Perindu yang Tak Pernah Tenang

Ibnu Jauzi rahimahullah menceritakan dari Muhammad bin Ibrahim al-Akhram,  dia berkata, “Suatu ketika aku pergi dari Mesir. Di tepi sebuah pantai aku melihat seorang wanita datang dari arah daratan. Aku bertanya kepadanya, ‘Hendak pergi ke mana wahai hamba Allah?’
Dia menjawab, ‘Ke tempat ibadah sebelah sana, anakku ada di sana.’
Aku berjalan bersamanya. Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari arah tempat peribadatan itu,

Seorang perindu yang tak pernah merasa tenang
Selalu ingin lari, tetapi dia tak berdaya
Seorang perindu hatinya bagaikan malam yang panjang
Di sana dia akan damai, tapi di saat siang dia merasa kesepian
Ia lakukan segala kebutuhannya untuk memperoleh ilmu
Tapi kepuasannya adalah dalam ibadah dan lari dari dunia
Duhai diri sabarlah terhadap dunia, sabarlah...
Setiap sesuatu di dalamnya akan diperhitungkan

Aku bertanya pada wanita itu, ‘Sudah sejak kapan anakmu disini?’
‘Sejak aku memberikan dia kepada-Nya dan Dia terima dariku.’” 

Khalifah Abbasiyah Bersama Mentrinya

Ibnu Rajab dalam Thabaqat al-Hanabilah menyebutkan bahwa Ibnu Hubairah yang menjadi Menteri Khalifah Abbasiyah al-Muqtadhi Billah difitnah oleh Sultan Mas'ud dan para pengikutnya. Khalifah tidak mampu berbuat apa-apa, karena pada masa itu bangsa Turki lebih berkuasa daripada Daulah Abbasiyah sehingga dalam banyak kesempatan Khalifah tak memiliki peran apa-apa dalam pemerintahan. Kekuasaan yang sesungguhnya ada di tangan orang-orang Turki tersebut yang dengan leluasa dapat memilih salah seorang diantara mereka untuk menjadi Sultan di samping jabatan Khalifah.

Ketika sang Menteri; Ibnu Hubairah melihat bahwa ia tidak mampu untuk menghadapi Sultan Mas'ud dan para pengikutnya, ia berkata kepada Khalifah: "Aku melihat tak ada jalan lain dalam mengatasi hal ini selain dengan kembali ke Allah SWT dan benar-benar bersandar kepada-Nya. Maka segeralah lakukan hal ini dengan penuh keikhlasan. Rasulullah saw. sendiri pernah mendoakan keburukan untuk kaum Ri'il dan Dzakwan selama sebulan, maka tak ada salahnya jika kita juga mendoakan keburukan untuk mereka selama sebulan."

Saran itu diamini oleh Khalifah. Sejak saat itu Khalifah dan sang menteri selalu mendoakan keburukan terhadap Sultan Mas'ud berikut para pengikutnya di waktu sahur sampai akhirnya mereka binasa tepat di akhir bulan tidak lebih dan tidak kurang.

Ibnu Hubairah berkata: "Aku selalu berdoa pada waktu sahur. Akhirnya Mas'ud mati setelah genap satu bulan, tidak lebih dan tidak kurang."
Begitulah Allah menghilangkan kegundahan dan melapangkan kesempitan.

