Wasiat Ubadah bin Shamit

Ubadah bin Muhammad bin Ubadah berkata, “Di saat Ubadah bin Shamit menghadapi sakaratul maut, dia berkata, ‘Bawalah aku ke ruang depan.’ Kemudian dia berkata, ‘Kumpulkan semua para pelayan, tetangga, dan semua orang yang pernah berkunjung kepadaku.’ Setelah mereka semua dikumpulkan, dia berkata, ‘Sesungguhnya firasatku mengatakan bahwa ini adalah hari terakhir bagiku di dunia ini dan nanti adalah malam pertama bagiku di akhirat. Aku tak tahu barangkali aku pernah bersalah kepada kalian, baik dengan perbuatan maupun perkataan. Demi Zat yang diri Ubadah ada di tangan-Nya, aku meminta kalian untuk meng-qishash-ku dan aku berharap sekali kepada setiap kalian yang pernah aku zalimi untuk meng-qishash-ku sebelum ruhku dicabut.’”
Mereka berkata, “Bahkan kamu adalah seorang ayah dan pendidik yang baik.” (Perawi kisah mengatakan, ‘Ubadah tak pernah sekalipun mengatakan hal yang buruk kepada pembantunya’).
Ubadah berkata, “Apakah kalian bersedia memaafkan semuanya?”
Mereka menjawab, “Ya.”
Ubadah berkata, “Ya Allah, saksikanlah. Sekarang peliharalah wasiatku, ‘Aku tidak ingin ada di antara kalian yang menangis. Jika ruhku sudah dicabut berwudhulah kalian dan sempurnakanlah wudhu kalian, kemudian pergilah ke masjid lalu shalatlah, kemudian mintakanlah ampunan untuk Ubadah dan untuk dirinya sendiri, karena Allah swt. berfirman,
KHAT
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat….” (al-Baqarah: 45). Kemudian bawalah jasadku segera ke kuburan dan jangan iringi aku dengan api.” 

TOBAT PENUNGGANG KUDA MUSYRIK DI TANGAN IBNU MUBARAK

Ibnu Mubarak rahimahullah dalam kitabnya al-Jihad dari Hasan bin Rabi’ berkata, “Ada seorang penunggang kuda bertopeng dari kaum Muslimin yang keluar. Dia membunuh seorang penunggang kuda dari kelompok musuh yang telah membunuh orang Islam. Maka, kaum Muslimin meneriakkan takbir karena keberaniaannya.Dia langsung menyusup ke kerumuman orang banyak dan tidak ada satu pun orang yang mengenalinya.”
    Hasan bin Rabi’ berkata, “Akan tetapi aku mengikutinya sampai akhirnya aku memintanya dengan bersumpah pada Allah agar dia membuka topengnya. Aku pun mengenalinya dan ternyata dia adalah Abdullah Ibnu Mubarak.”
    Aku bertanya kepadanya, “Apakah kamu telah menutup-nutupi dirimu, padahal Allah swt. telah memberikan kemenangan besar lewat “tangan dan keberanianmu?”
    Dia menjawab,  “Apa yang telah aku lakukan untuk-Nya. Dia Mahatahu atas segala apa pun.”
    Kemudian ada seorang penunggang kuda dari barisan musuh yang keluar. Ibnu Mubarak segera memanggilnya. Lantas datang waktu shalat, Ibnu Mubarak meminta si penunggang kuda yang musyrik untuk menjauh sedikit karena dia akan melaksanakan shalat dua rakaat. Ketika dia telah menyelesaikan shalatnya, orang musyrik itu berkata kepadanya, “Dan aku pun harus shalat!!”
    Si penunggang kuda yang musyrik itupun shalat dengan menghadap ke matahari. Ketika dia sujud, Ibnu Mubarak berkata, “Terbetik dalam benakku untuk mengkhianatinya, namun tiba-tiba aku mendengar suara yang aku sendiri tidak dari mana asalnya, ‘…dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.’ (al-Israa`:  34)
    Aku pun menjauhi pengkhianatan itu. Ketika si penunggang kuda musyrik itu bertanya kepadaku, “Kenapa kamu bergerak?”
    Aku menjawab, “Aku ingin mengkhianatimu, akan tetapi aku diperintahkan untuk menjauhinya.”
    Dia berkata, “Yang memerintahkanmu untuk menjauhi khianat telah memerintahkanku untuk beriman.”
    Setelah itu si penunggang kuda itu masuk ke dalam barisan orang-orang Islam, si penunggang kuda yang tadinya musyrik kini pindah dari barisan musyrik ke barisan iman dan pasukan pembela kebenaran. Dan begitulah keimanan memperlakukan para pemiliknya dan kita telah menyaksikan bahwa memenuhi janji harus tetap dilakukan baik kepada orang Islam atau kepada non-Islam, dan kita tidak seperti orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Tidak ada jalan atas kami bagi orang-orang selain Yahudi.”
    Ummi adalah orang-orang selain Yahudi yang boleh untuk dikhianati dan boleh memperlakukan apa saja terhadap mereka walaupun hal tersebut dilarang dalam agama Yahudi, mereka bisa melakukan itu. Allah swt. telah mencela perbuatan mereka seperti itu dalam kitab-Nya Al-Qur’anul Karim dan telah memerintahkan kita untuk selalu menepati janji.

Aku Kadokan Hati dan Hawa Nafsuku kepada Allah

Malik bin Dinar berkata, “Ketika aku sedang thawaf di Baitullah, tiba-tiba aku melihat seorang wanita di Hijir Ismail sedang bermunajat kepada Tuhan seraya berkata, ‘Aku datang kepada-Mu dari daerah yang jauh mengharap kebaikan-Mu, maka karuniakanlah kepadaku kebaikan-Mu yang membuatku tidak lagi membutuhkan kebaikan dari selain-Mu, wahai Zat yang mengaruniakan kebaikan.’”
Malik melanjutkan, “Aku ceritakan hal itu kepada Ayub Sakhtayani, lalu kami mencari rumahnya dan menemuinya. Ayub berkata kepadanya, ‘Berikanlah kepada kami sebuah nasihat, semoga Allah merahmatimu.’
Dia berkata, ‘Nasihat apa yang akan aku berikan? Aku hanya bisa mengadukan hati dan hawa nafsuku kepada Allah. Keduanya telah menyusahkan dan melalaikanku dari ibadah kepada Tuhanku. Pergilah kalian, karena aku akan segera menutup lembaranku.’
Ayub berkata, ‘Sebelumnya aku tak pernah tertarik kepada seorang wanita.’ Lalu aku berkata kepadanya, ‘Seandainya kamu menikah dengan seseorang yang akan membantumu dalam ibadah dan ketaatan.’
Dia berkata, ‘Kalau orang itu adalah Malik bin Dinar atau Ayub Sakhtayani aku tak mau.’
Kemudian dia kembali shalat. Kami menanyakan kepada orang-orang tentang dirinya. Mereka berkata, ‘Dia adalah Malikah bintil Munkadir.’ Semoga Allah merahmatinya.” 

