Apakah Engkau Ridha kepada Allah?

`Ibnul Qayyim al-Juziyyah menyebutkan bahwa seseorang berkata kepada Abdul Wahid bin Zaid, “Sesungguhnya di sini terdapat seorang lelaki yang menyembah Allah selama lima puluh tahun”. Lalu Abdul Wahid mendatanginya dan berkata kepadanya, “Beritahulah saya tentang dirimu, apakah engkau merasa puas dengan anugerah Allah?”
Maksudnya apakah engkau merasa qana’ah kepada Allah setelah seluruh ibadahmu itu.
Dia menjawab, “Tidak”.
Abdul Wahid bertanya lagi, “Apakah engkau ridha kepada Allah?”
Dia menjawab, “Tidak”.
Abdul Wahid bertanya lagi, “Jadi oleh karena itu engkau puasa dan shalat?”
Dia menjawab, “Ya”.
Abdul Wahid berkata, “Seandainya saya tidak malu kepadamu, pasti saya memberitahumu bahwa ibadahmu selama lima puluh tahun itu tidaklah ikhlas untuk Allah”.

Berjumpa dengan Ahmad bin Hanbal dalam Mimpi

Abu Bakar al-Marwazi berkata, “Aku bermimpi jumpa dengan Ahmad bin Hanbal. Seolah-olah dia berada di taman indah mengenakan jubah hijau. Di kepalanya ada mahkota dari cahaya. Tiba-tiba dia berjalan dengan cara yang tidak aku kenal darinya sebelumnya. Aku bertanya kepadanya, “Wahai Ahmad, jalan cara apa ini yang belum pernah aku lihat sebelumnya darimu?”
Dia menjawab, “Ini jalan para pelayan di Darus Salam (surga).”
Aku bertanya lagi, “Apa mahkota yang Anda pakai di kepala itu?”
“Sesungguhnya Tuhanku menghisabku dengan hisab yang ringan, lalu mendekatkanku kepada-Nya dan membolehkanku untuk menatap-Nya. Kemudian memakaikanku mahkota ini dan berkata, ‘Wahai Ahmad, mahkota kemegahan ini Kupakaikan kepadamu sebagaimana kau telah mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah kalam-Ku dan bukan makhluk.’”
Abu Yusuf bin Lihyan berkata, “Ketika Ahmad bin Hanbal wafat, dia bermimpi bertemu dengannya dan seolah-olah di setiap kuburan ada pelita. Dia bertanya, “Apa ini?” Dijawab, “Tidakkah kau tahu bahwa Allah telah menyinari setiap kubur berkat masuknya laki-laki ini (maksudnya Ahmad bin Hanbal, pent.) di antara mereka, bahkan ada di antara mereka yang sedang disiksa kemudian mendapat rahmat?”
Abu Ali bin Bana` berkata, “Ketika Ummul Qathi’i wafat, dia dikuburkan di samping Ahmad bin Hanbal. Pada malam harinya, dia bermimpi bertemu dengannya.  Dia bertanya, ‘Apa yang Allah lakukan kepadamu?’
Dia menjawab, ‘Wahai anakku, semoga Allah meridhaimu, kau telah menguburkanku di samping laki-laki yang turun ke kuburnya setiap malam (atau setiap malam Jumat) rahmat yang merata pada seluruh ahli kubur di sekitarnya dan aku termasuk di antara mereka.’”
Semoga Allah merahmati Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah Imam Ahmad bin Hanbal dan memasukkannya bersama kita ke dalam luas surga-Nya.

Apa yang Allah Lakukan kepadamu?

Abdurrahman bin Mahdi berkata, “Aku bermimpi bertemu dengan Sufyan ats-Tsauri. Aku bertanya kepadanya, ‘Apa yang Allah lakukan kepadamu?’
Dia berkata, ‘Tidak lama setelah aku diletakkan di liang lahat, aku segera dihadapkan ke hadapan Allah swt.. Dia menghisabku dengan ringan, kemudian aku dipersilakan ke surga. Ketika aku tengah berkeliling di sekitar pohon-pohon dan sungai-sungainya, dan aku tidak mendengar gerakan apa pun, tiba-tiba ada sebuah suara memanggil, ‘Sufyan bin Sa’id. Kami tahu bahwa kau pernah mengutamakan Allah daripada hawa nafsumu suatu hari.’
Aku menjawab, ‘Benar, demi Allah.’ Lalu aku ditarik oleh para bidadari surga dari segala arah.”

TOBAT SEORANG WANITA DI TANGAN AR-RABI

Suatu kaum menyuruh seorang wanita yang berparas cantik dan pintar untuk menggoda Rabi’ bin Khaitsam—salah seorang ahli ibadah dan zuhud di Kufah—dan mereka menawarkan jika wanita berhasil akan mendapatkan seribu dirham.
    Wanita itu pun memakai pakaian yang terbaik yang dia miliki, dan memakai parfum yang paling wangi yang dia miliki. Setelah itu dia memamerkan dirinya di depan Rabi’ ketika dia keluar dari masjid. Dia pun melihat wanita itu dan terkejut dengan perkara wanita itu. Sambil berjalan wanita itu menemuinya dan Rabi’ berkata kepada wanita itu, “Bagaimana kira-kira jika kamu terkena penyakit panas dan dapat mengubah kulit tubuh dan kecantikanmu? Atau bagaimana jika saat ini malaikat maut datang mencabut ajalmu? Atau bagaimana nanti jika Malaikat Munkar a.s. dan Nakir a.s. datang bertanya kepadamu?
    Langsung saja wanita itu berteriak dengan teriakan yang membuatnya pingsan. Ketika dia sadar, dia langsung bertobat dan tekun beribadah. Dan ketika mati, wanita itu terlihat seperti batang pohon yang terbakar.