Abdullah Bin Mas

Disebutkan oleh Ibnul Jauzi dari al-Akhwash al-Jusyami, dia berkata, “Suatu ketika, kami mengunjungi Ibn Mas’ud. Dia mempunyai tiga orang putra yang kesemuanya berwajah tampan. Mereka ibarat emas yang berkilauan. Decak kagum menghiasi raut muka kami tatkala melihat mereka, hingga Ibn Mas’ud berkata pada kami, “Sepertinya kalian membayangkan betapa bangganya saya punya anak seperti mereka”. Kami langsung menanggapinya dan berkata, “Sungguh demi Allah seorang muslim manakah yang tidak akan bangga punya anak seperti mereka”. Kemudian Ibn Mas’ud mendongakkan kepalanya ke atas, memandang kearah langit-langit rumahnya yang mungil, tampak di sana seekor burung telah membuat sarang dan bertelur. Ketika melihatnya, Ibn Mas’ud berkata, “Sungguh demi Zat Yang menguasai jiwa saya ini, membersihkan debu dari kubur mereka ( kehilangan mereka karena meninggal dunia ) adalah lebih baik bagi saya dari pada sarang burung ini terjatuh dari langit-langit dan telur di dalamnya menjadi pecah”. Dia juga berkata, “Saya tidak peduli ( karena ridha dengan ketentuan Allah ) jika saya pulang, apakah saya akan mendapati keluarga saya dalam keadaan baik, buruk ataukah dalam keadaan bahaya. Juga jika saya berada dalam keadaan tertentu, saya tidaklah berangan untuk dapat berada dalam keadaan yang lain”. Lalu dia juga berkata dalam sebuah nasihatnya, “Di dunia ini, kalian semua tidak lebih dari seorang tamu. Sedang harta kalian hanyalah pinjaman belaka. Dan setiap tamu pasti akan pergi pulang, sedangkan hartanya yang merupakan harta pinjaman sudah barang tentu akan kembali pada yang punya”.
    Menjelang wafatnya Abdullah bin Mas’ud berpesan kepada anak-anaknya agar senantiasa membaca surat al-Waqi’ah, karena dengan membacanya dapat menjauhkan seorang hamba dari kefakiran.

Saya Tahu Kapan Tuhan Ingat kepada Saya

Tsabit bin Muslim al-Bunnani, Seorang ahli ibadah yang tsiqqah. Dia berasal dari kota Basrah. Dia meninggal dunia dalam usianya yang ke delapan puluh enam tahun.
Diriwayatkan oleh Ja'far dari Tsabit, dia berkata, "Suatu hari ada seorang ahli ibadah yang berkata pada kawan-kawannya, "Saya tahu kapan Tuhan ingat kepada saya”. Maka kawan-kawannya yang mendengarkan itu pun terkejut, lalu mereka bertanya memastikan, "Benarkah kamu tahu kapan Tuhanmu  mengingatmu?" Dia menjawab, "Ya". Mereka lalu bertanya serentak, "Kapankah itu?" Sang ahli ibadah tersebut menjawab, "Tuhan akan mengingat saya di saat saya mengingat-Nya".
Ahli ibadah itu juga berkata pada kawan-kawannya, "Dan saya juga tahu kapan Tuhan menerima do'a saya". Sekali lagi dia membuat kawan-kawannya terkejut dan heran dengan perkataannya tersebut. Lalu mereka bertanya kepadanya memastikan kebenaran perkataannya itu, "Benarkah kamu juga tahu kapan Tuhan menerima do'amu?" Dia menjawab, "Ya". Lalu mereka betanya lagi, "Bagaimana kamu mengetahuinya?" Dia menjawab, "Jika hati saya bergetar, tubuh saya menggigil, mata saya basah oleh air mata, dan mata hati saya terbuka ketika berdo'a, maka dari sana saya tahu bahwa Tuhan mengabulkan do'a saya".

