TOBAT DARI MELIHAT APA YANG ALLAH HARAMKAN

Abu Amru bin Ulwan bercerita, “Suatu hari aku pernah pergi dalam suatu keperluan dan aku melihat ada jenazah. Aku mengikutinya untuk ikut menshalatinya. Aku berdiri bersama kerumunan orang banyak sampai jenazah itu dikebumikan. Tiba-tiba mataku melihat seorang wanita yang sedang melintas dengan tanpa sengaja, lama mataku memandangnya. Setelah itu baru aku menyadari dan akupun beristigfar kepada Allah swt.. Lantas aku segera kembali ke rumahku, dan tiba-taiba ada seorang nenek tua yang berkata,  “Wahai tuanku, kenapa aku melihat mukamu hitam?”
    Aku segera mengambil cermin dan aku melihatnya dan ternyata… mukaku memang hitam. Aku segera mengintrospeksi diri untuk memikirkan dari mana datangnya musibah ini. Aku segera ingin mengetahui pandangan itu.
    Aku lalu menyendiri di satu tempat kosong beristigfar kepada Allah swt. dan memohon tobat serta ampun selama empat puluh hari. Lantas, terbetik dalam hatiku bahwa aku harus pergi ke guruku al-Junaid dan aku segera berangkat ke Baghdad, ketika aku datang kepadanya, dia berkata, “Masuklah wahai Abu Amru, kamu berbuat dosa di Ruhbah62 dan Allah mengampunimu di Baghdad.”

TOBAT IBRAHIM BIN ADHAM

    Ibnu Qudamah menyebutkan dalam kitabnya at-Tawwabin tentang Ibrahim bin Basyar pembantu Ibrahim bin Adham, “Wahai Abu Ishaq, bagaimana awal-awal kepribadianmu dahulu?”
    “Ayahku adalah seorang dari warga Balakh (Khurasan). Kami adalah keturunan raja Khurasan, dan kami senang memburu binatang. Pernah aku keluar dengan menaiki kudaku sementara anjingku ikut menyertaiku. Ketika itu terlihat ada kelinci atau serigala yang meronta-ronta, aku pun memacu kudaku lantas aku mendengar suara yang memanggil dari belakang, ‘Kamu diciptakan bukan untuk ini dan tidak diperintahkan untuk ini.’ Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat satu orang pun. Aku berkata, ‘Allah melaknat iblis.’
    Kemudian aku memacu lagi kudaku, hingga aku pun mendengar suara yang lebih jelas dari itu tadi, ‘Wahai Ibrahim, kamu diciptakan bukan untuk itu dan bukan dengan itu pula kamu diperintahkan!!’ Aku berhenti melihat ke kanan dan ke kiri, dan aku tidak melihat siapa-siapa.
    Aku berkata, ‘Allah melaknat iblis.’
    Aku memacu kembali kudaku, dan aku mendengar suara dari dalam pelana kudaku, ‘Wahai Ibrahim, bukan untuk ini kamu diciptakan dan bukan dengan ini kamu diperintahkan.’
    Aku segera berhenti dan berkata, ‘Aku sadar, telah datang kepadaku peringatan dari Tuhan semesta alam, dan demi Allah aku tidak lagi melakukan maksiat kepada Allah sejak hari ini selama Tuhanku selalu menjagaku.’
    Aku segera kembali pulang ke keluargaku dan mendatangi salah seorang penggembala ternak ayahku. Aku meminta kepadanya sebuah baju jubah dan karung. Kemudian aku masukkan pakaianku ke dalamnya dan aku segera berangkat pergi ke Irak, sebuah negeri yang akan mengangkatku dan negeri yang akan menghinakanku. Sesampainya di Irak, aku bekerja beberapa hari dengannya. Aku tidak dianggap di sana dan aku bertanya kepada sebagian ulama, mereka berkata kepadaku, ‘Jika kamu mau mencari yang halal, hendaklah kamu pergi ke negeri Syam.’ Aku segera menuju ke Syam dan berjalan ke sebuah kota yang di sebut Manshurah, tepatnya di Mashishah dan aku bekerja beberapa hari di sana.”
    Dan begitulah Ibrahim bin Adham rahimahullah berpindah-pindah dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain dan dari satu negeri ke negeri yang lain untuk bertobat dan kembali ke jalan Allah.
    Amir Ibrahim bin Adham akhirnya menjadi orang yang kaya raya, mempunyai kedudukan dan kekuasaan. Ibrahim bin Adham seorang ‘abid dan zahid, serta seorang ulama besar, yang lidahnya selalu penuh dengan zikir kepada Allah dan penuh hikmah. Dia terus dikenang dalam buku-buku para ahli zikir dan al-‘Arifuna billah, serta termasuk para wali Allah yang saleh.

