Nasehat Seorang Ayah Kepada Putrinya

At-Tanukhi rahimahullah menceritakan dari al-Hasan bin Abil Hasan, ia berkata: "Sesungguhnya Abdullah bin Ja'far ash-Shadiq rahimahullah –salah seorang Imam ahli bait- ketika ingin menyerahkan putrinya pada suaminya berpesan padanya: "Apabila engkau menghadapi permasalahan yang sangat berat atau suatu kematian sekalipun maka sambutlah semuanya dengan mengucapkan:

"Tiada Tuhan selain Allah yang Maha Penyantun dan Maha Mulia. Tiada Tuhan selain Allah Tuhan 'arsy yang agung dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam."

Al-Hasan bin Abil Hasan berkata: "Suatu ketika al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi memanggilku. Ia telah merencanakan sesuatu yang tidak baik untukku. Ketika dihadapkan padanya aku baca doa tersebut di atas. Hajjaj berkata: "Aku memanggilmu dengan niat untuk membunuhmu, akan tetapi sekarang aku tak melihat seorang yang lebih mulia darimu. Oleh karena itu mintalah apa saja yang engkau butuhkan." 

Begitulah seharusnya nasehat ayah kepada putrinya yang baru menikah. Sang ayah telah mengajarkan sendi tauhid yang paling penting yaitu berserah kepada Allah dalam waktu susah dan dalam menjalani berbagai permasalahan dunia. Tentu hal ini bukan sesuatu yang aneh dari ahli bait nabawi semoga Allah meridhai mereka. Ini sekaligus juga merupakan pelajaran berharga bagi kita. Semoga Allah memberi kita manfaat dari ilmu dan ketakwaan mereka.

Seorang Lelaki dari Tha`if dan Keridhaannya kepada Qadha Allah

Ibnu Abid Dunya menyebutkan dari Yunus bin Muhammad al-Makki rahimahullah, dia berkata, “Ada seorang lelaki dari Tha`if yang bercocok tanam. Ketika tanamannya tersebut tumbuh besar, hama menyerangnya dan kemudian terbakar. Maka kami mendatanginya untuk menghiburnya. Kemudian dia menangis dan berkata, “Demi Allah, saya tidak menangis karena rusaknya tanaman saya itu. Akan tetapi saya teringat firman Allah ta’ala,

“Seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya”. ( Ali Imran: 117 ). .
Lelaki itu ridha kepada qadha Allah. Dia takut jika yang terjadi padanya karena dia termasuk orang-orang yang zalim. Sehingga dia pun menangis karena takut kepada Allah, bukan karena sedih kehilangan tanamannya sebagaimana anggapan sebagian orang.

Arab Badui Dan Doa Imam Ali Agar Ia Dilapangkan

Qadhi at-Tanukhi menceritakan dari Ali bin Hammam: "Ada seorang Arab badui mengeluhkan kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib r.a tentang kondisinya yang sangat sulit dan keluarganya yang banyak.