Sebuah Kubur di Sebuah Bukit

Abu Utbah al-Khawwas berkata, “Aku diceritakan oleh seorang lelaki zuhud yang biasa mengembara di perbukitan. Dia berkata, ‘Aku tidak punya keinginan dan kenikmatan apa-apa di dunia selain berjumpa dengan para ahli zuhud dan orang-orang saleh. Suatu ketika, aku berada di tepi sebuah pantai yang tidak berpenghuni dan tidak ada pula kapal yang berlayar di sana. Tiba-tiba aku melihat seorang laki-laki keluar dari arah bukit itu. Ketika melihatku, dia segera berlari dan aku pun mengejarnya. Akhirnya, dia terjatuh dan aku dapat menangkapnya.’
Aku bertanya, ‘Engkau lari dari siapa? Semoga Allah merahmatimu.’
Dia tidak menjawab. Aku berkata lagi, ‘Aku hanya ingin kebaikan, maka ajarkanlah aku.’
Dia berkata, ‘Engkau harus mengedepankan kebenaran di mana pun kamu berada. Demi Allah, aku sendiri tidak memuji kondisi diriku untuk bisa mengajakmu beramal sebagaimana mestinya.’ Kemudian dia berteriak dan akhirnya  dia wafat.
Aku diam terpaku tak tahu apa yang harus aku kerjakan. Malam pun datang menjelang. Aku melangkah sedikit dan tidur di samping jasadnya. Dalam tidur aku bermimpi melihat empat orang turun dari langit menunggang kuda. Mereka menggali kuburan, mengafaninya, lalu menshalatkannya, kemudian menguburnya. Aku segera terbangun dalam keadaan takut dan setelah itu aku tak bisa lagi memejamkan mata.
Ketika sudah pagi aku bermaksud untuk melihat kondisi jasad ahli ibadah itu, tetapi aku tidak lagi menemukan jasadnya. Aku terus mencari jejak jasadnya sampai akhirnya aku menemukan sebuah kuburan baru. Aku yakin itulah kuburan yang aku lihat dalam mimpiku semalam.’”

Sifat-sifat Pecinta Allah

Ahmad ibnul-Hauri berkata, “Aku pernah mendengar Asma` ar-Ramliah—seorang ahli ibadah—berkata, ‘Aku bertanya kepada Baydha` binti Mufadhdhal, ‘Wahai saudariku, apakah ada tanda-tanda untuk mengenal seorang pecinta Allah?'”
Dia menjawab, “Wahai saudariku, untuk seorang tuan tidak akan tersembunyi, seandainya seorang pecinta berjuang untuk menyembunyikan dari tuannya tentu tidak bisa.”
Aku berkata, “Katakanlah kepadaku!”
Dia berkata, “Seandainya kamu melihat seorang yang mencintai Allah niscaya kamu akan melihat sebuah keajaiban, kondisinya tidak tenang di bumi, selalu melayang penuh rindu dan kenikmatannya adalah dalam kesendirian serta tidak pernah merasakan ketenangan jasmani. Makanannya ketika lapar adalah cinta dan minumnya ketika haus adalah cinta. Dia tak pernah bosan mesti selalu berkhidmat kepada Allah swt..”

TOBAT ABU BAKAR ASY-SYIBLI

    Ibnul Jauzi berkata, “Abu Bakar asy-Syibli adalah seorang penjaga pintu Khalifah al-Muwaffiq, dan ayahnya dalah Hajib al-Hijab. Pada suatu hari dia menghadiri majelis Khair an-Nassaj dan di situ dia bertobat.”
    Dia pernah berkata, “Ayahku meninggalkan untukku enam puluh ribu dinar selain hasil bumi. Kemudian aku menginfakkannya semua dan aku tinggal bersama para orang-orang fuqara.”
    Asy-Syibli pernah ditanya, “Apa yang paling mengagumkan?”
    Dia menjawab, “Hati yang mengenal Tuhannya, kemudian dia mengingkari dan bermaksiat terhadap-Nya.”
    Dia juga pernah berkata, “Orang yang senang dengan zikir tidak seperti orang yang senang dengan Yang disebut. Barangsiapa yang mengenal Allah swt., dia tidak akan merasa duka dan bersedih hati.”
    Suatu hari dia pernah ditanya,  “Apa itu zuhud?”
    Dia menjawab,  “Melupakan zuhud.”
    Abi Hatim at-Thabari berkata, “Aku mendengar Abu Bakar asy-Syibli berkata, ‘Jika kamu ingin melihat dunia dengan segala kebobrokannya, hendaklah kamu melihat ke tempat sampah. Jika kamu ingin melihat apa dirimu, hendaklah kamu melihat apa yang keluar darimu pada saat kamu berada di WC. Jika keadaannya seperti itu, tidak pantas baginya untuk sombong dan takabur terhadap orang yang sepertinya!