TOBAT ORANG-ORANG YANG MENYEMBAH

Musa a.s. kembali dari miqat Tuhannya, dan dia membawa papan-papan yang tertulis didalamnya nasihat dan penjabaran segala sesuatu bagi Bani Israil, dan Allah swt. telah memberitahukan rasul-Nya Musa a.s. bahwa kaumnya telah menyembah patung anak sapi selama ketidakberadaan dirinya di tengah mereka. Sesungguhnya Samiri telah menyesatkan mereka, karena Samiri ini telah dengan sengaja membuat patung anak sapi dari perhiasan yang dia pinjam dari orang-orang Mesir sebelum mereka keluar dari Mesir.
    Samiri ini telah mengambil tanah dari tanah yang telah mereka lintasi di atasnya pada saat Allah swt. membelah laut dan saat itu Jibril a.s. menunggang kudanya. Setiap kali kudanya melompat dengan bekas dari telapak kuda itu di tanah, tanah pun menjadi hijau dan tumbuh rumput, hal itu dilihat oleh Samiri. Dia pun mengambil segenggam dari tanah itu dan dia simpan. Ketika dia membuat patung anak sapi, dia menaburkannya dengan sebagian dari bekas pijakan Jibril a.s. itu, hingga patung itu pun mengeluarkan suara persis seperti anak sapi yang sebenarnya.
    “…jadi aku ambil segenggam (tanah dari) jejak rasul lalu aku melemparkannya (ke dalam api itu), demikianlah nafsuku membujukku.” (Thaahaa: 96) 
    Yang penting adalah Musa a.s. telah kembali ke kaumnya dan dia mendapatkan mereka telah menyembah patung anak sapi. Dia pun melempar papan-papan tadi dari tangannya, dan dia sangat marah sekali, dia mengajak saudaranya Harun berbicara, “Musa berkata, ‘Wahai Harun, apa yang menghalangimu ketika kau melihat mereka telah sesat, ini berarti kamu tidak mengikuti aku.’”
    Harun berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, sesungguhnya kaum ini telah menekanku dan hampir mereka membunuhku, maka janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku dan janganlah kamu jadikan aku bersama kaum orang-orang yang zalim.”
    Musa berkata kepada Samiri si pembuat patung anak sapi, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) hai Samiri?”
    Samiri menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui, aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya. Demikianlah nafsuku membujukku.”
    Musa berkata, “Pergilah kau! Maka sesungguhnya di dalam kehidupan (di dunia) engkau (hanya dapat) mengatakan, ‘Janganlah menyentuh (aku)’. Dan engkau pasti mendapat (hukuman) yang telah dijanjikan (di akhirat) yang tidak akan dapat engkau hindari, dan lihatlah tuhanmu itu yang engkau tetap menyembahnya. Kami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkannya (abunya) ke dalam laut (berserakan). Sungguh, Tuhanmu hanyalah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” (Thaahaa: 97-98)
    Samiri yang Yahudi ini telah menyesatkan kaumnya dan berkata kepada mereka bahwa Musa telah melupakan Tuhannya bagi kita, dan sesungguhnya dia pergi meminta-Nya. Kemudian Samiri membuatkan mereka patung anak sapi ini, dan sebelumnya Harun telah menasihati mereka dengan berkata kepada mereka, “Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) Yang Maha Pemurah, ikutilah aku dan taatilah perintahku.”
    Mereka menjawab, “Kami akan tetap menyembah patung anak sapi ini, hingga Musa kembali kepada kami.”
    Setelah Musa a.s. menghancurkan patung anak sapi ini dan membuangnya ke laut kemudian dia berkata kepada kaumnya, “Wahai kaumku! Kamu benar-benar telah menzalimi dirimu sendiri dengan menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sesembahan), karena itu bertobatlah kepada Penciptamu dan bunuhlah dirimu.” (al-Baqarah: 54)
    Tobat mereka kepada Allah dari dosa besar itu adalah dengan membunuh diri mereka dengan jiwa mereka. Dikatakan bahwa pada suatu hari orang-orang yang tidak menyembah patung anak sapi itu, tangan mereka memegang pedang kemudian Allah swt. menurunkan kepada mereka kabut hitam sehingga seorang kerabat tidak lagi mengenal kerabatnya, dan seorang saudara tidak lagi mengenal saudaranya, kemudian mereka cenderung kepada para penyembah patung itu. Mereka pun membunuh dan menuai mereka. Dikatakan bahwa mereka telah membunuh di satu pagi dalam satu hari sebanyak tujuh puluh ribu jiwa. 
    Begitulah tobatnya Bani Israil dari apa yang telah mereka lakukan sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan dari sebuah dosa besar yaitu syirik dan menyekutukan Allah swt.