Umar bin Abdul Aziz dan Keridhaannya Terhadap Qadha Allah

Diriwayatkan dari Maimun bin Mahran, dia berkata, "Umar bin Abdul Aziz menyuruh saya untuk datang berkunjung kepadanya dua kali setiap bulan. Lalu pada suatu hari saya datang mengunjunginya. Nampak dia melihat saya dari atas benteng dan mengizinkan saya masuk sebelum saya sampai di depan pintu gerbangnya. Lalu saya masuk seperti biasanya.
Setelah sampai ke tempatnya, saya menjumpainya sedang duduk di atas permadani. Di sana juga terdapat tempat duduknya yang seukuran dengan permadani tersebut. Waktu itu dia sedang menambal pakaiannya. Kemudian saya ucapkan salam padanya, dan dia menjawabnya, lalu mempersilahkan saya duduk di atas tempat duduknya tersebut. Kemudian dia menanyakan kepada saya tentang urusan negara. Dia bertanya tentang keadaan para pemimpin, kondisi rakyat secara umum, tentang urusan kepolisian, urusan penjara dan seluruh kegiatan kenegaraan yang ada. Setelah itu, dia baru menanyakan pada saya tentang urusan saya pribadi.
Kemudian, ketika hendak berpamitan, saya berkata padanya, "Apakah tidak ada lagi seseorang dari keluargamu yang dapat menggantikanmu menambal pakainmu itu?" Maka Umar bin Abdul Aziz berkata pada saya, "Wahai Maimun, bagimu cukuplah dari dunia ini apa yang dapat mengantarkanmu ke tempat tujuanmu. Hari ini kita berada di sini, dan besok kita berada di tempat yang lain". Kemudian saya pergi meninggalkannya.

