Al-Hasan al-Bannan Dan Kelapangan Setelah Kesempitan

Di masa pemerintahan penguasa Mesir; Ahmad bin Thulun, datanglah Syekh al-Hasan al-Bannan menasehatinya dan menyuruhnya berbuat yang ma'ruf serta melarangnya dari perbuatan yang mungkar. Hal itu karena Ahmad bin Thulun telah menampakkan kezalimannya dan suka membunuh masyarakat. Bahkan ada yang menghitung jumlah masyarakat tak berdosa yang dibunuhnya sampai berjumlah delapan belas ribu orang.

Penguasa yang zalim ini sangat murka mendengar nasehat yang disampaikan Syekh yang alim dan ahli ibadah ini, yang tidak takut pada kekuasaan penguasa yang zalim. Menyampaikan yang hak di depan penguasa yang zalim adalah suatu bentuk taqarrub kepada Allah yang sangat agung. Penguasa Mesir ini sangat marah dan kemudian memerintahkan para pembantunya untuk memenjarakan Syekh lalu memasukkan seekor singa ke dalam penjaranya untuk menerkam Syekh tersebut.

Berita ini tersebar ke seluruh pelosok dan manusia datang berbondong-bondong dari berbagai daerah untuk menyaksikan akhir kehidupan Syekh yang ahli ibadah ini di tangan seorang penguasa yang zalim.

Syekh Abu Ja'far ad-Dinawari menceritakan: "Aku termasuk yang hadir di hari itu. Kemudian digiringlah seekor singa dari istana Khamaruyah; putra Ahmad bin Thulun. Putranya ini sangat gemar berburu. Setiap kali ia mendengar ada singa buas di sebuah hutan atau lembah ia akan segera ke sana bersama para pembantunya sambil mengenakan Labud (pakaian yang melindungi tubuh dari cakaran singa) kemudian mereka akan berhadapan dengan singa itu dan menangkapnya dari hutan dengan tangan kosong secara paksa dalam keadaan normal (tanpa cedera). Lalu mereka jebloskan singa itu ke dalam kerangkeng kayu seukuran singa dalam keadaan berdiri.

Singa yang mereka pilih untuk menerkam Syekh adalah singa yang paling buas. Tubuhnya kekar, taringnya tajam, ototnya berisi dan kelihatan sangat ganas. Mulutnya sangat besar dan lebar, seakan mulut itu adalah lubang kubur dan rongganya adalah kuburan bagi setiap mangsanya.

Mereka menempatkan Syekh di sebuah ruang. Orang-orang menunggu untuk menyaksikan apa yang akan terjadi. Tak berapa lama kemudian mereka buka kerangkeng singa itu dari arah atas. Tutup kerangkeng itu ditarik dan sang singa segera meloncat. Mereka mendorong singa itu untuk maju dan memangsa Syekh. Sang singa meraung sekeras-kerasnya yang memekakkan telinga dan menggetarkan dada. Setiap orang yang mendengar raungannya merasa seolah-olah raungan itu bagaikan petir yang diikuti oleh suara guntur.                         

Sementara itu, Syekh duduk dengan tenang tak bergeming. Ia tidak menoleh kepada singa tersebut sama sekali dan tidak pula merasa gentar. Padahal semua orang yang memandang singa itu merasa takut dan ngeri sekaligus kasihan terhadap Syekh.

Tapi aneh sekali, ketika singa itu dimasukkan ke dalam ruangan dimana Syekh berada, ia hanya duduk dengan tenang sambil menyelonjorkan kedua lengannya. Tak berapa lama setelah itu singa tersebut bangkit dan melangkah dengan tenang menuju Syekh dengan langkah tegap yang tampak dari derap kakinya yang berat. Lalu ia mendekati Syekh kemudian menyentuhkan badannya ke tubuh Syekh dan menciumnya persis seperti yang dilakukan oleh seekor anjing yang bermain dan bermanja bersama majikannya. Seolah sang singa ingin mengumumkan bahwa ini bukanlah pertarungan antara seorang laki-laki bertakwa dan seekor singa melainkan pertarungan antara kehendak Ibnu Thalun dan kehendak Allah. Sang singa melihat di depannya seorang laki-laki yang takut kepada Allah maka iapun takut pada laki-laki itu.

