TOBAT DAWUD ATH-THA

Muhammad bin Hatim al-Baghdadi berkata, “Aku mendengar al-Hammani bercerita, ‘Dahulu awal mula tobatnya Dawud ath-Thaa’i—salah seorang ahli ibadah—adalah dia pernah masuk ke pekuburan dan dia mendengar seorang wanita berada di kuburan. Wanita itu berkata, ‘Tinggal di dunia sampai Allah membangkitkan ciptaan-Nya.’’”
    Pertemuanmu tidak diinginkan, tapi engkau sangat dekat. Kamu selalu menambah musibah di setiap siang dan malam hari. Kamu akan dihibur sebagai mana kamu diberi cobaan dan kamu menyukainya.
    Hingga, dia pun zuhud dari keduniaan dan menekuni ibadah dan akhirnya menjadi salah seorang ahli ibadah yang mukhlishin kepada Allah. Dia terus beribadah dan belajar sampai dia menjadi orang terhormat dari warga Kufah.
    Yusuf bin Asbath berkata, “Dawud mendapat warisan sebesar dua puluh dinar dan dia memakannya selama dua puluh tahun.”
    Pada suatu hari, ada seseorang yang datang kepadanya dan berkata, “Di atas rumahmu ada sebatang pohon kurma yang patah.”
    Dia menjawabnya dengan berkata, “Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tinggal di rumah ini sejak dua puluh tahun dan aku tidak pernah melihat ke atas atap rumah.”39
    Ibnu Sammak berkata, “Saudaraku Dawud ath-Thaa’i mewasiatkanku dengan satu wasiat yakni lihatlah, Allah tidak akan melihatmu ketika kamu berada pada apa yang telah Dia larang. Dan tidak akan meninggalkanmu jika kamu berada pada apa yang Dia perintahkan. Malulah kepada-Nya karena Dia sangat dekat denganmu dan besar kudrah-Nya atasmu.” 40

Tiga Orang Yang Merasakan Kesempitan Kemudian Datang Kelapangan Dari Allah

Tiga orang itu adalah Ka'ab bin Malik, Mararah bin Rabi' al-'Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi ra. Mereka termasuk para sahabat senior yang telah lama masuk Islam dan ikut dalam setiap peperangan bersama Rasulullah saw. Akan tetapi mereka ketinggalan dalam perang Tabuk yang merupakan perang terakhir bagi Rasulullah saw. Ketidakikutsertaan mereka itu tanpa alasan yang kuat. Yang membuat mereka tidak ikut hanyalah karena rasa berat untuk berjihad dalam cuaca yang sangat panas sehingga perang itu dinamakan dengan perang al-'Usrah (sulit)

Ketika Rasulullah saw. sampai di Tabuk, ia menanyakan tentang Ka'ab bin Malik kepada para sahabatnya: "Apa berita tentang Ka'ab bin Malik?"
Seorang lelaki dari Bani Salamah berkata: "Wahai Rasulullah, pakaiannya yang halus dan kemahnya yang sejuk menghalanginya untuk ikut berperang."
Muadz bin Jabal segera menyela: "Buruk sekali apa yang engkau katakan. Demi Allah wahai Rasulullah, kami tak mengetahui tentangnya kecuali yang baik-baik."

Ka'ab bin Malik bercerita: "Ketika aku mendengar berita bahwa Rasulullah saw. telah pulang dari Tabuk aku merasa sangat sedih. Terbetik dalam pikiranku untuk berdusta. Aku berkata dalam hati: "Bagaimana caranya aku bisa terlepas dari kemarahannya besok. Aku akan minta bantuan pada setiap keluargaku yang memiliki ide-ide yang cemerlang untuk membantuku dalam hal ini."

Ketika aku mendengar bahwa Rasulullah saw. menerima alasan setiap orang yang datang menemuinya, sirnalah niat yang tak baik itu dari diriku dan aku tahu bahwa aku selamanya tak akan selamat sama sekali dengan cara berbohong, maka aku bertekad untuk berkata jujur padanya.

