TOBAT SEORANG KAKEK TUA DI TANGAN RASULULLAH SAW.

Tobat itu tidak mengenal umur dan tidak pula waktu tertentu. Allah swt. selalu menerima tobat para hamba-Nya dan memaafkan segala kesalahan mereka, kapan pun Anda mengatakan, “Wahai Tuhanku.” Allah pasti menjawab, “Aku datang memenuhi panggilanmu, wahai hamba-Ku.”
    Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Makhul berkata, “Datang seorang kakek tua yang sudah uzur. Kedua alis matanya telah turun ke kedua matanya. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, seorang pengkhianat dan jahat, tidak pernah membiarkan hajat dan tidak pula keinginan kecuali dia menyambarnya dengan kanannya. Jika kesalahannya dibagi-bagikan kepada penduduk bumi ini, maka itu bisa menghancurkan mereka. Masih adakah jalan baginya untuk bertobat?’
    Rasulullah saw. berkata, ‘Apakah kamu telah masuk Islam?’
    Dia menjawab, ‘Adapun aku, sesungguhnya aku telah bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.’
    Beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah Maha Pengampun pengkhianatanmu, kejahatanmu, dan akan mengganti kejelekanmu dengan kebaikan jika mau melakukan itu.’
    Orang itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, semua pengkhianatan dan kejahatanku?’
    Beliau kemudian berkata, ‘Semua pengkhianatan dan kejahatanmu.’
    Orang itu pun berpaling sambil dia bertakbir dan bertahlil dengan mengatakan Allahu Akbar dan Lailaha Illallah.”30

Keridhaan Utsman bin Affan Ketika Menghadapi Ujian

Utsman bin Affan, Khalifah ketiga Khulafa`ur Rasyidin, dalam akhir masa kekhilafahannya dihadapkan dengan fitnah dan ujian yang besar, yang pada akhirnya menyebabkannya terbunuh.
Utsman sebenarnya telah mengetahui tentang ujian yang akan dihadapinya itu. Dia mengetahuinya dari Rasulullah saw. ketika beliau masih hidup. Rasulullah saw. telah mengabarkan kepadanya bahwa dia akan masuk surga karena kesabarannya mengahadapi ujian tersebut dan keridhaannya terhadap qadha dan qadar Allah. Rasulullah saw. bersabda padanya, "Wahai Utsman, sesungguhnya kelak Allah akan memakaikan sebuah baju untukmu. Lalu apabila orang-orang menginginkan engkau melepaskannya, maka jangan kamu turuti mereka".  Baju yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah kekhilafahan. Orang-orang yang menentangnya, menginginkan agar dia melepaskan baju kekhilafahannya tersebut. Akan tetapi dia menolaknya  karena mentaati perintah Rasulullah saw. tersebut. Di sisi lain, dia juga tidak mau memerangi orang-orang yang menentangnya itu, meskipun sebenarnya dia mampu untuk memerangi mereka, sebagaimana layaknya para penguasa, jika ada salah seorang rakyatnya yang membelot, maka akan diperanginya seberat apapun hal itu.
Utsman melarang membunuh siapapun dari kaum muslimin hanya karena menentangnya. Dan para sahabat yang lain, sebenarnya juga mampu untuk mengusir para penyebar fitnah tersebut, jika hal itu memang diperintahkan kepada mereka. Akan tetapi Utsman lebih memilih bersabar dalam mengahadapi semuaitu. Dan dia senantiasa ridha dengan qadha dan qadar Allah.
Abu Musa al-Asy'ari berkata, "Pada saat saya bersama Rasulullah saw. di sebuah kebun di Madinah, datang seseorang minta dibukakan pintu pagar kebun untuk masuk. Lalu Rasulullah saw. berkata, "Bukakanlah pintunya, dan beritahu dia bahwa kelak dia akan masuk surga". Maka saya buka pintu kebun tersebut, dan ternyata Abu Bakar yang berada di balik pintu. Lalu saya sampaikan kabar gembira dari Rasulullah saw. tersebut kepadanya. Maka dia langsung bersukur dan memuji Allah. Kemudian setelah itu, datang lagi seseorang yang mengetuk pintu kebun. Maka Rasulullah saw. memerintahkan untuk membukakannya dengan bersabda, "Bukakanlah pintu untuknya, dan sampaikan padanya bahwa kelak dia akan masuk surga”. Lalu saya buka pintu kebun tersebut, dan ternyata Umarlah yang datang. Lalu saya sampaikan padanya kabar gembira dari Rasulullah saw. tersebut, maka dia langsung mengucapkan tahmid. Kemudian datang lagi seseorang mengetuk pintu kebun minta dibukakan. Maka Rasulullah saw. sekali lagi bersabda, "Bukakanlah pintu untuknya. Dan beritahu padanya, dia kelak akan masuk surga, meskipun harus dengan melewati ujian berat”. Dan ketika pintu saya buka, ternyata Utsman yang datang, dan saya sampaikan padanya apa yang dikatakan Rasulullah saw. tersebut. Maka seketika itu pula dia langsung bertahmid, lalu berkata, "Dialah Allah, tempat meminta pertolongan dan kepada-Nyalah segala urusan diserahkan".
Dalam riwayat lain dikatakan, “Maka Utsman memasuki kebun seraya bertahmid dan berkata, "Ya Allah berilah saya kesabaran".
Demikianlah keridhaan Utsman terhadap ketetapan Allah. Dan ketika musibah serta cobaan datang menghampirinya, dia senantiasa bersabar. Ketika para sahabat menginginkan agar dia memerangi para pembangkang yang menzaliminya itu, dia menolaknya dan berkata pada mereka, "Jangan diperangi, sesungguhnya Rasulullah saw. telah berpesan pada saya agar saya bersabar menghadapi mereka. Oleh karena itu saya akan bersabar terhadap apa yang mereka lakukan terhadap saya”.