Ad-Dinawari melanjutkan: "Setelah menyaksikan singa itu kami melihat wajah Syekh. Ternyata ia tengah tenggelam dalam berpikir. Setelah itu mereka mengeluarkan sang singa dari ruangan tersebut. Masing-masing kami mempunyai anggapan yang bermacam-macam tentang apa yang dipikirkan oleh Syekh. Ada yang mengatakan bahwa rasa takut telah membuat Syekh melupakan dirinya. Ada yang mengatakan bahwa ia sibuk memikirkan tentang kematian. Ada lagi yang mengatakan bahwa ketenangan berpikir membuat tubuh tidak bergerak dan tidak berguncang. Bahkan ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa itu adalah satu kondisi 'tenggelam jiwa' yang mampu menyihir sang singa. Banyak lagi yang kami duga dan kami reka-reka sampai akhirnya Ibnu Thulun sendiri yang bertanya: "Apa yang berkecamuk dalam pikiranmu dan yang engkau pikirkan tadi?"

Syekh menjawab: "Tidak ada apa-apa, aku hanya berpikir tentang ludah singa apakah suci atau najis?" 

Sungguh hebat. Dalam sebuah hadits disebutkan, sesungguhnya orang yang takut kepada Allah maka segala sesuatu akan takut kepadanya, tapi siapa yang tidak takut kepada Allah maka Allah akan jadikan ia takut pada apa saja. Siapa yang hatinya terpaut dengan Allah niscaya tak akan ada rasa resah ataupun takut pada apa saja dalam dirinya.

Apakah Kita Selalu Dipantau

Abu ‘Anbas menceritakan, “Suatu kali aku berdiri bersama Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah di Masjid Baitul Maqdis. Tiba-tiba, datanglah seorang pemuda. Dia memberi salam kepada Khalid dan Khalid menyambutnya dengan gembira. Pemuda itu bertanya kepada Khalid, ‘Apakah kita selalu dikontrol?’
Sebelum Khalid berkata apa-apa, aku langsung saja menjawab, ‘Ya, kamu selalu dipantau oleh Allah dengan pandangan yang tajam.’
Mata anak muda berkaca-kaca lalu dia menarik tangannya dari tangan Khalid dan segera berpaling. Aku bertanya kepada Khalid, ‘Siapa anak muda itu?’
‘Tidakkah Kamu mengenalnya? Dia adalah Umar bin Abdul Aziz, putra saudara Amirul Mukminin. Seandainya umurmu panjang dan umurnya panjang kamu akan melihatnya menjadi imamul huda (pemimpin yang memberi petunjuk).’” 

Wanita Lemah yang Rindu pada Rumah Tuhannya

Dzun Nun al-Mishri rahimahullah berkata, “Ummu Da`ab adalah salah seorang wanita salehah dan ahli ibadah ternama, bahkan sampai dia berusia sembilan puluh tahun. Setiap tahun dia melaksanakan ibadah haji dari Madinah ke Mekah dengan berjalan kaki. Suatu ketika matanya buta. Tatkala datang musim haji, banyak wanita yang menjenguknya dan merasa iba melihat kondisinya yang tidak lagi bisa melihat. Dia menangis dan mengangkat kepalanya ke langit dan berdoa, ‘Wahai Tuhanku, demi kemuliaan-Mu, meskipun aku kehilangan cahaya mataku di hadapan-Mu, tetapi jangan sampai aku kehilangan cahaya kerinduanku kepada-Mu.’
Kemudian dia melakukan ihram dan mengumandangkan, ‘Labbaik allahumma labbaik....’
Lalu  dia berjalan bersama teman-temannya, ternyata dia lebih dahulu dari mereka. Dzun Nun berkata, ‘Aku merasa heran melihat kondisinya. Tiba-tiba aku mendengar sebuah seruan, ‘Wahai Dzun Nun, apakah kamu merasa heran melihat seorang wanita lemah yang rindu pada rumah Tuhannya kemudian Tuhannya membawanya dengan kemahalembutan-Nya dan menguatkannya?’”

Keridhaan Ibrahim bin Adham terhadap Qadha Allah

Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Pada suatu hari saya merasakan sebuah ketenangan, sehingga hatiku merasa bahagia terhadap anugerah Allah terhadap saya. Maka saya pun berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memberikan sesuatu kepada salah seorang pencinta-Mu yang membuat hatinya tenang sebelum berjumpa dengan-Mu. Maka berikanlah hal itu juga kepada saya, karena perasaan gelisah telah menggangguku”.
    Ibrahim bin Adham berkata, “Lalu saya bermimpi melihat Allah ta’ala. Lalu Dia memberdirikan saya di hadapan-Nya dan bertanya kepada saya, “Wahai Ibrahim, apakah engkau tidak malu kepada-Ku? Kau meminta-Ku sesuatu yang membuat hatimu tenang sebelum bertemu dengan-Ku. Apakah hati orang yang rindu bisa terobati dengan selain yang dirindukannya? Apakah orang yang mencintai menjadi tenang dengan selain yang dirindukannya?”
Maka saya katakan kepada-Nya, “Wahai Tuhanku, saya tersesat dalam cinta-Mu, maka saya tidak tahu apa yang saya katakan”.