Rasulullah saw. datang. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah setiap pulang dari sebuah perjalanan beliau akan langsung datang ke masjid dan shalat dua rakaat. Setelah itu beliau duduk bersama para sahabat. Saat itu datanglah orang-orang yang tidak ikut perang untuk minta maaf bahkan dengan cara bersumpah. Jumlah mereka yang minta maaf itu sampai lebih kurang delapan puluh orang. Rasulullah saw. menerima apa yang mereka sampaikan lalu memohonkan ampun untuk mereka serta menyerahkan kepada Allah apa yang sesungguhnya ada dalam hati mereka.

Aku datang lalu aku ucapkan salam padanya. Rasulullah saw. tersenyum dengan senyuman marah. Kemudian ia berkata padaku: "Mendekatlah ke sini." Akupun mendekat. Setelah duduk di hadapannya ia bersabda: "Apa yang menyebabkanmu tidak pergi? Bukankah engkau telah membeli tunggangan?"
Aku berkata: "Wahai Rasulullah, sungguh andaikan aku berada di hadapan orang lain selainmu pasti aku mampu lepas dari kemarahannya dengan dalihku yang kuat. Aku telah dikaruniai kemampuan berdebat. Tetapi demi Allah, aku sadar bahwa seandainya aku mengatakan padamu sesuatu yang dusta supaya engkau ridha padaku niscaya Allah akan murka kepadaku. Dan seandainya aku menyampaikan hal yang sebenarnya padamu meskipun akibatnya engkau akan marah padaku, aku masih bisa berharap akibat yang baik dari Allah. Aku tak punya alasan apa-apa. Demi Allah, aku tak pernah lebih kosong dan santai daripada saat aku tak pergi waktu itu."
Rasulullah saw. bersabda: "Adapun yang ini (maksudnya Ka'ab), ia telah berkata benar. Bangkitlah sampai Allah memutuskan perkaramu."

Setelah Ka'ab bin Malik pulang dari menemui Rasulullah saw. kaumnya menyayangkan sikap jujurnya tersebut. Mereka menginginkannya untuk menyampaikan alasan apa saja sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain yang juga tidak ikut dalam perang Tabuk dan Rasulullah menerima alasan mereka. Ka'ab hampir saja kembali menemui Rasulullah dan menerima nasehat kaumnya lalu mengingkari apa yang tadi disampaikannya di hadapan Rasulullah. Ia bertanya pada kaumnya: "Apakah ada orang lain yang mengalami hal yang sama?"
Mereka menjawab: "Ya, ada dua orang yang juga mengatakan hal yang serupa dengan apa yang engkau katakan dan jawaban yang diberikan kepada mereka juga sama."
"Siapa mereka?"
"Mararah bin Rabi' al-'Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi."
Mereka telah menyebutkan dua orang laki-laki shaleh yang pernah ikut dalam perang Badar. Ka'ab berkata: "Aku bisa mencontoh mereka."

Ka'ab pulang ke rumahnya. Setelah itu keluarlah keputusan Nabi untuk memboikot mereka bertiga. Tak seorangpun kaum muslimin yang boleh berbicara dengan mereka atau membalas ucapan mereka bahkan salam sekalipun.

Di sini mulailah terasa kesempitan dan ujian yang berat. Ka'ab berkata: "Rasulullah saw. melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan kami bertiga. Setelah itu manusia menjauhi kami dan sikap mereka berubah terhadap kami, sampai-sampai aku tak yakin lagi dengan bumi yang aku pijak, rasanya ia bukan lagi bumi yang pernah aku kenal. Hal itu berlangsung selama lima puluh hari.
Kedua sahabatku tetap diam dan duduk di rumah mereka sambil terus menangis. Sementara aku termasuk yang paling tegar dan keras. Aku tetap ikut shalat berjamaah dan berjalan di pasar-pasar tapi tak seorangpun yang berbicara denganku. Aku juga datang ke majlis Rasulullah saw. Selesai beliau shalat aku ucapkan salam padanya. Aku berkata dalam hati: "Apakah ia gerakkan mulutnya untuk menjawab salamku atau tidak?"
Kemudian aku shalat di dekatnya dan aku berusaha curi pandang. Ketika aku mulai shalat ia melihat ke arahku, tapi ketika aku menoleh padanya ia pun berpaling dariku.