TOBAT TUKANG FITNAH DI TANGAN UMAR IBNUL HTHAB

Ada seseorang yang datang menemui Amirul Mukminin Umar bin hthab r.a.. Kemudian di depannya dia menghasut seseorang dari teman-temannya. Dia menyampaikan hal-hal jelek temannya itu kepada Umar. Dia menuangkan kemarahan hatinya kepada Umar. Ketika orang ini selesai memfitnah, Umar pun mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan dia sedang memikirkan dan mencerna fitnahan itu. Kemudian dia mengangkat kepalanya dan berkata kepada orang itu, “Hai dengarkan, kami telah mengamati masalahmu dan telah mendengarkan beritamu. Jika kamu bohong, kamu termasuk dari kelompok ayat ini, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.’ (al-Hujuraat: 6)
    Jika kamu jujur dan benar, kamu termasuk dari golongan ayat ini, ‘Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah.’ (al-Qalam: 10-11)
    Jika kamu mau, kami akan memaafkan kamu dan janganlah kamu kembali lagi ke majelis kami setelah ini, karena kamu bukanlah teman duduk bagi orang-orang mukmin.”
    Orang itu pun merasa hina dalam dirinya dan berkata, “Aku meminta maaf kepadamu wahai Amirul Mukminin dan berjanji kepadamu untuk tidak kembali lagi melakukan fitnah dan menggunjing orang lain.”
    Kemudian dia keluar dari majelis Umar ibnul hthab r.a. seperti yang telah diperintahkan dan dia merasa menyesal atas apa yang telah dia katakan kepada Amirul Mukminin.
    Dan begitulah, para pemimpin dan masyarakat umum harus terus waspada kepada orang-orang pengumpat dan penyebar fitnah serta penggunjing aib orang lain.

Penyair Kasmaran dan Wanita Suci

Dalam kisah-kisah para wanita, Ibnu Jauzi menceritakan tentang seorang penyair kasmaran bernama Umar bin Abi Rabiah. Ketika sedang melakukan thawaf di Ka’bah, tiba-tiba dia melihat seorang wanita yang berasal dari Bashrah. Dia tertarik melihat wanita itu dan mencoba untuk mendekatinya. Dia ingin mengajaknya bicara tapi wanita itu tidak menoleh sama sekali. Pada malam berikutnya, dia kembali berusaha mendekatinya. Wanita itu berkata, “Menjauhlah dariku, kamu berada di tempat yang suci.”
Ketika penyair itu terus mengejarnya dan mengganggunya melakukan thawaf, wanita itu datang kepada suaminya dan berkata, “Mari bersamaku, ajarkan kepadaku manasik haji.” Dia kembali thawaf bersama suaminya. Umar bin Abi Rabi’ah duduk menunggu di jalan yang biasa dilalui wanita itu untuk menggodanya seperti yang dia lakukan sebelumnya. Ketika dia melihat wanita itu datang bersama suaminya, Umar menghindar dan tidak lagi berani menggodanya setelah itu. Wanita itu berkata,

Serigala hanya berani pada kambing tanpa pengawalan anjing
Tetapi  dia ciut melihat penjaga laksana singa yang siaga menjaga

Kisah ini didengar oleh Khalifah Al-Mansur dan dia berkata, “Aku berharap seandainya setiap wanita Quraisy yang berada di rumahnya mendengarkan kisah ini.”
Begitulah, wanita yang salehah ini tahu cara mengusir serigala-serigala manusia yang tidak menghargai kesucian tempat dan kesucian agama. Dia juga telah memberikan pelajaran berharga kepada seluruh wanita agar tidak diganggu oleh serigala-serigala seperti itu di sepanjang masa.