TOBAT ABDURRAHMAN AL-QAS DARI CINTA KEPADA SALAMAH

    Khallad bin Yazid berkata, “Aku mendengar para syekh kami dari warga Mekah bercerita bahwa al-Qas—Abdurrahman56—dia adalah orang yang bagi penduduk Mekah paling baik ibadahnya dan paling menonjol dalam hal menjauhi kenikmatan dunia. Pada suatu hari dia berjalan dan melintasi rumah Salamah seorang budak wanita milik seorang dari Quraisy—budak itu adalah seorang penyanyi dan penyair—al-Qas mendengar nyanyiannya dan dia berhenti untuk mendengarkannya, hingga tuan budak itu melihatnya.
    Dia berkata, “Apakah kamu hendak masuk dan mendengarkannya?”
    Dia merasa berat hati, belum lagi dia tetap seperti itu. Lantas, dia pun merasa mantap dan berkata, “Dudukkan aku di tempat yang aku tidak bisa melihatnya dan dia tidak bisa melihatku.”
    Orang itu berkata, “Akan aku lakukan.”
    Dia pun masuk. Salamah pun bernyanyi demikian memukaunya. Hingga tuannya berkata, “Apakah kamu mau budak itu menjadi milikmu?”
    Dia merasa berat hati, kemudian dia merasa mantap. Dia terus mendengarkan nyanyiannya sampai akhirnya dia jatuh cinta pada Salamah dan budak itu pun juga jatuh cinta. Hal itu sampai diketahui oleh warga Mekah.
    Mereka berkata, “Al-Qas telah jatuh cinta pada Salamah.”
    Pada suatu hari dia berada berduaan dengannya. Salamah berkata kepadanya, “Demi Allah, aku cinta kepadamu.”
    Al-Qas pun berkata, “Demi Allah, aku juga cinta kepadamu.”
    Salamah berkata, “Aku senang jika aku bisa meletakkan mulutku di mulutmu.”
    Al-Qas berkata, “Demi Allah, aku juga.”
    Salamah berkata, “Aku senang jika aku bisa menempelkan dadaku di dadamu.”
    Al-Qas menjawab, “Demi Allah, aku juga.”
    Salamah berkata, “Lantas apa yang menghalangimu? Demi Allah, tempat ini kosong.”
    Al-Qas berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Allah swt. berfirman, ‘Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.’” (az-Zukhruf: 67)
    Aku benci jika kesempatan kosong ini antara aku dan kamu berubah menjadi permusuhan di hari Kiamat nanti.
    Salamah berkata, “Ya benar, apakah kamu menganggap bahwa Tuhanmu tidak akan menerima kita jika kita bertobat kepada-Nya?”
    Dia menjawab, “Benar, akan tetapi aku tidak merasa aman jika datang sesuatu yang mendadak.”
    Kemudian dia bangun dan kedua matanya bercucuran air mata. Dia tidak kembali lagi kepada Salamah, akan tetapi dia kembali melakukan apa yang sebelumnya dia lakukan yaitu shalat dan beribadah dengan tekun dan khusyu kepada Allah swt..