Setelah cukup lama kaum muslimin memboikotku aku pergi menemui Abu Qatadah; sepupuku dan orang yang paling aku cintai. Aku ucapkan salam padanya. Demi Allah, ia tak menjawab salamku. Aku berkata padanya: "Wahai Abu Qatadah, demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?" Abu Qatadah diam. Aku kembali bertanya dan memaksanya menjawab tapi ia tetap diam. Kemudian aku bertanya lagi dan memaksanya untuk mengatakan sesuatu tapi ia masih diam. Tak berapa lama setelah itu ia berkata: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."

Ketika mendengar jawaban itu dari Abu Qatadah, Ka'ab berkata: "Air mataku berlinangan. Kemudian aku berpaling dan segera pulang. Ketika aku berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari Syam yang biasa datang membawa makanan untuk dijual di Madinah berkata: "Siapa yang bersedia menunjukkanku mana Ka'ab bin Malik?" Orang-orang menunjuk ke arahku. Laki-laki itu datang menemuiku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan.  Aku adalah seorang yang pandai memabaca dan menulis. Ternyata isi surat tersebut adalah: "Amma ba'du, kami dengar bahwa sahabatmu menjauhimu dan Allah tidak akan membiarkanmu di daerah yang hina secara sia-sia. Oleh karena itu datanglah pada kami niscaya kami akan menghiburmu."
Setelah membaca surat itu Ka'ab berkata: "Ini juga termasuk bencana." Kemudian surat itu dibakarnya.

Setelah berlalu empat puluh hari datanglah keputusan dari Nabi bagi mereka bertiga untuk menjauhi istri-istri mereka. Ka'ab bertanya: "Aku ceraikan atau bagaimana?"
Dijawab: "Jauhi saja dan jangan dekati."
Kemudian ia berkata pada istrinya: "Pulanglah pada keluargamu dan tetaplah di sana sampai Allah memutuskan perkara ini sesuai dengan yang Dia kehendaki."

Istri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah dan berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal seorang yang sudah tua dan lemah serta tidak memiliki pembantu, apakah engkau akan melarangku untuk melayaninya?"
Rasulullah saw. bersabda: "Tidak apa-apa tapi jangan sampai ia mendekatimu (menyetubuhimu)."
Ia berkata: "Demi Allah, sesungguhnya Hilal tak mampu lagi berbuat sesuatu dan demi Allah ia terus menangis sejak awal peristiwa tersebut sampai detik ini."

Beberapa orang kerabat Ka'ab memberi saran padanya: "Andaikan engkau juga minta izin pada Rasulullah agar istrimu tetap bersamamu karena Rasulullah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk melayaninya."
Ka'ab berkata: "Demi Allah aku tak akan meminta izin pada Rasulullah tentang istriku dan aku tak tahu apa yang nanti akan dikatakan Rasulullah pada istriku apabila ia minta izin padanya karena aku masih cukup muda."

Setelah cobaan dan kesempitan tersebut berlangsung selama lima puluh hari, datanglah kelapangan dari Allah SWT melalui ayat Al-Qur`an yang akan selalu dibaca sampai hari kiamat kelak berkenaan dengan tiga orang yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk ini. Firman Allah tersebut adalah:

"Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) kepada mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi meraka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." ( at-Taubah: 118-119)

Ketika Ka'ab sedang duduk di depan rumah salah seorang kaumnya, sementara bumi beserta segala isinya sudah sangat sempit terasa baginya dan juga kedua sahabatnya sebagaimana yang Allah terangkan dalam dua ayat surat at-Taubah tersebut dan ia senantiasa berzikir kepada Allah, tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak dengan suara yang sangat keras: "Bergembiralah wahai Ka'ab bin Malik."