Kenapa Kamu Tidak Tertawa?

Abu Ubaid al-‘Asqalani menceritakan, “Aku tidak pernah melihat Abu Ubaidah as-Sahili (yang dia maksudkan Abu Ubaidah al-Khawwas) tertawa selama empat puluh tahun.
Ada yang bertanya kepadanya, “Kenapa kamu tidak pernah tertawa?”
Dia menjawab, “Bagaimana aku tertawa sementara masih ada orang muslim yang tertawan di tangan kaum musyrikin?”
Dia pernah mengirim surat kepada teman-temannya untuk menasihati mereka, isinya, “Sesungguhnya kalian berada di masa yang sudah lemah wara’nya dan jarang ditemui kekhusyuan, ilmu banyak berada pada orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan mereka ingin dikenal sebagai orang yang berilmu serta tidak ingin diketahui sebagai orang yang menyia-nyiakan amal. Mereka berkata dengan hawa nafsu untuk menghiasi bahaya yang mereka timbulkan. Dosa mereka adalah dosa yang sulit terampuni dan kelalaian mereka sulit dimaafkan. Mereka mencintai dunia, tetapi mereka tidak senang dengan posisi yang diperoleh ahli dunia. Mereka mengikuti ahli dunia dalam berbagai gaya hidup dan mereka berbasa-basi dengan perkataan yang manis.”

Orang Zuhud, Sabar, dan Berharap

Ibnu Samak—salah seorang ahli ibadah dan zuhud—datang menemui Muhammad bin Sulaiman, gubernur Bashrah. Sang gubernur berkata, “Berilah aku nasihat!”
Ibnu Samak berkata, “Nasihat yang bagaimana? Semoga Allah memperbaiki dirimu. Sesungguhnya manusia itu terbagi kepada tiga golongan, yaitu orang yang zuhud, sabar, dan berharap. Adapun orang zuhud, segala bentuk kegembiraan dan kesedihan telah keluar dari hatinya. Dia tak akan putus asa dengan masa lalu dan tidak akan gembira dengan pemberian manusia. Jiwanya sudah kaya. Sementara orang yang sabar, hatinya menginginkan hal itu (kesenangan dunia). Tetapi ketika disebutkan aib dan keburukan dunia, dia akan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Andaikan kau tahu apa isi hatinya, niscaya kau akan melihat sesuatu yang sangat agung sekali. Adapun orang yang berharap, dia tidak peduli dari mana datangnya dunia itu, apakah akan merusak agamanya atau harga dirinya. Sekarang dari kelompok manakah engkau?”
Sang gubernur berkata, “Dari kelompok orang-orang yang berharap!”
Ibnu Samak berkata, “Celakalah dirimu dan para pembantumu.” Kemudian  dia pergi meninggalkan sang gubernur.

TOBAT SEORANG KAKEK TUA DI TANGAN RASULULLAH SAW.

Tobat itu tidak mengenal umur dan tidak pula waktu tertentu. Allah swt. selalu menerima tobat para hamba-Nya dan memaafkan segala kesalahan mereka, kapan pun Anda mengatakan, “Wahai Tuhanku.” Allah pasti menjawab, “Aku datang memenuhi panggilanmu, wahai hamba-Ku.”
    Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Makhul berkata, “Datang seorang kakek tua yang sudah uzur. Kedua alis matanya telah turun ke kedua matanya. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, seorang pengkhianat dan jahat, tidak pernah membiarkan hajat dan tidak pula keinginan kecuali dia menyambarnya dengan kanannya. Jika kesalahannya dibagi-bagikan kepada penduduk bumi ini, maka itu bisa menghancurkan mereka. Masih adakah jalan baginya untuk bertobat?’
    Rasulullah saw. berkata, ‘Apakah kamu telah masuk Islam?’
    Dia menjawab, ‘Adapun aku, sesungguhnya aku telah bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.’
    Beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah Maha Pengampun pengkhianatanmu, kejahatanmu, dan akan mengganti kejelekanmu dengan kebaikan jika mau melakukan itu.’
    Orang itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, semua pengkhianatan dan kejahatanku?’
    Beliau kemudian berkata, ‘Semua pengkhianatan dan kejahatanmu.’
    Orang itu pun berpaling sambil dia bertakbir dan bertahlil dengan mengatakan Allahu Akbar dan Lailaha Illallah.”30