Apakah Kita Selalu Dipantau

Abu ‘Anbas menceritakan, “Suatu kali aku berdiri bersama Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah di Masjid Baitul Maqdis. Tiba-tiba, datanglah seorang pemuda. Dia memberi salam kepada Khalid dan Khalid menyambutnya dengan gembira. Pemuda itu bertanya kepada Khalid, ‘Apakah kita selalu dikontrol?’
Sebelum Khalid berkata apa-apa, aku langsung saja menjawab, ‘Ya, kamu selalu dipantau oleh Allah dengan pandangan yang tajam.’
Mata anak muda berkaca-kaca lalu dia menarik tangannya dari tangan Khalid dan segera berpaling. Aku bertanya kepada Khalid, ‘Siapa anak muda itu?’
‘Tidakkah Kamu mengenalnya? Dia adalah Umar bin Abdul Aziz, putra saudara Amirul Mukminin. Seandainya umurmu panjang dan umurnya panjang kamu akan melihatnya menjadi imamul huda (pemimpin yang memberi petunjuk).’” 

Wanita Lemah yang Rindu pada Rumah Tuhannya

Dzun Nun al-Mishri rahimahullah berkata, “Ummu Da`ab adalah salah seorang wanita salehah dan ahli ibadah ternama, bahkan sampai dia berusia sembilan puluh tahun. Setiap tahun dia melaksanakan ibadah haji dari Madinah ke Mekah dengan berjalan kaki. Suatu ketika matanya buta. Tatkala datang musim haji, banyak wanita yang menjenguknya dan merasa iba melihat kondisinya yang tidak lagi bisa melihat. Dia menangis dan mengangkat kepalanya ke langit dan berdoa, ‘Wahai Tuhanku, demi kemuliaan-Mu, meskipun aku kehilangan cahaya mataku di hadapan-Mu, tetapi jangan sampai aku kehilangan cahaya kerinduanku kepada-Mu.’
Kemudian dia melakukan ihram dan mengumandangkan, ‘Labbaik allahumma labbaik....’
Lalu  dia berjalan bersama teman-temannya, ternyata dia lebih dahulu dari mereka. Dzun Nun berkata, ‘Aku merasa heran melihat kondisinya. Tiba-tiba aku mendengar sebuah seruan, ‘Wahai Dzun Nun, apakah kamu merasa heran melihat seorang wanita lemah yang rindu pada rumah Tuhannya kemudian Tuhannya membawanya dengan kemahalembutan-Nya dan menguatkannya?’”

Keridhaan Ibrahim bin Adham terhadap Qadha Allah

Ibrahim bin Adham rahimahullah berkata, “Pada suatu hari saya merasakan sebuah ketenangan, sehingga hatiku merasa bahagia terhadap anugerah Allah terhadap saya. Maka saya pun berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memberikan sesuatu kepada salah seorang pencinta-Mu yang membuat hatinya tenang sebelum berjumpa dengan-Mu. Maka berikanlah hal itu juga kepada saya, karena perasaan gelisah telah menggangguku”.
    Ibrahim bin Adham berkata, “Lalu saya bermimpi melihat Allah ta’ala. Lalu Dia memberdirikan saya di hadapan-Nya dan bertanya kepada saya, “Wahai Ibrahim, apakah engkau tidak malu kepada-Ku? Kau meminta-Ku sesuatu yang membuat hatimu tenang sebelum bertemu dengan-Ku. Apakah hati orang yang rindu bisa terobati dengan selain yang dirindukannya? Apakah orang yang mencintai menjadi tenang dengan selain yang dirindukannya?”
Maka saya katakan kepada-Nya, “Wahai Tuhanku, saya tersesat dalam cinta-Mu, maka saya tidak tahu apa yang saya katakan”.

Kenapa Kamu Tidak Tertawa?