Ka'ab segera bersujud pada Allah dan ia tahu bahwa kelapangan itu akhirnya datang juga dari Allah dengan ampunan dari-Nya baginya dan juga kedua sahabatnya. Kaum muslimin datang menemuninya untuk memberi selamat atas ampunan yang Allah berikan. Ka'ab pergi menemui Rasulullah. Kemudian ia mengucapkan salam padanya. Wajah Rasulullah saw. tampak berseri karena gembira dan beliau bersabda: "Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah engkau lewati semenjak engkau dilahirkan oleh ibumu."
Ka'ab berkata: "Apakah dari engkau wahai Rasulullah ataukah dari Allah?"
"Bukan dariku melainkan dari sisi Allah."
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya sebagai bukti taubatku aku akan sedekahkan hartaku untuk Allah dan Rasul-Nya."
"Tahan sebagian hartamu karena itu lebih baik."
Ka'ab berkata: "Aku hanya akan menahan panahku yang pernah aku gunakan dalam perang Khaibar. Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT menyelamatkanku dengan kejujuran, maka diantara bukti taubatku aku berjanji untuk tidak berkata kecuali yang jujur selama aku hidup."
Ka'ab berkata: "Demi Allah, aku tak pernah menyengaja berdusta semenjak aku katakan hal itu pada Rasulullah sampai hari ini dan aku berharap semoga Allah menjagaku dari dusta selama aku hidup." 

Semoga Allah meridhai mereka semuanya dan menggabungkan kita bersama mereka dalam rahmat-Nya di surga Na'im dengan kemaafan dan kemurahan-Nya pada kita semua.

Lenyaplah Masa Muda dengan Segala Keburukannya, Tinggallah Masa Tua dengan Segala Kebaikannya

Suatu kali, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik masuk ke sebuah masjid di Damaskus. Tiba-tiba dia melihat seorang Arab badui yang sudah tua. Khalifah bertanya kepadanya, “Wahai Bapak tua, apakah kau suka menghadapi kematian?”
“Tidak, demi Allah,” jawab bapak tua itu.
“Kenapa wahai Bapak tua, padahal usiamu sudah setua ini?” tanya Khalifah kembali.
“Wahai Amirul Mukminin, telah lenyap masa muda dengan segala keburukannya dan datanglah masa tua dengan segala kebaikannya. Saat ini kalau aku berdiri, aku akan memuji Allah, kalau aku duduk aku akan memuji Allah dan aku ingin kedua hal ini tetap ada padaku.”
Sulaiman bertanya lagi, “Lalu apa amalanmu yang kau kira dapat memanjangkan umurmu?”
Bapak tua itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku adalah seorang yang selalu menyempurnakan wudhu, membaguskan shalat, menghubungkan silaturrahmi, menjaga kehormatan dan pandangan, dan aku selalu berbagi rezeki yang Allah karuniakan kepadaku.”
Sulaiman berkata, “Tidak heran kalau kematian belum juga menjemputmu.”

Bagaimana Aku akan Mengadu kepada Dokterku Apa yang Kurasakan

Al-Junaid menceritakan, “Suatu kali aku berada berdua saja dengan Sari bin Maghlis as-Saqthi. Dia sedang memakai sarung. Aku lihat tubuhnya seperti tubuh yang sakit dan sangat lemah.”
Dia berkata, “Perhatikanlah tubuhku ini! Kalau aku ingin mengatakan bahwa ini adalah karena cinta pada Allah, tentu tidak berlebihan.” Wajahnya pucat dan terkadang berwarna merah seperti bunga.
Suatu kali dia jatuh sakit. Aku datang menjenguknya. Aku bertanya, “Bagaimana kondisimu?”
Dia menjawab,
“Bagaimana mungkin aku mengadu kepada dokterku
apa yang aku rasakan
Sementara yang menimpaku ini adalah dari dokterku?”

Aku mengambil kipas dan aku mengiipas-ngipaskan ke tubuhnya. Dia berkata, “Bagaimana akan terasa sejuk dengan kipas seseorang yang hatinya terbakar di dalam?”
Kemudian  dia berkata,
“Hati terbakar dan air mata berlinang
Derita berhimpun dan sabar tercerai
Bagaimana tenang orang yang tak bisa tenang
Hasil dari hawa, kerinduan, dan kegelisahan?
Wahai Tuhanku, andaikan ada sesuatu yang akan melapangkanku
Maka kasihilah aku selama ruh ini masih ada”