Salah Satu Akhlak Mulia

Seorang lelaki bersama istrinya datang menemui Musa bin Ishaq, seorang qadhi (hakim) di daerah Ahwaz. Sang istri mengatakan bahwa dia memiliki hak atas suaminya berupa uang sejumlah lima ratus dinar sebagai mahar yang belum diserahkan oleh suaminya kepadanya. Sang suami mengelak dan mengatakan bahwa dia sudah menyerahkan mahar tersebut.
Sang qadhi berkata kepada suami, “Datangkan para saksimu untuk membantumu dalam memberikan kesaksian.”
Sang suami mendatangkan para saksi. Qadhi memanggil salah seorang saksi itu dan berkata kepadanya, “Lihat pada istrinya baik-baik dan yakinkan bahwa kau benar-benar mengenalnya, agar kau dapat memberikan kesaksian dengan benar.”
Saksi tersebut bangkit untuk melihat sang istri. Qadhi berkata kepada sang istri, “Berdirilah dan buka wajahmu agar saksi itu mengenalmu.”
Sang suami berkata penuh kaget, “Apa yang kalian inginkan darinya?”
Qadhi berkata, “Saksi itu mesti melihat wajah istrimu dalam kondisi wajah yang terbuka dan tampak jelas agar dia benar-benar mengenalnya, karena bagaimana mungkin dia memberikan kesaksian terhadap orang yang tidak dia kenal?”
Sang suami tidak terima istrinya membuka wajahnya kepada laki-laki asing. Lalu dia berkata kepada qadhi, “Aku bersaksi bahwa istriku mempunyai hak mahar yang dia sebutkan terhadapku dan dia tidak perlu membuka wajahnya di depan laki-laki asing.”
Ketika mendengar hal itu sang istri langsung memuji suaminya yang tidak rela bila wajahnya dilihat laki-laki lain. Akhirnya, sang istri berkata kepada qadhi, “Aku persaksikan kepadamu bahwa aku telah merelakan mahar tersebut dan aku telah memaafkan suamiku serta aku bebaskan dia dari segala tuntutan di dunia dan akhirat.”
Qadhi berkata kepada para pembantunya, “Tulislah kasus ini dalam dokumen tentang akhlak yang mulia.” 
Kisah ini kita hadiahkan kepada para suami yang menyuruh istrinya untuk tabarruj (membuka aurat) dan menanggalkan hijab, juga mereka yang membiarkan istrinya dalam kondisi yang menyedihkan, tanpa rasa peduli sedikit pun. Alangkah banyaknya wanita yang seperti itu sekarang.
Dalam kisah tersebut juga terkandung pelajaran tentang pentingnya menyerahkan mahar kepada istri dan tidak mengambilnya kembali seteleh diberikan kepada mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh para suami di masa kini dengan menguasai kembali apa yang telah diserahkannya kepada istrinya seperti perhiasan-perhiasan dari emas dan sebagainya dengan anggapan bahwa itu sudah menjadi harta miliknya. Padahal, itu adalah mahar istri yang dengannya Allah telah menjadikannya halal untuk suami. Kalau dia ambil kembali berarti dia telah mengambil harta yang haram, kecuali jika sang istri merelakannya, sebagaimana firman Allah, “Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi)....” ( an-Nisaa`: 4)

Ini juga risalah kepada para suami yang ingin menguasai harta milik istrinya seperti perhiasan dan sebagainya, kalau tidak dia akan menceraikan istrinya. Atau, para suami yang ingin memiliki harta istrinya dengan cara-cara tipuan dan makar dan alangkah banyaknya suami seperti itu di zaman sekarang. Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
Ada seorang suami ditanya tentang faktor kenapa dia ingin menguasai perhiasan-perhiasan emas milik istrinya—setelah sang istri ditipu. Dia menjawab, “Itu adalah hartaku yang mesti kembali kepadaku.”

KEMBALI KE JALAN ALLAH DAN ALLAH MEMASUKKANNYA KE SURGA

Buku-buku sirah dan sejarah selalu menceritakan bahwa ada seorang penggembala mempunyai wajah hitam. Dia menggembala kambing-kambing milik seorang Yahudi di Benteng Khaibar. Penggembala ini datang kepada Rasulullah saw. dan beliau sedang di desa Benteng Khaibar Yahudi. Dia berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, sampaikan kepadaku tentang Islam.”
    Beliau menyampaikan Islam kepadanya hingga kemudian orang itu masuk Islam. Kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sekarang ini sedang bekerja kepada pemilik kambing-kambing ini. Ini menjadi amanah bagiku. Apa yang bisa aku perbuat dengan kambing-kambing ini?
    Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Pukullah muka kambing-kambing itu, dia akan kembali ke pemiliknya.”
    Kemudian orang itu pun mengambil segenggam kerikil dan melemparnya ke muka kambing-kambing itu sambil berkata, “Kembalilah ke pemilikmu.”
    Kambing-kambing itu pun keluar semua seakan ada yang menggiringnya sampai akhirnya masuk ke Benteng.
    Si penggembala tadi datang dan maju untuk berperang bersama tentara umat Islam dan dia terkena lemparan sebuah batu hingga meninggal. Padahal, dia belum pernah melaksanakan shalat satu rakaat pun.
    Jenazahnya dibawa kepada Rasulullah saw. dan diletakkan di samping beliau. Beliau saw. menutupinya dengan baju jubah yang beliau kenakan. Beliau memperhatikannya dan bersama beliau beberapa orang dari para sahabat, kemudian beliau berpaling darinya.
    Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berpaling darinya?”
    Beliau menjawab, “Sesungguhnya sekarang ini dia sedang bersama istrinya dari para bidadari yang membersihkan debu-debu dari wajahnya.”
    Sesungguhnya ini adalah kejujuran bersama Allah yang telah menjadikan penggembala yang bermuka hitam ini menerima derajat dan kedudukan seperti ini.