Abu Utsman Sa

Muhammad bin Nu’aim berkata, “Saya mendengar ibuku berkata, “Saya mendengar Maryam, isteri Utsman berkata, “Pada suatu hari, secara kebetulan saya mendapati kesempatan bicara kepada Abu Utsman. Maka saya gunakan untuk bertanya kepadanya, “Wahai Abu Utsman, amal apakah yang telah engkau lakukan yang paling engkau harapkan pahalanya?”
Dia menjawab, “Wahai Maryam, ketika saya tumbuh dewasa dan di saat kepemudaanku tumbuh sempurna, keluargaku memintaku untuk menikah, namun saya menolak. Lalu seorang wanita mendatangiku dan berkata, “Wahai Abu Utsman, saya sangat mencintaimu. Cintaku kepadamu membuatku tidak bisa tidur dan selalu gelisah. Aku memohon kepadamu dengan sepenuh hati, agar engkau sudi menikahiku”.
Maka saya katakan kepadanya, “Apakah ayahmu masih hidup?”
Dia menjawab, “Ya. Dia adalah tukang jahit yang tinggal di tempat ini”.
Lalu saya mengutus seseorang untuk menemui ayahnya dan menikahkan anaknya dengan saya. Maka ayahnya merasa sangat bahagia. Kemudian saya menghadirkan beberapa saksi, dan saya pun menikahinya.
Ketika saya memasuki kamar pengantin, saya melihat matanya buta sebelah, kakinya pincang dan rupanya buruk. Maka saya berucap, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu atas apa yang Engkau tetapkan untukku”.
Melihat hal itu, keluargaku pun mencibirku. Namun saya semakin melayani isteriku dengan baik dan memuliakannya, sehingga dia tidak membiarkan saya keluar dari rumah. Maka saya tidak dapat menghadiri berbagai pertemuan yang diadakan, karena lebih mendahulukan keridhaan isteri saya dan untuk menjaga perasaan hatinya.
Saya hidup bersamanya selama lima belas tahun. Terkadang, saya merasa bagaikan berada di atas bara api, akan tetapi saya tidak menampakkan hal itu hingga dia meninggal dunia.
Maka tidak ada amal saya yang lebih saya harapkan pahalanya dari apa yang saya lakukan untuk menjaga perasaan hatinya terhadap saya”.