TOBAT DAWUD ATH-THA

Muhammad bin Hatim al-Baghdadi berkata, “Aku mendengar al-Hammani bercerita, ‘Dahulu awal mula tobatnya Dawud ath-Thaa’i—salah seorang ahli ibadah—adalah dia pernah masuk ke pekuburan dan dia mendengar seorang wanita berada di kuburan. Wanita itu berkata, ‘Tinggal di dunia sampai Allah membangkitkan ciptaan-Nya.’’”
    Pertemuanmu tidak diinginkan, tapi engkau sangat dekat. Kamu selalu menambah musibah di setiap siang dan malam hari. Kamu akan dihibur sebagai mana kamu diberi cobaan dan kamu menyukainya.
    Hingga, dia pun zuhud dari keduniaan dan menekuni ibadah dan akhirnya menjadi salah seorang ahli ibadah yang mukhlishin kepada Allah. Dia terus beribadah dan belajar sampai dia menjadi orang terhormat dari warga Kufah.
    Yusuf bin Asbath berkata, “Dawud mendapat warisan sebesar dua puluh dinar dan dia memakannya selama dua puluh tahun.”
    Pada suatu hari, ada seseorang yang datang kepadanya dan berkata, “Di atas rumahmu ada sebatang pohon kurma yang patah.”
    Dia menjawabnya dengan berkata, “Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tinggal di rumah ini sejak dua puluh tahun dan aku tidak pernah melihat ke atas atap rumah.”39
    Ibnu Sammak berkata, “Saudaraku Dawud ath-Thaa’i mewasiatkanku dengan satu wasiat yakni lihatlah, Allah tidak akan melihatmu ketika kamu berada pada apa yang telah Dia larang. Dan tidak akan meninggalkanmu jika kamu berada pada apa yang Dia perintahkan. Malulah kepada-Nya karena Dia sangat dekat denganmu dan besar kudrah-Nya atasmu.” 40

Tiga Orang Yang Merasakan Kesempitan Kemudian Datang Kelapangan Dari Allah

Tiga orang itu adalah Ka'ab bin Malik, Mararah bin Rabi' al-'Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi ra. Mereka termasuk para sahabat senior yang telah lama masuk Islam dan ikut dalam setiap peperangan bersama Rasulullah saw. Akan tetapi mereka ketinggalan dalam perang Tabuk yang merupakan perang terakhir bagi Rasulullah saw. Ketidakikutsertaan mereka itu tanpa alasan yang kuat. Yang membuat mereka tidak ikut hanyalah karena rasa berat untuk berjihad dalam cuaca yang sangat panas sehingga perang itu dinamakan dengan perang al-'Usrah (sulit)

Ketika Rasulullah saw. sampai di Tabuk, ia menanyakan tentang Ka'ab bin Malik kepada para sahabatnya: "Apa berita tentang Ka'ab bin Malik?"
Seorang lelaki dari Bani Salamah berkata: "Wahai Rasulullah, pakaiannya yang halus dan kemahnya yang sejuk menghalanginya untuk ikut berperang."
Muadz bin Jabal segera menyela: "Buruk sekali apa yang engkau katakan. Demi Allah wahai Rasulullah, kami tak mengetahui tentangnya kecuali yang baik-baik."

Ka'ab bin Malik bercerita: "Ketika aku mendengar berita bahwa Rasulullah saw. telah pulang dari Tabuk aku merasa sangat sedih. Terbetik dalam pikiranku untuk berdusta. Aku berkata dalam hati: "Bagaimana caranya aku bisa terlepas dari kemarahannya besok. Aku akan minta bantuan pada setiap keluargaku yang memiliki ide-ide yang cemerlang untuk membantuku dalam hal ini."

Ketika aku mendengar bahwa Rasulullah saw. menerima alasan setiap orang yang datang menemuinya, sirnalah niat yang tak baik itu dari diriku dan aku tahu bahwa aku selamanya tak akan selamat sama sekali dengan cara berbohong, maka aku bertekad untuk berkata jujur padanya.

