18. Semoga Allah Mengayakan Hatimu dan Membuatmu Benci kepada Dunia

Abul Qasim Sulaiman bin Muhammad adh-Dharrab berkata, “Beberapa temanku bercerita bahwa suatu hari seorang wanita lewat di depan Sari as-Saqthi. Wanita itu membawa sebuah bejana yang berisi sesuatu. Tiba-tiba, bejana itu jatuh dari tangannya dan langsung pecah. Sari segera pergi ke kedainya dan mengambil sesuatu, lalu menyerahkannya kepada wanita tersebut sebagai ganti dari bejana itu.
Peristiwa itu dilihat oleh Ma’ruf al-Karkhi dan dia begitu kagum dengan apa yang dilakukan oleh Sari. Ma’ruf berkata, “Semoga Allah membuatmu benci pada dunia.” Ma’ruf terus mendoakan Sari dan dia berkata lagi, “Semoga Allah mengayakan hatimu.” Akhirnya, hati Sari menjadi suka pada kehidupan zuhud saat itu juga. Berkat doa itu, Sari as-Saqthi menjadi salah seorang ahli zuhud, ahli ibadah, dan ulama di masanya.

Sudah Kami Lakukan dan Kami Masih Ada Tambahan

Ja’far bin Muhammad, sahabat Bisyr al-Hafi berkata, “Suatu kali Bisyr al-Hafi sakit lalu dia dijenguk oleh Aminah ar-Ramliyah dari kota Ramlah. Dalam waktu yang sama Ahmad bin Hanbal juga datang menjenguknya. Ahmad bertanya, ‘Siapa wanita ini?’
Bisyr menjawab, ‘Aminah ar-Ramliyah, dia mendengar berita aku sakit lalu dia datang dari Ramlah untuk menjengukku.”
Ahmad bin Hanbal berkata, “Mintalah  dia untuk mendoakan kita.”
Aminah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Bisyr bin Harits dan Ahmad bin Hanbal memohon kepada-Mu untuk melindungi mereka dari neraka, maka lindungilah mereka dari neraka.”
Ahmad bin Hanbal menceritakan, “Kemudian aku pulang. Pada malam harinya, ada sehelai kertas yang dilemparkan ke arahku dan di sana tertulis, ‘Sudah Kami lakukan dan Kami masih ada tambahan.’” 

BERTOBAT SETELAH 40 TAHUN BERBUAT MAKSIAT KEPADA ALLAH DAN ALLAH MENGAMPUNINYA

Diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa pada zaman Nabi Musa a.s., Bani Israil mengalami masa paceklik (kemarau panjang) maka keluarlah Nabi Musa beserta beberapa orang dari Bani Israil agar dia meminta hujan untuk mereka, dan berdoalah Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah, “Ya Allah, ya Tuhanku, curahkanlah hujan kepada kami, dan limpahkanlah rahmat-Mu pada kami, sayangilah kami bersama bayi-bayi yang masih menyusu serta binatang-binatang yang masih digembala dan orang-orang tua yang renta.”
    Allah swt. mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya di antara kalian ada seorang hamba yang secara terang-terangan berbuat maksiat terhadap-Ku selama 40 tahun.”
    Nabi Musa berkata di hadapan kaumnya, “Wahai hamba yang berbuat maksiat terhadap Allah secara terang-terangan selama 40 tahun, keluarlah kamu, karena oleh sebab kamu Allah mencegah turunnya hujan atas kami.”
    Maka, hamba yang berbuat maksiat itu menoleh ke kiri dan ke kanan, dia pun tidak melihat seseorang yang keluar. Dia tahu bahwa dirinyalah yang dimaksud. Dia bergumam dalam dirinya, “Apabila aku keluar di antara khalayak ini, aku akan dipermalukan di tengah-tengah Bani Israil, tapi apabila aku tetap duduk bersama mereka tidak akan mendapatkan hujan karena aku, lalu dia memasukkan kepalanya ke dalam bajunya sambil menyesali perbuatannya dan bertekad akan berbuat taat.” Dia berkata, “Tuhanku, aku telah berbuat maksiat terhadap-Mu selama 40 tahun, namun Engkau tetap memberikanku kesempatan. Kini aku telah datang dengan tekad untuk berbuat taat, maka terimalah aku.”
    Belum lagi selesai dia berbicara, tiba-tiba awan putih meninggi lalu turunlah hujan bagaikan mata air yang mengalir. Kemudian Musa berkata,  “Tuhanku dengan apa Engkau menyirami kami, sedangkan tidak ada seorang pun yang keluar di antara kami.”
    Allah menjawab, “Wahai Musa, sesungguhnya aku telah menyirami kalian dengan orang yang mencegah turunnya hujan.”
    Musa berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah hamba-Mu yang berbuat taat ini.”
    Allah berkata, “Wahai Musa, Aku tidak mau mempermalukannya ketika dia berbuat maksiat kepada-Ku, maka akankah aku mempermalukannya saat dia berbuat taat kepada-Ku!!”
    Kisah ini begitu masyhur di antara para ulama dan para da’i karena kisah ini sangat menarik orang-orang yang berbuat dosa untuk kembali ke jalan Allah meski bertahun-tahun dia telah berbuat maksiat. Sesungguhnya pintu tobat itu selalu terbuka siang dan malam. Dari situ kita dapat pelajaran bahwa seseorang itu diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dia lakukan, meski Allah memberi rezeki kepada siapa pun tanpa menghitungnya.
    Allah telah menutupi orang ini saat dia bertobat sebagaimana Allah menutupinya selama dia berbuat maksiat. Itulah rahmat Allah swt. yang mencakup seluruhnya sampai pada hamba-Nya yang berbuat maksiat.