Imam Ali berkata padanya: "Engkau mesti banyak beristighfar karena Allah SWT berfirman: "Mohon ampunlah pada tuhanmu sesungguhnya Dia Maha Pengampun."
Laki-laki itu kembali mengeluh dan berkata: "Wahai Amirul Mukminin, aku sudah banyak beristighfar tapi saya tetap tidak merasakan kelapangan dari kondisiku sekarang."   
Imam Ali berkata: "Boleh jadi istighfarmu belum sempurna."
Arab badui itu berkata: "Kalau begitu ajarkanlah aku."
Imam Ali berkata: "Ikhlaskan niatmu, taati Tuhanmu dan ucapkan: "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon ampun pada-Mu dari setiap dosa yang menguasai badanku yang telah Engkau beri kesehatan, atau yang disentuh oleh tanganku yang telah Engkau beri nikmat berlimpah, atau yang dikerjakan oleh kedua tanganku dengan keluasan rezeki-Mu, atau yang aku menyerah saja padahal aku takut dari hal itu, atau ketika aku terlalu yakin dengan santun-Mu, atau aku merasa tenang karena mulianya kemaafan-Mu. Ya Allah, aku mohon ampun dari segala dosa yang membuatku mengkhianati amanah yang diembankan padaku, atau aku rendahkan diriku, atau aku dahulukan kehinaanku, atau aku utamakan syahwatku, atau yang aku usahakan untuk orang lain, atau aku tipu orang untuk mengikutiku, atau aku congkak karena hebatnya siasatku, atau yang aku limpahkan pada-Mu wahai Tuhanku. Oleh karena itu jangan siksa aku atas perbuatanku karena benci pada maksiatku, karena Engkau Maha Tahu bahwa hal itu dengan pilihanku sendiri, aku yang menggunakan kehendak dan pilihanku, lalu Engkau santun kepadaku sehingga Engkau tidak memaksaku masuk ke dalamnya dan tidak pula Engkau bebankan padaku secara paksa, dan Engkau juga tidak menzalimiku sama sekali wahai Yang Maha Pengasih. Wahai temanku dalam kesempitan, wahai penghiburku dalam kesepian, wahai penjagaku dalam kesendirian, wahai kekasihku dalam segala nikmat yang dikaruniakan, wahai yang menghilangkan kesusahanku, wahai yang mendengar doaku, wahai yang mengasihi kesedihanku, wahai yang memaafkan kekhilafanku, wahai tuhanku yang sesungguhnya, wahai sandaranku yang paling kokoh, wahai harapanku dalam kesulitan, wahai tuhanku yang maha kasih, wahai Tuhan al-baitul 'atiq (baitullah), keluarkan aku dari lingkaran kesempitan menuju kelapangan jalan, lapangkanlah hamba yang bertaqarrub pada-Mu ini, leraikanlah dariku setiap kesulitan dan kesempitan, tanggungkan untukku semua yang aku sanggupi dan apa yang tidak aku sanggupi, keluarkanlah aku dari segala keresahan dan kesedihan, wahai Yang meleraikan keresahan, wahai yang menghilangkan kegundahan, wahai yang menurunkan kesejukan, wahai yang memperkenankan doa hamba yang kesulitan, wahai Yang maha pengasih dan penyayang di dunia dan akhirat, limpahkanlah shalawat dan salam kepada hamba-Mu terbaik Muhammad saw. beserta keluarganya yang mulia dan suci. Lapangkanlah kesempitan yang aku rasakan di dadaku, limpahkanlah kesabaran padaku. Aku tak punya daya dan kekuatanku sangat lemah, wahai yang menghilangkan segala bahaya dan bencana, wahai yang Maha Tahu segala rahasia, wahai yang Maha Penyayang, aku serahkan segala urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah maha melihat hamba-hamba-Nya, dan tidaklah aku memperoleh taufiq kecuali dengan kehendak Allah, kepada-Nya aku bertawakkal dan Dialah tuhan 'arsy yang agung."

Arab badui itu berkata: "Aku lalu beristighfar dengan doa itu berkali-kali, maka Allah SWT menghilangkan keresahan dan kesempitan dari diriku, melapangkan rezekiku dan menghapuskan cobaan yang menimpaku." 

Imam Ali karramallahu wajhah telah menunjuki jalan yang benar pada laki-laki tersebut untuk melapangkan kesempitan dan kegundahannya serta meraih kelapangan rezeki dengan menghadapkan diri secara total dalam berdoa kepada Allah dan mengikhlaskan niat sebelum berdoa dan banyak beristighfar.