Rasulullah saw. datang. Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah setiap pulang dari sebuah perjalanan beliau akan langsung datang ke masjid dan shalat dua rakaat. Setelah itu beliau duduk bersama para sahabat. Saat itu datanglah orang-orang yang tidak ikut perang untuk minta maaf bahkan dengan cara bersumpah. Jumlah mereka yang minta maaf itu sampai lebih kurang delapan puluh orang. Rasulullah saw. menerima apa yang mereka sampaikan lalu memohonkan ampun untuk mereka serta menyerahkan kepada Allah apa yang sesungguhnya ada dalam hati mereka.

Aku datang lalu aku ucapkan salam padanya. Rasulullah saw. tersenyum dengan senyuman marah. Kemudian ia berkata padaku: "Mendekatlah ke sini." Akupun mendekat. Setelah duduk di hadapannya ia bersabda: "Apa yang menyebabkanmu tidak pergi? Bukankah engkau telah membeli tunggangan?"
Aku berkata: "Wahai Rasulullah, sungguh andaikan aku berada di hadapan orang lain selainmu pasti aku mampu lepas dari kemarahannya dengan dalihku yang kuat. Aku telah dikaruniai kemampuan berdebat. Tetapi demi Allah, aku sadar bahwa seandainya aku mengatakan padamu sesuatu yang dusta supaya engkau ridha padaku niscaya Allah akan murka kepadaku. Dan seandainya aku menyampaikan hal yang sebenarnya padamu meskipun akibatnya engkau akan marah padaku, aku masih bisa berharap akibat yang baik dari Allah. Aku tak punya alasan apa-apa. Demi Allah, aku tak pernah lebih kosong dan santai daripada saat aku tak pergi waktu itu."
Rasulullah saw. bersabda: "Adapun yang ini (maksudnya Ka'ab), ia telah berkata benar. Bangkitlah sampai Allah memutuskan perkaramu."

Setelah Ka'ab bin Malik pulang dari menemui Rasulullah saw. kaumnya menyayangkan sikap jujurnya tersebut. Mereka menginginkannya untuk menyampaikan alasan apa saja sebagaimana yang dilakukan oleh orang lain yang juga tidak ikut dalam perang Tabuk dan Rasulullah menerima alasan mereka. Ka'ab hampir saja kembali menemui Rasulullah dan menerima nasehat kaumnya lalu mengingkari apa yang tadi disampaikannya di hadapan Rasulullah. Ia bertanya pada kaumnya: "Apakah ada orang lain yang mengalami hal yang sama?"
Mereka menjawab: "Ya, ada dua orang yang juga mengatakan hal yang serupa dengan apa yang engkau katakan dan jawaban yang diberikan kepada mereka juga sama."
"Siapa mereka?"
"Mararah bin Rabi' al-'Amiri dan Hilal bin Umayyah al-Waqifi."
Mereka telah menyebutkan dua orang laki-laki shaleh yang pernah ikut dalam perang Badar. Ka'ab berkata: "Aku bisa mencontoh mereka."

Ka'ab pulang ke rumahnya. Setelah itu keluarlah keputusan Nabi untuk memboikot mereka bertiga. Tak seorangpun kaum muslimin yang boleh berbicara dengan mereka atau membalas ucapan mereka bahkan salam sekalipun.