Abu Ubaid al-‘Asqalani menceritakan, “Aku tidak pernah melihat Abu Ubaidah as-Sahili (yang dia maksudkan Abu Ubaidah al-Khawwas) tertawa selama empat puluh tahun.
Ada yang bertanya kepadanya, “Kenapa kamu tidak pernah tertawa?”
Dia menjawab, “Bagaimana aku tertawa sementara masih ada orang muslim yang tertawan di tangan kaum musyrikin?”
Dia pernah mengirim surat kepada teman-temannya untuk menasihati mereka, isinya, “Sesungguhnya kalian berada di masa yang sudah lemah wara’nya dan jarang ditemui kekhusyuan, ilmu banyak berada pada orang-orang yang suka berbuat kerusakan dan mereka ingin dikenal sebagai orang yang berilmu serta tidak ingin diketahui sebagai orang yang menyia-nyiakan amal. Mereka berkata dengan hawa nafsu untuk menghiasi bahaya yang mereka timbulkan. Dosa mereka adalah dosa yang sulit terampuni dan kelalaian mereka sulit dimaafkan. Mereka mencintai dunia, tetapi mereka tidak senang dengan posisi yang diperoleh ahli dunia. Mereka mengikuti ahli dunia dalam berbagai gaya hidup dan mereka berbasa-basi dengan perkataan yang manis.”

Orang Zuhud, Sabar, dan Berharap

Ibnu Samak—salah seorang ahli ibadah dan zuhud—datang menemui Muhammad bin Sulaiman, gubernur Bashrah. Sang gubernur berkata, “Berilah aku nasihat!”
Ibnu Samak berkata, “Nasihat yang bagaimana? Semoga Allah memperbaiki dirimu. Sesungguhnya manusia itu terbagi kepada tiga golongan, yaitu orang yang zuhud, sabar, dan berharap. Adapun orang zuhud, segala bentuk kegembiraan dan kesedihan telah keluar dari hatinya. Dia tak akan putus asa dengan masa lalu dan tidak akan gembira dengan pemberian manusia. Jiwanya sudah kaya. Sementara orang yang sabar, hatinya menginginkan hal itu (kesenangan dunia). Tetapi ketika disebutkan aib dan keburukan dunia, dia akan merasa cukup dengan apa yang dimilikinya. Andaikan kau tahu apa isi hatinya, niscaya kau akan melihat sesuatu yang sangat agung sekali. Adapun orang yang berharap, dia tidak peduli dari mana datangnya dunia itu, apakah akan merusak agamanya atau harga dirinya. Sekarang dari kelompok manakah engkau?”
Sang gubernur berkata, “Dari kelompok orang-orang yang berharap!”
Ibnu Samak berkata, “Celakalah dirimu dan para pembantumu.” Kemudian  dia pergi meninggalkan sang gubernur.

TOBAT SEORANG KAKEK TUA DI TANGAN RASULULLAH SAW.

Tobat itu tidak mengenal umur dan tidak pula waktu tertentu. Allah swt. selalu menerima tobat para hamba-Nya dan memaafkan segala kesalahan mereka, kapan pun Anda mengatakan, “Wahai Tuhanku.” Allah pasti menjawab, “Aku datang memenuhi panggilanmu, wahai hamba-Ku.”
    Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Makhul berkata, “Datang seorang kakek tua yang sudah uzur. Kedua alis matanya telah turun ke kedua matanya. Dia berkata, ‘Wahai Rasulullah, seorang pengkhianat dan jahat, tidak pernah membiarkan hajat dan tidak pula keinginan kecuali dia menyambarnya dengan kanannya. Jika kesalahannya dibagi-bagikan kepada penduduk bumi ini, maka itu bisa menghancurkan mereka. Masih adakah jalan baginya untuk bertobat?’
    Rasulullah saw. berkata, ‘Apakah kamu telah masuk Islam?’
    Dia menjawab, ‘Adapun aku, sesungguhnya aku telah bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah Yang Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.’
    Beliau berkata, ‘Sesungguhnya Allah Maha Pengampun pengkhianatanmu, kejahatanmu, dan akan mengganti kejelekanmu dengan kebaikan jika mau melakukan itu.’
    Orang itu bertanya, ‘Wahai Rasulullah, semua pengkhianatan dan kejahatanku?’
    Beliau kemudian berkata, ‘Semua pengkhianatan dan kejahatanmu.’
    Orang itu pun berpaling sambil dia bertakbir dan bertahlil dengan mengatakan Allahu Akbar dan Lailaha Illallah.”30