108. Seorang Ahli Ibadah di Tepi Pantai

Said bin Tsa’labah al-Warraq menceritakan, “Suatu malam aku bersama seorang ahli ibadah berada di sebuah pantai di daerah Sayraf. Laki-laki itu tiba-tiba menangis. Dia terus menangis sampai terbitnya fajar dan dia tidak berbicara sepatah kata pun. Tiba-tiba dia berkata, ‘Dosaku besar dan kemaafan-Mu banyak, maka kumpulkanlah antara dosaku dan kemaafan-Mu wahai Yang Maha Pemurah.’ Akhirnya, semua orang yang ada di dekatnya ikut menangis.
Boleh jadi ahli ibadah ini merasakan bahwa menangis lebih baik daripada berbicara, sehingga dia memilih untuk mengungkapkan tobat dan kembalinya kepada Allah dengan tangisan dan Allah menerima tobatnya, sehingga tangisannya menyentuh hati semua manusia di sekitarnya. Mereka dapat merasakan gemanya di dalam diri mereka, maka terjadilah sebuah keserasian yang menakjubkan dan itu lebih ampuh daripada bicara.

Kesabaran dan Keridhaan Nabi Isma'il Terhadap Ketetapan Allah

Diriwayatkan oleh Ibn Abid Dunya dalam kitab ar-Ridha, bahwasannya ketika Nabi Ibrahim merebahkan Nabi Isma'il untuk menyembalihnya, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dalam mimipinya, Isma'il, anaknya yang taat kepada perintah Allah dan ridha terhadap qadha-Nya itu berkata, "Wahai ayah, kencangkanlah ikatanku. Saya khawatir tatkala engkau akan menyembelih saya, engkau melihat saya dan engkau tidak tega melakukannya. Sehingga engkau melanggar perintah Allah itu. Saya juga khawatir, tatkala engkau akan menyembelih saya, saya melihat wajahmu, karenanya saya menghalangimu untuk menjalankan perintah Allah tersebut".
Kemudian Nabi Ibrahim membalik tubuh anaknya agar tidak melihat wajahnya. Hal itu sebagaimana yang dikisahkan oleh Allah dalam Al-Qur'an melalui firman-Nya yang berbunyi,

"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis( nya ), ( nyatalah kesabaran keduanya )”. ( ash-Shaffaat: 103 )
Ibn Katsir menafsirkan ayat tersebut dengan berkata, "Maksudnya adalah dia merebahkan anaknya dengan menutup mukanya. Kemudian setelah Ibrahim membaca basmalah, lalu bertakbir, dan anaknya telah bersyahadat untuk menghadapi kematiannya, Ibrahim mulai menggoreskan pisau ke lehernya. Akan tetapi pisau tersebut tidak mampu menggores lehernya. Ada yang mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan karena Allah telah meletakkan sebuah lempengan tembaga antara pisau dan leher anaknya itu. Wallahu a'lam.            

Hati yang Sempit Artinya Dunia yang Sempit

Ibrahim al-Khawash datang menemui saudarinya, Maimunah. Dia adalah saudari seibunya. Ibrahim berkata kepada saudarinya, “Hari ini aku merasakan dadaku sempit.”
Saudarinya berkata, “Siapa yang hatinya sempit, maka dunia akan terasa sempit baginya dengan segala isinya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah swt. telah berfirman, ‘Hingga apabila bumi itu terasa sempit bagi  mereka dengan segala isinya dan sempit pula jiwa mereka....’”
Saudarinya melanjutkan, “Sesungguhnya bumi ini masih lapang bagi mereka, tetapi ketika jiwa mereka sempit, maka sempit pula terasa bumi bagi mereka.” 
Wanita ini telah menjelaskan penyakit dan obatnya dalam saat yang sama. Sempitnya dunia bagi manusia berawal dari sempitnya dada dan jiwa mereka, dan tiada jalan keluar dari itu semua, kecuali dengan berzikir kepada Allah dan kembali kepada-Nya, karena Dialah yang menghilangkan seluruh perasaan resah dan gelisah. “Ketahuilah dengan mengingat Allah hati akan menjadi tentram.”