DEMI ALLAH, AKU TIDAK AKAN BERMAKSIAT LAGI KEPADA-NYA

Abu Utsman at-Taymi berkata, “Ada seorang laki-laki bertemu di jalan dengan seorang biarawati yang sangat cantik sekali. Laki-laki itu pun tergoda dengannya lalu dia berusaha mencumbunya. Namun, biarawati itu menolak seraya berkata, ‘Janganlah kamu terperdaya dengan apa yang kamu lihat yang tidak ada sesuatu di belakangnya.’
    Laki-laki itu menolak dan tetap saja mencumbui wanita itu, sementara di sampingnya ada tempat bara api. Wanita itu meletakkan tangannya di dalamnya sampai akhirnya terbakar, laki-laki itu berkata kepadanya setelah puas melampiaskan nafsunya, ‘Apa yang mendorong kamu melakukan apa telah kamu lakukan itu?’
    Wanita itu berkata, ‘Sesungguhnya, ketika kamu memerkosa diriku, aku takut untuk turut serta bersama kamu dalam kelezatan, padahal aku ikut serta bersamamu dalam kemaksiatan, aku pun melakukan apa telah kamu lihat.”
    Laki-laki itu berkata kepadanya, “Demi Allah, tidak akan lagi mau melakukan maksiat kepada Allah selamanya. Dia kemudian bertobat dari apa yang telah dia kerjakan.”52

TOBAT AYYUB AL-HAMMAL AZ-ZAHID

Ibnul Jauzi dalam Shifatush Shafwah menyebutkan tentang Ayyub al-Hammal. Dia dijuluki Abu Sulaiman dan termasuk ahli ibadah yang giat dan termasuk orang yang memiliki banyak karamah. Dia adalah salah seorang kerabat dekat Basyar al-Hafi dan Sara as-Saqathi dan teman Sahal bin Abdullah.
Muhammad bin Khalid berkata, “Aku pernah mendengar Ayyub al-Hammal berkata, ‘Aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berjalan dalam keadaan lengah dan tidak berada di waktu sore kecuali aku selalu berzikir kepada Allah.’”
    Ketika aku sedang dalam satu perjalanan, aku menjadi linglung dan aku tahu dari mana itu datangnya.
    Aku pun menangis, meminta tolong, serta bertobat. Hingga kelinglungan tadi hilang dan aku kembali ke tempat aku tadi lengah tidak berzikir kepada Allah. Aku kembali berzikir kepada Allah dan dapat berjalan dengan selamat.
    Ini adalah keadaan hamba-hamba Allah yang senantiasa berzikir kepada-Nya di setiap saat dan keadaan, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berjalan atau pada saat di atas kendaraan.
    Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang selalu berzikir kepada-Mu. Sesungguhnya kebaikan orang-orang yang saleh menjadi dosa bagi orang-orang yang dekat dengan Allah.