Di sini mulailah terasa kesempitan dan ujian yang berat. Ka'ab berkata: "Rasulullah saw. melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan kami bertiga. Setelah itu manusia menjauhi kami dan sikap mereka berubah terhadap kami, sampai-sampai aku tak yakin lagi dengan bumi yang aku pijak, rasanya ia bukan lagi bumi yang pernah aku kenal. Hal itu berlangsung selama lima puluh hari.
Kedua sahabatku tetap diam dan duduk di rumah mereka sambil terus menangis. Sementara aku termasuk yang paling tegar dan keras. Aku tetap ikut shalat berjamaah dan berjalan di pasar-pasar tapi tak seorangpun yang berbicara denganku. Aku juga datang ke majlis Rasulullah saw. Selesai beliau shalat aku ucapkan salam padanya. Aku berkata dalam hati: "Apakah ia gerakkan mulutnya untuk menjawab salamku atau tidak?"
Kemudian aku shalat di dekatnya dan aku berusaha curi pandang. Ketika aku mulai shalat ia melihat ke arahku, tapi ketika aku menoleh padanya ia pun berpaling dariku.

Setelah cukup lama kaum muslimin memboikotku aku pergi menemui Abu Qatadah; sepupuku dan orang yang paling aku cintai. Aku ucapkan salam padanya. Demi Allah, ia tak menjawab salamku. Aku berkata padanya: "Wahai Abu Qatadah, demi Allah, bukankah engkau tahu bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya?" Abu Qatadah diam. Aku kembali bertanya dan memaksanya menjawab tapi ia tetap diam. Kemudian aku bertanya lagi dan memaksanya untuk mengatakan sesuatu tapi ia masih diam. Tak berapa lama setelah itu ia berkata: "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."

Ketika mendengar jawaban itu dari Abu Qatadah, Ka'ab berkata: "Air mataku berlinangan. Kemudian aku berpaling dan segera pulang. Ketika aku berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari Syam yang biasa datang membawa makanan untuk dijual di Madinah berkata: "Siapa yang bersedia menunjukkanku mana Ka'ab bin Malik?" Orang-orang menunjuk ke arahku. Laki-laki itu datang menemuiku dan menyerahkan sepucuk surat dari raja Ghassan.  Aku adalah seorang yang pandai memabaca dan menulis. Ternyata isi surat tersebut adalah: "Amma ba'du, kami dengar bahwa sahabatmu menjauhimu dan Allah tidak akan membiarkanmu di daerah yang hina secara sia-sia. Oleh karena itu datanglah pada kami niscaya kami akan menghiburmu."
Setelah membaca surat itu Ka'ab berkata: "Ini juga termasuk bencana." Kemudian surat itu dibakarnya.

Setelah berlalu empat puluh hari datanglah keputusan dari Nabi bagi mereka bertiga untuk menjauhi istri-istri mereka. Ka'ab bertanya: "Aku ceraikan atau bagaimana?"
Dijawab: "Jauhi saja dan jangan dekati."
Kemudian ia berkata pada istrinya: "Pulanglah pada keluargamu dan tetaplah di sana sampai Allah memutuskan perkara ini sesuai dengan yang Dia kehendaki."

Istri Hilal bin Umayyah datang menemui Rasulullah dan berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Hilal seorang yang sudah tua dan lemah serta tidak memiliki pembantu, apakah engkau akan melarangku untuk melayaninya?"
Rasulullah saw. bersabda: "Tidak apa-apa tapi jangan sampai ia mendekatimu (menyetubuhimu)."
Ia berkata: "Demi Allah, sesungguhnya Hilal tak mampu lagi berbuat sesuatu dan demi Allah ia terus menangis sejak awal peristiwa tersebut sampai detik ini."

Beberapa orang kerabat Ka'ab memberi saran padanya: "Andaikan engkau juga minta izin pada Rasulullah agar istrimu tetap bersamamu karena Rasulullah mengizinkan istri Hilal bin Umayyah untuk melayaninya."
Ka'ab berkata: "Demi Allah aku tak akan meminta izin pada Rasulullah tentang istriku dan aku tak tahu apa yang nanti akan dikatakan Rasulullah pada istriku apabila ia minta izin padanya karena aku masih cukup muda."