Wasiat Rasulullah saw. kepada Mu'adz Bin Jabal

Diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal, dia berkata, "Ketika anak laki-laki saya meninggal dunia, Rasulullah saw. mengirim surat kepada saya yang isinya, "Dari Muhammad Rasulullah untuk Mu'adz bin Jabal. Semoga Allah memberimu keselamatan. Saya memuji dan bersyukur pada Allah, Tuhan Yang tiada Tuhan selain Dia. Dan semoga Allah melipatgandakan pahalamu, memberimu kesabaran serta menjadikan saya dan kamu sebagai hamba-Nya yang bersyukur. Sesungguhnya jiwa, harta, keluarga dan anak-anak kita adalah pemberian dan titipan dari Allah yang dititipkan kepada kita. Kita diberi kesempatan untuk menikmati dan memanfaatkannya sampai batas waktu yang telah ditentukan. Allah telah menetapkan semua itu bagi kita hingga jangka waktu yang Dia ketahui. Kemudian Allah mewajibkan kepada kita untuk selalu bersyukur pada-Nya atas segala pemberian-Nya dan senantiasa bersabar terhadap segala ujian-Nya. Dan anakmu adalah salah satu dari pemberian Allah dan titipan dari-Nya kepadamu. Dengan keberadaan anakmu tersebut, Allah telah membuat hidupmu jadi bahagia. Kemudian Allah mengambilnya darimu dengan imbalan pahala yang besar jika kamu bersabar dan ikhlas. Maka wahai Mu'adz, jangan sampai setelah engkau kehilangan anakmu itu, pahala pun tidak kamu dapatkan, sehingga pada akhirnya kamu akan menyesal. Seandainya engkau mau melihat lebih teliti imbalan pahala atas musibah yang menimpamu, maka engkau akan mengetahui betapa musibah yang menimpamu itu jauh lebih remeh dibanding besarnya pahala yang engkau terima. Dan ketahuilah bahwasannya kegundahan itu tidak akan dapat mengembalikan orang yang sudah mati, tidak pula dapat menahan kesedihan. Maka kesedihannmu itu akan hilang dengan menyadari bahwa kematian juga akan terjadi padamu. Semoga Allah memberimu keselamatan".
As-Samarqandi berkata, "Maksud dari sabda Rasulullah saw. "Maka akan hilanglah kesedihanmu itu dengan menyadari bahwa kematian itu juga akan terjadi padamu", adalah bahwa dengan memikirkan kematian yang pasti akan engkau alami atau dengan membayangkan seakan-akan kematian itu telah datang padamu, akan menghapuskan perasaan sedihmu. Karena jika seseorang mau memikirkan hakikat keberadaan dirinya dan menyadari bahwa sebenarnya dia akan mati dalam waktu dekat, maka dia tidak akan gelisah dalam menghadapi kematian. Sebab kegelisahan tidak akan membuat orang mati hidup kembali. Malah hal itu akan menyebabkan hilangnya pahala yang semestinya bisa dia dapatkan seandainya bersabar. Hilangnya pahala tersebut dikarenakan orang yang gelisah dalam menghadapi musibah, pada hakikatnya dia tidak ridha dengan apa yang telah menjadi ketetapan Allah.

Ya Allah, Saya Memuji-Mu dengan Pujian yang Mencukupi Nikmat-Mu

Ibnu Rajab al-Hambali meyebutkan bahwa al-Auza’i rahimahullah berkata, “Seorang bijak berkata kepada saya, “Saya melihat seorang lelaki yang tidak mempunyai kedua tangan dan kaki sedang berkata, “Ya Allah, saya memuji-Mu dengan pujian yang sebanding dengan pujian seluruh makhluk-Mu atas anugerah-Mu kepada mereka, karena Engkau telah memberi saya keutamaan yang lebih besar dari banyak makhluk-Mu”.
Dengan heran saya bertanya kepadanya, “Atas nikmat apa engkau memuji Allah?”
Dia menjawab, “Apakah engkau tidak melihat apa yang telah Allah lakukan terhadap saya?”
“Ya, saya melihatnya”, jawabku.
Lalu dia berkata, “Demi Allah, seandainya Allah menurunkan api dari langit yang membakar saya, memerintahkan gunung-gunung untuk menghancurkan saya, memerintahkan lautan untuk menenggelamkan saya dan memerintahkan bumi untuk menelan saya, maka cintaku dan kesyukuranku kepada-Nya akan terus bertambah”.

HIDUP DALAM KEMAKSIATAN DAN MATI DALAM TOBAT

Sulaiman bin Ayyub berkata, “Aku mendengar Ibad bin Ibad al-Mahlabi berkata bahwa ada seorang raja dari raja Bashrah tekun beribadah kemudian dia condong kepada kehidupan dunia dan kekuasaan. Dia pun membangun sebuah rumah yang tinggi dan megah, kemudian dia memerintahkan untuk menggelar hidangan dengan menyediakan makanan lantas dia mengundang orang-orang.”
    Mereka yang diundang memasukinya makan dan minum di situ. Mereka memperhatikan bangunan tersebut karena merasa terkagum-kagum dan berdoa untuk hal itu lantas mereka pun pergi.
    Sulaiman berkata, “Sang raja pun tinggal beberapa hari dan dia tinggalkan urusan rakyatnya, kemudian dia duduk bersama beberapa orang pembantu khususnya seraya berkata, ‘Kalian telah melihat bagaimana kegembiraanku dengan rumahku ini, sampai aku pun berkata kepada diriku sendiri bahwa aku akan membangun untuk setiap anakku rumah seperti ini. Hendaklah kalian tinggal di sini beberapa hari karena aku ingin mendengar pendapat kalian dan aku akan bermusyawarah dengan kalian tentang apa yang aku inginkan membangun rumah untuk anakku.’”
    Mereka tinggal bersama sang raja selama beberapa hari. Mereka di situ bermain dan berhura-hura. Sang raja pun bermusyawarah dengan mereka bagaimana membangun rumah untuk anaknya. Hingga, pada suatu malam ketika mereka sedang asyik bermain, tiba-tiba mereka mendengar suara orang yang memanggil dari pojok rumah seraya melantunkan bait syair,
    Wahai orang yang sedang membangun rumah
dan itu memang harapan bagi setiap manusia.
    Janganlah kalian terlalu berangan-angan karena sesungguhnya
kematian itu adalah sesuatu yang pasti datangnya.
    Kepada setiap makhluk apakah mereka
dalam keadaan gembira dan senang.
    Kematian pasti datang dan akan memusnahkan k
einginan dan angan-angan.
    Janganlah kalian membangun rumah yang tidak kalian tempati.
    Kembalilah melakukan ibadah dan Allah pasti mengampuni segala dosa.
   