Allah Menghadiahinya Syahid di Rumahnya


Seorang shahabiyah (sahabat wanita) dari kaum Anshar bernama Ummu Waraqah binti Naufal meminta kepada Rasulullah saw. untuk ikut bersama beliau dalam berbagai peperangan mudah-mudahan dia meraih syahadah. Dia berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, seandainya engkau izinkan aku untuk ikut berperang bersamamu, aku akan merawat tentara yang sakit dan mengobati yang terluka, semoga Allah mengaruniakan kepadaku kesyahidan.”
Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Ummu Waraqah, duduk saja di rumahmu, sesungguhnya Allah akan mengaruniakan kepadamu syahadah di rumahmu.”
Rasulullah saw. sering mengunjunginya. Dia kerap kali membaca Al-Qur’an, lalu dia memohon izin kepada Nabi untuk mengajak seorang muazin ke rumahnya dan Nabi mengizinkannya.
Di masa khalifah Umar ibnul Khaththab r.a. terbuktilah sabda Rasulullah saw. tentang Ummu Waraqah. Dua orang budak yang dijanjikan akan merdeka setelah kematiannya membunuh Ummu Waraqah di rumahnya dengan cara menggantungnya. Pada pagi harinya, Umar ibnul Khaththab tidak mendengar suara Ummu Waraqah membaca Al-Qur’an. Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak mendengar bacaan bibiku Ummu Waraqah semalam.”
Dia lalu masuk ke dalam rumah dan tidak menemukan apa-apa. Ternyata, dia digantung dengan seutas tali di samping rumah. Umar berkata, “Mahabenar Allah dan Rasul-Nya.”
Kemudian Umar naik mimbar dan menyampaikan berita itu, lalu dia berkata, “Tangkap kedua orang budak itu!”
Akhirnya, kedua orang budak itu berhasil ditangkap dan keduanya mengaku telah membunuh Ummu Waraqah. Umar memerintahkan untuk menyalib keduanya, sehingga kedua orang ini menjadi orang pertama yang disalib di Madinah. 
Kisah ini adalah salah satu bukti kenabian Nabi Muhammad saw. dan juga pelajaran bagaimana seorang khalifah dan pemimpin kaum Muslimin memperhatikan rakyatnya secara langsung, menanyakan kondisi mereka, dan mencintai mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw..

Apa yang di Sisi Allah Itu Lebih Baik Bagimu

Hisyam bin Hassan menceritakan, “Hazil putra Hafshah binti Sirin bekerja mengumpulkan kayu bakar di musim panas. Kayu itu kemudian dikulitinya lalu dia ambil ampasnya dan dia membelahnya. Hafshah berkata, ‘Aku sering merasa kedinginan ketika melakukan qiyamullail di musim dingin. Jika datang musim dingin, putraku Hazil datang membawa perapian dan diletakkannya di belakangku. Dia meletakkan api itu di belakangku agar aku bisa memanaskan badan. Dia tetap berada di dekatku sampai penghujung malam.’
Hafshah melanjutkan, ‘Ketika putraku wafat, Allah mengaruniakan kesabaran kepadaku untuk berpisah dengannya, tetapi aku tetap merasakan kepedihan dan kehilangan berpisah dengannya, sesuatu yang sulit untuk terobati.’
Suatu malam, ketika aku sedang shalat di tempat ibadahku dan aku membaca surah an-Nahl, aku sampai pada ayat berikut.
KHAT
‘...sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’ (an-Nahl: 95—96)

Aku terus ulang-ulang ayat tersebut, dan akhirnya Allah menghilangkan perasaan sedih yang menghimpit batinku.” 
Hafshah binti Sirin sering menyalakan pelita di malam hari untuk melaksanakan qiyamullail di mushalla pribadinya. Kerap kali terjadi lampu pelitanya padam, tetapi rumahnya tetap bercahaya sampai pagi. Apabila dia sudah masuk ke ruang tempat shalatnya, dia tidak akan keluar kecuali karena suatu kebutuhan yang sangat mendesak.

