguhnya tidak, maka kembalikanlah dia pada kebenaran sehingga tiada satu pun dari umat ini yang tersesat. Ya Allah, jangan sibukkan hati kami dengan sesuatu yang telah Engkau jamin untuk kami. Jangan jadikan kami dalam menjemput rezeki-Mu budak bagi selain-Mu, jangan halangi kami dari kebaikan di sisi-Mu disebabkan oleh keburukan dari kami, jangan sampai kami ada di saat Engkau melarang kami dan jangan sampai kami tiada di saat Engkau menyuruh kami, muliakanlah kami dan jangan hinakan kami, muliakanlah kami dengan ketaatan dan jangan hinakan kami dengan kemaksiatan.’”
Demikian sekilas tentang ibadah dan kezuhudan Imam al-Faqih Ahmad bin Hanbal Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah rahimahullah.

Menangis karena Kasihan kepada Sang Pencuri

Ibnu Jauzi menceritakan dalam Shifatush Shafwah dari Shalih bin Abdul Karim, dia berkata, “Salah seorang sahabat Fudhail dari penduduk Khurasan datang menemui Fudhail di Masjidil Haram. Keduanya lalu terlibat dalam perbincangan. Setelah itu, sahabat tersebut bangkit untuk melakukan thawaf. Tiba-tiba uangnya dicuri sejumlah enam puluh atau tujuh puluh dinar. Sahabat dari Khurasan itu kembali menemui Fudhail sambil menangis. Fudhail bertanya, ‘Ada apa denganmu?’
‘Uangku dicuri,’ jawabnya.
‘Karena itukah kamu menangis?’
‘Tidak, tetapi aku teringat bagaimana nanti pencuri itu bersamaku dihadapkan kepada Allah di hari Kiamat nanti. Oleh karena itu, aku merasa kasihan dan menangis karena iba kepadanya.’”

Menangis karena Datang kepada Allah adalah Lebih Utama

Yahya bin Ayyub berkata, “Suatu hari aku pergi ke kuburan yang terletak di pintu Khurasan. Kemudian aku duduk di sebuah tempat di mana aku bisa melihat siapa yang masuk ke daerah kuburan tersebut.
Tiba-tiba, aku melihat seorang lelaki masuk ke daerah kuburan sambil menekur. Dia lalu berkeliling di sekitar kuburan tersebut. Setiap kali dia melihat ada kubur yang baru digali atau yang masih lunak, dia berdiri di sampingnya dan menangis.
Aku datang menghampirinya, moga-moga aku mendapat manfaat atau pelajaran darinya. Ketika sudah dekat, ternyata dia adalah Sa’d al-Majnun, dan dia sedang berdiri di kuburan Abdullah bin Malik. Aku bertanya kepadanya, “Apa yang kau lakukan, wahai Sa’d?”
Dia berkata, “Wahai Yahya, maukah kau duduk sejenak, kemudian kita tangisi tubuh-tubuh yang akan hancur ini, sebelum dia benar-benar hancur, lalu tidak seorang pun yang akan menangisinya?” Lalu dia berkata, “Wahai Yahya, menangis karena datang kepada Allah adalah lebih utama daripada menangisi kehancuran tubuh-tubuh ini.”
Selanjutnya dia berkata, “Wahai Yahya, apabila lembar-lembar (catatan amal) sudah ditebar....” Setelah itu, dia berteriak keras dan berkata, “Ya Allah tolonglah... apa yang nanti akan kutemui dalam lembaran catatan-catatan amalku....”
Yahya berkata, “Tiba-tiba aku jatuh pingsan. Setelah aku sadar dia sedang duduk sambil mengusap wajahku dengan ujung jubahnya. Dia berkata, “Wahai Yahya, siapa yang lebih mulia darimu seandainya kamu mati?”