Antara Ali Bin Abi Thalib dan Adi Bin Hatim

Diriwayatkan oleh Ibn Asakir dalam kitabnya Tarikh Dimasyq, bahwa al-Aghar bin Sulaik al-Kufi berkata, "Suatu ketika Ali bin Abi Thalib melihat Adi bin Hatim yang nampak sedang sedih dan berduka. Lalu Ali bertanya kepadanya, "Wahai Adi apa, yang menyebabkan kamu nampak begitu sedih dan berduka?" Adi menjawab, "Bagaimana saya tidak sedih, kedua anak saya terbunuh dan saya sendiri kehilangan mata saya”.
Lalu Imam Ali menasihatinya, "Wahai Adi, barang siapa yang ridha dengan qada Allah, dan qada Allah itu pasti akan berlaku, maka dia akan mendapatkan pahala dari Allah. Dan barang siapa yang tidak ridha dengan qada-Nya, dan qada Allah itu pasti juga akan berlaku pada dirinya, maka pahala amal baiknya akan terhapus”.
Demikianlah nasihat yang diberikan Imam Ali. Yang intinya bahwa keridhaan pada qada Allah akan mendatangkan pahala yang besar dari Allah. Dan sebaliknya, ketidakridhaan terhadap qada Allah akan mendatangkan murka dari Allah dan mengakibatkan hilangnya pahala amal baik.
Sesungguhnya qada Allah itu pasti akan berlaku tanpa adanya keraguan. Oleh karenanya sudah seharusnya  bagi setiap mu'min untuk selalu ridha dan berserah. Barang siapa tidak ridha terhadap qada Allah, maka dia harus mencari tuhan lain selain Allah dan bumi lain selain bumi Allah ini. Sedangkan itu adalah suatu hal yang mustahil. Keridhaan terhadap qada Allah adalah buah dari keimanan.

Abud Dahdah dan Keridhaan kepada Allah

Abdullah bin Mas’ud berkata, “Ketika turun ayat Al-Qur’an,

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik ( menafkahkan hartanya di jalan Allah ), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak”. ( al-Baqarah: 245 ), Abud Dahdah al-Anshari berkata, “Apakah Allah juga ingin pinjaman dari kita?”
Rasulullah saw. menjawab, “Ya, wahai Abud Dahdah”.
Abu Dahdah lalu berkata, “Ulurkanlah tanganmu wahai Rasulullah.”
Maka Rasulullah saw. mengulurkan tangannya ke arah Abud Dahdah. Lalu Abud Dahdah berkata, “Dengan ini saya meminjamkan kebunku kepada Tuhanku”.
Ibnu Mas’ud berkata, “Di dalam kebun Abud Dahdah tersebut terdapat enam ratus pohon kurma. Di dalamnya juga tinggal Ummud Dahdah dan anak-anaknya. Maka setelah itu, Abud Dahdah segera pulang dan memanggil istrinya, “Wahai Ummud Dahdah”. Istrinya menjawab, “Ya, suamiku”. Sang suami menjawab, “Keluarlah dari kebun ini, karena saya telah meminjamkannya kepada Tuhanku ‘azza wajalla”.
Mendengar hal itu, Ummud Dahdah segera mendatangi anak-anaknya, mengeluarkan kurma-kurma yang ada di mulut mereka dan mengeluarkan yang ada di dalam baju-baju mereka.
Maka Rasulullah saw. bersabda, “Alangkah banyak anggur-anggur yang besar milik Abud Dahdah di surga”.

Peminang yang Buruk

Muhammad ibnul Walid menceritakan, “Suatu kali Umar bin Abdul Aziz rahimahullah lewat di depan seorang lelaki yang sedang memainkan kerikil-kerikil kecil di tangannya sambil berkata, ‘Ya Allah, nikahkanlah aku dengan hurul ‘ain (bidadari surga).’”
Mendengar hal itu Umar berkata, “Engkau adalah peminang yang paling buruk. Tidakkah sebaiknya kamu buang dulu kerikil-kerikil itu lalu kamu berdoa dengan ikhlas kepada Allah?”