Jangan Makan kecuali yang Halal

Abu Abdirrahman as-Salmi menceritakan, “Mu’adzah al-‘Adawiyah rahimahallah adalah seorang ahli ibadah. Dia yang menyusui Ummul Aswad binti Zaid al-‘Adawiyah. Ummul Aswad menceritakan, ‘Mu’adzah al-‘Adawiyah berkata kepadaku, ‘Jangan rusak susuku dengan makanan haram karena aku sudah bersusah payah menyusuimu dan aku tidak memakan kecuali yang halal, maka berusahalah untuk tidak memakan, kecuali yang halal. Semoga kamu diberi taufik untuk menghambakan diri kepada Tuhanmu dan ridha dengan ketentuan-Nya.’’”
Ummul Aswad berkata, “Tidaklah aku memakan sesuatu yang syubhat melainkan aku akan kehilangan satu ibadah fardhu atau satu wirid zikir harian.”  Maksudnya, jika dia memakan makanan yang mengandung syubhat (yang berbau haram), maka dia akan kehilangan satu ibadah fardhu atau zikir kepada Allah. Hal itu telah dia jadikan sebagai wirid harian sebagai suatu ganjaran dari Allah.

DAHULU AKU DIJAUHI ALLAH DAN SEKARANG AKU TELAH DISELAMATKAN

Basyar ibnul Harits al-Hafi berkata, “Aku pernah mencegat ‘Ukbar al-Kurdi—salah seorang ahli ibadah—dan aku tanyakan kepadanya, ‘Bagaimana awal dahulu kamu kembali ke jalan Allah swt.?’”
    Dia menjawabnya, “Dahulu aku sering menyamun di beberapa jalan, di jalan itu ada tiga pohon kurma, satu di antaranya tidak berbuah. Ternyata ada seekor burung yang sering mengambil buah dari pohon yang berbuah dan membawanya ke pohon yang tidak berbuah. Aku pun terus memperhatikannya puluhan kali sampai akhirnya terbetik dalam hatiku, pergi dan perhatikan sana.” Aku melihatnya lebih dekat dan ternyata di ujung pohon kurma yang tidak berbuah itu ada seekor ular yang buta dan burung itu meletakkan kurma-kurma tadi ke dalam mulut sang ular.
    Aku langsung menangis seraya berkata, “Wahai Tuhanku, seekor ular ini telah Engkau perintahkan Nabi-Mu untuk membunuhnya dan telah Engkau jadikan dia buta tapi Engkau jadikan burung itu untuk mengurusnya. Sementara aku ini adalah hamba-Mu, aku telah menyatakan bahwa Engkau adalah Tuhan Yang Esa, Engkau jadikan aku sebagai seorang penyamun dan sering menimbulkan keresahan di jalan.”
    Tiba-tiba masuk dalam hatiku kata-kata, ”Wahai ‘Ukbar, pintu-Ku selalu terbuka.”
    Langsung saja aku mematahkan pedangku kemudian aku letakkan tanah di atas kepalaku. Aku berteriak, “Ampunan, ampunan.” Tiba-tiba ada suara yang menjawab dengan mengatakan, “Kami telah mengampuni kamu, kami telah mengampuni kamu.”
    Para sahabatku tercengang seraya mereka bertanya, “Ada apa denganmu? Kamu telah mengganggu kami.”
    Aku menjawab, “Dahulu aku dijauhi dan sekarang aku telah diselamatkan.”
    Mereka berkata, “Kami juga dahulu dijauhi dan sekarang kami telah diselamatkan.”
    Lantas kami membuang pakaian kami dan langsung kami semua berihram. Kami terus dalam keadaan seperti itu selama tiga hari. Kami berteriak dan menangis sampai kami linglung. Pada hari ketiga kami sampai ke sebuah kampung dan di sana ada seorang wanita yang kedua matanya buta sedang duduk di gerbang masuk kampung itu seraya dia berkata, “Adakah dari kalian yang bernama ‘Ukbar al-Kurdi?”
    Salah seorang dari kami menjawab, “Ya, apakah kamu ada perlu dengannya?”
    Wanita itu berkata, “Ya, selama tiga malam aku bermimpi bertemu Nabi saw. dalam tidurku dan beliau berkata, ‘Berikah ‘Ukbar al-Kurdi apa yang ditinggalkan oleh anakmu.’”
    Wanita itu memberi kami enam puluh bahan kain panjang yang sebagiannya kami jadikan kain dan kami teruskan perjalanan kami memasuki perkampungan sehingga akhirnya kami sampai ke Baitul Haram di Makkah al-Mukarramah.
Penulis berpendapat bahwa inilah dia tobat yang telah dilakukan oleh mereka yang bertobat kepada Allah, yang membuat hubungan antara mereka dengan Tuhan mereka semakin kuat. Pintu hubungan ini tidak pernah tertutup dan Allah ad-Dayyan tidak akan mati. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepada yang telah diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.