Sang raja pun kaget dengan hal itu. Begitu pula para pembantu dekatnya. Dia segera menceritakan kepada mereka apa yang mereka dengar seraya bertanya kepada pembantu dekatnya, “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?”
    Mereka menjawab, “Ya, kami mendengar.”
    Sang raja memerintahkan untuk membuang semua minuman dan memerintahkan untuk mengeluarkan dan membuang alat-alat mainan seraya berkata, “Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku bersaksi kepada-Mu dan juga kepada mereka yang hadir dari para hamba-Mu bahwa aku bertobat kepada-Mu dari semua dosa-dosaku. Aku merasa menyesal apa yang telah aku lakukan yang telah melampaui selama ini. Hanya kepada-Mu aku memohon agar Engkau membiasakan aku untuk menjadikan nikmat-Mu kepadaku dalam taat kepada-Mu. Jika Engkau mencabut nyawaku agar Engkau mengampuni segala dosa-dosaku sebagai kemuliaan dari-Mu terhadap aku.”
    Dia terus mengulang-ulangnya seraya berkata, “Mati dan demi Allah, sampai akhirnya ruhnya keluar dari rasa cinta, perasaan dosa, dan harapan mendapat ampunan dari Tuhannya.”

ANTARA SEORANG ARAB BADUI DAN AL-ASHMA`I

Al-Ashma’i berkata, “Dahulu aku pernah tinggal di kampung untuk mengajrkan Al-Qur’an. Hingga suatu ketika pernah ada seorang Arab badui yang di tangannya ada sebilah pedang untuk menyamun. Ketika mendekat kepadaku untuk mengambil bajuku dia berkata kepadaku,  ‘Wahai tamuku, apa yang membuat engkau datang ke kampung ini?’
    Aku menjawab, ‘Mengajarkan Al-Qur’an.’
    Dia bertanya, ‘Apa itu Al-Qur’an?’
    Aku menjawab, ‘Kalam (firman) Allah.’
    Dia berkata, ‘Apakah Allah punya firman?’
    Aku menjawab, ‘Ya.’
    Dia berkata, ‘Coba bacakan satu bait firman-Nya itu.’
    Aku membaca, ‘Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (adz-Dzaariyat:  22)
    Orang Arab badui itu langsung saja membuang pedangnya lantas berkata, ‘Astaghfirullah, ternyata rezekiku ada di langit, kenapa aku mencarinya di bumi?’
    Kemudian setelah satu tahun, aku berjumpa lagi dengan orang itu pada saat melaksanakan thawaf di Ka’bah, dia berkata, ‘Bukankah aku ini temanmu yang dahulu?’
    Aku menjawab, ‘Benar.’
    Dia berkata, ‘Tolong bacakan lagi firman Allah yang lainnya.’
    Aku membaca, ‘Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan.’ (adz-Dzaariyaat:  23)
    Dia pun berhenti dan menangis yang membuatnya berkata, ‘Siapa yang melindunginya dari sumpah itu?’
    Dia terus saja mengulang-ulang kata-katanya itu sampai akhirnya dia jatuh dan meninggal dunia.”83
    Orang Arab badui ini telah memahami ayat tersebut dengan hatinya sebelum dia memahaminya dengan akalnya, sehingga dia sangat meresapinya dan mengamalkannya sampai dia bertemu dengan rahmat Tuhannya. Mahabenar Allah yang telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, “Dan bertakwalah kalian kepada Allah, Allah akan mengajarkan kalian ilmu.” Dan takwa kepada Allah akan mewariskan ilmu Ladunni.