Rabi'ah al-Adawiyah dan Keridhaannya Terhadap Ketentuan Allah

Rabi'ah Adawiyah adalah seorang wanita ahli ibadah yang zuhud. Dia berasal dari kota Basrah. Namanya adalah Rabi'ah binti Isma'il. Abdullah bin Isa berkata, "Suatu hari saya mengujungi Rabi'ah al-Adawiyah. Tatkala saya melihatnya, nampak wajahnya bercahaya. Dia sering kali menangis. Ketika di dekatnya ada seorang yang membaca ayat Al-Qur'an yang berisi tentang siksa api neraka, dia pun menangis tersedu-sedu, hingga jatuh tersimpuh di atas tanah. Kemudian di lain waktu, saya berkunjung lagi padanya. Waktu itu dia sedang duduk di atas sebuah potongan tikar yang terbuat dari bulu. Nampak di dekatnya ada seorang laki-laki yang sedang berbicara padanya tentang sesuatu. Tidak lama kemudian, saya mendengar air matanya berjatuhan ke tikar tersebut seperti cucuran keringat.  Kemudian dia tergoncang dan menangis sejadi-jadinya, maka dari itu, kami berdiri lalu pergi meninggalkannya.
Dan suatu ketika, seorang laki-laki mendatanginya dengan membawa empatpuluh dinar untuk dihadiahkan kepadanya. Lelaki itu berkata kepada Rabi'ah, "Gunakanlah ini untuk mencukupi keperluanmu”. Mendengar itu Rabi'ah pun menangis, lalu mendongakkan kepalanya ke langit dan berkata, "Dia (Allah) tahu bahwasannya saya malu untuk meminta kepada-Nya harta dunia, padahal Dialah yang maha memiliki semua itu, maka bagaimana saya ingin mengambil harta ini dari seseorang yang sebenarnya tidak memilikinya”.
Ja'far bin Sulaiman berkata, "Sufyan ats-Tsauri menggandeng tangan saya, lalu berkata, "Bawalah saya ke tempat perjamuan, yang dapat membuat hati saya damai". Kemudian kami mengunjungi Rabi'ah. Ketika sampai di sana, Sufyan ats-Tsauri mengangkat tangannya dan berdo'a, "Ya Allah kepada-Mu saya memohon keselamatan". Ketika mendengar itu Rabi'ah al-Adawiyah pun menangis, maka Sufyan bertanya padanya, "Apa yang membuatmu menangis?" "Andalah yang membuat saya menangis", jawab Rabi'ah. "Bagaimana saya dapat membuat anda menangis?" Tanya Sufyan tidak mengerti. Kemudian Rabi'ah menjelaskannya, "Anda tahu bahwa keselamatan dari tipu daya dunia hanya dapat diraih dengan meninggalkan gemerlapnya dunia itu sendiri. Maka bagaimana engkau memohon keselamatan sedangkan anda sendiri masih bergelimang dunia". Maka seketika itu Sufyan langsung berkata, "Alangkah menyedihkan". Lalu Rabi'ah berkata padanya, "Janganlah berbohong, tapi katakanlah, "Alangkah sedikit kesedihan ini". Karena jika engkau benar-benar merasa bersedih, maka kehidupan tidak akan membuatmu senang”.
Menjelang wafatnya, Rabi'ah al-Adawiyah berkata kepada seorang wanita yang selama ini membantunya, "Wahai saudari yang selama ini telah membantu saya, janganlah kamu beritahu siapapun tentang kematian saya ini. Dan kafanilah saya dengan jubah saya ini". Jubahnya itu terbuat dari bulu atau wol. Dia biasa memakainya untuk selimut di malam hari ketika tidur. Rabi'ah al-Adawiyah meninggal pada tahun 180 hijriyah, dalam usianya yang mencapai delapan puluh tahun.

Allah Mahatahu Apa yang Terbaik bagi Hamba-Nya

Dalam kitab Shifatush Shafwah, Ibnu Jauzi menceritakan dari Khalid bin al-Fazar. Khalid berkata, “Haywah bin Syuraih adalah seorang yang banyak berdoa dan menangis. Kondisi kehidupannya sulit sekali. Suatu kali aku datang mengunjunginya. Saat itu dia seorang diri dan sedang berdoa. Aku berkata kepadanya, ‘Semoga Allah merahmatimu, andaikan kamu berdoa kepada Allah untuk melapangkan kondisimu....’
Kemudian  dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia tidak melihat siapa-siapa. Lalu dia mengambil segenggam tanah dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah tanah ini emas.”
Tiba-tiba tanah itu berubah menjadi emas murni di dalam genggamannya. Aku tak pernah melihat emas lebih baik dari itu sebelumnya. Lalu dia lemparkan emas itu kepadaku dan berkata, “Tidak ada kebaikan di dunia kecuali kebaikan untuk akhirat.” Setelah itu, dia menoleh kepadaku dan berkata, “Dia yang lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.”
Aku bertanya padanya, “Apa yang harus aku lakukan terhadap emas ini?” (Maksudnya tanah yang telah berubah menjadi emas itu).
“Belanjakanlah.”
Aku lalu mengambil emas itu dan pulang dengan penuh kagum setelah menyaksikan hal yang ajaib ini dari ahli ibadah tersebut.