Rasulullah saw. dan Terbunuhnya Hamzah, Paman Beliau

Pada perang Uhud, Hamzah bin Abdil Muthalib dibunuh oleh Wahsyi, seorang budak milik orang-orang musyrik, secara tidak jantan. Dia melemparnya dengan tombak dari belakang. Kemudian Hindun bintu Utbah datang membelah perut Hamzah dan mengeluarkan hatinya, lalu mengunyahnya. Dia juga memotong hidung dan kedua telinganya.
    Kemudian setelah peperangan usai, Rasulullah saw. mencari mayat Hamzah. Lalu beliau menemukannya di tengah-tengah lembah dalam keadaan perut terbelah dan hati telah dikeluarkan, serta sebagian tubuhnya dicincang secara keji.
    Melihat hal itu, beliau pun sangat sedih dan bersabda,

“Kalau tidak karena kesedihan yang akan dialami Shafiyyah dan akan menjadi sunnah setelahku, pasti aku akan membiarkan mayatnya, hingga kelak di padang mahsyar dia dikumpulkan dari perut-perut binatang buas dan burung-burung. Dan jika di sebuah peperangan dengan orang-orang Quraisy nanti Allah memenangkanku, pasti saya akan membalas kekejian mereka terhadap Hamzah dengan tiga puluh orang lelaki dari mereka”.
Ketika orang-orang muslim melihat kesedihan Rasulullah saw. karena perlakukan orang-orang Quraisy terhadap mayat Hamzah, mereka berkata, “Demi Allah, jika pada suatu hari Allah memenangkan kita atas mereka, pasti kita akan merusak tubuh mereka dengan bentuk yang tidak pernah dilakukan oleh seorang Arab pun”.
Di dalam as-Siirah an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam berkata, “Ketika Rasulullah saw. berdiri di sisi mayat Hamzah, beliau bersabda,

“Saya tidak akan pernah ditimpa kesedihan seperti ini. Saya tidak pernah mengalami hal yang lebih membuatku marah dari hal ini”.
Kemudian beliau bersabda, “Jibril datang kepadaku lalu memberitahu saya bahwa tertulis di penghuni langit tujuh, “Hamzah bin Abdul Muthalib adalah singa Allah dan singa Rasul-Nya”.
Dan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah ‘Azza wajalla menurunkan dari sabda Rasulullah saw. dan para sahabat beliau,

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. ( an-Nahl: 126, 127 ).
Lalu Rasulullah saw. memaafkan dan bersabar serta melarang untuk mencincang musuh.  Dan beliau pun ridha terhadap qadha Allah.

A'isyah dan Kegemarannya Bersedekah di Jalan Allah

Diriwayatkan dari Ummu Dzarr, dan dia pernah berkunjung ke tempat A'isyah, bahwasannya dia berkata, "Abdullah bin Zubair mengirim kepada A'isyah dua buah karung yang berisi seratus delapan puluh ribu dirham. Kemudian A'isyah membagi-bagikannya kepada orang-orang. Hingga ketika waktu sore tiba, tidak satu dirham pun dari uang tersebut yang tersisa. Lalu A'isyah berkata kepada budak perempuannya, "Ambilkan saya makanan untuk berbuka". Maka budak perempuannya itu pun mengambilkan sepotong roti dan minyak untuknya. Lalu dia berkata kepada A'isyah, "Sebenarnya, dengan satu dirham dari harta yang engkau bagikan hari ini, engkau dapat membeli sepotong daging untuk kami". Maka A'isyah berkata pada budaknya tersebut, "Janganlah kamu menyalahkan saya seperti itu. Seandainya saja tadi kamu mengingatkan saya, maka sudah barang tentu saya akan membelikannya".  Maksudnya dia akan membelikan buat budak perempuannya tersebut daging yang disukainya, bukan membelinya buat dirinya sendiri. Hal itu dilakukannya karena dia ridha dengan hanya makan roti dan minyak yang dipunyainya. Dan tidak akan menjadi bosan dengan makanannya itu. Semoga Allah meridhainya.