Aneh Seorang yang Lemah Melawan kepada yang Kuat

Ibnu Qudamah menceritakan dari Sari as-Saqthi, dia berkata, “Suatu hari aku berceramah di masjid kota. Kemudian masuklah seorang pemuda yang gagah dengan pakaian yang indah dan mahal bersama pembantu-pembantunya. Dia mendengar aku mengatakan bahwa alangkah aneh seorang yang lemah melawan kepada yang kuat.”
Tiba-tiba wajahnya pucat, lalu  dia pergi. Keesokan harinya aku kembali duduk di majelisku. Tiba-tiba pemuda itu datang lagi. Dia mengucapkan salam lalu shalat dua rakaat. Kemudian dia berkata, “Wahai Sari, aku dengar kemarin kau berkata, ‘Alangkah aneh seseorang yang lemah melawan yang kuat,’ apa maknanya itu?”
Aku berkata, “Tidak ada yang lebih kuat daripada Allah, dan tidak ada yang lebih lemah daripada hamba, sementara itu dia masih bermaksiat kepada-Nya.”
Pemuda itu lalu bangkit dan keluar. Esoknya, dia kembali datang sendirian memakai dua pakaian yang serba putih tanpa ditemani siapa-siapa.  Dia bertanya, “Wahai Sari, bagaimana jalan menuju Allah?”
Aku berkata, “Kalau yang kau maksudkan ibadah, maka kau mesti berpuasa pada siang dan qiyam pada malam hari. Tetapi, kalau kau menginginkan Allah, maka tinggalkan segala hal selain Allah, niscaya kau akan sampai kepada-Nya. Tidak ada jalan lain selain masjid dan kuburan.”
Pemuda itu bangkit lalu berkata, “Demi Allah, aku akan menempuh jalan yang paling sulit!” Lalu dia pergi.
Beberapa hari setelah itu, para pembantu pemuda itu datang menemuiku. Mereka bertanya, “Apa yang dilakukan oleh Ahmad bin Yazid al-Katib?”
Aku menjawab, “Aku tidak mengenalnya. Tetapi, kemarin ada seorang pemuda yang cirinya begini dan begitu datang kepadaku, dan terjadilah dialog begini dan begitu antara aku dengannya, tetapi aku tidak tahu siapa dia sesungguhnya.”
Mereka berkata, “Kami ingin kau bersumpah, jika kau mendapat informasi tentangnya, tolong beri tahu kami!” Mereka lalu menunujukkan kepadaku rumah pemuda itu.
Sudah setahun aku tak pernah mendengar tentangnya. Suatu kali, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Setelah aku izinkan masuk, ternyata dia adalah pemuda tersebut yang datang sambil membawa sekantong biji-bijian. Dia lalu mencium kedua mataku dan berkata, “Wahai Sariy, semoga Allah membebaskanmu dari neraka, sebagaimana kamu telah membebaskanku dari penjara dunia.”
Aku lalu memberi isyarat kepada temanku untuk memberi tahu keluarga pemuda itu. Setelah itu, istrinya datang dengan membawa anaknya serta pembantu-pembantunya. Wanita itu masuk, lalu menyerahkan anak itu ke pangkuan suaminya. Anak itu mengenakan berbagai macam perhiasan. Wanita itu berkata, “Tuan, kau telah membuatku janda, padahal kau masih hidup, dan kau telah membuat anak ini yatim, padahal kau masih hidup.”
Sari berkata, “Pemuda itu menoleh kepadaku dan berkata, ‘Wahai Sari, ini bukan sebuah kesetiaan.’ Kemudian dia menatap wajah istrinya dan berkata, ‘Demi Allah, kau adalah buah hatiku dan kekasih hatiku, dan sesungguhnya anakku ini adalah harta yang paling berharga bagiku, tetapi orang ini (maksudnya Sari) telah memberitahuku bahwa siapa yang menginginkan Allah mesti memutuskan segala sesuatu selain-Nya.”
Kemudian dia mencabut segala perhiasan dan pakaian mewah anak itu, dan dia berkata, “Letakkan semua ini di jantung-jantung yang lapar dan tubuh-tubuh yang telanjang.”
Lalu dia memotong kantong tersebut, kemudian dia membalutkan ke tubuh anaknya. Istrinya berkata, “Aku tidak mau melihat anakku dengan kondisi seperti ini.”
Wanita tersebut mengambil kembali semua perhiasan itu dari suaminya. Ketika dia sibuk dengan itu, suaminya bangkit dan berkata, “Kalian telah menyia-nyiakan malamku, Allah yang akan memutuskan antaraku dengan kalian.”
Lalu  dia keluar. Rumah bagaikan pecah dengan suara tangis. Istrinya berkata, “Kalau kau kembali mendengar beritanya, tolonglah beri tahu aku!”
“Baik,” jawabku.
Beberapa hari setelah itu, datanglah seorang wanita tua dan berkata, “Wahai Sari, di Syuniziyah (daerah kuburan di kota Baghdad) ada seorang pemuda yang meminta kepadamu untuk datang menemuinya.”
Aku pun kesana. Ternyata tubuhnya telah berada di dalam lubang tanah, dan di bawah kepalanya ada batu bata. Aku mengucapkan salam kepadanya. Dia lalu membuka kedua matanya lalu berkata, “Wahai Sari, menurutmu apakah dosa-dosa itu akan diampuni?”
“Ya,” jawabku.
“Untuk orang sepertiku?”
“Ya.”
“Aku sudah tenggelam.”
“Dialah penyelamat hamba-hamba yang sudah tenggelam.”
“Aku banyak berbuat kezaliman.”
“Dalam hadits disebutkan, ‘Sesungguhnya nanti di hari Kiamat akan didatangkan seorang yang bertobat bersama musuh-musuhnya (orang-orang yang pernah dizaliminya, pent.).’ Lalu dikatakan kepada mereka, ‘Bebaskan dia, sesungguhnya Allah yang akan menggantinya untuk kalian.’”
Pemuda itu berkata, “Wahai Sari, aku memiliki beberapa dirham dari hasil mengumpulkan biji-bijian. Kalau aku mati, belikanlah segala yang diperlukan untuk mengafaniku, dan jangan beri tahu keluargaku agar mereka tidak mengubah kafanku dengan sesuatu yang haram!”
Sari berkata, “Lalu aku duduk di dekatnya sebentar, kemudian dia membuka kedua matanya, lalu dia mengatakan untuk keadaan seperti inilah hendaknya manusia beramal.”
Kemudian  dia wafat. Aku ambil dirham itu, dan aku belikan segala yang diperlukan untuk mengafaninya, lalu aku kembali kepadanya. Tiba-tiba aku lihat orang-orang berlari tergesa-gesa. Aku bertanya kepada mereka, “Ada apa?”
Mereka menjawab, “Seorang wali di antara wali-wali Allah telah wafat, kami ingin menshalatkannya.” Aku segera meraih jasadnya, aku memandikannya dan kami memakamkannya.
Beberapa lama setelah itu, datanglah keluarganya bertanya tentang kabarnya. Sari memberitahukan kepada mereka tentang kematiannya. Istrinya datang sambil menangis dan Sari menyampaikan kepadanya kondisi terakhir suaminya. Dia memintaku untuk menunjukkan kuburannya. Aku berkata, “Aku khawatir kalian akan mengubah kuburannya.”
“Tidak, demi Allah,” jawab istrinya.
Lalu aku perlihatkan kuburan suaminya.  Dia tidak bisa menahan tangis. Dia minta didatangkan dua orang saksi, lalu aku datangkan. Kemudian dia merdekakan budaknya, mewakafkan segala hartanya berupa bangunan, dan menyedekahkan semua uangnya.  Dia terus berada di kubur suaminya sampai dia wafat. Semoga Allah merahmati keduanya.

Kelapangan Setelah Kesempitan Bagi Seorang Wanita Lumpuh

Ali bin Shararah berkata: "Sudah sejak dua puluh tahun ibuku lumpuh. Suatu hari ia berkata padaku: "Pergilah temui Ahmad bin Hanbal dan mintalah ia untuk mendoakanku."
Aku pergi menuju rumah Ahmad lalu aku ketuk pintunya. Dari dalam rumah Ahmad bertanya: "Siapa di luar?"
Aku menjawab: "Seorang laki-laki dari tempat anu. Ibuku sudah lumpuh dan ia memintaku untuk menemuimu dan memintamu untuk mendoakannya."
Dengan sedikit kesal Ahmad berkata: "Kami yang lebih butuh untuk didoakannya."

Aku pulang dalam keadaan sedih mendengarkan jawaban dari Ahmad bin Hanbal. Tiba-tiba keluarlah seorang wanita tua dari rumah Ahmad bin Hanbal. Wanita itu bertanya: "Engkau yang tadi berbicara dengan Abu Abdillah?"
"Ya," jawabku.
"Tadi aku lihat ia mendoakan ibumu."

Aku segera bergegas menuju rumah. Aku ketuk pintu dan ternyata ibuku sudah bisa berjalan dengan kedua kakinya secara sempurna dan melangkah menuju pintu. Ibuku berkata: "Allah telah mengaruniakan kesembuhan kepadaku."

Begitulah datang kelapangan setelah kesempitan berkat doa Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Wanita itu juga seorang yang paham agama dan memiliki iman yang kuat. Ia memulangkan kesembuhan itu kepada Allah, karena doa Ahmad bin Hanbal hanyalah satu faktor dari sekian faktor kesembuhan, tapi yang menyembuhkan tetaplah Allah. Oleh karena itu ia berkata: "Allah telah mengaruniakan kesembuhan kepadaku." 