Setelah cobaan dan kesempitan tersebut berlangsung selama lima puluh hari, datanglah kelapangan dari Allah SWT melalui ayat Al-Qur`an yang akan selalu dibaca sampai hari kiamat kelak berkenaan dengan tiga orang yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk ini. Firman Allah tersebut adalah:

"Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) kepada mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi meraka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." ( at-Taubah: 118-119)

Ketika Ka'ab sedang duduk di depan rumah salah seorang kaumnya, sementara bumi beserta segala isinya sudah sangat sempit terasa baginya dan juga kedua sahabatnya sebagaimana yang Allah terangkan dalam dua ayat surat at-Taubah tersebut dan ia senantiasa berzikir kepada Allah, tiba-tiba ia mendengar seseorang berteriak dengan suara yang sangat keras: "Bergembiralah wahai Ka'ab bin Malik."

Ka'ab segera bersujud pada Allah dan ia tahu bahwa kelapangan itu akhirnya datang juga dari Allah dengan ampunan dari-Nya baginya dan juga kedua sahabatnya. Kaum muslimin datang menemuninya untuk memberi selamat atas ampunan yang Allah berikan. Ka'ab pergi menemui Rasulullah. Kemudian ia mengucapkan salam padanya. Wajah Rasulullah saw. tampak berseri karena gembira dan beliau bersabda: "Bergembiralah dengan hari terbaik yang pernah engkau lewati semenjak engkau dilahirkan oleh ibumu."
Ka'ab berkata: "Apakah dari engkau wahai Rasulullah ataukah dari Allah?"
"Bukan dariku melainkan dari sisi Allah."
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya sebagai bukti taubatku aku akan sedekahkan hartaku untuk Allah dan Rasul-Nya."
"Tahan sebagian hartamu karena itu lebih baik."
Ka'ab berkata: "Aku hanya akan menahan panahku yang pernah aku gunakan dalam perang Khaibar. Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah SWT menyelamatkanku dengan kejujuran, maka diantara bukti taubatku aku berjanji untuk tidak berkata kecuali yang jujur selama aku hidup."
Ka'ab berkata: "Demi Allah, aku tak pernah menyengaja berdusta semenjak aku katakan hal itu pada Rasulullah sampai hari ini dan aku berharap semoga Allah menjagaku dari dusta selama aku hidup." 

Semoga Allah meridhai mereka semuanya dan menggabungkan kita bersama mereka dalam rahmat-Nya di surga Na'im dengan kemaafan dan kemurahan-Nya pada kita semua.

Lenyaplah Masa Muda dengan Segala Keburukannya, Tinggallah Masa Tua dengan Segala Kebaikannya

Suatu kali, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik masuk ke sebuah masjid di Damaskus. Tiba-tiba dia melihat seorang Arab badui yang sudah tua. Khalifah bertanya kepadanya, “Wahai Bapak tua, apakah kau suka menghadapi kematian?”
“Tidak, demi Allah,” jawab bapak tua itu.
“Kenapa wahai Bapak tua, padahal usiamu sudah setua ini?” tanya Khalifah kembali.
“Wahai Amirul Mukminin, telah lenyap masa muda dengan segala keburukannya dan datanglah masa tua dengan segala kebaikannya. Saat ini kalau aku berdiri, aku akan memuji Allah, kalau aku duduk aku akan memuji Allah dan aku ingin kedua hal ini tetap ada padaku.”
Sulaiman bertanya lagi, “Lalu apa amalanmu yang kau kira dapat memanjangkan umurmu?”
Bapak tua itu menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya aku adalah seorang yang selalu menyempurnakan wudhu, membaguskan shalat, menghubungkan silaturrahmi, menjaga kehormatan dan pandangan, dan aku selalu berbagi rezeki yang Allah karuniakan kepadaku.”
Sulaiman berkata, “Tidak heran kalau kematian belum juga menjemputmu.”