AKU MEMOHON AGAR UMUR PENUTUPKU DIJADKAN YANG TERBAIK

Sa’id al-Azraq al-Bahili berkata, “Pada suatu malam aku melaksanakan thawaf di Ka’bah. Ketika aku sedang thawaf, tiba-tiba ada seorang wanita di dalam Hijr Isma’il menghadap ke Ka’bah dengan tangisannya yang tersedu-sedu. Aku pun mendekatinya dan dia sedang bermunajat, ‘Wahai Yang tidak terlihat oleh mata dan tidak terbayang oleh angan dan pikiran, Yang tidak berubah dengan segala kejadian, Yang tidak bisa direka-reka oleh mereka yang mereka-reka.
    Wahai Yang Mahatahu akan beratnya gunung-gunung, takarannya lautan, jumlah tetesan air hujan, dan jumlah daun-daun pohon, jumlah apa ditutupi kegelapan malam dan apa yang disinari oleh terangnya siang dan tak ada yang ditutupi dari-Nya oleh langit satu langitpun dan oleh bumi satu bumipun, tidak pula gunung dengan segala keterjulangannya dan laut dengan segala kedalamannya, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan umur terbaikku adalah akhirnya, pekerjaan terbaikku adalah penutupnya, hari terbaikku adalah hari pada saat aku bertemu dengan-Mu, waktu-waktu terbaikku adalah pada saat aku meninggalkan kehidupan ini dari negeri yang fana menuju ke negeri yang kekal dan abadi, negeri tempat Engkau mengaruniakan orang-orang yang telah Engkau cintai dari para wali-wali-Mu, dan tempat di mana Engkau menghinakan orang-orang yang telah Engkau murkai dari para musuh-musuh-Mu. Aku memohon kepada-Mu wahai Tuhan-ku kesehatan yang sempurna untuk kebaikan dunia dan akhirat sebagai karunia nikmat atasku wahai Yang Mahaagung dan Maha Pemurah.
    Kemudian wanita itu teriak sampai akhirnya dia pingsan tidak sadarkan diri.86
KATA AKHIR

    Setelah perjalanan mulia yang begitu semerbak dan dirindukan ini, di bawah naungan tobat dan orang-orang yang bertobat dan kembali ke jalan Allah swt., kita memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita agar dapat melakukan apa yang Dia cintai dan ridhai baik perbuatan maupun perkataan, karena Allah Yang Mahakuasa atas hal itu.
    Tobat adalah jalan kebaikan dan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Allah swt. berfirman, “Bertobatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (an-Nur:  31)
    Tobat itu adalah untuk semua, orang yang bermaksiat dan berdosa dan juga bagi yang beriman, dan Rasulullah saw. selalu beristghfar dan tobat kapada Allah setiap harinya sebanyak tujuh puluh kali dan dalam riwayat lainnya disebutkan sampai seratus kali. Rasulullah saw. bersabda,

“Demi Allah, sesungguhnya aku selalu beristigfar dan bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.”87
    Beliau juga bersabda,

“Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan beristigfarlah kepada-Nya, sesungguhnya aku selalu bertobat kepada-Nya setiap hari seratus kali.”88
    Pintu tobat akan selalu terbuka bagi setiap hamba Allah kecuali pada dua keadaan. Rasulullah saw. bersabda,

“Barangsiapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari ufuk barat maka Allah akan mengampuninya.”89
    Dan keadaan kedua adalah,

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima tobat seorang hamba sebelum ruhnya sampai kerongkongan.” 90
    Adapun selain dua keadaan ini, Rasulullah saw. bersabda, 

“Sesungguhnya Allah Ta’ala selalu membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk mengampuni mereka yang melakukan dosa di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang untuk mengampuni mereka yang melakukan dosa di malam hari sampai waktu terbitnya matahari dari ufuk barat.”91
    Syarat untuk diterimanya tobat itu adalah seperti disebutkan oleh para ulama ada tiga. Apabila maksiat itu adalah maksiat antara hamba dan Tuhan-nya yaitu: membersihkan diri dari perbuatan itu, menyesali perbuatan itu dan bertekad untuk tidak kembali melakukannya lagi selamanya. Dan jika maksiat itu berkatan dengan hak-hak manusia, selain syarat tersebut di atas ditambah lagi dengan syarat yang keempat yaitu mengembalikan hak-hak mereka dan kezaliman atas mereka.
    Kita memohon kepada Allah, semoga Allah senantiasa menerima amal saleh kita ikhlas karena-Nya. Semoga Allah mengampuni kesalahan kita karena sesungguhnya Dia Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Muhammad saw., kepada keluarga, dan sahabat beliau.