Antara Istri yang Berkeluh Kesah dan Istri yang Ridha

Setelah Nabi Isma'il beristri, Nabi Ibrahim datang ke Mekah mengunjungi anaknya tersebut. Akan tetapi sesampainya di sana, dia tidak menjumpainya. Hanya istrinya yang berada di rumah. Lalu Nabi Ibrahim menanyakannya kepada istrinya. Sang  istri menjawab, "Dia pergi bekerja untuk manafkahi kami". Istri Nabi Isma'il tersebut tidak mengetahui, kalau yang berkunjung dan bertanya padanya itu adalah ayah dari suaminya. Lalu Nabi Ibrahim bertanya lagi tentang kondisi kehidupan mereka. Istri Nabi Isma'il pun menjawab, "Kami dalam kondisi yang buruk. Kehidupan kami susah". Lalu dia mengeluh di depan Nabi Ibrahim tentang bagaimana minimnya nafkah mereka dan buruknya keadaan keluarga mereka. Dia bekeluh kesah di depan orang lain, hal yang biasanya dilakukan oleh sebagian besar wanita kecuali mereka yang dirahmati oleh Allah.
Kemudian sebelum pergi berpamitan, Nabi Ibrahim berpesan pada Istri anaknya tersebut, "Jika nanti suamimu datang, sampaikan salam untuknya, lalu sampaikan padanya agar dia mengganti ambang pintunya”.
Ketika Nabi Isma'il kembali, dia bertanya pada istrinya, "Apakah ada seseorang yang datang mengunjungi kita?" Istrinya menjawab, "Ya, ada orang tua yang datang kepada kita. Dia menanyakanmu, maka saya beritahu dia bahwa engkau sedang pergi bekerja. Lalu dia menanyakan tentang kondisi kehidupan kita, maka saya katakan padanya bahwa kita hidup dalam kondisi yang susah”. Kemudian Nabi Isma'il bertanya lagi, "Apakah dia meninggalkan pesan?" Istrinya menjawab, "Ya. Dia menyuruh saya untuk menyampaikan salamnya padamu, dan berpesan padamu agar kamu mengganti ambang pintumu". Kata ambang pintu berarti istri. Setelah mengetahui pesan tersebut, lalu Nabi Isma'il berkata pada istrinya, "Yang datang itu adalah ayahkua. Dia memerintahkan saya untuk menceraikanmu, maka kembalilah kepada keluargamu". Dan Nabi Isma'il pun menceraikan istrinya. Lalu dia menikah lagi dengan seorang wanita yang berasal dari suku Jurhum, sebuah suku yang Nabi Isma’il lama tinggal bersamanya dan di lingkungan suku itu pula dia tumbuh besar.
Nabi Ibrahim telah lama tidak mengunjungi mereka. Kemudian pada suatu ketika dia berkunjung lagi. Seperti halnya pada kunjungannya yang dulu, kali ini pun dia tidak bertemu dengan anaknya, Nabi Isma'il. Maka dia bertanya kepada istri anaknya, “Sedang kemanakah suami?” Istri Nabi Isma'il menjawab, "Dia pergi untuk mencari nafkah buat kami". "Bagaimana kondisi kalian?", tanya Nabi Ibrahim tentang keadaan hidup mereka. Istri Nabi Isma'il menjawab, "Kami dalam kondisi yang baik dan lapang", seraya memuji dan bersyukur kepada Allah. Kemudian Nabi Ibrahim bertanya lagi, "Apa makanan kalian?" Istri Nabi Isma'il menjawab, "Daging". "Dan minum kalian?", tanyanya Nabi Ibrahim lagi.  Istri Nabi Isma'il menjawab bahwa minum mereka adalah air. Lalu Nabi Ibrahim berdo'a untuk mereka, "Ya Allah berilah keberkahan bagi mereka dalam daging dan air mereka".
Kemudian sebelum berpamitan, Nabi Ibrahim berpesan kepada istri anaknya tersebut, "Nanti kalau suamimu datang, sampaikan salamku untuknya, lalu suruh dia untuk mempertahankan ambang pintunya".
Tidak lama setelah itu, datanglah Nabi Isma'il. Lalu dia bertanya pada istrinya, "Apakah ada yang datang mengunjungi kita?" Istrinya menjawab, "Ya, tadi ada seorang yang datang mengunjungi kita. Dia seorang kakek yang masih berperawakan bagus. Lalu dia bertanya pada saya tentangmu, maka saya jawab bahwa engkau sedang menunaikan kewajibanmu mencari nafkah. Dan dia juga bertanya pada saya tentang kondisi kehidupan kita, maka saya katakan padanya bahwa kita hidup dalam kondisi yang lapang". Lalu Nabi Isma'il bertanya lagi, "Adakah pesan yang ditinggalkannya?" Istrinya menjawab, "Ya. Dia berpesan agar saya menyampaikan salam untukmu, dan juga berpesan agar kamu tetap mempertahankan ambang pintumu". Kemudian setelah mendengar apa yang dikabarkan istrinya tersebut, Nabi Isma'il berkata padanya, "Yang datang itu adalah ayahku. Dan kamulah ambang pintu dimaksudnya, dia telah memerintahkan saya untuk tetap mempertahankanmu menjadi istriku".
Saya (penulis) katakan, "Sebaik-baik istri adalah istri yang selalu ridha dengan ketentuan Allah. Istri yang demikian itu merupakan perhiasan dunia yang paling indah. Dia penuhi rumah dengan keberkahan dan kebaikan. Adapun sebaliknya, istri yang suka berkeluh kesah merupakan sumber kesengsaraan, kemalangan dan kesusahan dalam rumah dan keluarga".

34. Tinggal Satu Pintu yang Belum Aku Tutup

Ibnul Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menceritakan dari Ibrahim bin Junaid, dia berkata, “Ada seorang lelaki yang merayu seorang wanita di tempat yang sunyi. Wanita itu berkata, ‘Engkau telah mendengar Al-Qur’an dan hadits, jadi kau lebih tahu.’
‘Kalau begitu tutuplah pintu,’ kata laki-laki itu.
‘Tetapi ada satu pintu yang belum kututup.’
‘Pintu yang mana?’ tanya lelaki itu penuh heran.
Sambil bercucuran air mata wanita itu berkata, ‘Pintu antaramu dan Allah swt..’
Laki-laki itu segera tersadar dari kelalaiannya. Akhirnya, dia meninggalkan wanita itu begitu saja tanpa dia sentuh sedikit pun.”