Keridhaan Utsman bin Affan Ketika Menghadapi Ujian

Utsman bin Affan, Khalifah ketiga Khulafa`ur Rasyidin, dalam akhir masa kekhilafahannya dihadapkan dengan fitnah dan ujian yang besar, yang pada akhirnya menyebabkannya terbunuh.
Utsman sebenarnya telah mengetahui tentang ujian yang akan dihadapinya itu. Dia mengetahuinya dari Rasulullah saw. ketika beliau masih hidup. Rasulullah saw. telah mengabarkan kepadanya bahwa dia akan masuk surga karena kesabarannya mengahadapi ujian tersebut dan keridhaannya terhadap qadha dan qadar Allah. Rasulullah saw. bersabda padanya, "Wahai Utsman, sesungguhnya kelak Allah akan memakaikan sebuah baju untukmu. Lalu apabila orang-orang menginginkan engkau melepaskannya, maka jangan kamu turuti mereka".  Baju yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah kekhilafahan. Orang-orang yang menentangnya, menginginkan agar dia melepaskan baju kekhilafahannya tersebut. Akan tetapi dia menolaknya  karena mentaati perintah Rasulullah saw. tersebut. Di sisi lain, dia juga tidak mau memerangi orang-orang yang menentangnya itu, meskipun sebenarnya dia mampu untuk memerangi mereka, sebagaimana layaknya para penguasa, jika ada salah seorang rakyatnya yang membelot, maka akan diperanginya seberat apapun hal itu.
Utsman melarang membunuh siapapun dari kaum muslimin hanya karena menentangnya. Dan para sahabat yang lain, sebenarnya juga mampu untuk mengusir para penyebar fitnah tersebut, jika hal itu memang diperintahkan kepada mereka. Akan tetapi Utsman lebih memilih bersabar dalam mengahadapi semuaitu. Dan dia senantiasa ridha dengan qadha dan qadar Allah.
Abu Musa al-Asy'ari berkata, "Pada saat saya bersama Rasulullah saw. di sebuah kebun di Madinah, datang seseorang minta dibukakan pintu pagar kebun untuk masuk. Lalu Rasulullah saw. berkata, "Bukakanlah pintunya, dan beritahu dia bahwa kelak dia akan masuk surga". Maka saya buka pintu kebun tersebut, dan ternyata Abu Bakar yang berada di balik pintu. Lalu saya sampaikan kabar gembira dari Rasulullah saw. tersebut kepadanya. Maka dia langsung bersukur dan memuji Allah. Kemudian setelah itu, datang lagi seseorang yang mengetuk pintu kebun. Maka Rasulullah saw. memerintahkan untuk membukakannya dengan bersabda, "Bukakanlah pintu untuknya, dan sampaikan padanya bahwa kelak dia akan masuk surga”. Lalu saya buka pintu kebun tersebut, dan ternyata Umarlah yang datang. Lalu saya sampaikan padanya kabar gembira dari Rasulullah saw. tersebut, maka dia langsung mengucapkan tahmid. Kemudian datang lagi seseorang mengetuk pintu kebun minta dibukakan. Maka Rasulullah saw. sekali lagi bersabda, "Bukakanlah pintu untuknya. Dan beritahu padanya, dia kelak akan masuk surga, meskipun harus dengan melewati ujian berat”. Dan ketika pintu saya buka, ternyata Utsman yang datang, dan saya sampaikan padanya apa yang dikatakan Rasulullah saw. tersebut. Maka seketika itu pula dia langsung bertahmid, lalu berkata, "Dialah Allah, tempat meminta pertolongan dan kepada-Nyalah segala urusan diserahkan".
Dalam riwayat lain dikatakan, “Maka Utsman memasuki kebun seraya bertahmid dan berkata, "Ya Allah berilah saya kesabaran".
Demikianlah keridhaan Utsman terhadap ketetapan Allah. Dan ketika musibah serta cobaan datang menghampirinya, dia senantiasa bersabar. Ketika para sahabat menginginkan agar dia memerangi para pembangkang yang menzaliminya itu, dia menolaknya dan berkata pada mereka, "Jangan diperangi, sesungguhnya Rasulullah saw. telah berpesan pada saya agar saya bersabar menghadapi mereka. Oleh karena itu saya akan bersabar terhadap apa yang mereka lakukan terhadap saya”.