Hasan al-Basri Dan Kelapangan Setelah Kesempitan

Qadhi at-Tanukhi menceritakan bahwa Hasan al-Basri rahimahullah datang menemui Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi; Gubernur Irak saat ia sedang berada di daerah Wasith (sebuah daerah di Irak). Ketika Hasan melihat bangunan tempat Hajjaj berada yang penuh dengan perhiasan dan kesenangan ia berkata: "Segala puji bagi Allah. Sesungguhnya mereka para penguasa melihat diri mereka dapat dijadikan contoh sementara kami melihat bahwa diri mereka juga dapat dijadikan pelajaran. Diantara mereka ada yang membangun istana lalu diperindahnya dan memiliki kasur-kasur empuk sementara lalat-lalat dan sudah berkumpul di sekitarnya. Sekarang lihatlah apa yang engkau lakukan (yang ia maksud adalah Hajjaj). Kami telah melihat apa yang engkau lakukan wahai musuh Allah, maka apa lagi yang akan engkau lakukan wahai manusia paling fasik dan durjana? Penduduk langit mengutukmu dan penduduk bumi membencimu."

Setelah itu Hasan pergi. Tiada tara murkanya Hajjaj setelah mendengar perkataan Hasan itu, sampai ia berkata: "Wahai masyarakat Syam, seorang budak penduduk Bashrah mencelaku di hadapanku dan tak seorangpun yang mencegahnya? Demi Allah aku akan membunuhnya."

Kemudian masyarakat Syam membawa Hasan al-Basri dan menghadapkannya pada Hajjaj. Di dalam perjalanan menuju Hajjaj, Hasan selalu menggerak-gerakkan kedua bibirnya sambil membaca sesuatu yang tidak jelas terdengar.
Ketika ia masuk menemui Hajjaj ia melihat pedang dan hamparan dari kulit (tempat seseorang dibunuh lalu darahnya dituangkan ke dalamnya) sudah disiapkan di depannya. Hajjaj tampak sangat murka. Ketika melihat Hasan, Hajjaj berbicara dengan cara yang sangat kasar, sementara Hasan tetap bersikap lemah lembut dan malah menasehatinya. Hajjaj memerintahkan agar pedang dan hamparan kulit itu didekatkan. Hasan masih tetap menasehati Hajjaj sampai kemudian tiba-tiba saja Hajjaj meminta dihidangkan makanan lalu mereka berdua makan. Kemudian ia minta disediakan air lalu ia berwudhuk dan wewangian lalu ia oleskan ke tubuhnya.

Ada yang bertanya pada Hasan: "Apa yang engkau baca saat engkau menggerak-gerakkan kedua bibirmu?"
     Hasan menjawab: "Aku berkata: "Wahai penolongku ketika aku berdoa, sandaranku dalam berbagai cobaan, wahai Tuhanku ketika aku sulit, wahai temanku ketika aku sempit, wahai kekasihku ketika aku dalam nikmat, wahai Tuhanku dan Tuhan Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'kub dan anak cucunya, tuhan Musa dan Isa, wahai Tuhan para nabi seluruhnya, wahai Tuhan kaf ha ya 'ain shad, Tuhan thaha, Tuhan yasin dan Tuhan Al-Qur`an yang mulia, wahai yang menolong Musa terhadap Fir'aun, menolong Muhammad terhadap golongan-golongan yang kafir, curahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya yang mulia dan suci, karuniakanlah padaku simpati dari hamba-Mu; Hajjaj, kebaikan dan kelembutannya, serta palingkan dariku siksa dan kejahatannya."
Begitulah Allah menyelamatkannya dari kesulitan dan kejahatan Hajjaj sehingga banyak pengikut Hasan yang berkata: "Setiap kami berdoa dengan doa itu dalam keadaan sulit Allah pasti melapangkan kami."