Wahai Zat Yang Maha Pengasih

Al-Laits bin Saad berkata: "Aku diceritakan bahwa suatu kali Zaid bin Haritsah r.a menyewa seekor keledai pada seseorang untuk ia tunggangi dari Thaif. Orang yang menyewakan itu mensyaratkan padanya bahwa ia berhak menyuruhnya turun kapanpun ia kehendaki. Tiba-tiba ia menuju ke sebuah tempat dan ruangan yang sunyi, lalu ia berkata: "Turunlah." Maka Zaidpun turun. Ternyata di tempat itu banyak jasad-jasad tanpa nyawa bergelimpangan.

Ketika ia hendak membunuh Zaid, Zaid berkata: "Biarkan aku shalat dua rakaat dulu."
Orang itu berkata: "Shalatlah, sesungguhnya orang-orang yang telah menjadi bangkai ini sebelumnya juga shalat tapi itu tak berguna bagi mereka sama sekali."

Zaid menceritakan: "Setelah aku selesai shalat ia mendekat untuk membunuhku. Lalu aku berkata: "Wahai Zat Yang Maha Pengasih." Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara memanggil: "Jangan bunuh ia." Laki-laki itu sangat ketakutan mendengar suara itu. Kemudian ia keluar tapi ia tak melihat siapa-siapa. Ia kembali masuk dan bermaksud untuk membunuh Zaid. Lalu Zaid berkata: "Wahai Zat Yang Maha Pengasih." Tiba-tiba ia mendengar suara itu kembali; "Jangan bunuh ia." Ia kembali merasa ketakutan kemudian ia keluar tapi ia tidak menemukan apa-apa. Lalu ia kembali masuk untuk membunuh Zaid. Zaid berkata: "Wahai Zat Yang Maha Pengasih." Tiba-tiba datanglah seorang penunggang kuda sambil memegang sebuah tombak besi. Di ujung tombak itu terlihat nyala api. Tombak itu ditusukkan pada punggung laki-laki itu sehingga ia roboh bersimbah darah.

Penunggang kuda asing itu berkata kepada Zaid: "Ketika engkau berdoa pertama kali dengan menyebut: "Wahai Zat Yang Maha Pengasih" aku sedang berada di langit ke tujuh. Ketika engkau berdoa kedua kalinya: "Wahai Zat Yang Maha Pengasih" aku sudah berada di langit dunia. Dan saat engkau berdoa pada kali ketiga: "Wahai Zat Yang Maha Pengasih" aku langsung turun menyelematkanmu." 

Itulah sebuah kelapangan setelah kesempitan dan ikhlas dalam memasrahkan diri kepada Allah serta tidak berputus asa dari rahmat-Nya, karena Dialah yang mengabulkan doa hamba-hamba yang berada dalam kondisi sulit dan yang menghilangkan keresahan, bencana dan penderitaan. Mahasuci dan Maha Tinggi Dia.

Ingat Neraka Telah Membuatku Tidak Bisa Tidur dan Lupa Syahwat

Abu Yazid Muhammad bin Hasan berkata, “Aku mendengar Abdurrahman bin Mahdi berkata, ‘Aku tak pernah bergaul dengan seseorang yang lebih lembut hatinya daripada Sufyan ats-Tsauri.’ Aku selalu memperhatikan aktivitasnya dari malam ke malam. Dia tidak tidur kecuali di awal malam, lalu dia akan bangun dalam keadaan takut dan menggigil sambil berteriak, ‘Api... api... Ingatan kepada neraka telah membuatku tidak bisa tidur, dan melupakan syahwat.’
Kemudian  dia berwudhu. Selesai berwudhu dia berkata, ‘Ya Allah, Engkau yang Mahatahu dengan kebutuhanku, tanpa perlu diberi tahu. Aku tak meminta apa-apa selain bebaskan leherku dari api neraka. Ya Tuhanku, sesungguhnya rasa takut telah membuatku sangat resah, dan itu adalah di antara nikmat-Mu kepadaku. Ya Tuhanku, seandainya aku boleh menyendiri, niscaya aku tidak akan tinggal bersama manusia sekejap mata pun.’
Kemudian dia melangkah menuju shalat. Tangisannya menghalanginya untuk melanjutkan bacaan sampai aku tak mampu mendengar bacaannya karena isak tangisnya. Aku juga tak mampu melihat wajahnya karena malu dan wibawanya yang tinggi.”
Ishaq bin Ibrahim al-Hunaini berkata, “Kami pernah berada dalam majelis Sufyan ats-Tsauri. Dia bertanya kepada seseorang apa yang dia lakukan pada malam hari. Dan orang itu menceritakannya. Semua orang yang hadir akhirnya menceritakan apa yang mereka lakukan pada malam hari. Lalu mereka berkata, ‘Wahai Abu Abdillah, kamu telah bertanya kepada kami dan telah kami jawab, sekarang beritahukan kepada kami apa yang kau lakukan pada malam hari.’
Dia berkata, ‘Pada awal malam aku akan tidur sebagaimana mestinya, dan tidak akan aku tahan, tetapi bila sudah bangun, aku tidak akan tidur kembali, demi Allah.’” 

TOBAT ANAK SEORANG PEMIMPIN NAJRAN

Ibnu Hisyam berkata, “Aku mendengar bahwa para pemimpin Najran—mereka beragama Nasrani—selalu saling mewariskan kitab-kitab kepada orang setelah mereka. Setiap kali ada seorang pemimpin mereka yang mati, kepemimpinan pun beralih kepada yang lainnya. Buku-buku itu distempel dengan satu stempel bersama dengan stempel sebelumnya dan tidak dihancurkannya. Hingga, suatu hari keluarlah pemimpin yang sezaman dengan Rasulullah saw. yang berjalan. Namun, tiba-tiba dia tersungkur jatuh. Anaknya berkata kepadanya, ‘Celaka yang jauh—yang dia maksudkan adalah Rasulullah saw..’”
    Ayahnya berkata kepadanya, “Janganlah engkau lakukan itu, karena sesungguhnya dia adalah benar-benar seorang nabi, dan namanya ada di dalam kitab-kitab itu.”
    Ketika pemimpin itu meninggal dunia, anaknya tidak mempunyai keinginan sama sekali untuk mengambil alih kepemimpinan itu justru dia segera menghancurkan stempel-stempel tadi. Dia mendapatkan di dalamnya disebut Rasulullah saw., hingga dia pun segera masuk Islam dan menjalankan agamanya dengan baik kemudian melaksanakan ibadah haji.
    Dia adalah orang yang mengatakan,
 