Bagaimana Aku akan Mengadu kepada Dokterku Apa yang Kurasakan

Al-Junaid menceritakan, “Suatu kali aku berada berdua saja dengan Sari bin Maghlis as-Saqthi. Dia sedang memakai sarung. Aku lihat tubuhnya seperti tubuh yang sakit dan sangat lemah.”
Dia berkata, “Perhatikanlah tubuhku ini! Kalau aku ingin mengatakan bahwa ini adalah karena cinta pada Allah, tentu tidak berlebihan.” Wajahnya pucat dan terkadang berwarna merah seperti bunga.
Suatu kali dia jatuh sakit. Aku datang menjenguknya. Aku bertanya, “Bagaimana kondisimu?”
Dia menjawab,
“Bagaimana mungkin aku mengadu kepada dokterku
apa yang aku rasakan
Sementara yang menimpaku ini adalah dari dokterku?”

Aku mengambil kipas dan aku mengiipas-ngipaskan ke tubuhnya. Dia berkata, “Bagaimana akan terasa sejuk dengan kipas seseorang yang hatinya terbakar di dalam?”
Kemudian  dia berkata,
“Hati terbakar dan air mata berlinang
Derita berhimpun dan sabar tercerai
Bagaimana tenang orang yang tak bisa tenang
Hasil dari hawa, kerinduan, dan kegelisahan?
Wahai Tuhanku, andaikan ada sesuatu yang akan melapangkanku
Maka kasihilah aku selama ruh ini masih ada”

Rasulullah saw. dan Terbunuhnya Hamzah, Paman Beliau

Pada perang Uhud, Hamzah bin Abdil Muthalib dibunuh oleh Wahsyi, seorang budak milik orang-orang musyrik, secara tidak jantan. Dia melemparnya dengan tombak dari belakang. Kemudian Hindun bintu Utbah datang membelah perut Hamzah dan mengeluarkan hatinya, lalu mengunyahnya. Dia juga memotong hidung dan kedua telinganya.
    Kemudian setelah peperangan usai, Rasulullah saw. mencari mayat Hamzah. Lalu beliau menemukannya di tengah-tengah lembah dalam keadaan perut terbelah dan hati telah dikeluarkan, serta sebagian tubuhnya dicincang secara keji.
    Melihat hal itu, beliau pun sangat sedih dan bersabda,

“Kalau tidak karena kesedihan yang akan dialami Shafiyyah dan akan menjadi sunnah setelahku, pasti aku akan membiarkan mayatnya, hingga kelak di padang mahsyar dia dikumpulkan dari perut-perut binatang buas dan burung-burung. Dan jika di sebuah peperangan dengan orang-orang Quraisy nanti Allah memenangkanku, pasti saya akan membalas kekejian mereka terhadap Hamzah dengan tiga puluh orang lelaki dari mereka”.
Ketika orang-orang muslim melihat kesedihan Rasulullah saw. karena perlakukan orang-orang Quraisy terhadap mayat Hamzah, mereka berkata, “Demi Allah, jika pada suatu hari Allah memenangkan kita atas mereka, pasti kita akan merusak tubuh mereka dengan bentuk yang tidak pernah dilakukan oleh seorang Arab pun”.
Di dalam as-Siirah an-Nabawiyyah, Ibnu Hisyam berkata, “Ketika Rasulullah saw. berdiri di sisi mayat Hamzah, beliau bersabda,

“Saya tidak akan pernah ditimpa kesedihan seperti ini. Saya tidak pernah mengalami hal yang lebih membuatku marah dari hal ini”.
Kemudian beliau bersabda, “Jibril datang kepadaku lalu memberitahu saya bahwa tertulis di penghuni langit tujuh, “Hamzah bin Abdul Muthalib adalah singa Allah dan singa Rasul-Nya”.
Dan dari Ibnu Abbas, bahwa Allah ‘Azza wajalla menurunkan dari sabda Rasulullah saw. dan para sahabat beliau,

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. ( an-Nahl: 126, 127 ).
Lalu Rasulullah saw. memaafkan dan bersabar serta melarang untuk mencincang musuh.  Dan beliau pun ridha terhadap qadha Allah.