    Dia berlari kepadamu karena jengkel gesper pengikatnya
    Menolak janin yang berada di dalam perutnya
    Agama Nasrani bertentangan dengan agamanya

    Ibnu Hisyam berkata, “Al-Wadhin artinya ‘gesper pengikat unta.’” Dan Hisyam bin Urwah menambahkan ke dalam syair itu, “Menolak janin yang berada di dalam perutnya.” 28

Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Keridhaannya Terhadap Qadha dan Qadar Allah

Allah berfirman,

"Dan Ibrahim berkata, "Sesungguhnya saya pergi menghadap kepada Tuhan saya, dan Dia akan memberi petunjuk kepada saya. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepada saya (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh." Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku sesungguhnya saya melihat dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu." Dia menjawab, "Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapati saya termasuk orang-orang yang sabar". (ash-Shaffaat: 99-102)
Ketika Nabi Ibrahim pergi meninggalkan negerinya dan memohon kepada Allah agar diberi anak yang saleh, Allah mengaruniakan seorang anak yang diberi nama Isma'il dari rahim seorang wanita Mesir yang bernama Hajar. Waktu itu usia Nabi Ibrahim sudah mnecapai delapan puluh tahun.
Kemudian ketika Nabi Isma'il tumbuh besar dan mampu bekerja membantu ayahnya, Nabi Ibrahim melihat dalam sebuah mimpinya bahwa Allah menyuruhnya untuk menyembelihnya. Dan mimpi para nabi adalah wahyu yang benar yang datang dari Allah, sebagaimana termaktub dalam sebuah hadits yang shahih. Perintah menyembelih tersebut merupakan ujian dari Allah untuk Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim pun ridha dengan apa yang telah menjadi qadha dan qadar Allah itu. Lalu dia menemui anaknya, Nabi Isma'il, untuk dimintai keridhaannya, sebelum melaksanakan perintah Allah itu. Dia menceritakan kepada anaknya bahwa dia bermimpi diperintah oleh Allah untuk menyembelihnya. Hal itu dia lakukan agar hatinya lebih tenang, juga agar terasa lebih ringan dalam melaksakan perintah Allah tersebut, daripada jika membawa anaknya itu dengan paksa dan langsung  menyembelihnya tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Nabi Ibrahim menjelaskan mimpinya pada anaknya dengan berkata, "Wahai anakku, sesungguhnya saya melihat dalam mimpi bahwa saya menyembelihmu, bagaimana  pendapatmu tentang hal itu?" Nabi Isma'il pun langsung menyatakan keridhaannya dengan berkata, " Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati saya termasuk orang-orang yang sabar".
Demikianlah gambaran keridhaan seorang ayah dan seorang anak terhadap ketentuan dan perintah Allah. Keridhaan yang didasari atas ketenangan hati dan keimanan yang tinggi. Allah menceritakan itu semua dalam bentuk kisah yang indah yang termaktub dalam Al-Qur'an.
Allah membukakan jalan keluar bagi Nabi Ibrahim dan anaknya, Nabi Isma'il, karena keridhaan mereka terhadap qadha-Nya. Allah mengganti Nabi Isma'il dengan seekor sembelihan yang besar dari surga. Kemudian hal itu, yaitu menyembelih kurban, menjadi salah satu sunnah yang dilaksanakan kaum muslimin hingga hari kiamat. Segala puji bagi Allah.

18. Semoga Allah Mengayakan Hatimu dan Membuatmu Benci kepada Dunia

Abul Qasim Sulaiman bin Muhammad adh-Dharrab berkata, “Beberapa temanku bercerita bahwa suatu hari seorang wanita lewat di depan Sari as-Saqthi. Wanita itu membawa sebuah bejana yang berisi sesuatu. Tiba-tiba, bejana itu jatuh dari tangannya dan langsung pecah. Sari segera pergi ke kedainya dan mengambil sesuatu, lalu menyerahkannya kepada wanita tersebut sebagai ganti dari bejana itu.
Peristiwa itu dilihat oleh Ma’ruf al-Karkhi dan dia begitu kagum dengan apa yang dilakukan oleh Sari. Ma’ruf berkata, “Semoga Allah membuatmu benci pada dunia.” Ma’ruf terus mendoakan Sari dan dia berkata lagi, “Semoga Allah mengayakan hatimu.” Akhirnya, hati Sari menjadi suka pada kehidupan zuhud saat itu juga. Berkat doa itu, Sari as-Saqthi menjadi salah seorang ahli zuhud, ahli ibadah, dan ulama di masanya.

Sudah Kami Lakukan dan Kami Masih Ada Tambahan

Ja’far bin Muhammad, sahabat Bisyr al-Hafi berkata, “Suatu kali Bisyr al-Hafi sakit lalu dia dijenguk oleh Aminah ar-Ramliyah dari kota Ramlah. Dalam waktu yang sama Ahmad bin Hanbal juga datang menjenguknya. Ahmad bertanya, ‘Siapa wanita ini?’
Bisyr menjawab, ‘Aminah ar-Ramliyah, dia mendengar berita aku sakit lalu dia datang dari Ramlah untuk menjengukku.”
Ahmad bin Hanbal berkata, “Mintalah  dia untuk mendoakan kita.”
Aminah berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Bisyr bin Harits dan Ahmad bin Hanbal memohon kepada-Mu untuk melindungi mereka dari neraka, maka lindungilah mereka dari neraka.”
Ahmad bin Hanbal menceritakan, “Kemudian aku pulang. Pada malam harinya, ada sehelai kertas yang dilemparkan ke arahku dan di sana tertulis, ‘Sudah Kami lakukan dan Kami masih ada tambahan.’” 

BERTOBAT SETELAH 40 TAHUN BERBUAT MAKSIAT KEPADA ALLAH DAN ALLAH MENGAMPUNINYA

Diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa pada zaman Nabi Musa a.s., Bani Israil mengalami masa paceklik (kemarau panjang) maka keluarlah Nabi Musa beserta beberapa orang dari Bani Israil agar dia meminta hujan untuk mereka, dan berdoalah Nabi Musa a.s. memohon kepada Allah, “Ya Allah, ya Tuhanku, curahkanlah hujan kepada kami, dan limpahkanlah rahmat-Mu pada kami, sayangilah kami bersama bayi-bayi yang masih menyusu serta binatang-binatang yang masih digembala dan orang-orang tua yang renta.”
    Allah swt. mewahyukan kepadanya, “Sesungguhnya di antara kalian ada seorang hamba yang secara terang-terangan berbuat maksiat terhadap-Ku selama 40 tahun.”
    Nabi Musa berkata di hadapan kaumnya, “Wahai hamba yang berbuat maksiat terhadap Allah secara terang-terangan selama 40 tahun, keluarlah kamu, karena oleh sebab kamu Allah mencegah turunnya hujan atas kami.”
    Maka, hamba yang berbuat maksiat itu menoleh ke kiri dan ke kanan, dia pun tidak melihat seseorang yang keluar. Dia tahu bahwa dirinyalah yang dimaksud. Dia bergumam dalam dirinya, “Apabila aku keluar di antara khalayak ini, aku akan dipermalukan di tengah-tengah Bani Israil, tapi apabila aku tetap duduk bersama mereka tidak akan mendapatkan hujan karena aku, lalu dia memasukkan kepalanya ke dalam bajunya sambil menyesali perbuatannya dan bertekad akan berbuat taat.” Dia berkata, “Tuhanku, aku telah berbuat maksiat terhadap-Mu selama 40 tahun, namun Engkau tetap memberikanku kesempatan. Kini aku telah datang dengan tekad untuk berbuat taat, maka terimalah aku.”
    Belum lagi selesai dia berbicara, tiba-tiba awan putih meninggi lalu turunlah hujan bagaikan mata air yang mengalir. Kemudian Musa berkata,  “Tuhanku dengan apa Engkau menyirami kami, sedangkan tidak ada seorang pun yang keluar di antara kami.”
    Allah menjawab, “Wahai Musa, sesungguhnya aku telah menyirami kalian dengan orang yang mencegah turunnya hujan.”
    Musa berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah hamba-Mu yang berbuat taat ini.”
    Allah berkata, “Wahai Musa, Aku tidak mau mempermalukannya ketika dia berbuat maksiat kepada-Ku, maka akankah aku mempermalukannya saat dia berbuat taat kepada-Ku!!”
    Kisah ini begitu masyhur di antara para ulama dan para da’i karena kisah ini sangat menarik orang-orang yang berbuat dosa untuk kembali ke jalan Allah meski bertahun-tahun dia telah berbuat maksiat. Sesungguhnya pintu tobat itu selalu terbuka siang dan malam. Dari situ kita dapat pelajaran bahwa seseorang itu diharamkan mendapat rezeki karena dosa yang dia lakukan, meski Allah memberi rezeki kepada siapa pun tanpa menghitungnya.
    Allah telah menutupi orang ini saat dia bertobat sebagaimana Allah menutupinya selama dia berbuat maksiat. Itulah rahmat Allah swt. yang mencakup seluruhnya sampai pada hamba-Nya yang berbuat maksiat.

Allah Menghadiahinya Syahid di Rumahnya


Seorang shahabiyah (sahabat wanita) dari kaum Anshar bernama Ummu Waraqah binti Naufal meminta kepada Rasulullah saw. untuk ikut bersama beliau dalam berbagai peperangan mudah-mudahan dia meraih syahadah. Dia berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, seandainya engkau izinkan aku untuk ikut berperang bersamamu, aku akan merawat tentara yang sakit dan mengobati yang terluka, semoga Allah mengaruniakan kepadaku kesyahidan.”
Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Ummu Waraqah, duduk saja di rumahmu, sesungguhnya Allah akan mengaruniakan kepadamu syahadah di rumahmu.”
Rasulullah saw. sering mengunjunginya. Dia kerap kali membaca Al-Qur’an, lalu dia memohon izin kepada Nabi untuk mengajak seorang muazin ke rumahnya dan Nabi mengizinkannya.
Di masa khalifah Umar ibnul Khaththab r.a. terbuktilah sabda Rasulullah saw. tentang Ummu Waraqah. Dua orang budak yang dijanjikan akan merdeka setelah kematiannya membunuh Ummu Waraqah di rumahnya dengan cara menggantungnya. Pada pagi harinya, Umar ibnul Khaththab tidak mendengar suara Ummu Waraqah membaca Al-Qur’an. Umar berkata, “Demi Allah, aku tidak mendengar bacaan bibiku Ummu Waraqah semalam.”
Dia lalu masuk ke dalam rumah dan tidak menemukan apa-apa. Ternyata, dia digantung dengan seutas tali di samping rumah. Umar berkata, “Mahabenar Allah dan Rasul-Nya.”
Kemudian Umar naik mimbar dan menyampaikan berita itu, lalu dia berkata, “Tangkap kedua orang budak itu!”
Akhirnya, kedua orang budak itu berhasil ditangkap dan keduanya mengaku telah membunuh Ummu Waraqah. Umar memerintahkan untuk menyalib keduanya, sehingga kedua orang ini menjadi orang pertama yang disalib di Madinah. 
Kisah ini adalah salah satu bukti kenabian Nabi Muhammad saw. dan juga pelajaran bagaimana seorang khalifah dan pemimpin kaum Muslimin memperhatikan rakyatnya secara langsung, menanyakan kondisi mereka, dan mencintai mereka sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw..

Apa yang di Sisi Allah Itu Lebih Baik Bagimu

Hisyam bin Hassan menceritakan, “Hazil putra Hafshah binti Sirin bekerja mengumpulkan kayu bakar di musim panas. Kayu itu kemudian dikulitinya lalu dia ambil ampasnya dan dia membelahnya. Hafshah berkata, ‘Aku sering merasa kedinginan ketika melakukan qiyamullail di musim dingin. Jika datang musim dingin, putraku Hazil datang membawa perapian dan diletakkannya di belakangku. Dia meletakkan api itu di belakangku agar aku bisa memanaskan badan. Dia tetap berada di dekatku sampai penghujung malam.’
Hafshah melanjutkan, ‘Ketika putraku wafat, Allah mengaruniakan kesabaran kepadaku untuk berpisah dengannya, tetapi aku tetap merasakan kepedihan dan kehilangan berpisah dengannya, sesuatu yang sulit untuk terobati.’
Suatu malam, ketika aku sedang shalat di tempat ibadahku dan aku membaca surah an-Nahl, aku sampai pada ayat berikut.
KHAT
‘...sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’ (an-Nahl: 95—96)

Aku terus ulang-ulang ayat tersebut, dan akhirnya Allah menghilangkan perasaan sedih yang menghimpit batinku.” 
Hafshah binti Sirin sering menyalakan pelita di malam hari untuk melaksanakan qiyamullail di mushalla pribadinya. Kerap kali terjadi lampu pelitanya padam, tetapi rumahnya tetap bercahaya sampai pagi. Apabila dia sudah masuk ke ruang tempat shalatnya, dia tidak akan keluar kecuali karena suatu kebutuhan yang sangat mendesak.